Proses Kreatif: Oleh-oleh dari Mardi Luhung

Kasnadi *

Pada Selasa, 13 November 2007, SMA Immersion Ponorogo mengundang seorang penyair “nyentrik” angkatan 2000. Ia adalah H.U. Mardi Luhung, yang lahir di Gresik 42 tahun lalu. Sebagai penyair, kepenulisannya ditandai dengan penuh gairah dan daya vitalitas yang sangat tinggi. Ia termasuk salah satu penyair muda yang sangat produktif. Karya-karyanya tersebar di berbagai media cetak baik lokal maupun nasional. Di samping itu kiprah kepenyairannya tidak diragukan lagi, hal ini karena ia juga pernah mengikuti berbagai macama temu sastrawan di seluruh dunia. Pada tahun 2001, ia mengikuti Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) yang diikuti oleh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam. Pada tahun 2005, ia mengikuti “Binal Sastra Temu Sastrawan 7 Negara (Indonesia, Belanda, Karibia, Amerika, Afrika Selatan, India, dan Rusia). Keterandalan karya-karya Mardi Luhung terbukti beberapa kali ia memenangkan lomba kepenulisan di tingkat Nasional. Dan, pada tahun 2006 ia mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur dalam bidang sastra. Penghargaan tersebut trentunya atas kiprahnya dalam bidang sastra, khususnya sebagai penyair yang telah menelurkan buah karya Terbelah Sudah Jantungku (kumpulan puisi, 1995), Wanita Kencing di Semak (kumpulan puisi, 2001), Ciuman Bibirku yang Kelabu (kumpulan puisi, 2007).

Sebagai seorang penyair jebolan Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember, ia mempunyai beberapa prinsip sebagai jurus proses kreatifnya. Dalam melahirkan karya-karya puisisnya ia menedepankan (1) Bagaimana penting untuk membangkitkan pengalaman masa lalu. Masa kecil menjadi hal penting dijadikan pencarian ide dalam kepenyairannya. Hal ini memang tidak begitu sulit, bukankah masa kecil adalah pengalaman empirik yang terpatri dibenak kita? Bukahkah masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang menyenangkan? (2) Bagaimana upaya membangkitkan imajinasi. Imajinasi adalah proses pembayangan sekaligus pengkongkritan terhadap sesuatu yang ada di sekitar kita. Imajinasi bukan lamunan tanpa pijakan yang nyata. Imajinasi sangat berandil dalam menciptakan karya seseorang. Bahkan kesuksesan seseorang dapat berangkat dari imajinasi yang dipupuk (baca: tulisan Kasnadi di Ponorogo Pos, tgl.20-26). (3) Proses pembacaan terhadap teks maupun pembacaan alam. Pembacaan ini merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh seorang sastrawan (baca: penyair) karena tanpa bacaan yang luas karyanya akan menjadi kering dan monoton akhirnya melahirkan karya-karya kehilangan nuansa zaman. (4) Dan jangan lupa media ekspresi karya sastra (baca: puisi) adalah bahasa. Kenyataan itu mewajibakan seorang penyair harus memahami dan menguasai bahasa. Penguasaan bahasa, karena itu akan memperkaya pilihan diksi, pilihan ungkapan, sampai pada pemanfaatan gaya bahasa yang tepat dan menarik. Jika tidak percaya, baca novel Saman karya Ayu Utami. Cala Ibi karya Nukila Amal dan novel The God of Small Things buah tangan Arundhati Roy novelis India. Kehebatan novel-novel tersebut salah satunya karena pengarang sangat piawai dalam mempemainkan bahasa. (5) Setelah membangkitkan pengalaman masa lalu, menyuburkan imajinasi, memupuk dengan banyak referensi yang dibaca, dan penguasaan bahasa, jangan lupa penulis perlu sebuah komunitas. Komunitas merupakan wadah penggodokan karya-karya serta menemukan ide-ide yang dapat diangkat dalam karyanya. Komunitas merupakan ajang dan ladang apresiasi sesama penulis sebelum karyanya dipublikasikan. Mengapa komunitas menjadi “kawah candradimuka” pengolahan karya dan penemuan gagasan? Karena, dalam komunitas inilah secara langsung seorang penulis bergesekan dengan sesamanya. Dari kebersinggungan ide secara tidak langsung penulis akan menjadi dewasa dan secara otomatis akan melahirkan karya-karya yang berkualitas.

Dari kelima aspek penting sebagai pijakan proses kreatif seorang pengarang di atas, pada akhirnya, keberhasilan seorang pengarang sangat ditentukan oleh komitmen dan etos kerja yang tinggi.

*) Penulis adalah guru SMA Immersion Ponorogo