Makna sebuah Nama

Farida-Suliadi *

Positif, kata itu terus berkecamuk di kepala. Masih teringat, garis strip dua di alat test kehamilan. Memang sudah sebulan lebih tak dikunjungi tamu istimewa, yang biasa hadir dengan siklus aku hafal.

Aku tak kuasa lagi membendung air mata. Menangis seketika, bukan lantaran bahagia, melainkan kekhawatiran. Sanggupkah aku jalankan amanah-Mu yang kedua ini Ya Allah? Sedang anakku pertama, Ahmad Fika Wahyu Fardiansyah, masih berumur empat bulan.

Waktu itu kami tinggal di Pandaan, jauh dari kedua orang tua. Aku harus melakoninya sendiri, mengurus rumah (tinggal di kontrakan), memasak, dan masih banyak lagi. Karena setelah seminggu menikah, kami tak tinggal di kota kelahiranku Ponorogo, atau di kota kelahiran suamiku Lumajang. Sebab suami bekerja di pabrik mie instan di daerah Pandaan, Pasuruan. Sedang aku, ingin menikmati waktu bersama anak yang masih berusia 4 bulan.

Di tengah berkecamuknya pikiran, suami justru merasa bersalah dengan yang di luar rencana itu. Berada di tengah pilihan menjaga dan menerima kehamilan ini, atau sebaliknya seperti kuinginkan; menggugurkannya. Hanya itu yang ada di otak. Segala cara mulai meminum jamu atau obat kulakukan, karena tak mengharap kehamilan saat itu. Benar-benar hanya ingin menikmati waktu bersama anak yang pertama dulu. Tak jarang tak bisa kendalikan emosi, sebagai sasarannya suamiku. Beruntungnya memiliki tambatan jiwa yang pengertian di atas keterombang-ambingan hati ini. Walau akhirnya suami menolak untuk menggugurkan, bersikeras menerima kehadiran calon anak ke duaku.

Kami ke dokter kandungan dalam memastikan kehamilan. Hasil pemeriksaan dokter IS, aku tengah hamil 2 bulan. Dokter IS mengatakan, kehamilanku baik-baik saja, organ-organ tubuhnya mulai membentuk. Namun tidak demikian dengan batinku tetap menolaknya, dan ketika kuutarakan niat pada dokter, ia justru menyalahkanku. Betapa banyak orang menghendaki keturunan dari hasil pernikahan, tapi Allah belum menganugrahi, demikian kilahnya. Meski sudah kujelaskan saat ini, kakaknya di rumah masih berusia 4 bulan. Tetapi tetap dokter meyakinkan untuk mempertahankan kehamilanku.

Hari-hari terus berlalu, bulan demi bulan tak terasa kujalani dengan tambur yang membesar. Kehamilan ini, jauh lebih mudah dari yang pertama. Aku seharusnya bersyukur, tetapi sekali lagi kemarahan lebih menguasai diri. Mungkin bukan hanya rasa dongkol, juga khawatir; apabila yang telah aku lakukan dengan minum jamu dan obat-obatan itu akan pengaruhi kejiwaan dan fisik bayiku nanti. Menginjak kehamilanku berusia 6 bulan, kami putuskan pulang ke Ponorogo. Dengan pertimbangan anakku yang sulung baru berusia 10 bulan, sementara aku harus persiapkan kelahiran anakku yang kedua. Akhirnya kami sepakat pulang, dan mencari pekerjaan baru di Ponorogo. Meski awal kehamilan kedua ini aku tak mengharapkan, tapi akhirnya tetap menerimanya.

Waktu yang ditunggu pun tiba, lahirnya mundur 3 hari dari perkiraan dokter, Alhamdulillah bayiku lahir sempurna, tiada masalah dalam proses kelahirannya. Berat badan dan panjangnya pun lebih, ketimbang anakku yang pertama. Bayi kami ini berjenis kelamin sama dengan anak pertama, lelaki. Ini memudahkan atau tidak perlu berlebih, dalam menyiapkan kebutuhan si kecil.

