Merindukan Sastra Rural

Fariz Alneizar *
Riau Pos, 23 Juni 2013

DUNIA sastra merupakan dunia yang penuh dengan rasa, sarat akan makna. Ahmad Tohari menyebutkan bahwa dengan sastralah kita akan menemukan empati, simpati, bahkan ideologi. Lebih jauh, D. Zawawi Imron pun pernah mengatakan bahwa dengan bersastra manusia akan terasah jiwanya, akan sensitif mata batinnya, serta peka radar kemanusiaannya.

Banyak sastrawan muda bermunculan akhir-akhir ini, tidak hanya di ibukota, tetapi juga di daerah-daerah (desa). Ada yang memang menghabiskan hidupnya berpindah-pindah dari kota ke kota, tetapi ada juga yang memang memilih menetap tinggal di kota atau di desa. Alasannya pun berbeda-beda: ada yang karena tuntutan hidup, ada pula yang karena alasan lain. Yang pasti, dalam kaitannya dengan tulisan ini, persoalan tempat tinggal dan gaya hidup cenderung berpengaruh pada hasil kreativitas mereka.

Persoalan tempat tinggal sastrawan sempat menarik perhatian Agus R. Sarjono. Ia berkesimpulan bahwa realitas sastra yang lahir dari kantung-kantung daerah yang bernuansa pedesaan (rural) mempunyai daya pembeda yang kuat dengan sastra-sastra aroma kota. Mengapa? Karena sastra rural (pedesaan) identik dengan perilaku masyarakatnya yang homogen dan statis: dilandasi konsep kekeluargaan dan kebersamaan, berorientasi pada tradisi dan status/isolasi sosial, kesatuan dan keutuhan kultural, banyak ritual dan nilai-nilai sakral, serta bersifat kolektif (Poplin, 1972).

Tidak banyak memang tokoh yang”betah”tinggal di daerah (pedesaan) selama karir kepengarangan dan kesastrawanannya. D. Zawawi Imron dan Ahmad Tohari adalah contoh dari yang sedikit itu. Bagi D. Zawawi Imron, desa menjadi khasanah yang eksotis. Desa menjadi kampung halaman yang menginspirasi sajak-sajak yang dihasilkannya. Penyair asal Madura yang populer disebut penyair Celurit Emas ini mengakui bahwa desa memiliki kekayaan yang tiada tara.

Penyair yang mendapat Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) pada 2010 itu juga mengatakan bahwa keindahan nuansa desa, lengkap dengan kearifan lokal dan orang-orang di dalamnya, telah menginspirasi sekitar 90 persen puisi-puisinya sebelum 1990. Pedesaan menjadi sumber inspirasi dalam puisi-puisinya.”Namun, desa kerap dilupakan. Desa sering terabaikan,”ujar Zawawi.

Sementara itu, dengan sangat retoris Ahmad Tohari mengatakan bahwa dengan bersastra (rural) itulah kita bisa mendekatkan diri kepada umat. Bisa jadi, hal itulah yang membuat sastrawan-sastrawan muda, seperti Masdhar Zainal dan Benny Arnas, tetap memilih tinggal di kampung tempat kelahirannya.

Salah satu karya sastra rural yang masih bisa dinikmati hingga sekarang adalah Siti Nurbaya. Di tengah semakin menggerusnya budaya pop dalam bersastra, karya sang novelis legendaris (Marah Rusli) itu pantas direnungkan kembali. Dalam hal ini, di samping dapat dijadikan media untuk meng-counter hegemoni-hegemoni distorsi yang terjadi pada waktu itu: kawin paksa, kisah/cerita dalam novel Siti Nurbaya juga bisa dijadikan bahan rujukan sebagai representasi dari keberhasilan karya sastra dalam melawan tradisi-tradisi yang dirasa kurang memihak.

Tradisi asal yang dipresentasikan melalui sosok Datuk Marinnggih yang tua bangka, bopeng-bopeng, dan buruk hati, misalnya, dilawankan dengan sosok Syamsul Bachri yang tampan, gagah, terpelajar, rela berkorban, serta penuh kobaran cinta asmara. Dengan cara seperti itu, sudah bisa ditebak, pembaca pun akan”tersayat”hatinya: merasa iba pada Syamsul Bachri yang dianiaya oleh tradisi (melalui Datuk Maringgih) sehingga harus mengalami patah hati. Yang menarik di sini adalah, saking ibanya, pembaca seakan melupakan penghianatan Syamsul Bachri yang ikut penjajah dan memerangi kampungnya sendiri (Agus R. Sarjono:1999).

Begitulah, hamparan karya sastra yang dipenuhi dengan tema menghujat tradisi lewat representasi yang dekat dengan hati dan khazanah pengalaman kaum muda yaitu kawin paksa terbukti mampu membabat habis budaya tersebut. Semua adalah produk sastra yang rural yang lahir dari rahim situasi dan nuansa pedesaan. Pada awalnya, Syamsul Bachri memang telah berhasil ”membius” pembaca. Secara emosional pembaca seakan-akan tidak pernah mempedulikan pengkhianatannya. Namun, kini yang justru menjadi public enemy adalah Datuk Maringgih. Dialah yang merupakan simbolisasi dari budaya lokal. Ternyata, Marah Rusli (melalui tokoh-tokohnya) adalah sastrawan yang dengan gigih melawan praktik-praktik tak sehat di negeri ini.

Lantas bagaimana dengan kondisi sekarang? Adakah produk sastra rural dari sastrawan-sastrawan muda kita yang benar-benar bisa dijadikan senjata untuk perlawanan pada segala bentuk penyimpangan dewasa ini? Wallahualam bissawab.

Yang pasti, menurut W.S. Rendra, hanya para jagoan saja yang mampu menerobos dan melawan tatanan masyarakat. Oleh karena itu, agar lebih produktif, cerdas, dan berani untuk melawan kebudayaan-kebudayaan yang tak sehat sebagaimana disebutkan di muka, sastrawan-sastrawan tetaplah tinggal di kampung. Bagaimanapun sejarah telah membenarkan bahwa perlawanan melalui tulisan tidak kalah dengan perlawanan dalam bentuk yang lainnya, semisal demontrasi.

Semoga hari esok akan lahir karya-karya sastra rural yang dapat dijadikan bentuk (lain) perlawanan atas segala macam ketimpangan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, maupun budaya.***

*) Fariz Alneizar, Pegiat Komunitas Parageraf Jakarta
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/alinea-merindukan-sastra-rural.html