Media, Sastra, dan Kita

Dedik Priyanto *
www.nu.or.id/, 15/07/2012

“Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang. Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,”Foulcher; Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, (1991)”

Apakah Anda tiap hari baca Koran cetak atau online? Saya kira jika pertanyaan itu diajukan oleh mereka yang terbiasa mengikuti alur informasi akan menjawab spontan, ”Pasti. Tiap waktu.”

Lalu saat ditanya, “Apakah Anda baca karya sastra, baik itu cerpen, esai atau puisi tiap hari?” Maka, saya berani bertaruh, jawaban serempaknya akan begini, ”Tidak. Saya hanya baca hari minggu.” Beruntung kalau tidak ditambah embel-embel kalimat “itupun kalau sempat.”

Realitas seperti itulah yang kerap saya temui, bahwa sastra diciutkan hanya minggu dan “kalau sempat”. Seolah sastra hanyalah sampingan dan sudah sepatutnya ditaruh di bagian paling tak terjamah manusia. Berdebu, kumuh, pinggiran dan hanya disentuh oleh mereka yang berperilaku aneh.

Saya kira Anda sepakat, jika saya berbisik lirih di telinga pacar saya, ”Ini karena media, Sayang. Media yang membuat kita tidak menikmati sastra sebagaimana para orang tua, dan nenek kita menikmati karya-karya besar dunia.” Dan dia sembari mengamit tangan saya berujar pelan, ”Jangankan dunia. Sastrawan Indonesia saja kita jarang bertemu. “

Media dan sastra adalah ibarat dua saudara kandung yang kerap tidak bertemu, atau jangan-jangan enggan bertemu karena yang terakhir tidak pernah mendapatkan uang saku yang berlebih untuk sekadar bertahan hidup. Sedang yang pertama, media, acapkali dianggap sebagai tonggak keempat demokrasi, yang tentu saja bisa hidup jika mampu diolah dengan manajerial yang hebat. Laiknya pohon yang dirawat sang pemilik dan ditaburi prinsip jurnalisme yang begitu ketat.

Kalau toh mereka bertemu dalam satu rumah. Maka saudara pertama mendapatkan kamar yang begitu luas. Dan ia akan mendapatkan mainan yang begitu banyak. Mainan itu bisa berupa politik, hukum, kriminal, maupun ekonomi.

Sedangkan saudara kedua ibarat anak tiri yang hanya bisa memandang sayu saudaranya bermain-main dari balik jendela.

Bagi saya, media dan sastra adalah tonggak peradaban. Kenapa?

Saya kira, ukurannya begitu jelas jelas; literasi. Literasi inilah yang menjadi akar. Bahwa corak literer bisa dilihat sebagai pijak dimana peradaban dapat menjelaskan dirinya lewat teks. Teks yang terus bergerak dan ditafsirkan oleh mereka yang hidup sekarang, ataupun anak cicit kita.

Maka laiknya kita naik motor. Sesekali kita harus melihat kedua spion agar kita tidak jatuh, terjungkal, dan tertabrak. Dan perjalanan imajinasi bernama Indonesia pun tidak terlepas dari corak dan sastra menandai dirinya dalam tangkup kebudayaan yang memaknakan diri dalam tradisi. Tradisi yang terus menerus membaurkan sekat etnisitas dan agama.

Saya tidak mau berpolemik oleh kategorisasi HB Jassin yang menisbahkan pada peristiwa politik sebagai penanda gerak kesusasteraan. Saya hanya ingin menandaskan bahwa sastra mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa pada imajinasi tentang peradaban, dan Indonesia sebagai, meminjam kata Sanusi Pane, Faust dan Arjuna yang selalu berada dalam pencarian dan bertabrakan dengan dinamisme baratnya Sutan Takdir Alisjahbana (Ulumul Quran, edisi masa depan sastra, 1998).

Medio 20-an para pemikir cum-sastrawan ini telah mengimajinasikan mau ke mana bangsa bernama Indonesia akan bergerak. Mereka gandrung pada Barat di satu sisi, dan Timur pada di lain sisi. Mereka tidak hanya menggunakan media-media konvensional untuk menabur apa yang dirasakan di balik tempurung mereka, namun juga mengimajinasikan dalam karya sastra sebagai bentuk pertaruhan literer seorang intelektual.

