Teologi Citra Tuhan, Ibnu Arabi (Bagian I)

Karya: Masataka Takeshita
Penerjemah: M. Harir Muzakki *

BAB I

Filsafat manusia Ibn ‘Arabi bercirikan konsep “Manusia Sempurna” yang disimbolkan Adam, yang Tuhan menciptakan sesuai dengan citra-Nya sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Ciri khas utama dari antropologinya adalah faham antroposentris yang terletak pada sisi ontologi. Dia menggunakan beberapa tema dan pembahasan yang lazim bagi sufi masa awal. Sungguh, faham antroposentris bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam, maupun tradisi Yahudi-Kristen. Namun, Ibn ‘Arabi membahas faham antroposentris berdasarkan filsafat dan menafsirkan ulang beberapa tema dalam Injil, Perjanjian Lama dan al-Qur’an dengan metafisika dan memberikan makna-makna baru dari tema-tema lama pada masa itu. Dengan cukup berhati-hati, antropologinya mememiliki beberapa kesamaan yang menonjol dengan para pendeta Kristen sebelumnya, Dia juga menafsirkan cerita-cerita Injil dengan filsafat Hellenis dan menawarkan umat Kristen sebuah keyakinan dasar filsafat. Dalam bab ini, pertama kami akan mengkaji latar belakang faham antroposentris sebelum Islam dan teologi citra pada masa awal sufisme sebelum Ibn ‘Arabi, misalnya al-Hallaj dan Ruzbihan Baqli Shirazi, yang menggunakan sumber-sumber pemikiran al-Hallaj dan mengembangkan idenya, dan al-Ghazali yang lebih dekat dengan Ibn ‘Arabi, juga termasuk di antara para Sufi yang lebih awal terkait dengan teologi citra (Tuhan).

Tradisi Sebelum Islam
Perjanjian Lama

Faham antroposentris secara jelas termuat dalam Perjanjian Lama, misalnya dalam Genesis. Semua makhluk hidup diciptakan untuk manusia, manusia diberi kelebihan dari seluruh makhluk hidup.1 Kenyataannya bahwa manusia merupakan tujuan akhir penciptaan, lebih-lebih manusia diperkuat oleh pernyataan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan citra-Nya.2 Maksud pernyataan ini menjadi teka-teki beberapa generasi teologi, baik dalam Yahudi maupun Kristen dan sejumlah penjelasan telah diberikannya.3 Edmund Schlink menyimpulkan persoalan sekitar tema Imago Dei dengan cara sebagai berikut: 4

1. Dimana letak kesamaan citra ?
2. Siapa yang memiliki kesamaan citra ? dan siapakah citra Tuhan ?

Dalam konteks Perjanjian Lama, jawaban untuk pertanyaan yang pertama masih tidak jelas. Hubungan antara manusia dengan Tuhan secara tegas tidak pernah dinyatakan. Nampaknya, jarak antara makhluk dan pencipta masih tetap jauh. Sedangkan pertanyaan kedua secara umum disepakati bahwa dalam hal ini, Adam melambangkan manusia secara umum dan kesamaan citra masih tetap benar, meskipun setelah turunnya Adam.5

Dalam pandangan Yahudi masa selanjutnya, muncul penafsiran tema etika-antropologi.6 Sesuai dengan prilaku individu dan tingkat kepatuhannya terhadap Hukum, manusia dapat melestarikan atau menghilangkan kesamaan citra. Untuk memiliki citra yang sama dengan Tuhan berarti menjadi orang yang berguna bagi citra-Nya. Namun, haruslah diperhatikan bahwa dalam hal ini tidak ada dualisme antara raga dan jiwa. Dualis radikal ini pertama diperkenalkan ke dalam tradisi Yahudi-Kristen oleh faham Gnostisisme (ma’rifah) dengan mitos antropologinya yang masyhur.

Gnostisisme

Faham Gnostis memperkenalkan beberapa gagasan penting penafsiran tema Imago Dei. Di sini kami menyebutkan gagasan-gagasan ini, berikut analisis Schwanz:7

1. Konsep citra diterapkan untuk makhluk Tuhan yang dibedakan dengan kemutlakan Tuhan. Makhluk Tuhan ini yang dinamakan Antropos, Sophia, atau Logos, dikategorikan sebagai citra Tuhan.

