‘Plastik Dicintai Sekaligus Dibenci’

: Analisa Pesan dalam ‘Penggambaran Kembali’ Pengalaman dari Teater ‘Segera’’ Karya Rahman Sabur
Jefri al Malay
Riau Pos, 23 Juni 2013

PESAN dalam sebuah pementasan teater atau drama menjadi sesuatu yang dapat digambarkan kembali tatkala ia mengusik minda kita. Pesan yang didapat itu bisa saja menjadi beragam tafsir, tergantung latar belakang (perspektif) dari mana hal itu dipandang. Kelompok Teater Payung Hitam dengan pementasannya berjudul ‘’Segera’’ karya Rahman Sabur yang telah dipentaskan di Anjung Seni Idrus Tintin (18/6), saya kira akan menjadi sesuatu yang menyimpan misteri di kepala kita, dalam arti kata akan bermunculan beragam tafsir setelah kita menyaksikannya.

Dan saya dari sekian banyak penonton akan mencoba menafsir pesan yang tersembunyi diantara ‘teror’ gerak dan set properti yang telah dieksplorasi sedemikan rupa oleh sutradara Rahman Sabur. Tentu saja dalam hal ini, saya sudah memiliki ‘konsep’ saya sendiri dengan berusaha melihat adanya pola-pola hubungan di balik pengalaman pentas tersebut.

Dengan demikian ‘’Segera’’ karya Rahman Sabur dapat dilihat dari dua macam jenis aspek yakni teater sebagai pengalaman wujud pandangan mata (apa yang tampak) dan teater sebagai rasa yakni tatkala bentuk-bentuk gerak, bunyi, cahaya, seni rupa, musik dan pesan yang terbaca mengalami proses ‘pencernaan’.

Teater Sebagai Apa yang Tampak

Sebagai pengalaman wujud pandangan mata, teater ‘’Segera’’ yang apabila dilihat secara kasat mata adalah sebuah panggung teater yang menghadirkan penggal atau sketsa-sketsa hidup gambaran dari nilai-nilai ‘kebaikan’ yang bertembung dengan ‘keburukan’. Ia menjadi semacam ironis dalam kehidupan. Betapa tidak, setiap aktor dan set properti yang telah dieksplorasi oleh sutradara, menggambarkan kesan kekerasan, kemuakan, kengerian, ketakutan, kecemasan, kecintaan dan juga kemirisan yang pada akhirnya harus ditertawakan.

Hal itu dapat kita temui di beberapa penggal dalam pementasan tersebut. Perempuan yang duduk di kursi plastik, mengarahkan senter dimukanya kemudian menjatuhkan diri atau terjatuh berkali-kali dengan gerakan serupa itu juga. Tidakkah ini mengisyaratkan apa yang saya maksudkan di atas. Laki-laki yang kakinya terikat tali plastik dan jiregen kecil, merasa risih dengan hal itu ia pun berusaha melepaskannya. Dalam kecemasan dan kemuakannya itu, pada akhirnya menghancurkan setting yang telah tertata di atas panggung. Tentu saja hal itu sudah diatur sedemikian rupa oleh penata artistiknya. Dan hal itu pula yang jadi menarik, kejelian sutradara dalam menempatkan detil-detil set properti menjadi hal yang akrobatik. Dalam sekejap mata, seting hancur dan menjadi tumpukan sampah plastik di atas panggung.

Saya kira di sinilah semuanya bermula. Di sinilah bermula ketakutan itu, kecemasan, kemuakan, kemirisan, kelucuan terhadap kebodohan. Karena memang yang terhidang di depan mata adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri dari hal yang tersebut di atas. Tetapi ia-nya tentu saja tidak dalam bentuk verbal. Ia hadir dalam bentuk simbol dan bisa saja hadirnya bahkan tidak kita kenal. Tetapi bukankah simbol merupakan dunia batas antara yang dikenal dan ‘yang lain’ yang tak dikenal itu.

Rahman Sabur sebagai sutradara saya kira dalam pementasannya itu tidak pula menempatkan simbol yang tidak berlandaskan budaya kita. Artinya kita akan menemukan dari apa yang ternampak berbagai kemungkinan-kemungkinan pesan dari simbol yang dihadirkan. Namun perlu saya paparkan bahwa kesan yang muncul tersebut tidaklah menyamai ketika kita menyaksikan langsung dengan peristiwa-peristiwa pembunuhan atau tindak kekerasan lainnya seperti perut tebusai, kepala terpenggal, dan lainnya. Kesan yang kita tangkap sudah terkemas ke dalam wilayah estetika seni.

