Menertawakan Diri Sendiri, Mengenang Masa Lalu

Judul Buku : Kamus Istilah Komentator Bola
Penulis : Muhammad Mice Misrad
Penerbit : Octopus Garden Publishing
Cetakan : Kedua, Januari 2013
Tebal : 112 halaman
Peresensi : Dodiek Adyttya Dwiwanto
Jurnal Nasional, 26 Mei 2013

TATKALA baru membuka beberapa lembaran buku ini, sudah jelas saya tertawa terpingkal-pingkal melihat komik Kamus Istilah Komentator Bola ini. Lucu? Sudah jelas kalau Mice memang sejak lama bisa mengungkapkan banyak hal lewat kartun terutama sejak “debutnya‘ lewat Lagak Jakarta yang keluar pada akhir 1990-an.

Transfer pemain, belanja pemain, pemain termahal, pemain yang sedang bersinar, pemain pinjaman, pemain veteran, penyerang yang subur, penyerang yang tajam, penyerang haus gol, spesialis bola mati, bola muntah, bola liar, bola keluar meninggalkan lapangan.

Menggoreng bola, memotong bola, kontrol bola, mengutak-atik bola, gol cantik, gol bunuh diri, banjir gol, puasa gol, merobek gawang lawan, menyisir pinggir lapangan, sepak pojok, tackling keras, diving, dibayang-bayangi lawan, kembali merumput.

Cedera panjang, memanfaatkan lebar lapangan, mempertajam lini depan, umpan matang, umpan jauh, umpan pendek, salah umpan, menjamu tim lawan, team underdog, tim kuda hitam, stadion angker, gantung sepatu, wasit berat sebelah, wasit menunjuk titik putih, wasit meniup peluit panjang.

Istilah-istilah ini sering digunakan oleh komentator sepak bola saat mengiringi jalannya pertandingan. Sebenarnya sih, para penulis atau kolumnis sepak bola juga menggunakan dalam tulisan-tulisan mereka, ya termasuk saya juga. He-he-he.

Sebagai orang yang pernah mampir menjadi staf redaksi majalah sepak bola, penulis lepas sepak bola di surat kabar, lantas berlanjut menjadi editor dan kolumnis sepak bola di sebuah harian nasional tentu saja komik ini seperti meledek saja. Apalagi saya juga nyaris menjadi komentator televisi untuk tayangan sepak bola, namun lantaran sadar diri tidak pede di depan kamera, saya urungkan niat itu.

Saat mengawali buku, Mice mengilustrasikan sejumlah pendapat masyarakat umum tentang komentator sepak bola. Komentator dianggap banyak omong, hanya tahu teori doang, tidak bisa bermain, bikin ngantuk dan prediksi sering salah. Tetapi ada juga yang menyukainya karena bisa dijadikan referensi terutama untuk taruhan atau menambah pengetahuan sepak bola.

Yang menohoknya Mice malah menggambarkan dirinya sendiri tengah menantikan pertandingan sepak bola usai membeli penganan kecil di warung dengan mendengarkan ocehan sang komentator yang diilustrasikannya sedang berbusa-busa. Ha-ha-ha-ha.

“Sementara sudah banyak pemirsa yang ketiduran, sang komentator masih asyik mengeluarkan istilah-istilah mereka yang menggelikan di telinga kita.‘ Inilah yang termuat dalam sebuah caption. Lucu memang, meski saya juga tidak mau lagi tertawa keras karena ini sama saja menertawakan sejumlah kolega dari majalah tempat saya bekerja dulu yang sekarang menjadi komentator sepak bola.

Entah kenapa masyarakat Indonesia begitu “antipati‘ dengan komentator sepak bola. Mungkin lantaran dianggap banyak omong doang. Banyak yang memilih melakukan sesuatu ketika pertandingan belum dimulai atau saat jeda laga ketimbang mendengarkan ocehan komentator.

Padahal komentator menyelipkan sejumlah informasi penting yang mungkin tidak diketahui para penggemar sepak bola, bahkan soal statistik dan prediksi yang pasti berguna bagi para petaruh. Ya, mungkin saja buku ini berguna bagi para komentator untuk bisa mengemas ulasannya lebih menarik, tidak lagi menjadi bahan ledekan.

Seperti buku-buku sebelumnya, Mice sudah pasti melakukan riset sebelum menuangkannya dalam kartun. Tetapi bisa saja ada yang terlewat atau mungkin dianggap tidak perlu. Bagaimana dengan istilah jebakan offside, tim raksasa, gantung sarung tangan, dan masih banyak lagi?

Sebenarnya buku Kamus Istilah Komentator Bola seperti dua buah buku lantaran di halaman belakang ada bagian Football‘s Coming Home. Ini seolah menjadi nostalgia Mice alias Muhammad Misrad sang kreator mengenang masa kecilnya di era 1970-an saat mulai menyukai sepak bola.

Misrad mengenang di jaman itu dia bermain sepak bola di sebuah lapangan kosong atau di pinggir pantai, kebetulan rumah orangtuanya terletak di Jakarta Utara. Bola yang digunakan bola plastik yang keras ketika ditendang oleh bocah kecil, bisa melenting semaunya saat terkena angin. Nostalgia yang tiada duanya.

Setelah sekian puluh tahun, lapangan bola itu telah disulap menjadi restoran seafood sementara pantainya malah menjadi real estate. Pasti banyak yang mengalaminya, ini lantaran pesatnya perkembangan pembangunan terutama kota Jakarta. Nah, ini juga menjadi permasalahan tidak hanya bagi semua pemangku kepentingan. Tidak ada lapangan bola di Jakarta bagi anak-anak dan remaja.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/pustaka-menertawakan-diri-sendiri.html