Sudjojono

Djadjat Sudradjat
Lampung Post, 5 Mei 2013

BAGI seniman dalam alam ini tak ada yang jelek,? kata August Rodin, pematung Prancis yang kesohor itu. Juga pastilah bagi Soedjojono, legenda seni rupa Indonesia. Ia menjadikan alam (Indonesia) tasik yang tak pernah kering, ibu yang tak pernah sudah melahirkan inspirasi untuk terus mengabadikan semangat Indonesia. Dalam sedu, dalam sedan, dalam ragu, terlebih dalam rasa girang yang penuh. Ia ?penakluk segala cuaca?

Tetapi, dari manakah kita mulai membincangkan seorang Sindudarsono Sudjojono, yang kemudian dikenal sebagai S. Sudjojono, Pak Djon, atau SS-101, yang Mei ini genap seabad kelahirannya? Tak ada yang lebih pantas membicangkan seseorang seniman dari karyanya. Tapi, biografi adalah ?aksesori yang indah? dalam membincangkan seniman.

Djon lahir di Kisaran, Sumatera Utara, 1 Mei 1913. Tapi, ada yang juga mencatatnya 15 Mei. Tak ada yang pasti. Sebab, satu-satunya penanda waktu adalah ketika ayahnya, Sindudarmo, sebagai mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, tengah gajian. Sementara waktu gajian tanggal 1 dan 15 setiap bulannya.

Debat tanggal 1 dan 15 — ada juga yang menulis di luar kedua tanggal ini — jadi tak penting. Yang terpenting, Djon, meski ia telah wafat di Jakarta, 25 Maret 1985, karya-karyanya terus dalam orbit seni rupa modern Indonesia yang tak tergantikan.

Kita mengenang seorang Djon, Bapak Seni Rupa Modern Indonesia, karena tidak saja ia bagian dari sejarah seni rupa Indonesia yang amat penting, tapi juga bagi revolusi Indonesia.

Djon, yang mempunyai 14 anak dari dua istri, Mia Bustam dan Rose Pandawangi, adalah lokomotif yang menggerakkan para seniman muda untuk menolak kedatangan Belanda kembali ke Indonesia lewat poster dan baliho propaganda. Di Taman Siswa Yogyakarta itulah mereka “bermarkas”.

Di ibu kota Indonesia masa revolusi ini ia banyak membuat lukisan bertema perjuangan dan kebangsaan. Di kota ini pula ia berhubungan rapat dengan Presiden Soekarno, yang memberikan tugas membuat lukisan serial pahlawan. “Si Bung” ini pula yang kemudian banyak membeli lukisan pria yang pernah memperkuat kesebelasan Indonesia Muda ini.

Di masa revolusi itulah, Djon kehilangan sang ayah, Sindudarmo. Ia tertembak peluru musuh ketika tengah menyelamatkan dokumen perjuangan dan Djon membawa sketsa-sketsa dalam buntalan. Di depan tubuh sang ayah yang bersimbah darah, ia berucap, “Pak, menyelamatkan dokumen juga perjuangan, Pak,” kata Djon seperti dikutip Mia Bustam dalam biografinya, //Sudjojono dan Aku// (1977).

Di masa itu pula puluhan sketsa dan lukisannya habis dibakar tentara Belanda. Sementara yang berhasil diselamatkan, yang kemudian tersimpan di Museum Adam Malik, juga tak jelas nasibnya. Padahal, sketsa-sketsa terbaik Djon dibuat ketika masa revolusi itu. (Majalah Tempo, 5 Mei 2013).

Kini kita masih bisa menikmati beberapa karya Djon yang terkenal itu, antara lain Mengungsi, Persiapan Gerilya, Seko, Tetangga, Gunung Merapi, Kawan-Kawan Revolusi, Potret M. Husni Thamrin, Pertempuran antara Sultan Agung dan J.P. Coen, Potret Pangeran Diponegoro. Sebagian menjadi koleksi Istana Presiden Yogyakarta dan Museum Fatahillah, Jakarta. Karya-karya yang telah amat berbicara tentang Indonesia, baik pada publik sendiri maupun publik luar negeri. Lewat seni rupa Djon terus menjadi? duta abadi? untuk negeri ini.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/refleksi-sudjojono.html