Nah, ke semua itu bila dikaitkan dengan pesan yang hendak disampaikan Pentas ‘’Segera’’ ini menurut hemat saya adalah persoalan keberaadan plastik. Sebagaimana yang tertera di ulasan pada booklet yang diberikan bahwa dampak negatif sampah plastik tidak sebesar fungsinya. Butuh waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air. Jika dibakar akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakarannya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain, dapat memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem syaraf, dan memicu depresi.

Tahukah kita selama ini bahaya plastik sedemikian mengerikan? Sementara itu, dalam keseharian kita hampir keseluruhan kebutuhan membutuhkan dan menggunakan plastik yang telah di daur ulang. Bahkan sampai kepada permainan anak-anak. Inilah yang barangkali disebut dengan ironis oleh sutradara. Sesuatu yang kita cintai karena efesien, ekonomis dan sekaligus pula harus kita benci.

Teater Sebagai Rasa

Mari pula kita kaitkan pesan dengan simbol gerak, set properti dari pengalaman pementasan ke dalam sebutan saya tadi yaitu teater sebagai rasa.

Teater Payung Hitam dengan sadar sebenarnya menghadirkan pesan dalam bentuk eksplorasi bahasa tubuh dan set properti untuk kemudian kita rasakan dengan penuh kesadaran. ‘Rasa’ yang saya maksudkan di sini adalah hasil tangkapan inderawi terhadap suatu objek yang kemudian dikaitkan pula dengan tema yang disuguhkan sebuah pementasan atau karya. Tentu saja di sini perlu proses pencernaan.

Kita atau katakanlah saya, begitu terasa mengasyikkan tatkala mengapresiasi pentas ‘’Segera’’ meskipun sebenarnya diteror dengan berbagai simbol, emosi yang terbangun, ketegangan, tensi meninggi, keterkejutan, kelucuan tetapi kemudian begitu pementasan selesai, ada semacam rasa yang hinggap bahwa sketsa-sketsa yang telah dikemas oleh sutradara adalah sebuah peristiwa ironis yang merasuk ke dalam diri.

Awalnya kita terpana dengan gerak atau pilihan komposisi bloking namun kemudian sutradara ‘mematahkannya’ dengan kejutan atau bahkan sentakan yang tak disangka-sangka. Awalnya kita merasa nyaman dengan set properti tapi sekejap kemudian hancur menjadi sampah-sampah plastik yang menyelerak di atas panggung. Dan banyak lagi sketsa yang hadirnya serupa demikian.

‘Rasa’ ini yang kemudian saya kira dialihkan dalam proses pementasan ini. Kita begitu dekat dengan yang namanya plastik tapi kemudian ternyata plastik itu berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Kita begitu membutuhkan, begitu merasa dimudahkan oleh fungsi plastik tetapi kita justru akan tersiksa olehnya. Begitu riang anak-anak bermain dengan permainan yang terbuat dari plastik namun diantara keriangan mereka ternyata ada bencana di kemudian harinya. Nah, demikian yang saya maksudkan teater sebagai rasa. Di sebalik teror yang terhidang di atas panggung, terselip rasa ironis tersebut.

Teater Payung Hitam dengan ciri khasnya adalah menghilangkan kata-kata verbal dari pentas. Para pemain menjadi aktor sekaligus benda-benda yang ‘berbahasa’. Imaji kita terbangun dari tawaran bentuk tubuh dan gerak manusia, bunyi-bunyi yang biasa dan tak biasa, tata cahaya dan ke semua teknik yang terus digali kemungkinannya. Tetapi itu pula yang kemudian menurut saya menjadi menarik untuk diapresiasi. Karena meskipun kesempurnaan komunikasi itu adalah bahasa ternyata sesuatu yang bukan kata-kata verbal mampu juga mengantarkan sepaket pesan di pangkuan kita. Syabas Teater Payung Hitam yang sudah pentas di Negeri Lancang Kuning.

*) Jefri al Malay, Dikenal sebagai sastrawan muda Riau yang telah menghasilkan banyak karya sastra seperti sajak, cerpen dan esai. Buku kumpulan puisinya yang baru terbit berjudul ‘’Ke mana Nak Melenggang’’ Selain itu, alumni Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) dan saat ini sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak. Jefri tergabung di Sanggar Teater Matan. Bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/plastik-dicintai-sekaligus-dibenci.html