Mozza Anakku

M. Nurdin *

Mohon maaf, saya bukan ahli menulis cerita seperti jaman lagu Gelas-gelas Kaca yang penuh penderitaan, konon katanya inspiratif. Atau bukunya Pariman Siregar, Master from Minder yang membara, mengisahkan 10 sampai 12 kali episode peperangan, 13 sampai 15 dari 172 halamannya menyemangati orang. Sepertinya, hanya bergairah jikalau akan berperang. Ironis! Seyogyanya, dengan nafas tidak menyiratkan kesedihan atau kebahagian, pun terinspirasi. Memang benar, barang siapa diberi hikmah, maka diberkahi kebaikan melimpah. Tak harus kelilipan kontainer kemudian melek, atau tergerus tsunami barulah belajar berenang. Ini tuturan lugas tanpa membumbu-bubui. Kata teman ”agar bisa membedakan; bikin rawon, apa mblendrang kluwak”.
***

Teman lama bertanya “Siapa nama anakmu, mas?” Saya namai “Mozza Rojoel Kalimandzaro”. Seorang lelaki mulia bagi siapa saja melihatnya, semoga jadi anak yang meneladani nabinya. Ialah kesyukuran diberi kesempatan oleh Allah SWT, untuk menemani perkembangannya.

Tiga anak kami semua terlahir mudah tanpa meninggalkan trauma pasca kelahiran pada ibunya. Anak pertama lahir tak lebih 20 menit setelah rasa mulas, anak kedua 1 jam setelah mulas, anak ketiga 2 jam setelah mulas. Semua lahir sopan, tanpa merobek-robek perut bundanya. Berulang kali ibu bidan bertanya “Kok melahirkannya mudah, bunda, apa rahasianya?” “Lazimkan baca surah-surah mu’tabaroh.” Apalagi saat hamil, bukan hanya di tenggorokan, tetapi diyakini di hati. InsyaAllah mudah melahirkan”.

Mas Mozza, begitu kami memanggilnya, anak kedua lahir di tahun 2000. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 2005 kala menikmati permainan di Taman Kanak-kanak, sudah mulai puasa Ramadhan full day, Subhanallah. Kira-kira 4 bulan lalu, ada anak di Irak umur 7 tahun puasa Ramadhan, diliput TV. Anak saya berhasil puasa di usia 5 tahun tidak masuk TV, namun dalam sejuknya atmosfir kehidupan kami.
***

Hari pertama puasa sangat berat melelahkan, seperti anak-anak pada umumnya. Karena ketelatenan bunda membimbing-alihkan perhatiannya, Mozza berhasil melalui tantangan tersebut. Ini luar biasa dari langkah kecil sederhana. Sejak itu, Mozza berpuasa Ramadhan sebulan penuh setiap tahunnya.

Kecuali dua hari, salah satunya hari aneh baginya. Saat itu kita belanja ke Toko Matahari di Madiun, dan banyak orang tak berpuasa. “Di sini apa tidak bulan Ramadhan? Kok orang-orang tidak berpuasa?” Kami pun kasihan pada anak umur lima tahun ini, dan membiarkan minum, waktu jam dua siang. Satu harinya lagi sepulang dari sekolah TK, dengan berang memaksa berbuka puasa sambil minum air. Alasannya, “kata ibu guru, anak-anak boleh puasa sampai jam 9”.

Al hasil, bunda segera menyowani ibu guru, memohon agar khusus buat Mas Mozza dianjurkan puasa sampai selesai, karena sudah bisa berpuasa sehari penuh. Jadi guru harus hati-hati, bisa saja diidolakan, sebab lama aktif bersama muridnya. Dan tampak baik bisa diteladani, sehingga kadang anak lebih percaya gurunya, ketimbang orang tuanya.

Yakinlah, kasih sayang bunda membuat anak-anak lebih kuat. Seperti air susu ibu tak tergantikan susu kaleng merek binatang sapi yang dibuat perusahaan secanggih apa pun. Kasih sayang lembut tanpa kekerasan, nyata berkekuatan mengagumkan. Mungkin ini, mengapa lebih takut strom listrik yang lembut, ketimbang kabel tampak garang. Bahkan penelitian ilmiah menunjukkan, anak-anak yang dididik dengan kasih sayang orang tuanya, relatif lebih tenang, cerdas dalam menghadapi tantangan hidup.

Keberhasilan puasa peroleh manfaat. Berulang kali ketika Mas Mozza mulai down menghadapi sulitnya menahan kecewa akan belum terbelinya mainan, sabar menunggu jemputan, kekawatiran kalah futsal, dan lainnya. Kita patut ingatkan kembali, betapa mustahilnya melalui hari pertama puasa, setelah menunaikannya. Kamu anak hebat, sudah bisa melakoni yang bapak tak mampu lakukan dulu ketika seumurmu, bapak bangga.

Walau kami anggap hebat, Mas Mozza tak pernah juara di kelas. Pernah pertemuan wali murid, para orang tua mengeluhkan menurunnya nilai hasil belajar anak. Jawabannya bijak, kata pak guru, “memang semester kali ini pokok-pokok bahasan agak rumit, sehingga memberatkan siswa dan nilainya pun menyusut”. Sebuah gunung yang gagah membelah langit, terdiri dari bebatuan dan kerikil. Jika keterfokusan ke perihal kecil, akan mengalfakan kebesaran gunung sebagai pasak bumi. Padahal cerita anak-anak masih panjang.

Sama seorang mar’ah jamiilah yang dimasgulkan butiran jerawat di wajahnya, sehingga hidupnya galau seakan jerawat itulah mukanya atau bahkan dirinya. Kasihan benar. Sama sekali bukan segalanya bagi kami nilai rapot, dan tidak seangka pun mewakili siapa, dan apa jadinya anak.
***

Kami punya undang-undang tak tetulis yang berlaku sejak anak pertama masuk TK, kala Mas Mozza masih kecil. Sampai sekarang adiknya yang baru berumur 2 tahun pun terkena pasal jika melanggar. Undang-undang ini berlaku bagi siapa saja yang maujud di rumah. Saat adzan Magrib, TV dimatikan. Ini sudah beroperasi otomatis seperti diprogram. Tak peduli seyahut apa, setegang apa, atau detik-detik terakhir dari adegan KO, tendangan 12, bahkan saya katakan “walau ada siaran langsug dari neraka”, TV tetap dimatikan, dan semua siap sholat, titik.

Kita budayakan keteraturan dalam keluarga, ada orang tua yang harus didengar dan ditaati yang berimbang curahan kasih sayang diberikan. Adanya wilayah bebas bermain, jam kerja pun belajar yang tak bisa diganggu. Ketepatan makan bersama, jam tidur, dan terpenting sholat.

Mozza anakku, semoga kau menyadari nanti, al Qur’an dan Nabimu jauh lebih banyak mengajari berpraktek dari pada berteori, berakhlaq dari pada duel berfiqih. Semoga kau memahami, serta menjadi makna terdalam namamu.

*) M. Nurdin, lahir di Tamban, 13 April 1976, adalah Wali dari Ananda Mozza Rojoel Kalimandzaro (siswa kelas 6 Abu Bakar). Alamat sekarang di Pesona Kertosari 41 Ponorogo.