Mikrokosmos dan Makrokosmos dalam Pemikiran Islam (Bagian II)

Karya: Masataka Takeshita
Penerjemah: M. Harir Muzakki *

Pengetahuan Diri Menurut Ikhwan al-Safa’

Tema pengetahuan diri yang telah kita analisis pada bab sebelumnya juga seringkali muncul dalam pemikiran Ikhwan. Namun, pada bab sebelumnya kami menjelaskan konsep pengetahuan diri sebagai pengetahuan Tuhan, titik tekan utama Ikhwan pada pengetahuan diri sebagai pengetahuan alam semesta, dan dalam hal ini terkait erat dengan teori makrokosmos dan mikrokosmos. Ide pengetahuan diri sebagai pengetahuan Tuhan muncul hanya dua kali dalam Rasa’il. Satu kali muncul dalam bentuk jawaban atas pertanyaan binatang karena manusia menguasi ilmu pertanian dan mampu mengelola tanah. Binatang berkata kepada manusia bahwa ilmu-ilmu itu tidak penting, apa yang lebih penting adalah pengetahuan tentang dirinya, dan mengutip hadis, ”barang siapa yang mengetahui dirinya, maka dia mengetahui Tuhannya.”47 Pada masalah kedua, Ikhwan menegaskan bahwa tujuan akhir ilmu-ilmu alam adalah ilmu-ilmu ke-Tuhan-an (‘ulum ilahiya). Tingkat pertama ilmu ke-Tuhan-an ini adalah pengetahuan subtansi (jawhar) jiwa, dan meneliti asal usulnya dan keadaan awal sebelum menjadi satu dengan tubuh dan memahami kepastian masa mendatang (taqdir) setelah kematian. Tidak ada jalan bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhannya kecuali setelah dia mengetahui jiwanya (dirinya). Dan mereka mengutip hadis, “Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka dia mengetahui Tuhannya.”48

Sebagaimana telah kita lihat pada bagian sebelumnya, jiwa harus dibersihkan di dunia ini untuk membebaskan dari kotoran jasmani. Pembersihan (jiwa) hanya mungkin melalui pengetahuan. Seperti dalam pandangan Gnostisisme, pengetahuan itu adalah keselamatan. Dan pengetahuan yang membebaskan manusia adalah pengetahuan tentang jiwa. Akan tetapi, pengetahuan jiwa hanya dapat diperoleh melalui mengetahui manusia tentang tubuhnya.49

Signifikansi Penciptaan Manusia sebagai Mikrokosmos

Harus dicermati ketika Ikhwan berpendapat bahwa manusia merupakan mikrokosmos, secara umum yang mereka maksudkan adalah tubuh manusia. Ini maksudnya bahwa tubuh manusia mencangkup fenomena alam semesta, termasuk tubuh langit. Karena kebijakan Tuhan yang menciptakan tubuh manusia sebagai mikrokosmos, sehingga manusia dapat memperoleh semua pengetahuan alam semesta dengan memahami tubuhnya. Tujuan Tuhan yang bersifat mendidik ini secara jelas diungkapkan sebagai berikut:

Tuhan mengetahui bahwa alam semesta adalah besar dan luas, dan manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengelilingi alam semesta sehingga dia bisa melihatnya secara keseluruhan, karena terbatasnya usia dan panjangnya usia alam. Jadi, Dia melihat kebijakan-Nya dan Dia menciptakan untuk manusia sebuah mikrokosmos yang meringkas dunia yang besar. Dia membentuk (sawwara) dalam mikrokosmos segala sesuatu yang ada di alam yang besar.50

