Nasionalisme yang Terkikis dalam Lampuki

Riki Utomi *
Riau Pos, 5 Mei 2013

NASIONALISME sangat penting dalam kehidupan bernegara. Sebuah bangsa yang besar akan memiliki ketahanan nasional secara utuh dari segenap rakyatnya yang berdiam dan berhimpun dalam tiap wilayahnya. Maka keberadaan untuk tetap setia pada negara itulah merupakan hal yang urgen sebagai kesadaran akan bela negara. Tapi bagaimana kalau suatu negara ada sebagian kecil rakyatnya enggan untuk menghargai negaranya sendiri dan lebih jauh ingin menunjukkan eksistensinya sebagai figur yang kuat untuk menentang negaranya sendiri? Hal itu tentu membuat rasa nasionalismenya telah berkurang dan terkikis sedikit demi sedikit, yang lambat laun akan dapat berubah menjadi anarkis dan juga pembangkang yang besar kepada negara.

Dalam novel Lampuki karya Arafat Nur, lebih jauh meneropong liku-liku kehidupan masyarakat Aceh. Mengisahkan situasi Aceh yang telah beralih menjadi Daerah Operasi Mililiter (DOM) karena adanya gerakan-gerakan bawah tanah yang cukup membahayakan bagi kelangsungan nasib kota Serambi Mekah itu. Dalam hal inisecara tak langsungGAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjadi tolok ukur dalam masalah-masalah yang dicertakan. Akibat hal-hal itu, Aceh menjadi daerah yang penuh kontroversi, daerah rawan konflik dan sensitif. Tidak tampak lagi kelangsungan dalam kehidupan masyarakatnya yang sehari-hari ramah dan tenggang rasa. Tapi berubah mencekam dan selalu awas dengan bahaya teror-teror yang tanpa sadar akan datang menghampiri.

Berkisah tentang tokoh sentral Aku yang menceritakan tentang sosok Ahmadi yang bergelar Si Kumis Tebal. Sosok lelaki jangkung kurus ini memiliki nyali besar untuk membentuk gerakan-gerakan pemberontakan yang tentu secara sembunyi-sembunyi dalam aktifitasnya. Ahmadi menjadi lambang sikap pemberani bagi masyarakatnya di desa Lampuki. Dia (Ahmadi) kerap memberikan pandangan kepada masyarakat tentang kesadaran untuk ikut berjuang membentuk laskar menentang pemerintahan. Baginya pemerintah adalah penjajah yang harus dilawan dengan kekuatan senjata.

Meski begitu, banyak juga masyarakat yang enggan dan tidak menyukainya. Tidak suka akan sikap dan sifatnya yang selalu congkak, sombong, dan kadang sok berani, karena secara tak langsung, gara-gara Ahmadi-lah ada sebagaian warga masyarakat ditangkap dan disekap para tentara yang mengadakan patroli keliling kampung karena untuk menciduk anak-anak buah Ahmadi yang dicurigai sebagai pemberontak. Oleh sebab itu, masyarakat menjadi resah, gundah, dan ketakutan untuk beraktifitas di kampungnya sendiri. Sedang Ahmadi dan anak buahnya yang berasil dirayunya itu asik bersembunyi di dalam hutanyang katanya sering digunakan untuk latihan menembak. Untuk itulah masyarakat tidak tertarik pada Ahmadi karena sikapnya yang hanya dapat membuat masalah di kampung Lampuki yang membuat masyarakat jadi repot. Tapi Ahmadi tetap congkak dan menganggap dirinya sebagai pahlawan yang membela kebenaran. Tampak sikap Ahmadi yang benci kepada pemerintah pusat yang dikatakannya sebagai penjajah.

‘’Kita sekalian wajib berperang melawan kaum perusak yang sudah menginjak-injak tanah ini. Mereka betul-betul tidak tahu diri, biadab, dan kejam! Tiada pantas lagi bagi kita memberi hati atas kejahatan mereka yang tiada berperi, kalau tidak, betapa hinanya kita ini, bangsa yang merupakan keturunan baeradab dan pembernai, bisa diperbudah oleh kaum lamit yang pernah dijajah berkali-kali. Terkutuklah anjing-anjing penjajah!’’ teriak Ahmadi dengan kumis bergetaran. (Lampuki, hlm: 31)

Ahmadi di mata masyarakat memang memiliki nyali besar. Barangkali hal itu karena dulu dia sebagai bekas berandal. Tapi karena akibat konflik yang terus berlangsung di Lampuki dia tergerak untuk mengikuti jejak langkah pendahulunya yang mengangkat senjata untuk melawan kaum penjajah (pusat). Pribadinya semakin menaruh kebencian kepada hal-hal yang berbau pemerintah pusat.

‘’Ahmadi pernah berkata bahwa kebanyakan dari pemimpin kami dahulu -dan juga sekarang ini- adalah kawanan berandal. Dan mereka yang berjabatan paling tinggi sampai yang paling rendah, terus saja bertikai dan memelihara permusuhan; saling menyikat, menyepak, dan menerjang demi kepentingan dan keuntungan diri mereka sendiri, tanpa mereka pernah menghiraukan nasib rakyat. Mereka tidak pernah merasa rugi ataupun berdosa bila negeri ini hancur dan binasa di tangan mereka, padahal mereka itu sebagai pemangku amanah, pemikul tanggung jawab, dan penentu nasib kami semua.’’ (Lampuki, hlm: 4)

Semakin bencilah Ahmadi kepada hal-hal yang bersifat dari pusat. Dia terus menanamkan kebencian itu di dalam hati. Baginya angkat senjata adalah perkara yang harus dilakukan tanpa memandang lagi hal-hal yang lain dan pemikirannya yang lepas itu membuatnya semakin mantap untuk melawan. Dia seperti tidak memandang lagi dimana dia masih berada, dan dia juga tidak lagi mau menyikapi tentang rasa nasionalismenya sebagai warga negara Indonesia. Dia seperti berada di awang-awang.

