Lintas Budaya lewat Sastra Serumpun

Dari PSN XIII di Surabaya (1)
I Nyoman Suaka *
Bali Post, 10 Oktober 2004

PERTEMUAN Sastrawan Nusantara (PSN) XIII di Surabaya yang dihadiri peserta dari negara-negara serumpun (Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand dan Indonesia) berlangsung pada 27-30 September 2004. Perhelatan sastrawan ASEAN itu dibuka Gubernur Jatim, Imam Utomo, di Gedung Cak Dur Rasim, Taman Budaya Surabaya, dimeriahkan oleh musikalisasi puisi dari Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) cabang Tabanan, Bali. Tak kurang dari 23 makalah disajikan, mengangkat permasalahan klasik dan aktual. Penulis yang hadir dalam setiap acara, mencoba merangkum dalam laporan berikut ini.

Hari pertama seminar sastra, suasana langsung memanas. Penyair muda, Binhad Nurrohmat, yang pegiat Forum Sastrawan Baru Asia Tenggara langsung menggugat pelaksanaan PSN XIII. Pertemuan sastrawan itu dinilainya tidak lebih dari ajang nostalgia para sastrawan angkatan tua bangsa-bangsa serumpun Melayu. Ia menilai PSN tidak melibatkan sastrawan muda, sehingga terkesan pertemuan itu arena bernostalgia.

Sastrawan se-ASEAN sempat terperanjat mendengar protes itu. Delegasi sastrawan Malaysia pimpinan Prof. Tan Sri Dato Ismail, Dr. Masuri Sallkum (Singapura), Dr. Hj Norsidi bin HJ Muhamad (Brunei Darussalam) dan Dr. Taufik Ismail (Indonesia) yang duduk di barisan depan segera bereaksi. Ketika itu, pembawa makalah, Djamal Tukimin dari Singapura mencoba menenangkan suasana. Protes tersebut dinilainya wajar saja, sebab dirinya juga pernah melakukan hal serupa puluhan tahun lalu ketika masih berumur muda. Menurut Tukimin, tak benar pertemuan itu hanya nostalgia karena sastrawan muda juga diberikan peluang yang sama.

Situasi seminar di ruang Graha Pena Surabaya yang dihadiri sekitar 100 orang itu akhirnya mereda. Usulan Binhad kemudian dimasukkan menjadi salah satu butir dari delapan butir rancangan rekomendasi yaitu dengan meniadakan pembedaan antara sastrawan muda Asia Tenggara dengan PSN. PSN kemudian berhasil menelorkan beberapa rekomendasi. Rancangan rekomendasi itu kemudian akan dimatangkan oleh tim kecil sebelum disampaikan kepada majelis PSN. Rancangan rekomendasi menghadirkan Taufik Ismail dan Ayu Sutarto dari Indonesia, Siti Zainon Ismail (Malaysia), Hj Hamawi, Hj Ahmad (Brunei Darussalam) dan Mashuri Salikun (Singapura).

Peran pemerintah masing-masing negara juga mendapat sorotan dalam salah satu rekomendasi tersebut. Pada butir pertama rekomendasi disebutkan, PSN harus terus dilanjutkan dengan pembiayaan dari pemerintah masing-masing dan pemerintah daerah tuan rumah. PSN juga perlu meningkatkan partisipasinya sebagai ruang lintas batas budaya antarbangsa khususnya negara serumpun sehingga dapat melihat berbagai persoalan melalui bingkai kesusastraan. Terkait dengan itu, makalah-makalah yang disampaikan hendaknya bernuansa kesusastraan, tak lebih berat menekankan pada produk budaya lainnya.

Lintas budaya antarbangsa serumpun melalui kesusastraan ini tampaknya dirasakan betul oleh para sastrawan. Dalam berkreativitas, mereka tetap konsisten dengan bahasa melayu, walaupun di negaranya terjadi gempuran yang hebat atas desakan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Cina.

Dataran Bunda

Para sastrawan serumpun merasakan betul bahwa kebudayaan leluhurnya adalah Kerajaan Majapahit. Mereka sangat antusias mengikuti PSN XIII ini karena diadakan di Jawa Timur sebagai pusat Kerajaan Majapahit tempo dulu yang ketika itu berhasil mewilayahi negara-negara di ASEAN. Untuk mengenang masa silam itu, para peserta PSN juga diajak berwisata budaya mengunjungi situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto. Rombongan lainnya diajak ke daerah Lamongan mengunjungi makam Sunan Drajat, Sendang Duwur dan menyaksikan kreativitas para seniman di Pemkab Lamongan.

