Menjadi Arsitek: Cita-cita Anakku!

H. Supriono Muslich *

Aku masih teringat, subuh 22 November 2003 ialah saat-saat membahagiakanku sekeluarga. Seorang anak laki-laki telah lahir, setelah empat anak perempuan dikaruniakan Allah SWT padaku. Anak itu kuberi nama, Muhammad Hasan. Aku berharap, dia bisa jadi anak sholeh yang meneladani Rasulullah SAW, baik di mata manusia maupun Tuhan-Nya.

Hasan tumbuh jadi anak yang memberi kesan berbeda dalam hidupku, karena pertama kalinya aku mendidik anak lelaki. Perasaan senang dan antusias, kala mendidiknya bercampur nikmat Allah yang tak terganti. Saudara dan tetangga, banyak yang menggoda. Mereka mengatakan, aku tak lagi menjadi orang tertampan dalam keluargaku, sejak kehadirannya. Itu bukan masalah, justru merasa lengkap punya teman untuk berangkat sholat berjamaah di masjid.

Si kecil satu ini pendiam dan sedikit pemalu. Kadang keluarga kami agak khawatir, pada karakternya yang pendiam. Aku berusaha menyadarkannya, bahwa setiap anak, istimewa. Mereka punya potensi dan kelemahan yang harus diarahkan sesuai fitrahnya. Karena sifatnya, si bungsu agak sulit bergaul dengan teman-temannya. Alih-alih pulang sekolah pergi bermain, anakku malah suka main sendiri di rumah. Anehnya, termasuk anak yang jarang minta dibelikan mainan. Koleksi mainannya pun tak banyak.

Lalu, dia main apa di rumah? Mainan bongkar pasang. Yang kumaksud, bukan bongkar pasang lazimnya dibeli di toko mainan, tapi berbagai barang di rumah; misalnya kardus susu, kaleng, dan lainnya, disusun jadi aneka rupa hasil karya. Sampai sering perabot rumah berantakan, barang-barang tak pada tempatnya, karena ulahnya yang suka “pinjam” barang untuk dijadikan mainan.

Di usia tiga tahun, suatu kali Hasan berlari-lari kegirangan menuju arahku, sambil menunjukkan hasil karya mainan bongkar pasang, yang disusun menyerupai gedung. Kala itu, kakak-kakaknya sering bilang, “Hasan, kalau sudah besar mau jadi arsitek ya?”. Hasan kala itu belum mengerti arti kata arsitek, cuma tertawa-tawa, karena semua orang di rumah memperhatikannya. Duh Gusti Allah, bahagianya melihat anakku girang kala itu.

Saat usianya beranjak masuk TK, Hasan kembali membuatku terkejut bercampur bahagia. Kala aku menjemputnya pulang sekolah, dengan bangga dia menunjukkan prakarya gambarnya. “Bapak, ini rumah dan toko kita nanti di masa depan” kata Hasan riang. Aku perhatikan seksama gambarnya, sebuah rumah memanjang terbagi dua, sebelah kiri tokoku, kanannya rumahku. Tak lupa dia buat persegi panjang di tokonya, yang tertulis Mapan Jaya. “Papan nama itu aku buat besar, karena itu doa Hasan, supaya toko bapak tambah buesar…” katanya riang. “Amin” ucapku.

Ku pangku peluk dia, lantas bertanya.“Hasan, terus ini kok ada gambar tujuh orang tersenyum di depan rumah?” tanyaku heran sambil kerutkan dahi. “Itu gambar bapak, ibu, Mbak Prima, Mbak Lida, Mbak Alfi, Mbak Rofi sama aku” celotehnya lucu.

“O, lho terus kok di gambar itu, kita semua tersenyum?” tanyaku lagi. “Soalnya, Hasan pingin keluarga kita bahagia terus bapak” jawabnya polos.

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ku peluk dirinya, lalu kubisikkan sebuah janji di hati, “bapak akan berusaha nak, bekerja keras untuk mewujudkan cita-citamu, membuat seluruh anggota keluarga kita tersenyum bahagia.”

Ku lepas pelukanku, kemudian berjalan menggandengnya pulang. Aku menanyakan, hal yang sering ku ulang-ulang padanya. “Hasan, kalau sudah besar mau jadi apa?” “Mau jadi arsitek” jawabnya riang.
***

Kala itu, kulihat Hasan sedang asyik menulis di bukunya. Ya, sejak mulai bisa baca dan menulis kata “arsitek”, tak pernah lepas dari cita-citanya. Seringkali aku dan istriku menggodanya, tapi dia tetap konsisten dengan kemauannya.

“Hasan, kalau besar jadi dokter ya?” goda istriku. “Enggak bu, aku itu kalau besar mau jadi arsitek” jawabnya tanpa ragu. “Memang kenapa ingin sekali jadi arsitek?” tanyaku. “Soalnya aku pingin bisa bikin gedung dan jalan raya nanti, kalau sudah besar” jawabnya polos. “Amin” doaku dan istriku kompak. “Terus kalau Hasan mau jadi arsitek, caranya gimana?” tanya istriku. “Ehmmm, rajin sholat, belajar menggambar, juga sayang bapak dan ibu, Mbak Prima, Mbak Lida, Mbak Alfi dan Mbak Rofi.” “Mbah Jae dan Hummy disayang juga nggak?” tanya istriku. “Mbah Jae asisten rumah tangga, dan Hummy, kucing kesayangan Hasan. Dan Hasan pingin semua orang bahagia, karena Hasan. Nanti, kalau sudah jadi arsitek yang hebat, mau membangun jalan tol, mall, dan rumah untuk orang-orang miskin yang tak punya tempat tinggal.” “Amin Nak”, doaku dan istriku.

“Bapak bangga dengan cita-citamu yang mulia itu, begitu juga ibu dan kakak-kakakmu. Karenanya, bapak selalu mendukung, agar kamu dapat meraih harapanmu” kataku. “Makasih pak, ibu, hehehe…” jawabnya, sambil tertawa riang.

Ku usap rambut Hasan, kucium keningnya, kupeluk badan kecilnya, dan hatiku memunajat: “Ya Allah, limpakahkan ridho-Mu, dan tunjukkanlah jalan yang terbaik untuk anakku, agar dapat meraih cita-citanya, Amin.”
***

*) H. Supriono Muslich, adalah Wali dari Ananda Muhammad Hasan (siswa kelas 3-Umar). Alamat sekarang di Jl. Letjend Suprapto No.101, toko bangunan “Mapan Jaya” Pasar Pon. Penulis adalah suami dari Hj. Kulsum Astutik.