Karya sastra merupakan hasil ‘perkawinan’ dunia fiksi dan realita dengan sendirinya akan mewarisi sifat-sifat dasar dari kedua induknya. Dalam karya sastra, ditemukan pelukisan suasana, tempat, dan tokoh-tokoh dan peristiwa. Sastrawan yang melahirkan karya tersebut merupakan anggota masyarakat sebagai pengejawantahan homo homini lupus (manusia sebagai makhluk sosial). Oleh karena itu, dalam karya sastra, tergambar jelas kondisi sosial masyarkat sebagai cermin keadaan masyarakat ketika karya itu diciptakan. (Sudjarwoko: 213).

Arafat Nur, sang pengarang Lampuki, yang memenangkan Sayembara Penulisan Novel DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) 2010 ini begitu cermat menyoroti lekuk-liku ‘tubuh’ Aceh. Sebagai putra Aceh sejati Arafat meresapi segala problematika Aceh yang penuh gejolak itu. Dalam Lampuki, gambaran buram tentang Aceh banyak terungkap. Kita sebagai pembaca dapat menyaksikan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi, seperti tidak adanya keharmonisan antara rakyat Aceh sebagiannya dengan pemerintah Indonesia, antara masyarakat dengan pihak keamanan (tentara) yang telah lama menduduki tanah rencong itu dengan dalih menjaga keamanan dari gembong-gembong pemberontakan, atau bahkan tidak adanya keharmonisan antara sesama masyarakat karena sesama masyarakatpun telah saling curiga sebagai orang yang ikut terlibat dalam gerakan pemberontakan yang berakibat ditangkap pihak militer dengan risiko tragis diinterogasi dengan disiksa bahkan sampai mengakibatkan kematian.

Hal yang kacau itu dapat mengakibatkan dilema psikologi bagi tiap masyarakat. Masyarakat menjadi antipati pada siapapun, tak terkecuali kepada pemerintah, karena dalam hal ini, pemerintah yang seharusnya sebagai pelindung rakyatnya kini tak ubah sebagai macan yang menerkam anaknya sendiri. Hal ini menjadi paradikma besar yang mengikis sikap-sikap manusia sehingga dapat menimbulkan chaos dalam tiap diri manusia itu yang semakin lama mengikis rasa nasionalismenya yang dapat menjurus kepada tidak ada lagi rasa percaya kepada pemerintah (negara).

‘’Setiap terjadi penyerangan pemberontak, mereka selalu saja memukuli orang-orang dan membakar pula rumah mereka. Budak-budak itu mempersalahkan setiap menyerangan kepada mereka yang tinggal di sekitar tempat kejadian. Karena itulah setiap terjadi kekacauan penduduklah yang menanggung akibatnya. Mereka kerap kena hantam dan kehilangan tempat tinggal.’’ (Lampuki, hlm: 417)

Rasa nasionalisme; sikap setia dan berbakti kepada negara adalah kewajiban bagi tiap warga negara. Hal itulah yang menjadi kekuatan bagi bangsa untuk mempertahankan negaranya dari berbagai bentuk ancaman. Hal yang penuh ketimpangan dalam kisah-kisah Lampuki dapat menjadi cerminan bahwa kita harus menyikapi dengan baik segala langkah ke depan (apalagi sebagai pemimpin). Berbagai ketimpangan yang terjadi dalam kisah-kisah Lampuki ini adalah gambaran tumpang tindih dalam kebijakan permintah terhadap daerah yang dikuasainya. Dari satu sisi, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dalam kekuasaan pemerintah pusat juga sebagai masalah besar yang tentu membuat warga masyarakat yang tertindas itu tidak senang. Bukankah banyak daerah lain yang juga hampir memiliki karakter permasalahan yang sama?

Pergulatan batin tokoh Ahmadi satu sisi dikatakan baik karena dia -apakah dengan kesadarannya atau pula karena semata kebenciannya pada aparat-aparat negara- mau membela dan menegakkan marwah. Tapi dari sisi lain, dia tidak menimbang rasa akan keberadaannya yang masih juga bergantung dari hasil kekayaan negaranya sendiri. Dia tumbuh dan berkembang dalam didikan tanah arinya Indonesia sejak kecil, tapi mengapa harus membangkang dan menentang negaranya sendiri? Yang kemudian turut menghasut masyarakat agar turut mengikuti jejaknya berjuang menentang negaranya sendiri, yang akhirnya meracuni pikiran masyarakat dan mengikis rasa nasionalismenya. ***

Telukbelitung, 24 Maret 2013

*) Riki Utomi, peminat dan penikmat sastra. Pernah berproses di FLP Riau. Menulis sajak, cerpen, esai, juga sesekali naskah drama. Sejumlah tulisan dimuat dalam Suara Merdeka, Lampung Post, Padang Ekspres, Sabili, Haluan Kepri, Haluan Riau, Jawa Pos, Batam Pos, Riau Pos, Sagang dan terangkum dalam sejumlah antologi bersama. Diundang dalam helat baca sajak Penyair Jemputan Serumpun 2012 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Bergiat di Rumahsunyi. Bermastautin di Selatpanjang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/nasionalisme-yang-terkikis-dalam-lampuki.html