Memetakan Imajinasi Serbarupa

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 12 Mei 2013

Lewat pendekatan kultural, para seniman mengurai persoalan tentang dunia imajinatif yang penuh kritik, protes, dan perlawanan melalui simbol.

PINTU masuk gedung utama Galeri Nasional, Jakarta, disulap menjadi sebuah pintu yang seakan keramat. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung akan melewati sebuah candi, yang pada zaman dahulu, bahkan hingga kini, merupakan sebuah tempat suci bagi umat Hindu.

Kekeramatan pintu itu merupakan sebuah proses kreativitas seniman dalam menunjukkan keragaman budaya yang ada di Tanah Air. Ada sebuah nuansa saat kita memasuki lembaran sejarah masa lalu yang tergambar jelas.

Kendati terlihat sebagai sebuah hiasan pintu masuk, sesungguhnya candi itu merupakan karya komunitas Perahu Art Connection, Yogyakarta, berjudul Tample of Love yang dipamerkan pada pameran seni rupa Nusantara bertajuk Mera Amuk, pada Selasa (7/5) hingga Jumat (24/5) mendatang.

Replika tersebut merupakan buah karya enam perupa. Mereka ialah Andika Industriyana, Andi Ramdani, Didik Wahyu Setiawan, Iqro Ahmad Ibrahim, Sulis Gianto Sugito, dan Wisnu Aji Putu.

Replika candi atau gapura Bajang Ratu itu diperkirakan dibangun pada abad ke-14 dan diyakini menjadi salah satu gapura terbesar pada zaman keemasan Majapahit. Dulunya, gapura Bajang Ratu berfungsi sebagai pintu masuk bangunan suci dalam memperingati wafatnya Jayanegara yang dalam kitab Negarakertagama disebut ‘kembali ke dunia Wisnu’.

Selain replika tersebut, pameran Mera Amuk menampilkan 114 karya seniman lainnya hasil pemilihan dari 25 provinsi. Ada instalasi, video art, hingga lukisan yang begitu memikat mata pengunjung.

Tumbal (150×200 cm) karya Andy Wahono juga penuh nilai magis. Dia mengingatkan kita akan dunia sihir. Misalnya, seorang perempuan sedang berada di tengah pusara. Objek gajah dengan gading yang panjang seakan siap menyantap sang gadis itu.

Sebagai penambah ornamen untuk mendapatkan sudut pandang serbakematian, dia menambah kerangka manusia tengkorak. “Ini seolah ada sebuah ritus yang baru saja berlangsung secara tragis,” ujar Andy, pertengahan pekan ini.

Simbol

Kendati menghadirkan nuansa yang jarang ditampilkan seniman kontemporer, Ugy Sugiarto menghadirkan Beauty Ailing (197×197 cm). Pada lukisan itu hanya ada satu objek perempuan. Dia sedang duduk. Tangannya menggenggam di lutut. Namun, ada corak dalam lukisan yang begitu khas. Sang perempuan telanjang itu sedang terbalut lumuran lumpur.

Ugy seakan menghadirkan lumpur sebagai bentuk protes. Perempuan acap kali dilecehkan dan dijadikan sebagai obyek untuk memuaskan hawa nafsu. Penggunaan nama Tionghoa juga memberikan sebuah stigma, perempuan Tionghoa sering menjadi objek di sekitar kehidupan kita.

Terlepas dari itu, kecantikan Ailing yang disuguhkan menunjukkan teknik lukis yang membuat semuanya tampak lebih menarik perhatian. Sebuah ketelanjangan yang tak berdosa.

Sebagai kritikan, Andre Busrianto menghadirkan karya Bukan Penggongong Kiblat Konstitusi (300×240 cm). Dalam karya itu terdapat sederet tokoh sastrawan seperti Chairil Anwar. Namun, pada panel lainnya dia menghadirkan tiga ekor anjing seakan sedang menginjak sajadah.

Tak hanya itu, maraknya kasus korupsi di negeri ini juga menjadikan Mulyo Gunarso menghadirkan karya U (180×200 cn). Karya itu menampilkan setumpuk onggokan sampah. Di bawahnya ada dua tikus yang seakan terpisah dari tumpukan sampah itu.

Seekor tikus sedang menaiki botol mineral, dan satunya sedang terperangkap di dalam kaleng bekas. Mulyo ingin menunjukkan para koruptor pasti akan tertangkap. Bila tertangkap, koruptor pun akan dijebloskan ke penjara.

Terlepas dari karya-karya tadi, sederet seniman lainnya juga menghadirkan karya yang cukup khas. Sebut saja Ubed Mashonef (NTT), Hendrik B (Papua), Alfres D Pantolondo (Sulawesi Utara), hingga Endeng Mursalin (Sulawesi Tengah).

Kurator Asikin Hasan mengatakan pameran tersebut mencoba menyoal persoalan mendasar dari fungsi seni rupa. Selain sebagai ekspresi pribadi, seni rupa juga menjadi fungsi sosial tentang kemanusiaan. “Semua tema penuh kritik, protes, dan perlawanan melalui simbol. Persoalan ini sangat cocok karena relevan dengan kondisi politik menuju 2015,” papar Asikin.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/tifa-memetakan-imajinasi-serbarupa.html