Seorang sastrawan, meminjam kelakar Mahbub Djunaidi, merupakan seorang futurolog. Ya, mirip-mirip dukun tapi berpendidikan. Mereka mengetahui apa yang tidak dipikirkan orang. Bahkan mampu menerawang apa yang bagi mereka orang biasa tidak dipedulikan. Capung yang bertengger di pohon tetangga rumah pun mereka mampu melihatnya.

Tentu, seorang sastrawan lahir tidak hanya sendiri di ruang hampa nan sunyi. Atau tiba-tiba turun dari langit Krypton dan diberi nama Clarke dalam narasi Superman. Bukan!

Mereka hadir pada saat suasana sastra dan pemikiran berkembang dengan kondusif. Bahkan riuh dengan pelbagai hal yang mendukung tempurung mereka berpikir banyak hal; tentang nyiur yang melambai bagai seorang gadis, tentang matahari yang selalu mengabarkan kesadaran baru, atau tentang perlawanan pada penguasa yang sengaja lupa.

Sebagai contoh, adanya majalah Pujangga Baru terbit sebagai mandegnya Balai Pustaka dan ketakutan kolonial terhadap bacaan. Mereka melahirkan STA, Arjmin dan Sanusie Pane, Hamka dst. Tentu kita masih berharap majalah sastra Horison mampu menjadi anak muda. Tidak lagi menjadi generasi tua yang seakan gagap menghadapi kebaruan, globalisasi, dan seterusnya.

Saya merindukan generasi ini. Generasi majalah sastra Kisah HB Jassin medio 50-an, yang pada akhirnya berkembang menjadi polemik yang begitu terkenal dalam sejarah kita; Lekra dan Manikebu. Atau generasi Horison 80-an yang melahirkan sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, NH Dini, dan masih banyak lagi. Ada yang menyebutnya generasi Koran, tapi tidak spesifik.

Nah, saat ini saya kira kita menemukan jaman yang hampir serupa. Teknologi telah mengajak kita bergumul pada dunia. Di jejaring sosial twitter, misalnya, mata kita akan tertohok dengan ribuan puisi yang ditulis oleh pelbagai orang. Kadangkala hanya sebagai pemindah kegalauan, namun tak jarang pula yang bernas dan sublim. Belum lagi akses terhadap karya-karya sastra dunia yang begitu mudah.

Persoalannya adalah media-media kita tidak memberi ruang yang cukup untuk ‘suasana sastra’. Energi mereka terlalu terserap pada politik dengan segala manipulasinya. Kalau toh ada, mereka menempatkannya sebagai tempat peristirahat saja, dan itupun terus berkurang.

Maka yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan suasana itu. keberanian untuk keluar dari kotak rumah yang membuat saudara ‘tiri’ itu mampu berdiri sendiri, hidup sendiri. Karena anak tiri inilah yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada otak tempurung kita. Yang mengajarkan tentang hidup dan kebudayaan yang menjadi titik pijak peradaban.

Saya kira sudah saatnya kita memberikan warna baru pada geliat yang sudah terlalu dan selalu terkooptasi dengan politik. Kita butuh media yang khusus berbicara tentang sastra. Yang tidak hanya bermain-main dengan esai, cerpen, puisi. Tapi sastra dengan tiga aspeknya yang paling penting; manusia, alam dan tuhan. Ketiganya laiknya ruh yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang yang mengerti akan hakikat dirinya, dan memahami sebagai kebudayaan sebagai penentu peradaban bangsanya.

Tentu kita tidak mau disindir oleh Subagio Sastrowordojo (1968) dalam bakat alam dan intelektualisme,” orang boleh tinggi tingkat kesardjanan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerdjaannja, tetapi selama ia tidak punja minat ataupun peka kepada rangsang2 budaja, ia belum berhak dinamakan intelektuil.”

*) Dedik Priyanto, Kord. Piramida Circle Jakarta. Bergiat di Senjakala dan angkringanwarta.com
Dijumput dari: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,50-id,38778-lang,id-c,esai-t,Media++Sastra++dan+Kita-.phpx