Investasi dari Sebuah Amanah

Titian Sandhyati *

Setitik harapan datang, di saat tanda positif itu muncul. Alhamdulillah, kami dipercayakan amanah sepasang putra-putri nan sehat nun membanggakan. Seorang putra, Yusuf Afif Ramadhan, lahir 9 Desember 2001; seorang putri, Fiddin Afifah Kinanti, lahir 11 Agustus 2006. Sorot mata beningnya, memancar daya positif. Senyuman manis tersimpul di bibirnya, menguatkan asa di setiap langkah.

Tiada resep khusus bagi ayah-ibu, “learning by doing”. Kami banyak belajar dari sang buah hati. Mereka menginspirasi ke seluruh perilaku kami. Banyak perubahan diri ini, sesudah dipanggil ayah dan ibu. Buku panduan orang tua, dilengkapi interaksi kedua putra-putri merupakan inspirasi bersikap. Kata suami, diperlukan “mothering ability”, naluri keibuan menyayangi, merawat, mengasuh anak-anak.
***

Berawal saat ruh suci ditiupkan, untaian doa dilafalkan berharap anak-anak soleh, selalu dalam perlindungan ridlo-Nya. Sejak semula, si mungil sudah menunjukkan jati diri masing-masing. Mengilhami untuk memperlakukannya, sebagai dua pribadi yang berbeda.

Tangisan itu terdengar memecah suasana, adzan dan iqomah diperdengarkan di kedua telinganya. Seiring kegembiraan nan meluap, ada tanggung jawab atas kepercayaan amanah. Sosok lemahnya, menguatkan kami berbuat baik baginya.

Bibir mungilnya mencari-cari sesuatu (?) Air susu ibunya. ASI ialah anugerah luar biasa, satu paket khusus diperuntukkan bagi buah hati. Sangat disayangkan, bila ASI tak memenuhi lambung buah hati. Menurut mertua, “Saat di akhirat nanti, sang ibu akan ditanya; apakah anakmu sudah kau beri air susumu?” Senyum puas mereka kala kenyang hingga tertidur pulas, memberi semangat menyusui kedua anakku, dan menyapihnya setelah umur 2 tahun.

Jalinan kasih sayang terwujud di dekapan ibu atas tegukan ASI memenuhi dahaga si kecil. Tegukan kecil menunjang pertumbuhannya. Ikatan ini terus saya pelihara, tak kan pudar hingga anak-anak dewasa. Mereka jauh di mata, namun selalu dekat di hati!

Terasa diri ini berharga, diberi kesempatan menyusui buah hati, sebab dapat menunaikan kewajiban, memberi manfaat yang tiada tara. Genggaman lembut jemarinya selalu menginspirasi, membuatnya merasa nyaman lagi terlindungi.

Di masa pertumbuhan dan perkembangannya, seorang anak mempelajari banyak hal, dan peroleh pengalaman baru dalam lingkungannya. Anak sering bertanya pelbagai hal memenuhi kepalanya. Pertanyaannya menginspirasi untuk selalu belajar memberikan jawaban yang memuaskan imajinasinya. Terkadang saya kehabisan kata, dalam menyampaikan jawaban yang sesuai usianya. Salah satunya, “dari mana seorang bayi bisa keluar dari perut ibunya?”

Seorang anak itu sebuah pribadi yang unik. Sang kakak dan sang adik tidaklah sama. Walau secara hereditas, mereka keturunan dari kedua orang tuanya, tetapi dalam diri anak, mempunyai pribadi tersendiri yang terbentuk atas berjalannya waktu, serta pertumbuhan yang menyertainya.

Kodrat insan, seorang anak juga berkelebihan-berkekurangan masing-masing. Kami terinspirasi untuk tak banyak menuntut, bilamana ada kekurangan di diri putra-putri kita. Memberikan dorongan dan pembelajaran tanggung jawab kepadanya, agar bisa perbaiki kekurangan, lalu meningkatkan kemampuan.

Tiba saatnya mereka menunjukkan kemauannya, disebutlah rewel. Saat itulah, belajar berkomunikasi dengan bahasa kami; bahasa ayah-ibu dan anak. Kami berusaha memberi ruang bagi buah hati untuk mengungkapkan perasaannya, dan berupaya tak paksakan kehendak. Mengarahkan kebebasan dan dukungan, sambil memperkenalkan pagar-pagar tertentu yang tak boleh dilanggar. Kami menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik baginya.

Putra-putri ialah peniru paling handal. Sebagai orang tuanya, harus berhati-hati dalam setiap tingkah laku dan tindakan. Seperti halnya pepatah, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Sang kakak dan sang adik meniru apa yang pernah kami lakukan, ini membuat kian berhati-hati bersikap. Kami berharap sebagai orang tua, dapat menjadi teladan baik, khususnya untuk buah hati.

Suatu saat Afif belajar, saya berkata, “Paling tidak dua kali baca!” Ternyata itu terekam hingga sekarang. Sebelum saya bicara, Afif kerap mendahului, “Paling tidak dua kali baca”. Maka suasana belajar menjadi menyenangkan.

Sedangkan Ifa, saat ini asyik berkarya dengan tulisannya. Dia ingin tulisannya seperti di KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang diterbitkan Dar Mizan. Kami hanya bisa mendukung, dan bila saatnya tiba, berjanji mengirimkan naskahnya, dengan penjelasan; tak semua tulisannya akan dicetak dalam sebuah buku.

Ifa jua menulis buku harian, sehingga saya bisa mengetahui yang dirasakannya. Sebagai sesama perempuan, saya bisa pahami, Ifa yang lebih ekspresif daripada kakaknya. Putra-putri kami menginspirasi saya, bahwa lelaki dan perempuan memiliki pola pikir berbeda. Bila saya mendekati sang kakak, dengan pola pikir laki-laki. Saya berharap, dia bisa menjadi manusia seutuhnya.

Sebagai dua pribadi yang berbeda, mengilhami kami untuk memberi pengertian mengenai konsep adil. Walau banyak tantangan, namun terus menerus kami lakukan. Saya beri penjelasan pada sang kakak, mengapa jarang dipeluk atau dibelai seperti adiknya. Karena ibu berharap, kakak menjadi laki-laki yang tidak manja, dan saat dewasa nanti, mengetahui yang ibu lakukan demi kebaikannya.

Pengalaman bicara, bila saya berkata: “Jangan lari, nanti jatuh!” maka yang dilakukannya lari, atau mereka ingin membuktikan, bahwa lari tak membuat jatuh. Gurunya mengajarkan kami, untuk menjauhi ungkapan negatif pada sang buah hati. Walau kami sering mengalami kesulitan membuat kalimat negatif menjadi positif, namun tak pernah berputus asa demi kebaikan buah hati kelak.

Belajar dari mereka, kami pun saling membiasakan berkata “tolong”, setiap kali meminta sesuatu. Berkata “maaf” di saat berbuat kesalahan, dan mengucapkan “terima kasih”, bila mendapati sesuatu. Juga menghargainya, karena mereka sungguh berharga bagi kami!
Ayah dan ibu, bersama membentuk keluarga sakinah. Dari beberapa keluarga inti akan terwujud lingkungan sakinah, akhirnya bermuara pada negara tentram nan damai. Walau dibutuhkan perjuangan luar biasa, namun kami bangga menjadi ayah dan ibu, jauh dari kata putus asa dalam mengasuh keduanya.

Orang tua bukanlah pemilik anak-anaknya. Orang tua hanya pemegang peran amanah Allah yang sangat berharga. Bagai menulis di atas kertas putih, sebagai orang tua harus berhati-hati menggerakkan penanya. Kadang, tulisan keliru masih bisa dihapus, namun di kesempatan lain, tak bisa dihapus lagi, sehingga meninggalkan trauma bagi anak-anak. Ini tak pernah dikehendaki kami sebagai orang tua. Bagaimanapun di akhirat, kita bertanggung jawab atas amanah-Nya.
***

Sebuah amanah, seorang anak yang dititipkan kepada kedua orang tua untuk dicintai dan diasuh. Seorang anak merupakan investasi bagi orang tuanya di hari akhir nanti. Investasi dari sebuah amanah yang dipercayakan pada kita. Memiliki putra-putri yang soleh-solehah merupakan tujuan setiap orang tua.

Untuk peroleh hasil, dibutuhkan perjuangan keras. Kami dipercayakan sebuah modal awal tak ternilai harganya, selanjutnya mencintai dan mengasuhnya. Materi bukan satu-satunya alat menyemai, terlebih penting pengasuhan penuh cinta, pengawasan terus nan tulus memastikan peroleh nilai membanggakan.

Bila investasi lain dipetik hasilnya di dunia, khusus ini dipanen saat sudah di dunia lain. Bila invesatasi lain bertanggung jawab kepada sesama, khususnya ini bertanggung jawab kepada Sang Pemberi Amanah, sebagai amal jariyah.
***

Rasa syukur atas kepercayaan berupa amanah kedua putra dan putri kami, selalu didampingi dengan doa yang tak henti dipanjatkan. Memohon, agar kami mampu memegang amanah sebaik-baiknya. Dan semoga kedua putra-putri kami menjadi anak sholeh-sholehah, yang selalu dalam perlindungan ridlo-Nya, Amin.

*) Titian Sandhyati, SE, lahir di Ponorogo, 1 Juli 1971 adalah Wali dari Ananda Yusuf Afif Ramadhan (siswa kelas 5-Utsman) dan Fiddin Afifah Kinanti (siswi kelas 1-Abu Bakar). Alamat sekarang di Jl. Tangkuban Perahu 7 Ponorogo. Penulis adalah istri dari Adji Suwandono, S.Pt