KABAR DUKA

Ahmad Farid Tuasikal *
Radar Mojokerto, 2 Juni 2013

Teruntuk sahabatku Fahrudin Nasrulloh yang telah kembali kepangkuan Alloh SWT pada hari kamis, tanggal 30 Mei 2013

Hujan telah redah. Namun kilat yang menyambar-nyambar di sela gerimis tipis-tipis seakan langit telah resah. Kilat yang menyala ketika senja menyentuh bibir langit magrib kian menggariskan kilatan-kilatan cahaya yang penuh akan pertanda. Entah pertanda akan ada bencana atau pertanda suatu duka.

“Ini hari kamis”. Kata sahabatku yang tadi siang dengan tiba-tiba menghampiriku. Yang sehari sebelumnya aku menuliskan pesan padanya di dinding facebooknya dengan menulis ulang pembuka buku yang pernah ia berikan padaku. Buku yang usang namun penuh isi yang tidak pernah usang meski dimakan zaman. Buku itu berjudul “Yang Asing Yang Terasing” diterjemahkan dari The Book of Strangers karangan Ian Dallas, Terbitan Victor Gollancz Ltd., 1972. Pembuka buku itu diawali dengan dua paragraf yang membuat kita tercengang meski hanya beberapa detik berlalu. Dua paragraf itu berjudul:

“ K I A M A T ”

… Hening lama. Setelah itu Si Hamoud memegang lenganku dan berkata, “Ada sebuah kisah tentang hari kiamat—bakal seperti apa peristiwa itu. Berjuta-juta penduduk bumi tenggelam dalam kebodohan, kebiadaban dan kegilaan. Di salah satu mega-kota raksasa, yang gemuruh oleh ledakan yang menyembur ke segala penjuru, dua sosok wanita rentah layu, pengemis-pengemis yang terlupakan, merayap di sebuah sudut menyaksikan pemandangan mengerikan yang berlansung tiada henti. Satu dari kedua wanita itu menoleh kepada yang lain, kemudian berucap, ‘Mengerikan. Lihat mereka. Lihat diri kita semua. Aku sama sekali tidak habis pikir. Mengapa? Mengapa ciptaan megah ini, bumi ini, berjuta-juta manusia ini sengsara? Apa arti semua ini? Pernakah ada orang yang tahu?’ ”.

… “Hening lama. Setelah itu wanita yang satu lagi memegang lengan sahabatnya sembari berkata, ‘Aku ingat, dahulu ketika aku masih gadis, ada seseorang lelaki aneh datang ke kota kami, mengemis. Pakaiannya compang-camping seperti pakaian kita, dan dia mengenakan peci lancip. Masih segar dalam ingatanku kedamaian yang terpancar di kedua matanya tatkala dia meletakkan tangannya di atas lenganku, seraya berbisik, Laa ilaaha illallaah.’ “.

Aku tulis ini semua karena aku begitu merindukannya, rindu canda-candanya yang begitu mengusik dan menggelitik hatiku. Entah apa lagi yang membuatku rindu padanya, yang aku rasa adalah kedamaian ketika aku bertemu dengannya. Mungkin ini buah dari pertemanan dan persahabatan yang di jalin dengan apa adanya.

Kembali lagi pada hari berikutnya setelah aku tulis pesan itu. Yaitu hari ini, hari kamis kata sahabatku siang tadi. Aku masih begitu mengingatnya pertemuan yang begitu singkat tadi. Saat berjumpa siang tadi, sahabatku menceritakan kegelisahan setelah membaca pesan dariku. Sehingga dia dengan kegelisahannya menghampiriku dengan tiba-tiba seperti hujan sore tadi yang tanpa aku duga kedatangannya. Aku sangat terharu dan lebur dalam batu kerinduanku.

