Anakku, Harta tak Ternilai!

Agus Subiyakto *

Alhamdulillah, syukur yang tak ternilai! Tatkala Allah menganugrahi putra kecil yang mewarnai keseharian kami. Setelah penantian panjang serta kegagalan mendapatkan anak untuk yang kesekian kali. Perlu diketahui, anakku kini anak kedua kehamilan, yang ketiga lewat operasi sesar. Kehamilan kedua, tak bisa dipertahankan, kakaknya Akmal atau anak pertama telah meninggal, dikala masih bayi karena sakit, pun adiknya Amira, anak ketiga meninggal dunia sebab sakit juga. Begitulah yang terjadi atas keluarga kami.

Saat itu belum bisa menerima kenyatan, sempat protes kepada Allah, “Mengapa menimpakan musibah ini; apa salah kami? Apakah terlalu banyak dosa? Allah begitu tega pada kami, ini tak adil!” kataku dalam hati. Untunglah segera sadar, tidak larut dalam kesedihan lara nun lama. Lantas kami insaf, bahwa ini suratan takdir yang harus dijalani.

Mengingat usia kami tidak muda lagi, tentu kehadiran anak bagai harta tak ternilai. Ini berkat kesabaran, kepasrahan, pun doa semua sahabat, kerabat, terutama orang tua kami. Alhamdulillah, Allah masih memberi amanat pada kami untuk memiliki anak, walau sebelumnya merasa hidup ini hampa, tanpa tangisan bayi. Bahkan minder, mungkin juga stres dan malu pada para sahabat, terutama teman kerja. Mereka selalu bertanya, berapa anakmu? Kelas berapa anakmu? Pula pernah diledek mandul. Ini menyakitkan! Kami terus bangkit dari kesedihan, sedari prasangka buruk kepada Allah, demi mendapati keturunan.

Kini anakku semakin besar dan lucu, sudah akan naik kelas dua SD. Setiap hari, banyak waktu kami habiskan bertiga untuk bermain, bercanda, belajar dalam bahagia; bersemangat menjalani hidup, tidak minder lagi. Rumah menjelma terang, adanya cahaya yang menyinari jalan setiap lelangkah kami. Ini amanah kami untuk mendidiknya, mengajarkan akhlak yang mulia.

Kami yakin, anak ialah permata atau pun pelita masa depan. Terlahir atas fitrah nan fitri, seperti kertas putih belum ada tulisanya, maka baik-buruknya anak tergantung orang tuanya. Untuk itu, kami selalu curahkan bersegenap perhatian, agar sehat, cerdas, pemberani, tidak cengeng; patuh kepada kedua orang tuanya, beriman, bertaqwa, dan tentu menjadi anak sholeh.

Karena kesibukan serta keterbatasan kami, tak bisa melayaninya berlebih. Maka kupercayakan menimba ilmu, di sekolah Islam yang punyai visi dan misi bagus, yakni Sekolah Islam Terpadu Qurrota A’yun, sejak dari Taman Kanak-kanak.

Melihat perkembangan anakku sedari bertambahnya hari ke hari, ada saja yang berubah, sedari fisik, motorik, ucapan, tingkah laku, yang membuat tertawa, tersenyum dan lainnya. Kebahagianlah yang kami rasa, sehingga menerbitkan syukur tak terhingga kepada Sang Pencipta, tiada henti-hentinya terpanjatkan.

Suatu hari kami bertiga bercanda, bergurau dalam kamar. Terlontar dari mulut anakku sambil merengek, “Bapak…? Ibu…? Aku pingin adik, aku nggak punya adik, aku kesepian”. Jawabku, “Kan punya dik Nuha, anaknya Bulek Yeni, anaknya bulek juga adikmu.”

Permintaan untuk punya adik berkali-kali disampaikannya, saat itulah ingatanku kembali pada peristiwa yang pernah teralami. Begitu pedih dalam perjuangan berat, dengan resiko tinggi mempunyai anak lagi.

Tak terasa aku dan istriku menangis, lalu terdengar ucapan anakku, “mengapa Mas Akmal dan Adik Amira meninggal pak?” Aku terdiam lantas memberitahu pada anakku, “Ibu sudah tak bisa mengandung lagi, ibu sakit, jantungnya tak sehat. Mas Akmal dan Adik Amira, sudah ada di surga, besok Insyaallah kita dipertemukan oleh Allah di sana.” Itulah kenyataan! Rasanya, tiada mungkin mempunyai anak lagi, mengingat usia serta kesehatan istriku.

Kini anakku makin besar, tak lupa kami selalu memberi dorongan, demi mengembangkan segenap potensi yang dimiliki. Agar belajar giat, bersemangat meraih cita-citanya, dengan mengikutkan tambahan pelajaran di luar sekolah sesuai kemampuannya, untuk mendukung pelajarannya.

Alhamdulillah, anak kami prestasinya baik, tentu tak lupa memberi pujian baginya, demi lebih meningkatkan kualitasnya. Kami percaya, dengan motivasi dari orang tuanya, anak akan tampil yakin diri tidak ragu-ragu bersikap, serta merasakan dirinya diperhatikan, dihargai.

Inilah munajat kami, “Ya Allah, berikanlah kemampuan, kekuatan untuk mendidik anakku, jadikan anak yang sholeh, cerdas, sehat dan berprestasi, yang bisa menyelamatkan orang tuannya di akhirat nanti, amin…”

*) Agus Subiyakto, lahir di Madiun, 17 Agustus 1969, adalah Wali dari Ananda Aiman Abyakta Yahya (siswa kelas 1-Abu Bakar). Alamat sekarang di Jl. Astrokoro Tambakbayan Ponorogo. Penulis adalah suami dari Sri Supatmi.