Delegasi sastrawan Malaysia, Prof. Dr. Tan Sri Dato Ismail yang juga sebagai ketua Gabungan Penulis Malaysia (Gapena) mengatakan, PSN bertujuan untuk membina kesadaran intelektual bersama tanpa unsur politik dan membina kesatuan Melayu. Peranan Indonesia di bidang kesusastraan di kawasan bangsa-bangsa serumpun sangat besar. “Indonesia adalah dataran bundanya bangsa-bangsa melayu,” ujar Dato Ismail. “Dataran bunda” yang dimaksud itu selain Kerjaaan Majapahit sebagai leluhurnya, juga dilihat dari latar belakang keturunan para sastrawan Melayu yang banyak berasal dari Indonesia.

Djamal Tukimin dalam makalahnya yang berjudul “Tradisi Nusantara dalam Sastra Singapura”, mengatakan para sastrawan penting di Singapura itu mampu “memelayukan” segala yang bersifat “kejawaan”. Nilai utama yang masih bertahan sampai kini adalah penggunaan bahasa Melayu sebagai saluran pemikiran dan kreativitas mereka. Walaupun kenyataan ini harus diakui bahwa bahasa Melayu mulai tergeser dengan bahasa-bahasa lainnya terutama bahasa Inggris. Selain itu sastrawan Melayu di Singapura berhadapan dengan dua tradisi penting yaitu kemelayuan dan keislaman. Mengingat majemuknya perkembangan identitas kebudayaan dan sastra negara-negara serumpun, maka perlu dirintis kesusastraan multikultural yang berbasis Melayu. Bagi negara ASEAN, hal ini tidak terlalu menyulitkan sebab telah memiliki dasar yang kokoh berupa identitas kemelayuan. Namun sayangnya, dari puluhan makalah yang ditampilkan, satu pun tidak ada yang menyinggung tentang upaya mendekatkan rasa persaudaraan melalui sastra. Di luar arena PSN sebenarnya hal ini sudah lama dirintis dengan membentuk wadah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Salah satu kajian yang penting dan amat mendukung cita-cita membina kesadaran intelektual bersama dan membina kesatuan Melayu adalah melalui sastra perbandingan (sastra komparatif).

Mastera pernah mengusulkan kepada perguruan tinggi yang membuka studi bahasa dan sastra di universitas negara-negara Asean agar mengajarkan mata kuliah sastra bandingan. Materi yang diajarkan bersifat studi banding kesusastraan lintas negara dan lintas budaya yang memiliki kesamaan lebih besar dibandingkan perbedaannya. Anjuran itu tampaknya disambut dengan positif dan terus diadakan kajian-kajian sastra bandingkan di perguruan tinggi. Di samping itu, majalah sastra Horison membuka rubrik Mastera yang menampung karya-karya para sastrawan dari negara-negara serumpun.

Sastra Mutakhir

Sebagian besar pemakalah sibuk berkutat dengan masalahnya sendiri tanpa mencoba mengaitkan sastra di negaranya dengan sastra negara lain. Topik-topik yang dibawakan seakan tidak mendukung cita-cita bersama seperti yang disampaikan Sekretaris PSN XIII, Prof. Dr. Tan Sri Dato Ismail. Pertemuan sastrawan kali ini sudah semestinya lebih konkret lagi dengan mengedepankan identitas kebersamaan di bawah payung kebudayaan Melayu. Permasalahan yang diangkat dalam seminar sastra nusantara itu kebanyakan sejarah sastra lama di masing-masing negara, jarang perkembangan sastra mutakhir.

Satu-satunya sastra mutakhir yang terungkap dalam diskusi (bukan makalah) adalah mengenai sastra cyber yang diakses melalui internet. Sastra jenis ini belakangan berkembang sangat pesat, melebihi dari sastra yang dimuat di koran. Siapa saja, anak-anak, remaja dan orang tua dapat menulis karya sastra melalui internet. Dengan demikian ada keinginan untuk memasukkan sastra cyber ini sebagai sebuah genre sastra seperti halnya sastra koran. Menjawab pertanyaan ini, pemakalah Ahmadun Yosi Herfanda secara tegas mengatakan, sastra cyber dari segi kualitas kurang bisa dipertanggungjawabkan, terutama dari segi kriteria kesusastraan. Sebab, karya-karya ini tidak melalui seleksi, siapa saja bebas memasukkan naskah. Berbeda dengan sastra koran, ada seleksi ketat oleh redaktur dengan mengedepankan karya-karya yang memenuhi standar kesusastraan.

*) I Nyoman Suaka, IKIP Saraswati Tabanan.
Dijumput dari: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2004/10/10/ap4.html