Ikhwan menjelaskan maksud Tuhan yang bersifat mendidik dalam bentuk sebuah cerita perumpamaan, yaitu dengan cara aneh mengingatkan pada The City of the Sun Campanella dan ars memoria abad pertengahan.51 Seorang raja bijak memiliki anak-anak kecil, dan ingin mendidiknya dengan baik sebelum mereka dimasukkan peradilan-Nya. Kemudian Raja membangun istana yang kuat untuk mereka dan menyerahkan kepada masing-masing dari mereka sebuah kamar dan menulis sekitar kamar semua ilmu yang dia inginkan untuk dipelajari, dan dengan apa yang dia inginkan dapat membersihkan sifat mereka. Dia memerintahkan anaknya, dengan mengatakan “Lihatlah apa yang aku lukis untukku sebelummu. Bacalah apa yang aku telah tulis padanya untukmu, dan sempurnakan apa yang aku telah jelaskan kepadamu, dan fikirkanlah, sehingga kamu mengetahui makna-maknanya, dan kemudian menjadi bijak, baik, luhur dan shaleh.” Nampak bahwa lukisan dan tulisan pada dinding disusun pada enam tingkatan. Pada tingkat yang paling tinggi ilmu astrologi, tingkat kedua ilmu geologi dan geografi, tingkat ketiga ilmu medis, biologi dan mineral, tingkat keempat ilmu keahlian, profesi, dan pertanian, tingkat kelima dilukis kota dan pasar untuk menjelaskan transaksi perdagangan dan bisnis, pada tingkat terakhir, ilmu-ilmu politik. Jadi, Ikhwan menjelaskan beberapa metafor; raja yang bijak diibaratkan Tuhan, anak-anak-Nya adalah umat manusia (insaniya), istana yang dibangun adalah seluruh alam semesta, ruang-ruang itu adalah bentuk manusia (sura al-insan). Berbagai macam jenis pengetahuan yang dilukis adalah komposisi yang mengagumkan dalam tubuhnya. Pengetahuan yang diciptakan padanya (mutawwana) adalah kemampuan-kemampuan jiwa dan berbagai macam pengetahuan jiwa.52

Sebagaimana kami telah menyebutkan, dalam teori mikrokosmos-makrokosmos, titik tekan utama Ikhwan adalah persamaan antara tubuh manusia dengan alam semesta. Berbagai kekuatan dan tindakan jiwa manusia mempengaruhi seluruh tubuh (mikrokosmos) sebagaimana kekuatan jiwa universal mempengaruhi alam semesta. Persesuaiannya sangat rinci dan terkadang juga bersifat sangat fantastis dan dipaksakan. Persamaannya adalah beragam, misalnya berbagai organ sama dengan berbagai macam benda di alam semesta,53 dan sebaliknya planet sama dengan berbagai macam organ berada di beberapa bagian yang berbeda.54 Di sini kami hanya memberi ringkasan yang paling singkat berbagai macam persamaan ini. Pertama, terdapat persamaan antara tubuh dan langit.55 Dunia rendah sama dengan tubuh. Di sini, termasuk empat elemen (arkan, atau ummuhat), tiga kerajaan (yaitu binatang, tumbuhan, mineral), masing-masing ditemukan persamaannya di tubuh manusia.56 Fenomena meteorologi dan sisi geografi juga memiliki persamaan di tubuh manusia. Berikut contohnya:

Susunan tubuhnya seperti bumi. Tulang-tulangnya seperti gunung; sumsum dalam dirinya seperti mineral (ores); perutnya (jawf) seperti lautan; ususnya seperti sungai-sungai; urat darahnya seperti selokan; dagingnya seperti tanah (turab); rambutnya seperti tumbuhan; bagian dimana rambut tumbuh (manbat) seperti ladang yang subur; bagian depan dari wajah sampai kaki seperti tanah yang dihuni; bagian belakangnya seperti tanah kering (kharab), bagian depan wajahnya seperti arah timur, bagian belakang wajahnya seperti barat; tangan kanannya seperti arah selatan; tangan kirinya seperti arah utara; nafasnya seperti angin; suaranya (kalam) seperti guntur (ra’d); teriakannya seperti kilat di tengah hari (sawa’iq); senyumnya seperti cahaya bulan; tangisnya seperti hujan; penderitaan dan duka citanya seperti gelapnya malam.57

Adalah menarik untuk dimengerti bagaimana persamaan medis atau “speudo-ilmiyah” disajikan dan beralih menjadi perbandingan yang bersifat puitis.

Ciri utama teori mikrokosmos-makrokosmos Ikhwan adalah mereka seringkali menggunakan metafor kota-negara (“teori mikromos holistik” Allard).58 Terkadang alam semesta dan tubuh manusia disamakan dengan kota-negara. Pada masalah pertama, matahari sama dengan raja.59 Pada kasus berikutnya, terdapat dua pola perbandingan. Pada pola pertama, terutama susunan arsitektur kota disamakan dengan tubuh.60 Ini merupakan variasi perbandingan tubuh dan jiwa dengan rumah dan penghuninya. Pada pola kedua, beberapa fungsi negara disamakan dengan kekuatan jiwa.61 Bentuk pertama, intelek (‘aql) adalah raja; bentuk kedua adalah jiwa. Kami akan mencermati rincian bentuk kedua teori mikrokosmos berikutnya dengan membandingkan antara al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi.

