Usman Arrumy

Puisipuisi yang kutulis sewaktu silam, ternyata kupahami sebagai puisi yang bukan sungguhan. Ia, hanya coretan tanpa makna. dengan menjunjung tinggi keindahan ber-kata ternyata belum cukup untuk di vonis sebagai Puisi. Dulu pernah terlintas bahwa kata-kata yang kutulis itu adalah puisi, Juga. aku menganggap bahwa seluruh huruf yang kususun itru adalah puisi, tapi semenjak aku sering membaca puisi orang lain, aku merasa bahwa tulisanku, ternyata masih jauh belum layak menyandang identitas sebagai puisi.

tiap larik yang kukarang sampai keningku mengernyit itu terlalu dangkal ternyata, Sungguh, aku heran terhadap tulisanku yang kusangka puisi itu, kerap kali aku berbangga dan membanggakan puisi-puisiku yang selanjutnya kucurigai itu bukan puisi yang sebenarnya sebagai sesuatu yang patut untuk di publikasikan, Dan ternyata salah belaka

Lalu bagaimana agar bisa di katakan puisi tanpa harus sanggup mencurigai bahwa itu bukan puisi? dalam arti, puisi sungguhan, puisi yang benar-benar puisi, Ah….entahlah, aku juga tak paham, akupun agak sungkan terlalu dalam mencari data tentang agar puisiku terlegalisir. semacam Intregitas pemaknaan sebagai puisi sungguhan atau akreditasi sebuah puisi! akupun mulai malu menyimak tulisanku yang kuanggap puisi itu. merasa tidak layak pakai atau istilahnya itu produk gagal.

seperti yang kukatakan, penaku seakan tumpul untuk menulis sebuah makna, makna yang mampu memberi keluwesan pembaca agar bisa terhayati dan teresapi sebagai sebuah puisi, mata penaku buta, seperti kehilangan tongkat. penaku hanya bisa merangkak ke depan tanpa tuntunan. Setelah aku sadar bahwa tulisanku itu bukan puisi, melainkan hanya menyerupai puisi, mulai saat itulah aku belajar menulis puisi, tidak lagi melulu berteori menulis puisi. belajar dengan cara membaca apapun, sebab dengan membaca ibarat menyalakan api di dalam kegelapan. kegelapan itu diandaikan ketidaktahuan, dan api adalah jembatan yang menghubungkan dua jalan yang terpisah.

Terus sampai kapan aku akan belajar menulis sehingga itu layak di katakan puisi? setidaknya ada pengakuan dari orang lain yang sanggup dan bertanggung jawab bahwa tulisanku adalah mutlak puisi. barangkali sampai aku jadi kenangan! sampai kelak tak ber-waktu.

kalau mengingat bagaimana aku dengan rasa pongahku mengatakan (ini) adalah Puisiku! ah…betapa malunya aku! Sungguh, tidak di nyana, kalau (itu) bukan puisi,. bahwa aku merasa menjadi bocah kembali, yang hanya di permainkan kata, di jadikan mainan 28 abjad. aku senang. aku bahagia, aku riang namun tidak bisa semena-mena mengatakan (ini) adalah puisi! oh…betapa Malunya aku ini, di permalukan atau justru mempermalukan.

aku masih ingat, ketika banyak yang minta belajar membuat puisi, dan aku menunjukkan materi dan teorinya. aku merasa menjadi penyair, merasa mempunyai Hak untuk memberi tahu. merasa bahwa aku menjadi guru dari orang yang bertanya, namun kini, setelah aku mulai curiga dengan cara kepenulisanku, tatacara dalam menulisku perlu di Operasikan lebih lama, perlu daya untuk membuat tulisan lebih bermakna tanpa mengikut sertakan prinsip orang lain. dan sekali lagi, aku Malu dengan apapun yang bertautan dengan penulisanku, sungguh.

yang kukira puisi, hanya metafor kencur ternyata
yang kusangka puisi, hanya tumpukan kata ternyata
yang kuduga puisi, hanya ambisi maya ternyata

Ternyata, tulisanku belum cukup umur untuk menerima pengakuan sebagai puisi, tulisanku belum mampu menyandang gelar sebagai puisi, tulisanku belum baligh! kau tau? aku bukan penyair yang kausebutsebut itu. bahkan selamanya aku akan menjadi Murid dan siapapun atau apapun adalah guruku untuk menulis.

Dan sekarang aku tahu bahwa sebagian proses belajar untuk menulis puisi itu adalah tak letih membaca puisi orang lain, tak segan menyimak puisi orang lain, selalu berusaha untuk memahami puisi orang lain, sebab dengan begitu akan paham bahwa ”puisiku’ ternyata masih harus menempuh perjalanan dengan cara merevisi ulang, hingga pada saatnya nanti akan mempunyai daya untuk tidak lagi sanggup curiga bahwa tulisanku bukan puisi, tapi puisi sungguhan, minimal mendapat pengakuan dari diri sendiri.

Dan akhir kata, aku tidak boleh dengan bangganya dengan mengatakan bahwa tulisanku sudah layak di kategorikan puisi, perlu penyelidikan lebih lanjut tentang tatanan menulisku seterusnya, Belajar…belajar….belajar menulis puisi sampai aku menjadi kenangan. sekalipun sampai kapanpun aku tidak pernah mengerti apa itu puisi?

January 2012

Categories: Esai