2. Konsep citra mengekpresikan persamaan dan perbedaan hubungan sifat Tuhan yang absolut. Hubungan antara keduanya dijelaskan dengan teori emanasi neo-Plato.

3. Teori wahyu dan soteriologi dibatasi dengan konsep citra. Wahyu memberitahu bahwa sisi terdalam manusia, diri manusia, memiliki benih ketuhanan dan dengan pengetahuan ini, manusia dapat memperoleh keselamatan.

4. Jiwa dan raga secara tegas dibedakan. Raga termasuk alam fisik dan merupakan penjara bagi jiwa. Alam fisik diciptakan dan merupakan kejahatan. Jiwa berasal dari Tuhan, namun jiwa tidaklah diciptakan dalam arti kata yang sebenarnya, tetapi jiwa merupakan pancaran dari Tuhan.

5. Istilah “Citra” terkadang diterapkan pada sisi terdalam manusia. Jadi, pada saat yang sama istilah ini memiliki makna bentuk dan salinan.

Kami dapat membuat skema teori Gnostis citra sebagai berikut:8
Tuhan — Citra Tuhan — Manusia
(Asli)— (Copy)
———-(Asli) — (copy)

Philo Alexandria

Di antara penafsiran tema Imago Dei sebelum Islam, penafsiran Philo adalah paling menarik dan berpengaruh.9 Wolfson memandang Philo sebagai penggagas filsafat agama abad pertengahan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam.10 Meskipun demikian, posisi penting Philo terlalu berlebihan. Tidak diragukan bahwa teorinya tentang citra dalam penafsirannya dari Genesis mempengaruhi para filosof Patristik, seperti Origen dan Gregory Nyssa. Filsafat Philo terkadang dicap sebagai Platonisme abad pertengahan, kadang-kadang sebagai Stoicisme. Terdapat persamaan tertentu antara Philo dan Gnostisisme, khususnya dalam masalah doktrin citra.
Spekulasi Philo tentang citra Tuhan bermula dari perbedaan antara manusia yang diciptakan sesuai dengan citra Tuhan dan manusia yang diciptakan dari tanah, yang didasarkan atas dua penjelasan yang berbeda dalam Genesis. Manusia diciptakan sesuai dengan citra Tuhan, yang dinamakan manusia Tuhan (antrhopos theou), ditafsiri dengan dua cara. Pertama adalah intelejensi manusia yang membimbing jiwa dan mengatur tubuh seperti Tuhan. Kedua dikatakan bahwa manusia yang diciptakan sesuai dengan citra Tuhan merupakan sebuah ide, benih, atau tanda (sphragis) nyata, tidak bersifat jasmani, tidak laki-laki dan perempuan, tidak dapat dirusak oleh alam. Dia adalah Adam yang bersifat langit (sebenarnya), jika dibandingkan Adam duniawi yang tercipta dari tanah.

Lebih jauh, Philo menghubungkan konsep citra dengan doktrin logos-nya yang terkenal, akan tetapi hubungan hakekat Logos dengan Adam yang sebenarnya juga masih bersifat tidak jelas. Di satu sisi, dia (Adam) disamakan dengan Logos dan di sisi lain, Logos merupakan citra Tuhan dan manusia ideal (Adam yang sebenarnya) merupakan citra logos, yaitu bentuk dari citra Tuhan.

Adalah aneh bahwa ketika Philo menyamakan Adam yang sebenarnya dengan Logos, dia tidak berpendapat bahwa Adam yang bersifat duniawi diciptakan sesuai dengan Logos, yaitu citra Tuhan. Menurut Philo, manusia yang bersifat duniawi selalu dipandang terbuat dari tanah, akal manusia diciptakan sesuai dengan citra Tuhan, namun manusia sebagaimana tidak pernah terfikirkan diciptakan menurut citra-Nya. Juga perlu diperhatikan bahwa dalam beberapa tulisan, Philo berpendapat bahwa alam semesta diciptakan sesuai dengan citra Logos, yaitu bentuk dari citra Tuhan.11

