Ibu

Kasnadi *

“Ibu” adalah istilah untuk menyebutkan salah satu sosok perempuan. Untuk menyebut perempuan, di samping istilah ibu masih ada istilah lain yakni nenek, bibi, bulik, nona, nyonya, dan nonya. Ibu adalah perempuan yang mempunyai anak. Oleh sebab itu, ibu mempunyai tanggung jawab yang tidak ringan dalam membesarkan anak. Siapakah yang menyentuh dan mengasuh pertama kali? Siapakah yang siap setiap saat melindungi? Siapakah yang mampu mengisi perut bayi dengan asupan bergizi berupa asi?

Sosok Ibu lekat dengan asi, karena hanya ibulah yang bisa memproduksi asupan bergizi itu. Ia menjadikan bayi tumbuh cepat, sehat, kuat, dan bermartabat. Meski demikian, cukup banyak kaum hawa yang menjadi ibu kurang memerhatikan kasiat yang terkandung di dalamnya. Mereka kurang sreg menyusui si buah hati karena akan merusak body. Mungkin, mereka agak lupa jikalau generasi kuat menjadikan bangsa hebat.

Karena peran ibu yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun dalam membangun bangsa, sudah semestinyalah ia adalah ibu kandung suatu bangsa. Wajarlah jika sementara ini ada “hari ibu” tetapi tidak ada “hari bapak”. Dan, pantaslah kalau sebagian masyarakat dunia menghormati dan menjunjung tinggi sosok ibu dengan menetapkan sebagai hari nasional.

Lahirnya hari ibu memiliki cerita yang berbeda di setiap belahan dunia. Misalnya di negara Timur Tengah, Amerika, Perancis, dan Nepal. Tengoklah, di Timur Tengah yg memprkenalkan hari ibu adalah jurnalis Mustofa Amin. Dalam sebuah buku yang ditulisnya dikisahkan perjuangan ibu dalam membesarkan anaknya hingga menjadi seorang dokter, tetapi setelah anaknya menjadi seorang dokter justru ibu itu ditinggalkan begitu saja. Peristiwa itulah yang menggugah niat kuat Mustofa Amin untuk mempromosikan hari ibu tidak saja di Mesir tetapi juga ke negara Arab lainnya. Di Mesir peringatan hari ibu pertama kali jatuh pada 21 Maret 1956. Karena jasa Mustofa Amin, sejak 1956 samapi sekarang setiap tanggal 21 Maret di peringati sebagai hari ibu.

Di Amerika Serikat, hari ibu dipopulerkan oleh Anna Jarvis sejak 1908. Upaya Jarvis itu direspon baik oleh para pemimpin negara adikuasa. Ketika Amerika dipimpin oleh Presiden Woodrow Wilson pada minggu kedua bulan Mei dirayakanlah hari ibu. Oleh karena itu, sejak 1914 pada setiap minggu kedua bulan Mei negeri yang sekarang dipimpin Barack Obama itu merayakan hari ibu, bahkan menjadi hari libur nasional.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di negara Perancis lahirnya peringatan hari ibu dipicu oleh rendahnya angka kelahiran bayi. Rendahnya angka kelahiran bayi itu, membuat pemerintah Perancis mengambil kebijakan untuk memberi penghargaan pada ibu yang mempunyai banyak anak. Di negeri Nepal, kelahiran hari ibu berangkat dari sebuah kisah yang mistis. Alkisah, pada minggu terakhir bulan Baishakh, sepeninggal ibunya, seorang penggembala melakukan persembahan di sebuah kolam. Tak lama dia melihat tangan ibu menjulur dari kolam menerima persembahan. Sejak itu banyak ibu berkunjung ke kolam melakukan persembahan ingin melihat wajah ibunya yg telah meninggal.

Lalu, mengapa hari ibu di negeri tercinta ini jatuh pada tanggal 22 Desember? Tentu karena pertemuan pergerakan perempuan Indonesia yang pertama kali jatuh pada 22 Desember 1928. Lepas dari cerita lahirnya hari ibu di atas, sudah selayaknya pada era ini stereotif patriarki harus diluruskan bersama konsep kesetaraan gender. Penghormatan dan pengagungan sosok ibu menjadi wajib karena ibu sekali lagi adalah ibu kandung sebuah bangsa. Simaklah pesan D. Zawawi Imron dalam larik-larik sajaknya yang berjudul “Ibu” /kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan/namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu/lantaran aku tahu/engkau ibu dan aku anakmu/

Sebagai seorang penyair, budayawan, sekaligus ulama’ dari Batang-batang Sumenep, Zawawi Imron secara jelas dan tegas mencitrakan sosok ibu sebagai pahlawan. Mari menghormati jasa-jasanya!

*) Penulis adalah staf pengajar di STKIP PGRI Ponorogo.