Sangat menarik untuk dicermati, minimal pada dua tempat, Ikhwan kelihatannya mengindikasikan bahwa bukan pribadi manusia yang mencakup segala sesuatu dalam dirinya, namun umat manusia secara keseluruhan, makna umum yang mencakup segala sesuatu di alam semesta.62

Mereka juga mencoba menunjukkan persamaan antara berbagai jenis binatang dan manusia.

Selanjutnya ketahuilah wahai saudaraku, binatang adalah banyak spesiesnya dan setiap spesies memiliki ciri tersendiri (khassiya), sedangkan yang lain tidak memiliki. Manusia mempunyai seluruh ciri-ciri itu (khawas).63

Manusia memiliki sifat berani seperti singa, sifat pengecut seperti kelinci, sifat bebas seperti ayam, sifat kikir seperti anjing. Dengan cara ini, mereka selanjutnya mendaftar sifat-sifat binatang yang terdapat pada manusia. Jadi, mereka menyimpulkan sebagai berikut:

Ringkasnya, tidak ada binatang, mineral, elemen, tumbuhan, makhluk yang memiliki sifat yang tidak ditemukan pada manusia, dan benda-benda ini yang kami telah sebutkan berkaitan dengan manusia tidak ditemukan pada spesies-spesies yang ada di dunia ini kecuali pada diri manusia. Karena hal ini orang-orang bijak mengatakan bahwa manusia adalah sendirian setelah berbagai macam makhluk, sebagaimana Pencipta sendirian sebelum berbagai makhluk ada.64

Di sini manusia disamakan dengan Tuhan dalam hal keduanya merupakan kesatuan yang komprehensip, meskipun Tuhan ada sebelum semua makhluk dan manusia ada setelahnya.

Meskipun teori mikrokosmos Ikhwan terutama bersifat “struktural” dan “holistik,” namun teori mikrokosmos yang bersifat epistimologi dan psikologi tidak sedikit dalam pemikiran mereka. Pada bagian ketiga, ketika mereka menyatakan bahwa manusia adalah lebih mulia dari binatang dalam aspek susunannya (tarkib), kemudian mereka melanjutkan sebagai berikut:

Dalam komposisi tubuh manusia menyatu semua makna dari berbagai wujud, sederhana dan bertingkat, yang telah disebutkan sebelumnya, karena manusia merupakan susunan tubuh kasar dan jiwa spiritual. Karena ini, orang-orang bijak menamakan manusia sebagai mikrokosmos dan alam semesta sebagai manusia besar (makrokosmos). Ketika manusia sungguh mengetahui dirinya dalam pengertian keistimewaan komposisi tubuhnya, kesempurnaan susunannya, dan berbagai cara operasi kekuatan jiwa pada dirinya, dan manifestasi berbagai prilaku jiwa lewat dirinya, misalnya kerja sungguh-sungguh dan keahlian yang sempurna, kemudian siap menilai (yaqis) semua makna-makna (ma’ni) yang dapat difahami melalui analogi, dan menarik kesimpulan dari semua makna-makna yang dapat mengerti dari dua dunia secara bersama-sama.65
Meskipun pada bagian di atas beberapa aspek psikologi tidak dijelaskan dengan baik, namun istilah makna-makna (ma’ani) yang digunakan adalah mengagumkan.