Sumbangan lain antropologi Philo untuk masa berikutnya adalah rumusannya yang jelas atas dua sifat manusia. Adalah Manusia yang bersifat duniawi, yang dia katakan sebagaimana pemilik dua sifat.
Bentuk manusia yang bersifat individu, objek pengertian, adalah suatu komposisi yang terbuat dari subtansi duniawi dan dari unsur ketuhanan; oleh karena itu, dikatakan bahwa tubuh terbuat dari sari pati tanah dan menjadikan darinya bentuk manusia, namun jiwanya berasal dari sesuatu yang tak tercipta dari apapun, tetapi dari Tuhan yang memerintah semua; karena itu yang Dia tiupkan tidak lain dari nafas ketuhanan… Dengan demikian, barangkali secara tepat dikatakan bahwa manusia adalah batas wilayah (methorios) antara yang bersifat sementara dan abadi, sejauh masing-masing ini diperlukan, dan pada saat yang sama dia diciptakan bersifat sementara dan abadi, bersifat sementara terkait dengan tubuh dan bersifat abadi terkait dengan akal (dianoia).12

Masa Awal Kristen

Teologi citra pada masa awal Kristen banyak dipengaruhi oleh faham Gnostis dan Philo. Namun, perbedaan penting terletak dalam Cristiologi, yang mana para pendeta Kristen pada masa awal memasukkan ke dalam teologi mereka.

Menurut St. Paul bahwa citra Tuhan adalah Kristus dan homo imago Dei maksudnya adalah Kristus, yaitu bentuk utama manusia.13 Meskipun secara potensial manusia memiliki citra Tuhan, kesamaan citra ini hanya teraktualisasikan lewat Kristus. Jadi, karakter etika-agama berada di awal pembahasan. Hanya manusia baru, jiwa manusia yang dilahirkan kembali dalam Kristus, dalam kenyataannya dapat dikatakan citra Tuhan. Di sini istilah “citra” diterapkan pada Kristus (bentuk) dan manusia (salinan).

Pada masa St. Paul, doktrin Logos Kristen belum menjadi baku. Adalah para pendeta masa awal yang mengintegrasikan doktrin Logos ke dalam teologi citra. Di antara mereka, Irenaeus dipandang sebagai pendiri teologi citra.14 Menurutnya, meskipun Adam diciptakan sesuai dengan citra Tuhan, dia kehilangan kesamaan citra ini ketika Adam berbuat dosa dan diusir dari surga. Walaupun hanya Kristus, Logos, citra Tuhan par excellence, bahwa manusia dapat memperoleh kembali kesamaan citra yang asli. Dalam hal ini, aspek soteriologi sangat menonjol.

Di sini bukanlah tempatnya untuk meneliti setiap pendeta Kristen yang memberikan sumbangan atas perkembangan teologi citra, seperti Origen,15 Gregory Nazianzus,16 dan Gregory Nyssa.17 Oleh karena itu, kami akan meringkas ciri-ciri teori citra mereka sebagai berikut:

1. Tuhan dan citra-Nya benar-benar berbeda. Tuhan adalah Ayah dan citra-Nya adalah Kristus, Logos.

2. Manusia diciptakan sesuai dengan citra itu, oleh karena itu dia (Adam) bukanlah citra Tuhan, bahkan dia adalah bentuk dari citra Tuhan.

3. Seperti Philo, mereka menekankan dua aspek manusia. Pandangan St. Paul tentang sisi batin manusia atau manusia baru disamakan dengan jiwa manusia, yang diciptakan sesuai dengan citra-Nya, sementara tubuh terbuat dari tanah. Karena bahasan ketidakjelasan manusia dalam pandangan Gregory Nazianzus, Anna-Stina Ellverson menulis sebagai berikut:

… manusia tercipta dari tanah dan ruh. Dia sedikit dari tanah yang memiliki jiwa, tiupan Tuhan, digabungkan… Dia tampak dan tidak nampak, bersifat duniawi dan surgawi, abadi dan tidak kekal, rendah dan tinggi. Kami memahami Gregory yang menekankan penduaan manusia dengan cara bertentangan. Berkat sifat manusia yang mendua ini, lebih jauh dapat dikatakan (manusia) memiliki dunia atau lingkungan yang berbeda, material juga spiritual dan surgawi. “Aku besar dan kecil, tinggi dan rendah, abadi dan sirna, bersifat duniawi dan surgawi. Suatu keadaan, dimana aku sama dengan dunia bawah ini, yang lain sama dengan Tuhan, yang satu sama dengan daging dan yang lain sama dengan jiwa.”18

4. Menurut Origen, kesamaan citra berarti subtansi dari semua intelek sama dengan Tuhan, karena mereka merasakan intelligibelitas yang sama. Jadi, kesamaan pengetahuan dan objek pengetahuan adalah dasar kesamaan citra.

