Pulang untuk Sebuah Cinta

Judul buku: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbitan: 4 Desember 2012
Jumlah halaman: 552 hlm
Ukuran buku: 13,5 x 20 cm
Peresensi: Wahyudin *
radarbanten.com Mar 02, 2013

Leila S. Chudori bukan nama yang asing lagi dalam dunia kesusastraan di Indonesi. Kecemerlangan karyanya tidak lagi diragukan. Gaya narasinya yang memikat membuat pembaca tidak mengerutkan dahi ketika berhadapan dengan isu seputar bias gender, subkultur dan marginalisasi komunitas oleh kekuasaan.

Novel berjudul Pulang merupakan bukti bahwa selain sebagai sastrawan, Leila S. Chudori adalah jurnalis yang tekun. Data sejarah melalui catatan jurnalistik yang kadang “kering” diolah menjadi cerita memikat.

Novel ini menceritakan tiga titik sejarah yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Mungkin kita masih ingat peristiwa 30 September 1965. Isu komunis menjadi bola salju yang terus meluncur dan semakin membesar hingga melindas apa saja yang dilaluinya. Namun kekuasaan yang berupaya menghentikannya pun tidak kalah beringas. Dengan alasan “stabilitas nasional” nyawa manusia bukanlah hal yang berharga di mata negara.

Adalah Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis pada 1968. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar yang sama dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas bersama tiga kawannya yakni Nugroho, Tjai, dan Risjaf terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawanya di Indonesia dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan 30 September tersebut. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari, istri Hananto, yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diintrogasi tentara. Sampai di sini kita ingat nasib Sobron Aidit, pengarang Indonesia yang juga memilih menetap di Paris dan membuka restoran di sana.

Cerita berlanjut di Jakarta, Mei 1998. Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia un

tuk merekam pengalaman keluarga korban 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya. Bersama Segara Alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia.Kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan penghianatan, berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Perancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998. Selamat membaca.

Dijumput dari: http://www.radarbanten.com/read/berita/10/9024/Pulang-untuk-Sebuah-Cinta.html