Siang itu di Pendopo Alun-Alun Kota tempatku mencari nafkah, kita berdua saling canda dan tertawa ria melepas kerinduan-kerinduan kita. Di sela obrolan panjang tak bermuara dia bertanya padaku “apa kamu tahu siapa lelaki yang mengenakan peci lancip dalam pesan yang kamu tulis untukku itu?”. Aku diam lalu bersuara pelan “dalam imajinasiku ketika membaca kalimat itu, aku menduganya, bahwa dia adalah Nabi Muhammad SAW”. “kau salah teman, lelaki berpeci lancip itu adalah Jibril. Malaikat Jibril”. Katanya. “Aku terdiam. Keramaian kota yang seketika hening di hati, pikiran, rasa dan imajinasiku siang itu menyatu membuatku berkeringat, seperti Nabi Muhammad yang pertama kali bertemu dengan Malaikat Jibril”.

Nabi Muhammad saja bergetar dan berkeringat. Apalagi aku yang hanya mendengar namanya saja. “Duh Gusti. Ampuni aku”.

Dalam kebisuan antara aku dan sahabatku, aku tiba-tiba ingat tentang seorang teman. Seorang teman yang hanya mungkin bisa di hitung jari ketika aku bertatap muka dengannya. Namun saat itu, wajahnya begitu tersenyum dalam ingatanku. Aku bercerita pada sahabatku, tentang seorang kawanku itu. “Oh ya mas,…aku punya seorang teman cerpenis, yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit”. “Memang dia sedang sakit apa sampai harus dirawat di rumah sakit”. Tanya sahabatku. “sudah beberapa bulan dan minggu ini dia selalu cuci darah setiap minggunya”. Jawabku. “dan tidak tahu kenapa aku tiba-tiba mengingatnya”. “Semoga saja kawanku ini segera sembuh dan memperoleh yang terbaik untuknya menurut kehendak-NYA ya mas?”. “Amin” jawab sahabatku.

Petir semakin jelas mengkilap membela langit malam. Gerimis tipis yang tak henti-henti berganti hujan bertambah deras sekali. Lebih deras dari yang pertama tadi. Lebih menyambar-nyambar lidah kilat-kilat petir itu. Aku semakin gelisah. Meski kerinduanku pada sahabatku tadi sudah terobati, ada yang tidak biasa dengan perasaan ini. Ada yang menggelisah dalam kegelisahan malam ini. Entah apa? Aku sendiri masih tak tahu apa-apa. Yang aku tahu hanya hujan dan sambaran kilat ini. Aku tak tahu ada apa di balik semua ini.

Meski sejak kecil aku megenal petir atau kilat-kilat itu, tapi yang aku rasa saat ini, pada hari kamis ini, pada malam ini, ini begitu asing bagiku, bagi perasaanku saat ini. Meski malam semakin larut, mataku belum selarut semen putih yang telah tersiram air. Lalu kering dan padat menyatu seperti pertemuan kedua bulu mataku pada tiap malam-malam yang lalu.

Kuputuskan untuk membaca buku. Karena biasanya ketika aku sulit untuk tidur dan menghilankan gelisah dan gunda gulana dalam hati, membaca buku membuatku bisa mengawali tuk tidur dan menghilangkan semua gelisah itu. Tiba-tiba tanganku mengambil buku Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III. Dan anehnya lagi yang membuat gelisahku semakin menjadi, ketika aku buka buku itu secara langsung, terbukalah halaman 76. Cerpen dengan judul Anggorok dan Anggodot karya Fahrudin Nasrullah (Jombang Jawa Timur). Aku semakin gelisah. Karena nama itu, nama seorang kawan yang aku ceritakan pada sahabatku tadi siang tentang sakitnya. Dengan perasaan gelisah dan hujan yang tak kunjung reda. Aku mencoba membacanya. Beberapa halaman telah aku baca dan aku terusik dengan kalimat

“Sampai di pucuk malam yang hening, diterangi jejeran lilin dan oncor, mereka demikian hikmat mendengarkan kisah-kisah memukau tapi merasa mengelam dari Hoa Tsing:

Tak bakal ada kejahatan yang lahir jika seseorang terus pandangi api lilin itu. Hingga kegelapan enggan bersekutu dengan warna hitam. Ia lalui jalan setapak di mana segala yang jahat tanpa sangka bersigap meringkus kesadarannya. Lewat sepasang mata aneh, di kedalaman mata Arcasoma, yang ada di tanganku ini, hawa gaib apapun bisa menyusupi Ruh”.