5. Citra Tuhan juga dipandang sebagai sumber pengetahuan. Berkat kesamaan citra, pengetahuan diri manusia mengarah pada pengetahuan Tuhan. Henri Crouzel menjelaskan teori ini dalam Origen sebagai berikut:

“Puisque I’intelligence est une image intelectuelle de Dieu, par elle on peut connaitre queique chose de la nature de la devinite.” Il suffit pour cela que I’esprit se regarde lui-meme et y constate le “desir de pieth et de communion avec Dieu.”19
Dalam hal ini, Delphic Maxim, “kenalilah dirimu sendiri” dikombinasikan dengan teologi citra.

Tema Manusia sebagai Citra Tuhan dalam Sufisme

Hadis yang berbunyi “Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan citra-Nya” terdapat dalam berbagai macam kumpulan kitab hadis.20 Munculnya konotasi anthropomorpis (faham yang menyamakan Tuhan dengan manusia) dari hadis di atas menimbulkan sejumlah perbedaan penfasiran, dan para ahli teologi berusaha keras menjelaskan hadis itu dengan menafsirkan kata ganti orang ketiga “citra-nya” sebagai orang lain selain Tuhan.21 Hadis ini juga dipakai oleh kelompok sufi untuk menegaskan kedekatan afinitas yang nyata antara Tuhan dan manusia.

Alasan mengapa hadis ini banyak diperbincangkan oleh para ahli teologi dan sufi tidak semata-mata bahwa hadis ini memberikan isyarat faham antropomorpis. Terdapat ungkapan-ungkapan antropomorpis yang bersifat lebih jelas dalam al-Qur’an, seperti “Tangan Tuhan” dan “Wajah Tuhan.” Juga terdapat beberapa hadis yang bersifat antropomorpis, seperti “Aku melihat Tuhan dalam bentuk yang sangat indah…”.22 Namun alasan sesungguhnya popularitas hadis ini, kelihatannya diperkenalkan oleh teologi citra yang begitu lazim pada masa awal Kristen hingga masa Islam. Ketika hadis ini diperkenalkan ke Islam dari Perjanjian Lama, maka lebih masuk akal berpendapat bahwa seluruh tradisi penafsiran ayat dari Perjanjian Lama ini masuk ke Islam. Sesungguhnya, pengaruh Kristen yang berkaitan dengan tema imago Dei secara jelas dapat dilihat dalam penafsiran beberapa aliran Shi’ah ekstrim, dikatakan bahwa Adam diciptakan oleh Kristus sesuai dengan citra-Nya (Kristus).23

Dalam beberapa hal, faham antroposentris, yang menjadi latar belakang tema ini, tidak sedikit dalam Islam sejak dari awal. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia diberi kelebihan atas segala makhluk hidup yang ada di langit dan bumi, Tuhan menciptakan Adam sebagai khalifah-Nya di muka bumi dan Dia mengajarkan Adam semua nama yang ada di bumi, dan para malaikat diperintah untuk bersujud kepada Adam. Ayat-ayat al-Qur’an ini seringkali dikutip oleh para sufi untuk menjelaskan hadis imago Dei.