Tema Imago Dei dalam Ikhwan

Meskipun Ikhwan sering menegaskan bahwa manusia adalah wakil Tuhan di bumi dan memiliki komposisi yang paling sempurna, dengan mengutip al-Qur’an, mereka tidak menggunakan hadis imago Dei dalam kontek ini. Nampaknya, mereka tidak mengetahui tema ini sebagai sebuah hadis. Tema imago Dei dipakai sekali sebagai suatu kutipan salah satu dari beberapa kitab yang diwahyukan, pada bab “Tentang Tindakan Tuhan yang Perbuatan-Nya adalah melalui Esensi dan Sifat-Sifat-Nya yang sesuai bagi-Nya” dalam tulisan kesembilan bagian keempat. Rasanya aneh, tema imago Dei tidak digunakan dalam konteks bahasan mikrokosmos-makrokosmos, tetapi dalam konteks doktrin esensi dan sifat-sifat. Pada bagian ini, pertama dikatakan bahwa intelek lebih dekat dengan Penciptanya dan merupakan perbuatan Pencipta, sementara pelaku berkaitan dengan hal itu berada di bawahnya. Kemudian mereka menyatakan sebagai berikut:

Karena pelaku memberikan citranya (sura) dan salinannya (mithal) pada tindakannya yang khusus baginya, dan dia mendukungnya (yaitu, tindakan) melalui kekuatan, demi kekuatan ini diciptakan perbuatan-perbuatan yang ada sebelum dia.66 Intelek menjadi tempat (mauwdi’) perintah (amr) Tuhan dan tempat (makan) kekuasaan-Nya. Dalam beberapa kitab yang diwahyukan muncul kata-kata, “Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan citra dan salinan-Nya,” dan juga (dalam al-Qur’an) firman Allah, “Dan bagi-Nya perumpamaan yang paling tinggi (al-mathal al-a’la) di langit dan bumi,” (16/60, 30/27). Jadi, orang-orang bijak mengatakan bahwa pada akibat (al-ma’lul) ditemukan pengaruh (athar) sebab. Sehingga perbuatan dan ketrampilan tangan yang sempurna dapat menunjukkan kebijaksanaan penciptanya. Mereka berhubungan dengannya, karena ia disifati (mawsuf) olehnya.67

Pada bagian di atas, hampir tidak bisa difahami, apakah “pelaku” merujuk pada Tuhan atau Intelek. Pada kasus pertama, Adam merupakan simbol intelek, dan pada kasus kedua, Adam merupakan dunia fenomenal. Bagaimanapun juga bisa jadi, tema imago Dei dikutip di sini untuk menjelaskan bahwa benda-benda (akibat) yang diciptakan menjadi petunjuk pelakunya dan sifatnya.

Tema Makrokosmos-Mikrokosmos dalam Pandangan al-Ghazali

Kita telah membahas bahwa al-Ghazali sering menggunakan tema mikrokosmos-makrokosmos berkaitan dengan penafsiran hadis imago Dei. Pada bagian ini, kami bermaksud menguraikan tema ini lebih rinci.

Dalam Imla’ persesuaian mikrokosmos dan makrokosmos dinyatakan sebagai berikut:

Siapapun melihat beberapa rincian bentuk (sura) alam semesta yang besar, terbagi dalam beberapa bagian. Adam juga dapat dibagi dengan cara seperti ini. Setiap bagian adalah sama dengan bagian lain. Jadi, alam semesta terbagi ke dalam dua bagian. Satu bagian bentuk luar, dan terindera seperti alam mulk, kedua bentuk dalam, dan dapat dimengerti seperti alam malakut. Manusia juga terbagi dapat bentuk luar, dan bagian yang terindera seperti tulang, daging, darah dan bermacam-macam subtansi lain yang dapat difahami, dan bentuk dalam seperti jiwa, intelek, kehendak, kekuatan dan seterusnya. Dalam pembagian yang lain, alam semesta dapat terbagi ke dalam tiga alam: alam mulk, yaitu sisi luar untuk indera; alam malakut, yaitu sisi batin untuk intelek; dan alam jabarut, yaitu pertengahan … Jadi, manusia dapat dibagi ke dalam bagian-bagian yang sama. Alam mulk sama dengan bagian yang dapat diindera, alam malakut sama dengan jiwa, intelek, kekuatan, keinginan, dan seterusnya, sedangkan alam jabarut, merupakan persepsi-persepsi (idrakat) yang terdapat pada indera dan kekuatan-kekuatan yang terdapaat pada bagian-bagiannya.68

Dalam Madnun al-Saghir, sebagaimana telah kita lihat pada bab sebelumnya, al-Ghazali membandingkan kontrol Tuhan atas alam semesta dengan kontrol manusia atas tubuhnya (Supra, 35). Kemudian, dia meneruskan sebagai berikut:

