Antari Setyowati *

Sang surya beranjak ke peraduan. Kabut tipis menuruni lereng Gunung Wilis, udara dingin menusuk tulang, sayup-sayup terdengar kumandang adzan Maghrib dari kejauhan.

“Bunda ayo sholat. Sudah ditunggu ayah” teriak anakku. Bergegas kuambil wudhu, airnya dingin seperti es. Maklum, kami berada di Ngebel, apalagi musim hujan. Setelah sholat, anak-anak baca Al Qur’an, aku menyimaknya dengan seksama. “Alhamdulillah ya Robb, anak-anak hamba telah lancar baca kitab-Mu. Sedang aku bundanya, masih taraf belajar”.

Teringat masa kecilku dulu dilahirkan di sebuah desa terpencil. Kala senja mulai ke peraduan, semua orang masuk rumah. Tiada kegiatan apa pun. Kami sekeluarga biasanya duduk di dapur ditemani ublik. Tak diajarkan sholat, mengaji pun belajar seperti saat ini. Jadi anak-anak seusiaku dulu nol puthul, tidak bisa sholat dan mengaji. Meski di KTP semua penduduk desaku beragama Islam, toh kenyataannya islamnya KTP. Selebihnya kehidupan dan adatnya, masih mengikuti nenek moyang embah-embah.

Kelas 4 SD aku dipindahkan ke kota oleh bapakku di rumah budhe, sedikit demi sedikit aku belajar sholat dan ngaji. Karena pondasinya tak kuat, sampai SMA sholatku masih bolong-bolong. Hingga suatu saat, aku dipertemukan Allah SWT dengan seorang yang kini jadi imamku, perlahan-lahan aku diajari baca Al-Quran. Ini masih lekat dalam ingatanku, diajari Iqro’ oleh suamiku.

“Bunda, gimana bacaan adik, bagus, kan?” tanya anakku. “Eh, apa dik?” kataku. “Hayo, bunda pasti melamun kan?” Lamunan masa kecilku buyar seketika. Alhamdulilah, aku dikaruniai suami yang sabar dan penyayang, juga anak-anak yang sholeh dan sholehah.
***

Anakku yang pertama, Dhiannisa, semakin menambah keinginanku belajar agama. Dengan kesadarannya sendiri, ia minta ke Pondok Darul Ulum, Jombang, jauh dari orang tuanya. Terbersit keraguan dalam hati akan kehilangan masa-masa bersama cantikku, tapi ia bersikeras meyakinkan aku, bahwa di pondok akan baik-baik saja.

Setiap aku sambangi ke Pondok, cantikku selalu bersemangat menceritakan suasana pesantren, ustadzah-ustadzahnya, umi dan ayahnya (sebutan untuk pak kyai dan ibu nyainya). “Seandainya akungmu dulu mengerti dan paham ajaran agamanya nak, pastilah bunda tahu banyak dan nyambung bila kau ajak ngobrol tentang sorogan, berjanjen, pegon, kitab kuning dan lainnya” gerutuku di hati. Buru-buru kutepis pikiranku menyalahkan orang tuaku, karena tak mendidikku tentang agama.

Astaghfirullaahal azhiim, bukankah Allah telah mengirim suamiku tersayang untuk membimbing aku juga anak-anakku yang sholeh-sholehah? “Ampuni aku ya Allah, yang telah menyalahkan orang tuaku. Ya Allah, ampunilah dosaku, juga dosa bapak ibuku.”

Di tengah kegundahan hati, suamiku selalu menghiburku, “Tak usah malu pada anak-anak, semua itu juga karena bunda. Coba jika tak menyekolahkan anak-anak di SDIT, belum tentu mereka bisa mengajari bunda. Semua ini berkat perjuangan bunda juga.” Alhamdulillah, ternyata aku masih punya arti bagi mereka.

Ada pengalaman menarik mengenai anak keduaku, yang sekolah di SDIT Qurrota A’yun, Hafidz. Pernah suatu hari kami mengajaknya ke acara pernikahan di Sasana Praja. Sungguh aneh, seakan tak ada satu menu yang menarik hatinya. Padahal tak perlu diragukan lagi, semua menu pasti enak dan mengundang selera. Usut punya usut, ternyata ia begitu kuat memegang prinsip “dilarang makan dan minum sambil berdiri”. Saat itu acaranya memang standing party. Subhanallah, keteguhanmu telah mengajarkan bunda, bahwa ilmu tidak sekedar dipahami, tetapi harus diamalkan.

Kebo nyusu gudhel itulah aku. Aku belajar banyak hal dari anak; kewajiban menuntut ilmu, baca Al-Qur’an dan mengamalkan ilmu yang telah didapat. Sebagaimana bunyi Hadits, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Alhamdulillah, sambil terus belajar aku mulai ajari anak tetangga belajar Iqro’, sekarang sudah jilid tiga. Dengan begitu aku merasa berguna, dikarena bisa mengamalkan ilmu meski masih sedikit.

Pengetahuan anak-anak menjadi cambuk bagiku untuk belajar dan terus, hingga aku bisa bila diajak tukar pendapat atau tempat bertanya. Aku ingin jadi bunda yang berguna, dan membanggakan mereka.

Pernah dalam Parenting talk show yang diadakan Yayasan Qurrota A’yun, dikasih pertanyaan “Sebagai orang tua kita ingin jadi apa bagi anak-anak kita?” Dengan berurai air mata, aku menulis “Aku ingin seperti lilin.” Teman sebelahku bertanya “Kenapa mbak pengen menjadi lilin?” Lalu ku jawab, “Sebagai orang tua, aku ingin anak-anakku selalu senang, meski aku harus berkorban, demi kebaikan dan kebahagiaan mereka.”

Bukankah lilin rela berkorban demi menerangi sekelilingnya, meski ia sendiri meleleh lalu akhirnya padam. Terima kasih teruntuk suamiku, cantik, dan tampanku, oleh kalianlah akhirnya bunda bisa!

*) Antari Setyowati, SE, lahir di Ponorogo, 16 Pebruari 1974, adalah Wali dari Ananda Dhiannisa Khusnul Khotimah (alumni SDIT QA) dan Hafidz Dhian Atmaja (siswa kelas 1-Ali). Alamat sekarang di Jln. Letjend Suprapto III Kaplingan Ngembak Patihankidul Siman Ponorogo. Penulis adalah istri dari Muhrodhi, S.Sos.

Categories: Cerpen