Penjelasan tentang hadis ini yang paling mengagumkan pada masa awal sufi adalah penjelasan Shibli, yang dikutip al-Ghazali dalam Imla’.24 Menurut Shibli, Adam diciptakan sesuai dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Tuhan, bukan Esensi-Nya. Ini merupakan sebuah perkembangan baru Islam dalam sejarah teologi citra, dan menjadi penafsiran yang paling masyhur dalam sufi. Perbedaan antara Esensi dan Nama-Nama atau Sifat-Sifat berasal dari teologi Islam. Nama-Nama atau Sifat-Sifat menempati posisi tengah antara Tuhan yang bersifat absolut dan makhluk yang bersifat baru, berkaitan dengan pandangan Philo dan para pendeta Kristen tentang Logos.
Seperti contoh awal spekulasi tema imago Dei, dalam faham sufi, pertama kami akan mengkaji teori al-Hallaj. Kemudian membahas pemikiran Ruzbihan Baqli Shirazi sebagai pendahulu Sufisme Hallajian. Selanjutnya penafsiran al-Ghazali tentang hadis imago Dei akan dijelaskan secara mendetail.

Al-Hallaj

Affifi telah menyatakan bahwa pemikiran al-Hallaj sangat mempengaruhi pemikiran Ibn ‘Arabi dan menyimpulkan sembilan hal yang sama antara keduanya.25 Namun, sebagaimana diakui sendiri oleh Affifi, al-Hallaj memiliki tingkat mistis yang berbeda dengan Ibn ‘Arabi. Sebagian besar kesamaan yang disebutkan Affifi adalah persamaan yang tidak terlalu penting dari al-Hallaj. Misalnya, ide-ide dunia yang bersifat fenomenal merupakan sebuah tabir dari yang sebenarnya atau tak terketahuinya Tuhan atau penafsiran al-Qur’an yang bersifat batin dapat ditemukan dalam beberapa pemikiran Sufi dan sejumlah aliran teologi. Di sini, kami akan memfokuskan teori al-Hallaj tentang Adam yang diciptakan sesuai dengan citra-Nya.

Louis Massignon dalam bukunya Magnum Opus yang berjudul, La passion de Hallaj, membahas enam halaman pada bab yang berjudul I’image de Dieu.26 Setelah dia menjelaskan otensitas hadis imago Dei dalam dua versinya, “dalam citra-Nya” dan “sesuai dengan citra Zat Yang Maha Penyayang,” dia membahas berbagai macam mazhab penafsiran dan memasukkan al-Hallaj termasuk di antara pada teolog yang hanya menerima pandangan pertama dan menafsirkan “nya” merujuk pada Adam; a son image-selon la forme meme qu’ll avait preparee pour iui…, Le type de cette image est donc en dieu comme une pure frame intellible, une et simple, intellible, a la fois, pour Lui.” Louis Massignon mengambil pernyataan ini yang dikutip dari al-Hallaj dalam Tafsir Sulami.27 Di sini, hadis imago Dei dikutip dan dijelaskan sebagai berikut: “yaitu, menurut citranya dimana Tuhan membentuk (sawwara) nya, dan yang terbaik adalah bentuknya.”

Namun, konsep Adam yang bersifat surgawi dan berhubungan antara manusia dan Tuhan tidak sedikit dalam pandangan al-Hallaj, meskipun dia tidak menggagas beberapa doktrin tentang hadis imago Dei. Dia membedakan dua aspek dalam diri Tuhan: Lahut, transenden, alam ketuhanan yang tidak dapat dicapai yang menjadikan atom-atom hidup, dan nasut, alam kemanusiaan yang mulia. Nasut adalah wujud yang diambil dari firman Tuhan sebelum penciptaan. Ia adalah pakaian-pakaian (kiswa) dari kesaksian abadi (syahid al-qidam) yang telah mengikrarkan perjanjian. Jadi, Adam dilambangkan sebagai nasut Tuhan atau ketuhanan dalam pakaian-pakaian kemanusiaan, khususnya pada saat perjanjian, dan ini berhubungan dengan figur Yesus yang bersifat eskatologis pada Hari Kebangkitan.28 Namun, hubungan antara “Adam surgawi,” yaitu nasut Tuhan dan manusia yang bersifat dunia ini tidaklah jelas dalam pandangan al-Hallaj.