Setelah proses kelahiran dan dirawat di Rumah Sakit di Ponorogo selama 2 hari, aku dan bayiku diijinkan pulang. Sesampai di rumah, begitu turun dari mobil, langsung memeluk anak sulung yang sedang di gendongan kakeknya yang tengah menjemput kedatanganku di depan rumah. Maklum, anakku yang sulung belum bisa berjalan, sambil memeluknya terurai air mata; “Ya allah, anak sekecil ini sudah memiliki adik” gumamku di hati. Bagaimana nanti membagi kasih sayang dengan adiknya, sedang dia juga butuh banyak perhatian (?)

Setelah tiga hari kepulangan dari Rumah Sakit, memberinya nama. Kami belum menyiapkan sebelumnya, akhirnya bernama Ahmad Fajrinafi Wahyu Fardiansyah. Karena lahirnya bersamaan munculnya fajar, serta kumandang adzan subuh, sekaligus memaknai semoga ini bisa memberi fajar harapan yang memiliki limpahan manfaat. Dia biasa dipanggil Fajrinafi, ada yang menyapa Ardi. Meski awal kehamilannya, kami tak kehendaki, tapi dengan nama melekat itu, berharap bisa jadi anak yang bawa berkah bagi keluarga, masyarakat serta agamanya. Seperti cahaya dan fajar terang, yang selalu dinanti kehadirannya.
***

Aku coba kenang kembali, betapa dulu benar-benar tiada kehendaki hadirnya. Tapi kini, adakah sesuatu yang istimewa darinya? Aku renungkan kebaikannya. Dia tak pernah menyusahkan aku baik dalam masa kehamilan, kala dilahirkan bahkan sampai kini. Dari awal kelahirannya lancar, hingga berusia 6 tahun, saat itu masih TK B. Kami merasa, perkembangannya lebih cepat daripada kakaknya saat seusia dirinya dulu. Bukan bermaksud membandingkan, memang anak kedua ini proses pembelajaran yang dialami selalu lancar. Keluar sedari bangku TK, sudah lancar baca, pikirannya kritis ada dalam tanya dan ucapannya.

Meski demikian, kami yakin setiap anak memiliki kelebihan dan kepandaian berbeda. Kadang aku khawatir, bagaimana bisa memenuhi kebutuhannya. Tiba-tiba aku teringat firman Allah SWT, “Dan, tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang memberikan rezekinya…” (Qs. Huud-11). Jadi, apalagi yang ditakuti? Kepercayaanku tumbuh, kupandangi wajah yang teduh. Allah telah mengubah hatiku.

Sesuai janji-Nya, setiap bayi ada rizkinya, begitu yang sering kudengar. Saat anak kedua berumur 7 bulan, aku coba lamar pekerjaan, Alhamdulillah diterima mengajar di SD swasta milik sebuah yayasan, yang kebetulan baru setahun berdiri. Satu bulan kemudian, mendapat panggilan test dan wawancara di Lembaga Bimbingan Belajar yang ada di Jalan Siberut, Alhamdulillah diterima. Waktu mengajarnya pun tidak bertabrakan dengan yang di SD pagi hari, di LBB lebih banyak sorenya. Dan suamiku diterima sebagai karyawan di salah satu percetakan. Lagi-lagi syukurku kepada Allah. Nyata semua ketakutanku tak beralasan. Bahkan anak keduaku jadi teman bermain yang menyenangkan si sulung.

Bulan berganti tahun, anak-anak tumbuh berkembang seanak panah melesat dari busurnya. Anak pertamaku Aham duduk di bangku kelas 2 SD, adiknya Ardi kelas 1 SD. Sering kupandangi wajah anak-anakku yang tertidur pulas, setelah seharian sekolah. Ya Allah, nikmat-Mu manalagi yang kuingkari, memiliki dua anak lelaki yang hampir semua orang bilang seperti kembar; ganteng, sholeh, cakap. Tapi khawatir tetap ada, mampukah kami jaga amanah-Mu ini Ya Allah?

Saat ini, aku tengah pandangi anak pertama Aham bersama adiknya Ardi asyik bermain. Aku teringat awal kehamilan kedua, betapa sangat tak mengharapkan, tapi kini setelah lahir, semua berubah. Aku benar-benar merasakan penyesalan dalam, mengingat segala upaya menggugurkan kandunganku dulu, padahal kini anak keduaku, menjadi pelengkap kebersamaan kami di mana pun berada. Tak jarang sikap, dan ucapan Ardi layaknya orang dewasa.
***

Pernah suatu ketika aku dan suami sedang bingung masalah keuangan. Saat itu si sulung Aham baru masuk Sekolah Dasar, banyak sekali administrasi yang harus dibayar. Bersamaan itu Ardi masih duduk di bangku TK membutuhkan biaya untuk acara rekreasi sekolah. Kami ingin semua bisa terjawab, Aham dapat terbayar administasi sekolahnya, Ardi bisa mengikuti rekreasi.

Ternyata harus mengorbankan salah satu, Ardi tak jadi rekreasi. “Adik Ardi, ma’af ya, kalau akhirnya kita tak bisa ikut rekreasi” kataku sedikit menghibur, agar tak terlalu sedih. Ia justru menjawab, “Mama minta ma’af kenapa? Tidak ikut rekreasi tidak apa mama. Kan justru kasihan, kalau sampai Mas Aham tak bisa masuk SD”. Sungguh aku tak menyangka, anak seusia Ardi, baru berumur 5 tahun, sudah bisa berfikir sejauh itu.

Tidak hanya kisah itu, ketika Mbah Kakungnya meninggal, dia sempat bertanya sambil menangis “Ma, kok Mbah Kung meninggal, apa karena capek gendong aku terus ya?”. Saat itu Ardi berusia 4 tahun, setiap hari ketika aku dan suami bekerja, Ardi di rumah bersama Mbah Kakung dan Mbah Utinya. “Tidak nak, Mbah Kung meninggal sebab sakit jantung, dan Allah ternyata lebih sayang kepada Mbah Kung” jawabku.

Sampai 6 bulan setelah Mbah Kungnya meninggal, Ardi masih suka mengingat saat-saat bersama Beliau, dia sering berkata “Ma, aku kangen Mbah Kung”. Segera, aku ajak mendo’akannya dan Alhamdulillah, setiap kali selesai berdoa, dia berkata, “Sudah sembuh Ma, kangennya sama Mbah Kung”.

Banyak teladan yang bisa kami ambil dari sikap, ucapan dan perilakunya. Meski masih kanak, yang dia lakukan menyadarkan kami sebagai orang tua untuk dapat berperilaku lebih baik, dan beri contoh tak hanya kata-kata, tapi lebih pada perbuatan. Misal saat ada tugas dari sekolah, dia tak tidur sebelum selesai mengerjakan, bahkan rela tinggalkan waktu bermain bersama kakaknya, demi tanggung jawabnya terhadap tugas yang diberi gurunya. Dia merasa bersalah, jika telah berbuat kekeliruan, dan segera meminta maaf atas apa yang dilakukan.

Kami yakin, setiap anak punya kelebihan kepandaian masing-masing. Aku dan suami merasa menyesal serta malu, jika teringat usahaku menolak kehadirannya dulu. Ternyata yang dulu tidak kami harapkan, menjadi fajar terang di tengah keluarga, seperti namanya. Tinggal ikhtiar kami dalam menjaga membesarkan mereka, agar menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa menebar kebajikan, amin.

*) Farida-Suliadi, adalah Wali dari Ananda Ahmad Fika Wahyu Fardiansyah (siswa kelas 2-Abu Bakar) dan Ahmad Fajrinafi Wahyu Fardiansyah (siswa kelas 1-Ali). Alamat sekarang di Jl. Soekarno Hatta VI/12 Ponorogo. Penulis adalah istri dari Suliadi.