Jejak Historis Sosial dalam Karya Sastra

Sayyid Fahmi Alathas *
Riau Pos, 16 Juni 2013

JEJAK historis sosial dalam karya sastra dapat ditaja mulai dari pemikiran Roman Jakobson, Ferdinand De Saussure, Plato, Aristoteles, Abrams, Noam Chomsky, Hopkins, Karl Marx, Lucien Goldman, Frederick Engels dan Hegel.

Meskipun Roman Jakobson termasuk salah seorang kaum Formalis Rusia, yang menarik pada teks karya sastra disulap sampai menimbulkan efek pengasingan atau penyulapan oleh seorang pengarang terhadap pembaca. Apabila memiliki persamaan dengan seorang tokoh perkembangan ilmu linguistik modern berkebangsaan Swiss, Ferdinand De Saussure, yang terletak kepada fungsi estetika dan fungsi sosial ke arah konteks historis sosial.

Di mana dalam suatu karya sastra makna berpusat kepada bahasa yang dicapai. Di manakah letak dampak atas perkembangan ilmu linguistik modern yang digunakan terhadap karya sastra. Namun ditelusuri oleh kedua pendapat tokoh berkebangsaan Romawi kuno, Plato dan Aristoteles mengenai satu ruang dalam sejarah perkembangan ilmu sastra yakni prospek dan perspektif teori dan ilmu pengetahuan yang masih bersifat taraf pemikiran filsafat belum sampai ke arah sistematika ilmu.

Di mana Plato pernah mengatakan bahwa karya sastra merupakan kenyataan sehari-hari yang meniru dunia ide atau dunia Illahi, di mana Aristoteles, muridnya menentang keras dengan mengatakan bahwa dalam karya sastra bukanlah kenyataan sehari-hari sebagaimana mestinya. Meskipun pada perkembangannya kajian ilmu sastra dalam mencapai hakekat kebenaran karya sastra meletakkan kepada karya seni di atas kenyataan fenomenal sebagai kerja penyair, sesuai dengan yang pernah dikemukakan oleh Aristoteles. Di manakah letak dampak yang penah di kemukakan oleh Plato, apabila keduanya dikaji melalui pendekatan objektif yang pernah dikemukakan oleh Abrams dengan menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom.

Sebenarnya pendekatan objektif yang pernah dikemukakan oleh Abrams, telah ada sejak Aristoteles menulis sebuah buku berjudul “Poetic”. Dikarenakan minat para pakar sastra dalam meneliti karya sastra sebagai struktur yang otonom, di mana sebelum tokoh berkebangsaan Swiss, Ferdinand De Saussure memperkenalkan teori strukturalnya di bidang kajian ilmu linguistik. Sehingga dengan melalui pendekatan objektif yang dikemukakan oleh Abrams, sasarannya adalah kepada kematangan sebuah karya tanpa menghubungkan dimensi-dimensi lain seperti pengarang, pembaca, keadaan masyarakat dan sebagainya, apabila dengan melalui pendekatan historis sebagai suatu karya yang memiliki unsur sejarah, dan apabila melalui pendekatan sosiologis ditelusuri dari berbagai segi sosial baik dari dalam maupun dari luar karya sastra itu sendiri.

Maka hal tersebut menunjukan suatu hubungan dalam kajian karya ilmu sastra melalui beberapa pendekatan sebagaimana dengan tokoh Gramatika bahasa, Noam Chomsky, yang pernah mengatakan bahwa penguasaan bahasa didalam otak sesuai aturannya (Competence) dan pelahiran bahasa oleh seseorang (Performance).

Bagaimanakah dengan yang pernah dikemukakan oleh Ferdinand De Sasususre, dengan meletakkan dasar-dasar kuat kajian ilmu linguistik modern, dengan memperkenalkan bahasa terdiri dari dua sisi yang tidak dapat dipisahkan; petanda (signifian) dan penanda (signifie). Sehingga bagaimana pula dengan pendapat tokoh kaum Formalis Rusia, Roman Jakobson yang pernah mengatakan bahwa sumber-sumber puitis yang tersembunyi di dalam struktur morfologi dan sintaksis sering kali tidak diketahui oleh pakar bahasa tetapi dikuasai dengan baik oleh penulis penulis kreatif. Ahli bahasa dan pakar sastra yang bersikap dingin terhadap masalah linguistik adalah mereka yang membuat kesalahan anakronis (Simanjuntak, 1982;38).

Apabila ditelusuri dengan pendapat tokoh terkemuka Hopkins, bagaimanakah benang merahnya, dengan mengatakan bahwa keindahan dalam karya sastra merupakan suatu hasil dari intersa dan inscape. Apabila menurutnya “interesa” adalah pengaruh yang nyata dari tangan tuhan terhadap cipta kreatif seorang seniman; sedangkan “inscape” adalah opemahaman atau kekuatan melihat segala sesuatu dengan hati dan pikiran sebagai puncak trealitas dalam cita seni berdasarkan kebenaran Tuhan (Muhsin Ahmadi, 1984;126)

Mengingat, Plato yang pernah mengatakan dalam bukunya berjudul Republik atau negara yang mengacu kepada dunia ide atau dunia gagasan yang identik dengan kebenaran. Karena kebenaran tertinggi sejatinya pada puncak dunia ide atau dunia Illahi sebagaimana Plato memandang sinis terhadap para pekerja seni. Apabila merujuk pada salah seorang peletak dasar teori pertentangan kelas atau sosialisme komunis, Karl Marx dengan pernah mengatakan ‘’bagaimana kita mengubah dunia’’. Beserta tokoh-tokoh lainnya seperti, George Lukacs, Plekhanov dan Lucien Goldman seorang tokoh para marxis yang menghubungkan karya sastra sebagai suatu struktur terhadap sejarah. Dengan mengeluarkan pendekatan ‘’strukturalisme genetik’’.

Di mana Frederik Engels dan Hegel yang tidak sesuai garis garis besar partai komunis dengan pernah mengatakan bahwa karya sastra harus dihargai integritasnya sebagai hasil seni terlebih dahulu kemudian baru pencerminnan masyarakat. n

Sayyid Fahmi Alathas, Dilahirkan di Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Alumnus Faklultas Ekonomi Jurusan Akuntansi pada Universitas Bandar Lampung. Menulis Puisi dan esai sejak tahun 2004 sampai sekarang. Dimana puisi dan esai pernahterpublikasi di beberapa media lokal dan nasional antara lain: Pontianak Post, Sriwijaya Post, Lampung Post, Dinamika News, Majalah Sabili, Seputar Indonesia, Suara karya, Haluan Kerpri, Putera Kelana dll. Buku antologinya yang akan segera terbit bersama 35 orang penulis di dapur sastra jakarta berjudul “Pinangan”. Dan antologi puisi bersama anggota Ashiteru Menulis (Fam) Indonesia bertema ‘’Pahlawan di Mataku’’ dengan Judul ‘’Kejora Yang Setia Berpijar’’. Dan Antologi puisi bersama yang bertemakan Ibu. Kini bermukim di Jl Cik Johar No 1 Muara Gading Mas, Labuhan-Maringgai, Lampung-Timur, Kode Pos 34198.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/jejak-historis-sosial-dalam-karya-sastra.html