Juga teori al-Hallaj tentang huwa-huwa (identitas, kesamaan) menyatakan indentifikasi tertinggi antara manusia dan Tuhan. Teori ini terlestarikan dalam kata-kata Dailami dan Ruzbihan Baqli Shirazi (kata-kata Dailami dalam bahasa Arab dan kata-kata Ruzbihan dalam bahasa Arab dan Persi).29 Di sini, bukanlah tempatnya mengkaji pemikiran mistis al-Hallaj secara mendetail, namun hanya diberikan ringkasan singkat. Bagian yang pertama menjelaskan hubungan antara Esensi Tuhan dengan Sifat-Sifat-Nya dengan satu bahasa puisi mitos yang tinggi. Titik tekan pemikirannya adalah sebelum penciptaan dan dalam aspek kemutlakan-Nya, Sifat-Sifat tidak terpisah dari Esensi-Nya dan tidak juga identik dengannya (doktrin Asy’ariah). Dia mengetahui Sifat-Sifat-Nya dengan pengetahuan dan penglihatan atas diri-Nya sendiri. Setiap Sifat mencangkup Sifat-Sifat yang lain. Tuhan menghubungkan masing-masing Sifat dan memaknai masing-masing Sifat melalui hubungan dengan diri-Nya sendiri. Di antara Sifat-Sifat-Nya ini, Maha Pengasih adalah paling menonjol (ini ciri khas aliran Hallajian). Akhirnya Tuhan ingin memanifestaskan Sifat-Sifat-Nya di luar diri-Nya sendiri secara terpisah.

Kemudian Tuhan ingin menjadikan Sifat-Sifat-Nya ini muncul (berawal) dari Kasih Sayang dalam keterpisahan (infirat), sehingga Dia dapat melihatnya dan berbicara dengannya. Dia melihat sebelum keabadian dan memciptakan suatu citra, yang mana citra-Nya dan Esensi-Nya, karena jika Tuhan melihat sesuatu makhluk, Dia menjadikan padanya suatu citra dari-Nya dan dan citra tersebut akan tetap melalui keabadian, dan dalam citra tersebut akan terpelihara Pengetahuan, Kekuasaan, Gerak, Keinginan dan seluruh Sifat-Sifat-Nya melalui keabadian. Ketika Dia mewujudkan diri-Nya sendiri secara abadi pada seorang (syakhs), Dia menjadi sama (huwa-huwa) dengannya, dan Dia melihat [pada orang itu berabad-abad tahun bersama keabadian …. Dia mengkhususkannya dengan sifat-sifat yang sama bagi orang-orang yang memiliki tindakan-Nya, sifat-sifat yang Dia ciptakan dari makna manifesatasi (zuhur) dalam pribadi orang tersebut yang Dia ciptakan sesuai dengan citra yang Dia miliki. Jadi, dia (orang tersebut) menjadi pencipta (khaliq) dan pemberi rizki (raziq). Dia memuji dan memuliakan, dan menjadikan sifat-sifat dan tindakan nyata. Dengan cara semacam ini, dia menjadikan hakekat-hakekat dan keajaiban yang sesungguhnya dan (Tuhan) membawanya ke dalam kerajaan-Nya, dan memanifestasikan diri-Nya padanya dan darinya.30
Mungkin sulit untuk menerjemahkan bahasa puisi mitos al-Hallaj ke dalam bahasa filsafat dengan jelas dan sistematis, paling tidak dapat dinyatakan dalam rumusan sebagai berikut:

1. Meskipun dia menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “penciptaan” (ibda’) atau “manifesatsi” (zuhur) dari “bentuk” dan “pribadi,” dia tidak menyebutkan baik Adam maupun manusia secara jelas. “Citra” atau “pribadi” dapat ditafsirkan secara tepat sebagai “intelek” atau “jiwa.”

2. “Wujud” in concreto tidaklah disebutkan secara keseluruhan. Karena tidak ada ontologi, tidak ada perbedaan antara dunia nyata dan alam fisik yang begitu lazim dalam paham neo-Plato. Oleh karena itu, secara pasti kita tidak bisa menyamakan wujud konkrit dengan citra atau pribadi.

3. Esensi Tuhan dan citra secara jelas tidaklah dibedakan. Citra yang diwujudkan Tuhan dinamakan citra Tuhan dan Esensi Tuhan. Dalam teologi Yahudi-Kristen tentang citra, citra Tuhan merupakan suatu entitas yang secara jelas dibedakan dari ketuhanan, yaitu Esensi Tuhan.

(Bersambung)
*) M.Harir Muzakki, Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo.