Nasionalisme

Kasnadi *

Masih ingatlah kita, tentang ikrar sumpah pemuda yang berkumandang membahana di angkasa pada tahun 1928? Tangan mengepal menancap dalam dada bersama-sama. Menembus dalam hati sanubari yang hakiki. Suara nyaring dalam hening, khidmat menyatu dalam satu tekad bulat, menjadi bara untuk menyatukan niat dengan berucap “kami putra dan putri Indonesaia mengaku bahwa bertanah air satu, berbangsa satau, dan berbahasa satu yaitu Indonesia”.

Tanah air sangatlah tepat untuk menyebut Negara Indonesia, karena terdiri atas tanah dan air. Tanah yang terpisah menjadi pulau-pulau karena air yang membatasinya. Meski demikian, Indonesia adalah tanah air yang satu, tanah air tumpah darah kita. Tanah yang menjadi tempat kita lahir, tempat kita bernafas, tempat kita hidup, dan mungkin tempat kita mati untuk menghadap Illahi.

Dan tak terasa tanah air kita, yang kita ikrarkan bersama-sama sudah berusia. Dalam perjalanan hidupnya penuh onak dan duri. Ia merangkak dan menapak memasuki usia dewasa, dan kini mengalami sakit jiwa.

Di manakah gerangan kecintaan kita terhadap tanah air tercinta?
Kita, sementara ini, tak mau mengatur kebersihan lingkungan, kita malah suka membuang sampah seenaknya. Kita, sementara ini, sudah tak ingin minum air bersih dari bukit-bukit dan pegunungan, malah kita ingin menenggak air kotor dari resapan lumpur dan sampah rumah tangga. Kita, sementara ini, tidak ingin menghirup udara segar yang penuh oksigen, malah kita bersuka-ria menghirup udara pengap karena pohon yang rindang sudah tiada, malah kita berlomba memproduksi karbondioksida dengan memperbanyak mobil di jalan raya. Kita, sementara ini, tak suka melihat anak-anak bermain bersuka ria di tanah lapang, karena kita mendirikan gedung sesuka kita. Kita, sementara ini, suka melihat genangan air banjir menerjang rumah, karena kita suka mengecor semen halaman demi kepentingan kita sendiri.

Kita, sementara ini, sudah mulai alergi makan makanan lokal, asli Indonesia. Kita lebih bangga menikmati makanan dari negeri asing. Lidah kita kelu mencecap rasa singkong, dan mengantinya dengan keju. Sudah tak berselera gigi kita mengunyah roti bolu, dan menukarnya dengan pizza. Kita, sementara ini, sudah tak mau melirik produksi dalam negeri, namun kita, sudah lebih bangga dengan barang-barang made ini manca negara. Tangan kita sudah risih menenteng tas buatan Tanggulangin, Sidoarjo, dan merasa nyaman menenteng tas buatan Italia. Tubuh kita sudah tak nyaman mengenakan baju tanpa merk yang mendunia, dan semakin lekat dengan laber yang terkenal. Kaki kita mulai lecet dengan sepatu dalam negeri, dan mulai akrab dengan sepatu bermerk manca Negara.

Di manakah gerangan kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia?
Kita, sementara ini, sudah mulai enggan menggunakan bahasa persatuan, yakni, bahasa Indonesia. Tetapi justru kita lebih bangga beringgris ria. Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa asing dinegeri sendiri. Bahasa Inggris justru menjadi pilihan pertama anak-anak untuk dikuasai. Bahasa Indonesia sudah tidak dijunjung tinggi seabagai bahasa nasional sekaligus pemersatu. Kebulatan para pemuda pejuang bangsa mencetuskan Sumpah Pemuda sudah tidak menarik untuk diperbincangkan. Semangat mempejari bahasa Inggris lebih tinggi bila dibandingkan dengan mempelajari bahasa Indonesia. Jangan heran, jika dalam Ujian Nasional nilai rata-rata untuk Bahasa Inggris lebih tinggi bila dibandingkan dengan Bahasa Indonesia. Menurut George Quinn, pengajar sejarah, budaya, bahasa dari Australian National University, di Australia sepuluh tahun terakhir minat belajar bahasa Indonesia menurun. Salah satu sebabnya adalah di Indonesia justru lebih senang dan semangat mempelajari bahasa Inggris ketimbang bahasa nasionalnya.

Di manakah gerangan kecintaan kita terhadap kesatuan bangsa kita?
Kita, sementara ini, sudah tidak merasa saudara antarsuku bangsa yang ada di nusantara, malah kita menganggap musuh yang saling curiga. Kita, sementara ini, sudah enggan merajut tali persaudaraan antarsesama, justru kita semakin gencar menciptakan konflik, memelakukan bentrokan, menyuburkan tawuran, dan memeluk kerusuhan antarsesama.

Di manakah gerangan letak sumber penyakitnya?
Mental kita semua.

*) Penulis adalah Staf Pengajar STKIP PGRI Ponorogo.