Menjadi jelas bahwa bentuk hati, sebagai pusat kerajaan manusia, sama dengan Kerajaan Tuhan, otak sama dengan Kursi-Nya.69 Indera-indera sama dengan para malaikat yang tunduk kepada Tuhan dengan sifatnya tanpa memiliki kemampuan menentang-Nya; syaraf dan anggotanya sama dengan susunan langit; kekuatan tangan sama dengan alam yang tunduk terletak di anggota tubuh, kertas, pena dan tinta sama dengan unsur-unsur (‘anasir) matrik yang menerima perpaduan, percampuran, dan pemisahan; cermin imajinasi sama dengan Lembaran Yang Terjaga Dengan Baik (Lauh Mahfudz).70

Teori makrokosmos dan mikrokosmos yang paling menarik ditemukan pada permulaan karyanya, Kimiya-yi Sa’adat. Bagian ini kurang lebih sama dengan kitab ‘Aja’ib al-Qalb, pada jilid ketiga Ihya’. Al-Ghazali memulai karyanya dengan mengutip hadis nabi, “Barangsiapa yang mengetahui dirinya, maka dia mengetahui Tuhannya,” dan ayat al-Qur’an, “Kami akan tunjukkan kepada mereka ayat-ayat Kami di alam dan dalam jiwa mereka” (41/53). Tak ada yang lebih dekat kepada kita di alam semesta, selain diri kita sendiri. Jadi, jika kita tidak mengetahui diri kita, bagaimana kita dapat mengetahui yang lain? Namun, mengetahui diri sendiri bukan berarti mengetahui tubuh fisiknya, tetapi mengetahui siapakah dirinya, darimana ia datang, kemana ia akan pergi, mengapa ia ada di dunia, apa tujuan ia diciptakan, apa kebahagian dan kesedihannya?71 Jelas pengetahuan jenis ini berkaitan dengan pengetahuan diri yang lebih dalam, yaitu jiwanya. Jadi, mengetahui dirinya sama dengan mengetahui jiwanya.

Kemudian, al-Ghazali menegaskan bahwa dalam diri manusia, terdapat empat sifat: sifat sapi, binatang-binatang buas, sifat setan dan malaikat.72 Dari urutan itu berarti pertama adalah sifat lembut, kedua sifat amarah, ketiga sifat sangat jahat, dan keempat realitas batin manusia, yang dinamakan al-Ghazali sebagai hati. Bagian selanjutnya yang berjudul “Cara Memunculkan Sifat-Sifat Baik dan Buruk dalam Diri Manusia,” sifat-sifat itu dikelompokkan menjadi empat bentuk sifat manusia,73 lembut, buas, jahat dan sifat malaikat, sama dengan pembagian Plato tentang jiwa: lembut, mudah marah, rasional, meskipun sifat jahat tidak memiliki persamaannya dalam pandangan Plato, manusia yang memiliki dua sifat pertama sama dengan hewan. Oleh karena itu, realitas manusia tidak terletak pada dua sifat tersebut.

Manusia adalah lebih mulia dan sempurna dibanding sapi dan binatang-binatang buas. Kesempurnaan diberikan pada setiap sesuatu, dan hal itu adalah tujuan akhir tingkatannya, dan setiap sesuatu diciptakan untuk itu. Contohnya, kuda lebih mulia dibanding keledai, karena keledai diciptakan untuk mengangkut beban, dan kuda dipakai bertempur dan perang suci … Kekuatan mengangkut beban juga dimiliki kuda sebagaimana keledai, tetapi kesempurnaan yang bersifat tambahan juga diberikan pada kuda dan tidak diberikan pada keledai. Jika kuda tidak mencukupi kesempurnaan yang dimilikinya, ia digunakan sebagai kuda pengangkut beban, ia turun pada tingkat keledai.74

