Jepang dari Syibumi, Tsunami, dan Teks Sastra

Tjahjono Widijanto
Suara Karya, 29 Juni 2013

Jepang adalah sebuah dunia yang penuh paradoksal. Di Jepang, teknologi yang demikan canggih bersilang sengkarut dengan kesemestaan, dimana mesin bersanding mesra dengan laut dan danau. Nun di sana pula kekerasan dan kelembutan berkelindan, kesunyian dan keramian dapat bersintesa, alam suatu saat dapat dikendalikan teknolgi sekaligus kesadaran persatuan manusia dengan alam yang tak kikis oleh zaman. Di Jepang wujud keindahan tertinggi adalah syibumi, sesuatu yang menyimpan amanat alam yakni kesejatian sifat alam itu sendiri. Syibumi menjadi citra keindahan tertinggi.

Syibumi dalam usia paling tua terejawantah dalam haiku pusi klasik Jepang yang terdiri atas tujuh belas suku kata dengan susunan baris pertama lima suku kata, baris kedua tujuh suku kata dan baris ketiga lima suku kata. Dengan bentuknya yang alit ini, penyair-penyair klasik Jepang seakan-akan menghadirkan misteri alam yang sederhana namun juga dalam tak terduga. Dalam haiku seperti halnya kesejatian alam tidak ada tempat bagi permainan retorika dan pemuatan beban pesan dan filsafat dalam sebuah puisi. Dalam bentuknya yang serba alit itu, alam dijunjung dalam tempat yang begitu terhormat yang sekaligus dapat menyampaikan dimensi emosional yang melampui batas rasional.

Haiku merupakan eskpresi dari ajaran Zen yang mengajarkan kesederhananaan. Ajaran Zen ini.berawal dari ndia melalui Cina dan masuk ke Jepang sejak abad XII dalam periode Kamakura dan hingga kini mengambil tempat penting dalam kepercayaan masyarakat Jepang.

Zen adalah cara memandang sebuah keberadaan atau hakekat diri seseorang yang membebaskan diri dari keterkungkungan. Kehadiran Zen ini dijelaskan dalam syair klasik dari masa dinasti Tang di Cina sebagai “sebuah warisan di luar kitab-kitab suci/ tidak bergantung pada aksara dan kata-kata/ langsung mengarah pada pikiran/ tentang hakekat diri sendiri dan menyadari ke-Budhaan. Hubungan manusia dengan alam dalam Zen di Jepang dungkpkan oleh D. T Suzuki (1956) sebagai jika manusia sementara memisahkan dirinya dari alam, dia tetap tergantung dan menjadi bagian dari alam karena merupakan simbol pemisahan itu sendiri menunjukan ketergantungannya pada alam. Alam menghasilkan manusia di luar dan di dalam dirinya namun manusia melihat alam demi dirinya sendiri karena itu sebenarnya tidak ada pemberintakan bagi mereka. Kedekatan dengan alam ini juga memberikan kecenderungan yang kuat untuk membuat symbol dan cara berpikir dengan symbol, sesuai dengan Zen yang mengatakan “Zen tidak bergantung pada kata-kata dan aksara”. Begitu substansialnya alam bagi Jepang juga nampak dengan konsep pergantian waktu atau perayaan akhir tahun.

Temuan dari Dr. Masoa Oka seorang ahli etnografi menyebutkan bahwa dalam masyarakat tradisi Jepang yang lebih tua sebelum masuknya Zen sudah begitu menghormati alam dan diwjudkan pada perayaan ritual yang disebut tama. Tama merupakan substansi spiritual yang ditemukan pada manusia, di dalam roh orang mati dan di dalam orang suci yang ketika musim gugur akan berganti dengan musim semi bergerak dan berusaha meninggalkan jasad.

Peralihan musim dari musim gugur ke musim semi ini merupakan symbol reaktualisasi chaos menuju kosmos, keruskan menuju keteraturan. Tama merupakan penanda tidak dapat dihindarinya kekacauan yang harus diakhiri pada satu epos historis tertentu dalam rangka pembaharuan dan regenerasi, memulai kembali sejarah pada awalnya.

Kesadaran sekaligus kekaguman dan penghayatan pada alam ini pada gilirannya melahirkan mentalitas manusia Jepang yang setia, loyal, ulet, tabah, tegar dan cenderung tenang.

Di dalam teks-teks sastra Jepang terekam bagaimana keuletan, ketabahan, ketegaran dan ketenangan ini bersanding dengan kesendirian dan kesunyian.

Di dalam teks-teks sastra Jepang dimulai dari haiku hingga novel-novel seperti Shiosai (senandung Ombak) karya Yukio Mishama, keindahan dan Kepiluan kaeya Yasunari Kawabata, Sunkinsho (Wajah Sunkin) karya Tazaki Junichiro hingga novel Jeritan Lirih karya Kenzaburo Oe semua menunjukan kesendirian, kesunyian dan bicara adalah satu.

Kesendirian dan kesunyian adalah manifestasi alam yang dapat menumbuhkan kehendak yang kuat dan pantang menyerah, karena itu pula symbol-simbol dalam haiku dan novel-novel Jepang sarat dengan symbol yang bernuansa kesendirian dalam konsep Zen seperti burung hotogitsu, kuil, ranting kering,dan musim gugur Majas dalam haiku juga bertema kesendirian seperti majas chokuyu (simile), inyu (metafora) dan gijinho.

Dari karya-karya sastra Jepang ini nampak kecenderungan cara berpikir intuitif dalam menyikapi alam beserta segala gejalanya. Bagi masyarakat Jepang segala kejadian sudah menjadi kehendak alam sehingga mereka mengalaminya dengan intuisi kebenaran, pengalaman adalah kenyataan itu sendiri. Dalam Zen itu dilukiskan dengan kalimat penuh metaphor “bambu-bambu itu lurus dan cemara bercabang-cabang”.

Dengan konsep itu gambaran sosok manusia Jepang selalu tampil dengan ketenangan, ketabahan dan ketegaran meski menyimpan konflik-konflik di dalam dirinya.

Hal ini pula yang nampak pada realitas nyata saat mereka diterjang tsunami berapa waktu lalu, mereka tetap cenderung tenang, tabah, dan tegar seperti danau di tengah hutan, seperti temaram puncak gunung di gugusan salju, seperti bayangan kuil tercermin di kilau sungai, seperti musim gugur yang selalu berganti musim semi. ***

*) Penulis adalah penyair dan esais. Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=329588