Demi Princess Naila, Putri Hasna dan Raden Ranu Wijaya

Desiana Medya A.L*

Langit malam minggu dihiasi mendung. Jam dinding menunjukkan pukul delapan lebih seperempat. Anak-anak sudah terlelap, setelah seharian bermain, nonton TV, saling bergurau, dan bertengkar! Ya, bertengkar. Tiada hari tanpa adu mulut, berebutan, tangisan, teriakan. Saat malam tiba, setelah anak-anak tertidur pulas, baru saya bisa istirah.

Kalau dipikir-pikir, senang punya anak banyak (setidaknya melebihi anjuran pemerintah). Rumah jadi lebih hidup, dan tetingkahnya yang lucu sangat menghibur, namun capeknya juga, di sisi nyanyian nikmat.

Saya ibu dengan 3 anak, bekerja di RSUD sebagai petugas administrasi, dan suami di salah satu instansi pemerintah. Saat berusia 23 tahun saya menikah. Mempunyai anak pertama di usia 24 tahun, anak kedua di usia 27 tahun, dan anak ketiga di usia saya 31 tahun. Bagi banyak orang, saya tergolong cepat punya anak, sik enom anake akeh. Saya mensyukuri semua, yang diberikan Allah pada keluarga kami. Itulah rezeki yang tak ternilai harganya, walau masa-masa berat harus sering teralami.

Anak pertama perempuan. Di rumah dijuluki Princess Naila. Anak kedua, perempuan lagi, dijuluki Putri Hasna. Yang ketiga, saya harapkan menjadi imam masjid, yaitu Raden Ranu Wijaya. Anak-anak saya beri julukan bagai anak raja, supaya selalu teringat, bahwa mereka berharga dan istimewa. Dan saya anggap rumah kami di ujung gang mewah (mepet sawah) juga istana, walau sering kebanjiran, serta banyak katak tanpa permisi memasukinya.

Saat ini Princess Naila kelas 2 SD, Putri Hasna TK Besar, Raden Ranu Wijaya hampir 2 tahun. Masih tergolong kecil-kecil, sehingga kondisi rumah sering kemruwet. Tembok rumah penuh gambar coretan warna-warni, mainan berserakan, dan bau pesing ompol. Untung punya asisten rumah tangga, dan ibu mertua yang ikhlas membantu ngemong cucu-cucunya. Kini mbok’e (sebutan untuk ibu mertua) sudah tua, sehingga cukup mengawasi anak-anak saja. Seandainya saya bisa tidak membebani beliau, tetapi jujur sangat butuh bantuannya.
***

Teringat kembali masa lalu. Dulu kala mau menikah, begitu semangat dan optimis bisa jadi ibu dan istri yang baik. Menikah ialah ibadah, separuh dari agama. ”Ya Allah, aku ingin punya anak, yang akan kupersembahkan kepada-Mu, menjadi pembela dan pelayan agama-Mu di dunia. Akan kusayang dan kurawat sebaik-baiknya.” Itulah doa saya di awal pernikahan. Allah mengabulkan, saya langsung hamil setelah menikah, sehingga merasa punya janji kepada-Nya sesuai doa. Tapi, saya tak pernah bayangkan permasalahan rumah tangga, juga punya anak ada repotnya.

Yang ada di pikiran, hidup apa adanya dengan suami, susah-senang dijalani. Menggendong bayi mungil dan lucu, bila dicium baunya wangi, di-kudang tertawa-tawa. Dalam angan, anak-anak sehat, pintar, sholeh-sholehah, sopan penurut. Tidak terpikir butuh banyak uang untuk makan, beli susu, membangun rumah dan sekolahkan anak. Tidak terlintas betapa sedihnya dikala anak sakit. Setelah mengalami, baru terasa tantangannya, apalagi memenuhi janji saya kepada Allah SWT.

Ternyata banyak peristiwa yang menguji mental dan hati, menggoyahkan cita-cita dan janji. Ujian pertama, ASI tidak lancar ketika melahirkan anak pertama. Karena ASI belum keluar, anak mendapat susu formula dalam dot. Niatnya sementara, nyata tak juga lancar, sehingga anak selalu menangis ketika meyusu. Saya panik dan khawatir, makanya diberi susu formula, Princess Naila pun tenang kembali. Inilah yang jadi penyesalan tiada ujung. ASI tidak lancar dan Naila terbiasa minum susu dari dot. Akhirnya susu formula jadi minumannya sampai besar. Saya sangat sedih, tapi mungkin sudah kehendak-Nya. Diri pasrahkan semua kepada-Nya, dan berharap Allah SWT tetap menjadikan anak saya sehat serta pandai. Inilah awal motivasi bekerja, supaya bisa membeli susu. Maklum, gaji ayahnya saat itu masih minim.
***

Alhamdulillah, saya dapat pekerjaan kala Naila berusia 1 bulan, tapi masih berkorban lagi, mengikuti pelatihan di luar kota selama 2 bulan. Dengan berat hati, anak saya titipkan untuk diasuh kakak, seorang bidan di kampung halaman, Lamongan. Pertimbangannya, Lamongan lebih dekat dengan lokasi pelatihan saya di Tuban, sehingga mudah menjenguk, daripada ke Ponorogo. Selain itu, kakak yang bidan tentu berpengalaman merawat bayi. Sedih sekali, suami di Ponorogo, saya di Tuban, anak di Lamongan. Ini sama sekali tidak terbayangkan!

