Mendiskusikan Parameter Buku Berorientasi KBK

Sutejo *
Kompas, 22 Des 2003

Menjelang diberlakukannya Kurikulum Berbasis Komptensi (KBK) pada tahun 2004, mulai bermunculan buku-buku dan lembar kerja siswa (LKS) berlabel KBK. Berkaitan dengan hal ini, menarik mengingat kembali sinyalemen Agam Sukad (Kepala Pusat Perbukuan Depdiknas) bahwa di daerah telah terjadi peredaran buku di sekolah-sekolah yang mengabaikan mutu standar nasional, dari SD sampai SLTA (Kompas, 30 Januari 2003).

Oleh karena itu, barangkali penting direnungkan: bagaimanakah parameter buku pelajaran yang berorientasi KBK? Sebab, kalau selama ini sosialiasi KBK saja banyak belum menyentuh para guru karena berbagai alasan, utamanya dana dari daerah, maka memperbincangkan keberadaan buku pelajaran yang berorientasi KBK menjadi rumit dan tidak dekat dengan dunia guru (dekat dalam wacana, jauh dalam praksisnya).

Jika kita menengok kembali KBK sebagaimana diisyaratakan Depdiknas, maka KBK itu hakikatnya bermuara pada empat keterampilan pokok yang mencakup: keterampilan personal, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional. Karena itu, buku pelajaran yang berorientasi KBK, pada hemat saya, juga harus memenuhi empat parameter keterampilan pokok tersebut.

Pertama, buku pelajaran hendaknya memberikan ruang pembelajaran, penggalian, dan penyosialisasian atas terbinanya keterampilan personal. Artinya, bagaimana mengemas buku pelajaran secara strategis dapat membangkitkan potensi diri, bakat, dan kemampuan personal (baca: peserta didik) untuk kiranya dapat berkembang secara maksimal. Pada pembelajaran memebaca bahasa Inggris dan bahasa Indonesia misalnya, sebaiknya lebih banyak mengungkapkan pengalaman para usahawan, seniman, intelektual, ilmuwan, budayawan, dan sebagainya. Itu pun, lebih arif lagi bila disertai penggalian pertanyaan kritis dan eksploratif untuk mengaitkannya dengan kemampuan masing-masing anak.

Kedua, buku pelajaran yang berorientasi KBK hendaknya mampu menciptakan materi yang dapat menggiring siswa untuk menyadari potensi sosialnya. Artinya, buku tersebut dapat memberikan ruang belajar demi terwujudnya kemampuan untuk berinteraksi sosial, berorganisasi, dan bekerja sama dengan orang lain. Sebuah buku pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan emosional, yang melatih aneka persoalan hidup bermasyarakat. Untuk bidang Fisika misalnya, buku pelajaran hendaknya mengadopsi tema dan materi yang bermuatan sosial (emosional?). Materi Fisika semacam yang ditulis Yohanes Surya, ‘’Belajar Fisika di Lapangan Bola’’ (Kompas, 31/1) menarik untuk dianggkat ke dalam buku pelajaran yang berorientasi KBK.

Ketiga, buku pelajaran itu hendaknya mencerminkan materi-materi yang terorganisasi dalam kerangka mewujudkan keterampilan akademis. Keterampilan akademis itu menyaran pada bagaimana buku pelajaran itu memberikan ruang kepada peserta didik untuk tergali kecakapan aplikatif atas pengetahuan kognitif yang dimilikinya.

Keempat, buku pelajaran itu harus memberikan ruang materi untuk terciptanya pembelajaran yang juga menyediakan materi yang merangsang atas tumbuh dan berkembangnya keterampilan vokasional. Sebuah keterampilan langsung semacam komputer, internet, menjahit, elektronik, kesenian, olahraga, dan lain sebagainya. Keterampilan vokasional, karena itu, menyaran pada bagaimana pentingnya keterampilan tambahan pada diri peserta didik.

Untuk inilah, maka guru sebaiknya tidak tergesa-gesa menjatukan pilihan pada buku-buku pelajaran yang menjamur dengan label KBK. Selektivitas guru terhadap buku pelajaran menjadi syarat awal terciptanya pembelajaran kelas yang berorientasi KBK. Apalagi, pada bentuk-bentuk LKS yang tidak produktif untuk tumbuhnya kreativitas keterampilan hidup siswa.

*) Sutedjo, Guru SMU Bakti Ponorogo.