Meskipun manusia memiliki seluruh kualitas yang dimiliki semua binatang, yang membedakan manusia dari seluruh binatang adalah intelek (‘aql). Dan karena intelek ini, manusia diberi kekuasaan atas alam semesta; dan al-Ghazali mengutip ayat al-Qur’an ayat 35/13.75 Namun, sifat setan disalahgunakan karena superioritas manusia untuk tujuan-tujuan jahat, dengan membuat siasat dan tipu muslihat.76 Tetapi intelek harus digunakan untuk memahami Tuhan dan ciptaan-Nya dan mengendalikan nafsu dan amarah.77 Di sini letak sifat manusia sesungguhnya, yaitu sifat-sifat malaikat. Selanjutnya, dia membandingkan empat sifat ini dengan babi, anjing, setan dan malaikat, dan mengatakan bahwa keempat sifat itu terdapat pada kulit manusia. Sifat babi dan anjing tidak dapat dicela dan disalahkan karena bentuk luar mereka, tetapi sifat kasar dan lembut berada di dalamnya. Orang-orang yang dalam dirinya terkuasai sifat kasar dan amarah berarti mengabdi pada babi dan anjing dalam realitasnya, dan mereka tunduk pada keduanya.78 Meskipun mereka menyerupai manusia berkaitan dengan bentuk luar, sifat-sifat itu muncul dalam bentuk babi dan anjing yang sebenarnya dalam mimpi dan pada Hari Kebangkitan.79

Al-Ghazali menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tubuh luar dan sisi batin (ma’ni-yi batin). Makna batin dinamakan nafs (jiwa), jan (ruh), dil (hati).80 Juga dikatakan bahwa beberapa orang menamakan realitas kemanusiaan (haqiqati-i adami), ruh (spirit) dan jiwa.81 Kita telah melihat dalam Misykat al-Anwar, al-Ghazali menggunakan ruh, ‘aql (intelek), dan jiwa dalam arti yang sama.82 Ini paling jelas dikatakan dalam ‘Ajaib al-Qalb. Dalam karya ini, dia menganalisis istilah nafs, ruh, qalb, dan ‘aql. Masing-masing memiliki dua makna, pertama merujuk pada objek fisik, dan kedua mengacu pada hakekat batin manusia yang halus. Menurut makna pertama, empat kata semua berbeda, tetapi menurut makna kedua, keempat hal itu merujuk pada hakekat yang sama.83 Di antara empat istilah tersebut, dia memilih menggunakan istilah “hati” untuk realitas ini.84 Sementara istilah “jiwa,” “ruh,” “intelek” digunakan dalam filsafat, sedangkan istilah “hati” termasuk istilah khas sufi.85

Al-Ghazali membandingkan anatomi hati dengan wahana (markab) dan sarana hati sebenarnya. Kemudian, Dia meneruskan perbandingan metafor kota-negara. Hati merupakan raja (padishah) seluruh tubuh, dan setiap sesuatu selain hati adalah pengikut (tabi’), tentara dan pasukannya.86 Terdapat dua jenis pasukan: luar dan dalam. Pasukan luar termasuk tangan, kaki, dan lima indera luar; pasukan dalam termasuk hasrat dan lima indera batin. Semua pasukan patuh sepenuhnya pada perintah raja. Di antara anggota tubuh, seperti kedua tangan adalah sebagai insinyur (pishewaran) kota, Hasrat sebagai penarik pajak, Nafsu sebagai polisi, dan Akal (‘aql) adalah sebagai perdana menteri.87 Semua ini dibutuhkan raja untuk mengatur kerajaan secara baik. Nafsu dan Hasrat harus selalu tunduk pada Akal, namun jika Akal menjadi tawanan Nafsu dan Nasrat, maka kerajaan akan runtuh dan raja akan dijatuhkan.88

