Menulis dan Imajinasi

Kasnadi *

Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan imajinasi? Imajinasi dalam Kamus Istilah Sastra karangan Abdul Rozak Zaidan mengadung makna ‘daya cipta untuk membuat gambaran dalam angan-angan atau pikiran tentang sesuatu yang abstrak sehingga dapat diserap oleh panca indra”.

Pentingkah imajinasi itu dalam kehidupan? Seberapa hebatkan imajinasi berandil dalam kenyataan sekarang? Coba, renung sejenak pertanyaan ini!

Siapakah yang tidak pernah berimajiasi, mengkhayal atau melamun? Tentu jawabnya “tidak ada”. Bukankah setiap hari Anda mesti berimajinasi? Begitu pentingnya imajinasi dalam kehidupan manusia, Albert Einstein bilang bahwa imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Kata Si imuwan kondang penemu teori relativisme ini dapat ditelusuri dari berbagai kenyataan bahwa imajinasi memegang peranan penting dalam kehidupan. Kenyataan yang ada di dunia ini bermula dari daya imajinasi yang hebat. Bila Anda flash back sejenak tentang teori mimesis yang dipelopoi oleh seorang negarawan Yunani, yakni Plato, adanya dunia nyata ini berasal dari dunia ide. Dunia ide adanya hanya di dalam gagasan yang cemerlang. Dan lahirnya gagasan berawal dari pengandaian.

Konon, wujudnya kapal terbang, tidak lain dan tidak bukan berkat adanya imajinasi yang hebat. Pada suatu hari yang cerah Leonardo da Vinci bertemu dengan Monalisa. Mereka berdua menikmati pemandangan yang amat indah. Pada saat itulah, sambil memandang burung-burung yang sedang beterbangan di angkasa, Leonardo da Vinci berkata “pada suatu saat kelak, manusia pasti akan sanggup terbang bagaikan burung”. Akhirnya, pengandaian Leonardo menjadi sebuah kenyataan bahwa manusia dapat terbang. Pengandaian Leonardo da Vinci mewujud dengan pengandaian Orville Wright dan Wilbur Wright sebagai penemu kapat terbang pertama kali. Dua bersaudara itu berimajinasi “Apakah yang akan terjadi, seandainya sebuah benda dengan struktur tertentu dilontarkan ke arah yang berlawanan dengan arah angin”? Sebagai ilustrasi lain, tengok perenungan penemu listrik -si jenius Thomas Alva Edison-. Dia merenung dan berimajinasi lewat pertanyaan diri sendiri yakni “Mengapa geseran antara besi dan besi sanggup menciptakan lentikan-lentikan apai”?

Karya-karya imajinatif dalam cerita detektif tidak jarang dijadikan inspirasi kejahatan. Masih ingatkah Anda tentang peristiwa tragis yakni, pembunuhan terhadap sebuah keluarga di Songgoroti, Malang sekitar tahun 1980-an? Peristiwa tragis itu, menurut pengakuan pelakunya diilhami oleh novel detektifnya Aghata Kristi. Ahli ilmu jiwa Sigmun Freud dan Gustav Yung menurut pengakuannya, melahirkan teori-teori cemerlangnya dipicu oleh novel-novel yang dibacanya. Menarikkan?

Pernah baca Cerita Seribu Satu Malam? Kemampuan gadis cantik nan cerdas yang bernama Syahrazad untuk menyuguhkan cerita yang memukau Baginda Syahryar pada setiap malam tidak lain adalah kemampuan imajinasi cemerlangnya Syahrazad. Dengan kemampuan bercerita Syahrazad, penguasa kerajaan Sasanida yang sudah tua bangka itu tak kuasa menghentikan. Syahryar terbawa permaian kata-kata Syahrazad untuk diajak memasuki dunia petualangan Sinbad, lampu ajaib Aladin, Ali Baba, dan sebagainya. Kepiawaian Syahrazad dalam bercerita membawa kebahagiaan, karena Syahryar pada malam ke seribu satu meninggalkan kebiasaan bengisnya yakni membunuh gadis yang baru turun dari ranjang.

Bila Anda suka melamaun, jangan dibasmi bibit imajinasi itu. Tetapi bagaimana Anda dapat menggiring imajinasi tersebut menjadi kenyataan yang berarti. Pada akhirnya, memang imajinasi perlu dibangun, dipelihara, dipompa biar membara dan mewujud dalam sebuah kenyataan.

*) Penulis adalah guru SMA Immersion Ponorogo.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/