Aku tak mampu meneruskan membacanya. Karena kata hening, hawa gaib, menyusupi Ruh, telah benar-benar menyusup dalam suasana ini. Suasana malam, suasana kamis dan suasana hatiku yang gelisah ini.

Mataku mulai layu. Kedip tak tertib mulai mengerdip kedua pasang bulu mataku. Handphone yang ada disamping lengan kananku bergetar. Seorang sahabat yang tadi siang mengobati rinduku menelponku malam itu. “halo Mas,…ada apa?” “Aku juga masih rindu karena pertemuan tadi begitu singkat”. Kataku. “Ya aku juga”. Katanya. “Oh ya siapa tadi seorang temanmu yang kau ceritakan padaku tadi siang?”, siapa namanya! “Nasrulloh”. “Ya ya nama lengkapnya Fahrudin Nasrulloh”. Jawabku. “Memang kenapa Mas dengan dia temanku?”. “Aku tadi dapat kabar dari seorang temanku yang juga teman dari temanmu itu. Dia mengabarkan kalau Fahrudin Nasrulloh yang kau ceritakan tadi telah kembali ke Sang Pencipta, kembali Kepangkuan Alloh SWT”.

Aku terdiam dan dalam hati ada hening yang menyusup lagi “innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Kegelisahanku terjawab sudah hingga telpon dari sahabatku barusan terputus dengan sendirinya. Aku masih terdiam dengan kenangan senyum di wajahnya. Aku masih terdiam dengan cerpennya menghujam benakku. Aku masih terdiam dengan keheningan malam yang dia ajarkan barusan. Aku masih terdiam dengan kekagumanku padanya. Menulis cerpen terakhirnya dengan tinta merah darah-darahnya menceritakan akan kepergiannya. Aku masih terdiam dengan suara petir dan hujan ketika hawa gaib menulis ceritanya sendiri. Aku masih terdiam semoga suara petir tadi adalah suara lelaki berpeci lancip yang membisikkan Laa ilaaha illallaah di teliga dan kalbumu yang penuh rindu dan penuh syahdu.

…hening malam itu dan suara hujan berganti suara malam…
Dan aku pun masih terdiam…

Desaku Kemiri, Kamis, 30 Mei 2013. 00:00

*) Ahmad Farid Tuasikal, lahir di mojokerto, 24 oktober 1984. karyanya berupa esai, puisi, cerpen pernah termuat di surat kabar radar mojokerto. surabaya post, seputar indonesia (sindo), dan kompas jatim. puisinya termuat juga dalam antologi bersama, seperti; jejak sunyi tsunami terbitan pusat bahasa jakarta, termuat dalam antologi malsasa (malam sastra surabaya), 2005, 2007, 2009. antologi penyair mutakhir jilid iii dewan sastra jatim, antologi 15 penyair jatim “manifesto illusionisme”, antologi candhi penyair se-sidoarjo, antologi pesta penyair 2010, antologi matinya seorang koruptor 2010, dan termuat juga dalam antologi bersama “temu sastrawan indonesia atau yang lebih di kenal dengan TSI III Tanjung Pinang 2010. antologi penyair mojokerto 2011. Antologi tunggal pertamanya “sepenggal puisi” yang memuat dua kumpulan puisi senyum rel kian jauh dan suara-suara surga. Di penghujung akhir tahun 2012 menerbitkan antologi tunggalnya yang kedua “episode siapa lagi”. Sekarang bekerja dan menjadi staf di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Sejak Tahun 2003.