Sebagaimana empat macam sifat dan karakter pada manusia, tiga fungsi negara yang di atas memiliki originilitas dalam pandangan pembagian tiga jiwa Platonik. Dalam pemikiran Ikhwan, tiga indera jiwa disamakan dengan para pemimpin pasukan. Dan dikatakan bahwa panca indera yang mudah salah dikendalikan indera yang halus (batin), kekuatan batin dikendalikan oleh kekuatan akal (quwa natiqa), kemampuan akal dikendalikan intelek supra manusia (‘aql).89 Jika kita membandingkan kota dan tubuh analogi al-Ghazali di atas dengan pandangan Ikhwan, perbedaan secara mudah dapat difahami, yaitu Ikhwan lebih menekankan kesamaan fisik dan medis. Raja dalam pandangan Ikhwan adalah jiwa (nafs). Mereka juga menyamakan jiwa dengan ruh.90 Meskipun dalam pandangan al-Ghazali hati merupakan raja, ia sama dengan jiwa sebagaimana yang telah kita lihat sebelumnya. Perdana menteri yang khusus mengatur kerajaan dan pemerintahan sebagai subyek adalah “kemampuan keahlian” (quwa al-sina’a), salah satu dari indera batin.91 Kemampuan ini digunakan menulis yang terdapat dalam akal, dan terletak pada tangan dan jari,92 letak “akal” atau kemampuan akal tidak jelas dalam pandangan Ikhwan. Sebagaimana telah kita bahas di atas, ia disebutkan sekali sebagaimana salah satu dari pembagian tiga jiwa Platonik. Di tempat lain, kekuatan akal (al-quwa al-‘aqliya) dan daya berbicara (al-quwa al-natiqa) disebutkan bersama dengan lima indera luar, sebagai tujuh kekuatan jiwa spiritual, kekuatan akal sama dengan matahari dan terletak di tengah otak, dan daya berbicara disamakan dengan bulan,93 walaupun quwa al-natiqa biasanya diartikan kemampuan akal dalam filsafat.94 Ikhwan jarang menjadikan sifat natiqa dengan pengertian literelnya “berbicara,” dan menempatkannya di antara tenggorokan dan mulut.95 Kemampuan berbicara dan kemampuan profesi termasuk lima indera batin. Dua indera pertama disamakan dengan penghalang (hajib) dan penjelas (turjuman). Tiga indera lain adalah kemampuan imajinatif (mutakhayyila), berfikir (mufakkira), dan menghafal (hafiza), semua terletak di depan, tengah, dan belakang secara berurutan sama dengan pengikut (mudama’) raja.96 Kemampuan berfikir harus disamakan dengan kemampuan akal, karena sebagaimana disebutkan di atas, yang terakhir juga terletak di tengah-tengah otak.

Konsep al-Ghazali tentang lima indera batin lebih mirip dengan konsep filosof.97 Sebagaimana telah kita sebutkan, indera luar sama dengan mata-mata. Indera luar mengumpulkan informasi dan membawanya pada kemampuan imajinatif, yang sama dengan pak pos (sahib-e barid). Kemampuan menghafal sama dengan seorang yang menata surat di kantor pos (khalita-dar),98 yang mengambil surat mengenai informasi dari pak pos, dan kemudian pada saatnya melaporkan pada menteri, Akal. Meskipun, ia disebutkan disini, tiga kemampuan lain adalah berfikir (tafakur), menghafal (tadhakur) dan memperkirakan (tawahhum).99

Meskipun perhatian utama al-Ghazali pada kemampuan hati dan jiwa manusia, paling tidak terdapat satu bab yang berjudul “Marvel of Wonder of God in the Humam Body,” dia menempatkan dirinya dengan ilmu medis dan sama antara tubuh dan alam semesta. Persamaan yang disebutkan disini sangat mirip dengan persamann yang disebutkan oleh Ikhwan.

Tubuh manusia ringkasnya merupakan sebuah salinan (mithal) seluruh alam semesta, apapun yang diciptakan di alam semesta terdapat pada diri manusia. Tulang bagaikan gunung; keringat seperti hujan; rambut seperti pohon; otak sama dengan awan; indera-indera bagaikan bintang-bintang. Menyebutkan masalah ini secara lengkap akan menjadi terlalu panjang, namun semua genera ciptaan terdapat salinannya pada diri manusia.100

Kemudian dia membandingkan aktifitas psikologi yang beragam dalam diri manusia dengan pekerja tangan, yakni kekuatan perut mencerna disamakan dengan tukang masak. Selanjutnya, dia mengatakan bahwa pengetahuan tubuh kita yang berkaitan dengan medis juga harus mengarah pada pengetahuan Tuhan, yaitu pengetahuan tentang Pencipta melalui ciptaan-Nya, sebagaimana telah kita lihat pada bagian sebelumnya. Akhirnya, dia mengatakan sebagai berikut:

Tak ada sesuatupun yang lebih dekat darimu selain dirimu sendiri. Seorang yang tidak mengetahui dirinya sendiri dan mengklaim mengetahui hal-hal lain sama dengan kebodohannya yang tidak dapat memberi makan dirinya dan mengklaim bahwa seluruh Darwis di kota memakan rotinya; keduanya tidak tepat dan tidak mungkin.101

*) M.Harir Muzakki, Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo.
(Bersambung)