Usia 3 bulan Naila, kami boyong ke Ponorogo. Lokasi tempat kerja saya di Ponorogo, mendampingi desa-desa yang mendapat bantuan proyek air bersih dan sanitasi. Anak kami asuh bersama mbok’e, beliau berhenti kerja sebagai penjual gethuk. Saat itu mbok’e cukup kuat, dan sangat sayang pada cucunya. Saya berutang sangat besar kepada beliau. Seorang janda penuh juang membesarkan empat anak, diantaranya suamiku. Begitu gigih bekerja, demi memberi makan dan menyekolahkan anak-anaknya, seperti Ibu Kartini yang memperjuangkan pendidikan kaum wanita.

Kehidupan mulai berjalan stabil, Naila tumbuh sehat dan kuat, saya diterima bekerja di RSUD saat anak berusia 1,5 tahun. Saya jadi memiliki banyak waktu merawat Naila, karena tak harus sering pergi ke desa dampingan. Suami sangat mendukung, dan begitu pengertian bersedia membantu pekerjaan rumah; mencuci, menyapu, memasak dan lainnya. Terima kasih ya Allah, atas kemudahan yang Engkau berikan.
***

Selang beberapa waktu, tibalah ujian kedua. Saya hamil lagi. Saat Naila menurut anggapan orang, masih terlalu kecil untuk punya adik. Kami tak merencanakannya, tapi Allah memberikan, Putri Hasna, anak kedua. Saya tidak tahu, sebenarnya diri ini merasa bukan ibu yang baik, tak bisa beri ASI, dan meninggalkan anak untuk bekerja. Apakah rencana-Mu ya Allah? Aku tak mungkin hamil, jika Engkau tak meridhoi. Suami berusaha menenangkan saya dan memotivasi, untuk menjalani sebaik-baiknya. Perasaan saya sebenarnya tertekan, karena kasihan pada Naila, yang harus berbagi kasih sayang. Bukan tidak ingin, tapi terasa terlalu pendek jaraknya, yaitu 2,5 tahun.

Suatu ketika, melihat Naila bermain sendiri tanpa teman, dan saya memangku adik Putri Hasna. Saya menangis kasihan, lalu suami mengatakan, kalau diri ini terlalu terbawa perasaan. Beberapa saat lagi, dia tidak akan bermain sendiri, namun bersama adiknya. Kami berusaha mengambil sisi positif, dan optimis menjalani kehidupan. Sesuatu yang menghibur saya ialah bisa memberikan ASI pada Hasna, meski tetap dibantu susu formula, karena jumlahnya sedikit. ASI bisa saya berikan hingga usia Hasna 11 bulan. Benarlah, dalam kesempitan ada pula kemudahan.
***

Kami bangun rumah sendiri pada 6-7-2008. Angka yang mudah diingat, karena berurutan. Saat itu Naila berusia 3,5 tahun, Putri Hasna 1 tahun. Merupakan kebahagiaan, karena akhirnya bisa lebih mandiri. Sesuatu yang tidak disangka bisa bangun rumah, walau modalnya hutang di bank. Bagi pegawai negeri, istilahnya menyekolahkan SK (Surat Keputusan penetapan menjadi PNS).

Hari-hari mengasuh 2 anak kecil, membutuhkan berlipat kesabaran. Sesungguhnya Allah memberi kemudahan dengan menjadikan Naila anak yang mandiri. Tak harus disuapi kala makan, tak mudah menangis, dan pandai bergaul dengan siapa saja.

Setelah sekian lama tinggal di rumah sendiri, pada tahun 2011, Raden Ranu Wijaya terlahir. Kali ini jaraknya 4 tahun dengan Hasna. Kami memang merencanakan punya anak lagi. Alhamdulillah diberi kesempatan mengasuh anak laki-laki.

Setelah punya 3 anak, semakin terasa kebahagiaan, namun teraba juga permasalahan. Dua anak kami, Princess Naila dan Putri Hasna terlalu sering bertengkar. Kadang saya tak tahan dibuatnya. Mengapa begini? Belum lagi semester satu lalu, nilai raportnya Naila turun. Saya juga cemas melihat anak-anak sering nonton TV daripada belajar, bermain di luar, duh Gusti…

Saat ini memasuki tahun ke sepuluh rumah tangga kami. Bila direnungi, nyata banyak kesalahan yang sudah saya lakukan sebagai ibu. Raport merah orang tua. Naila dan Hasna telah jadi korban. Mereka sering saya marahi, dan membentaknya, kala mereka saya anggap nakal. Padahal, itu ketidaktahuan atau justru kreativitas. Astaghfirullah, Naudzubillah… andai waktu bisa diputar ulang…
***

Kalau membandingkan antara cita-cita sebelum menikah, janji kepada Allah dengan kenyataan yang terjadi kini, sangat bertolak. Semoga tulisan ini jadi tonggak perubahan. Mengapa yang sudah diperjuangkan selama ini harus dirusak sendiri? Mengapa menanam gulma di ladang padi? Sesungguhnya, masih banyak kasih sayang dalam hati ini untuk keluarga. Saya akan berubah, demi Princes Naila, Putri Hasna, dan Raden Ranu Wijaya. Ya Allah, berilah saya kesempatan dan kemampuan membenahi diri, amin…

*) Desiana Medya A. L, lahir di Lamongan, 16 Desember 1980, adalah Wali dari Ananda Naila Naswa Salsabila (kelas 2-Utsman), Qonitah Hasna Syamilah, dan Muhamad Riski Ranu Wijaya. Alamat sekarang di Jl. Kalimantan 16 Ponorogo. Penulis adalah istri dari Agus Hadi Winoto.