Sastra Anak Indonesia: Nasibmu Kini

Marlina *
Riau Pos, 2 Juni 2013

SECARA sederhana, sastra anak (children’s literature atau juvenile literature) dapat diartikan sebagai karya sastra yang secara khusus dibuat untuk anak. Wujudnya biasanya berupa buku bacaan (baik bergambar maupun tidak bergambar) yang dikemas sesuai dengan minat serta tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak.

Saat ini, sastra anak di Indonesia terlihat stagnan. Faktanya dapat dilihat di media massa cetak (yang memiliki kolom sastra) dan di toko buku. Tidak semua kolom sastra di media massa cetak berisi sastra anak. Begitu juga di toko buku, sangat jarang ditemukan sastra anak (Indonesia), dalam bentuk komik sekalipun. Pada umumnya, toko-toko buku lebih suka menjual komik-komik luar negara, seperti Crayon Shinchan, Naruto, Spongebob, Baby Love, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Detektif Conan Spesial, Yu Gi Oh, serta Walt Disney. Sastra anak Indonesia, seperti ‘’Bawang Merah Bawang Putih’’, ‘’Putri Kaca Mayang’’, ‘’Si Kabayan’’, ‘’Timun Mas’’, ‘’Pak Belalang’’, ‘’Si Kancil’’, ‘’Malin Kundang’’, ‘’Joko Kendil’’, dan ‘’Lutung Kasarung’’ sudah sulit ditemukan. Oleh karena itu, wajar jika anak-anak Indonesia sekarang lebih mengenal tokoh-tokoh komik dari luar ketimbang tokoh-tokoh cerita asli Indonesia.

Membangun Karakter

Tidak dapat disangkal lagi bahwa sebuah cerita (sastra), meskipun fiktif, berpengaruh besar terhadap apresiatornya. Nilai-nilai yang ada dalam cerita sering mempengaruhi kejiwaan apresiator. Bentuk konkretnya, pengaruh itu akan tampak pada perilaku dan cara berpikirnya. Aksi penembakan di sebuah bioskop (Aurora, Colorado, Amerika Serikat) beberapa waktu lalu, misalnya, diduga kuat pelakunya dipengaruhi oleh karakter tokoh Joker (lawan Batman) dalam cerita film ‘’The Dark Knight Rises’’. Begitu pun peristiwa penembakan yang menewaskan John Lennon pada 1980. Konon, penembakan itu dilakukan seorang pria (bernama Chapman) yang diduga kuat terinspirasi oleh tokoh cerita dalam The Catcher in the Rye (karya J.D. Salinger). Hal yang hampir sama terjadi juga di Jepang (1995). Novel Foundation (buah pena Isaac Asimov) diduga telah menginsprirasi Aum Shinrikyo meledakkan gas sarin di stasiun bawah tanah Tokyo.

Berkaca pada tragedi itu, seharusnya kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus berani bersikap: menghidupkan (kembali) sastra anak Indonesia. Jika tidak, jangan menyesal jika anak-anak kita tidak berkarakter Indonesia. Karakter mereka akan dibentuk oleh tokoh-tokoh cerita yang dibacanya. Saat membaca Superman dan Sinchan, misalnya, mereka akan memperoleh pengetahuan yang secara langsung ataupun tdak langsung merefleksikan kehidupan/budaya Amerika dan Jepang.

Geliat penulisan sastra anak Indonesia, terutama dalam bentuk komik, sesungguhnya pernah marak pada dekade 50-an. Ketika itu (hingga dekade 70/80-an), komik-komik wayang sangat digemari masyarakat, tidak hanya di Jawa, tetapi juga di luar Jawa. Begitu pun komik-komik lokal, seperti Ali Oncom, Si Buta dari Goa Hantu, Gina, Jampang Jago Betawi, dan Gundala sangat diburu orang. Sayang, sejak tahun 90-am, penulisan komik di Indonesia meredup.

Untuk menggairahkan kembali penulisan sastra anak, kita bisa meniru yang dilakukan oleh banyak negara. Pada umumnya, di banyak negara, sastra anak mendapat perlakuan khusus. Secara rutin lomba penulisan sastra anak diadakan dan pemberian penghargaan khusus sastra anak pun terus dilakukan. Sebut saja The Golden Baobab Prize di Afrika; CBCA Boook Awards di Australia; Governor General’s Literary Award for Children’s Literature and Illustration di Kanada; the Carlos Palanca Memorial Award di Filipina. Di Amerika, lebih meriah lagi, sebut saja the Newbery Medal, Michael L. Award, Caldecott Medal, Golden Kite Award, Sibert Medal, Theodor Seuss Geisel Award, Laura Ingalls Wilder Medal, Batchelder Award, Coretta Scott King Award, the Belpre Medal, the National Book Award, dan the Orbis Pictus Award. Ada lagi penghargaan yang bersifat internasional, seperti The Hans Christian Andersen Award, the Astrid Lindgren Memorial Award, Ilustrarte Bienale, the Bologna Ragazzi Award.

Atas dasar itu, kita sesungguhnya tidak hanya dapat meniru, tetapi juga dapat berkreasi, misalnya dengan menambahkan penghargaan berdasarkan pilihan anak-anak, semacam Kids Choice Award khusus untuk sastra anak. Sementara itu, untuk menarik dan memudahkan anak dalam mengakses sastra anak Indonesia, tampaknya kita juga dapat meniru yang dilakukan oleh The International Children’s Digital Library, yang memiliki beragam buku sastra anak dari berbagai negara yang dapat diakses secara gratis. Saat berhadapan dengan internet, anak-anak dapat diarahkan untuk mengakses situs tersebut.

Bagaimana sastra anak di Riau? Sebenarnya sudah banyak cerita anak (Riau) ditulis, seperti karya Abel Tasman: Petualangan si Kemilau, 120 Jam di Belantara Bukit Barisan, Anak-Anak Duano, Raja Kate Dikepung Asap, Bintang Semakin Terang, Hang Tuah 1, Hang Tuah 2. Anak-Anak Batang Lubuh, dan Pencuri Semah Kenduri serta karya B.M. Syamsuddin: Cerita Rakyat dari Riau 2, Si Jongol Anak Nakal, Sumpah Orang Barok, dan Raja Bongsu Sakti dan Bijaksana. Di samping itu, di Pekanbaru juga telah terbit majalah humor, Si Kari. Majalah anak bergambar itu pun sesungguhnya dapat menjadi media sastra anak (Riau).

*) Marlina, Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/alinea-sastra-anak-indonesia-nasibmu.html