Kata Pengantar Buku “Anakku Inspirasiku”

Cover Anakku Inspirasiku

Akhmad Marsudin, M.Si

Setelah membaca beberapa tulisan wali murid, dengan tema “Anakku Inspirasiku” maka, sontak saya teringat pada tahun 1996-2005 di salah satu stasiun tv menayangkan sinetron keluarga, yaitu, ”Keluarga Cemara“. Potret keluarga kurang mampu, tapi mampu menikmati kehidupan, karena keluarga tersebut di bangun di atas cinta dan kasih sayang. Karenanya muncul sikap saling memperhatikan, menguatkan, menasehati dan mendukung antar anggota keluarga, mestinya dengan tambahan nikmat kecukupan harta, kita bisa lebih menikmatinnya. Berikut lagu yang selalu mengiringi diawal penayangan sinetron, sebagai gambaran indahnya keluarga:

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalahkeluarga

Selamat pagi ayah, selamat pagi ibu
Mentari ini berseri indah

Terimakasih ayah, terimakasih ibu
Penuh hati berkata dari kami putra putri yang siap berbakti.

Pada akhir Mei 2013, kita di kejutkan dengan sebuah peristiwa yang memicu kecaman di media sosial, sebuah peristiwa yang memilukan, peristiwa di temukannya bayi laki-laki di dalam pipa pembuangan di gedung hunian di Jinhua, provinsi pesisir Zhejiang, Cina, setelah penghuni melaporkan mendengar suara tangisan bayi. Pemadam kebakaran harus membuka pipa dan membawanya kerumah sakit terdekat. Dokter-dokter pun dengan hati-hati memotong pipa tersebut untuk menyelamatkan bayi laki-laki yang terjebak di dalamnya. Sebuah rentetan kekejaman seseorang kepada buah hatinya yang harusnya di sayangi.

Ketika berbincang dengan beberapa wali murid terkait kondisi kekinian yang berefek pada pendidikan putra dan putrinya, maka yang muncul adalah kekhawatiran yang luar biasa, karena dominasi dekadensi moral yang melingkupi perkembangan anak. Betapa mudah anak-anak mendapatkan contoh keburukan; kekerasan, pornografi, porno aksi dan berbagai hal yang mewarnai pertumbuhan anak-anak kita, terutama lewat media dan lingkungan. Bahkan seakan Negara tak berdaya dan gagal melindungi perkembangan tunas bangsanya, walaupun undang-undang pornografi telah di sahkan.

Tapi itulah kenyataan yang tidak mungkin di hindari, maka kami sepakat apa gunanya mengutuk kegelapan, lebih baik mari nyalakan lilin-lilin yang akan menyinari kehidupan, untuk itu kami yayasan Qurrota A’yun, dengan sejumlah 930 santri, terdiri dari Islamic Baby school, play group dan TKIT Qurrota A’yun 1 & 2, SDIT dan SMPIT Qurrota A’yun, berusaha untuk mengelola” pendidikan untuk semua” ; untuk putra putri wali murid dan kedua orang tuanya; berbagai acara kita adakan, pengajian bulanan, parenting skill, majalah keluarga, dll, dalam mencapai tujuan yang di sepakati ketika wawancara calon wali murid, menjadi keluarga sakinah, putra-putri sholihah dan agen perubahan di masyarakat. Sebagaimana visi yayasan Qurrota A’yun :” menjadi pusat pembinaan dan pemberdayaan ummat sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah.”

Kita berharap dengan terbentuknya keluarga teladan di masyarakat, maka akan berpengaruh positif pada perubahan masyarakat dan Negara. Bukankah Negara yang baik terdiri dari masyarakat yang baik dan masyarakat yang baik, terdiri dari keluarga yang baik, semoga ini merupakan kotribusi kita menuju Negara yang sejahtera dan diridhoi ALLOH swt.

Akhmad Marsudin, M.Si
Ketua Umum Yayasan Qurrota A’yun Ponorogo.