Kasnadi *

Kata palsu sejak dulu sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. makna kata palsu menyaran pada lawan kata asli. Maka, jangan heran jika dalam sejarah Islam muncul Nabi palsu. Pada zaman modern ini kata palsu merambah ke segala aspek kehidupan. Oleh karenanya, muncul makhluk palsu baru, macam pemimpin palsu, biroktrat palsu, politisi palsu, hakim palsu, menteri palsu, gubernur palsu, bupati palsu, DPR palsu, pesulap palsu, dokter palsu, kyai palsu, pendidik palsu, sarjana palsu, Doktor palsu, Profesor palsu, dukun palsu pengemis palsu, pemulung palsu, penolong palsu, broker palsu, pialang palsu, pelacur palsu. Semua ini tidak bukan dan tidak lain adalah hasil pendidikan palsu.

Para pelaku palsu, menyerap ilmu palsu pratiknya pun menjadi palsu. Sarjana palsu begitu banyak. Mereka tak pernah kuliah tetapi mengantongi ijazah. Mereka menjadi mahasiswa palsu. Iijazahnya yang digenggamnya sesungguhnyaa ijazah palsu. Ilmunya juga ilmu palsu. Karena mereka mengenyam ilmu palsu, gerak-geriknya juga palsu. Pola pikirnya juga pola pikir palsu. Omongannya menjadi omongan palsu. Jalannya juga palsu, tidurnya juga palsu, nafasnya nafas palsu. Bahkan kalau menguap dan kentut saja keluar angin palsu. Seluruh jiwa dan raganya berlumuran identitas palsu.

Anehnya, mereka sudah ngendon di ruang-ruang kelas VIP dan duduk di kursi empuk. Mereka bisa menentukan ini dan itu seenak “udel”-nya. Mereka bisa membuat kepalsuan yang beranak-cucu. Mereka yang berkuasa bisa membuat yang sesungguhnya merah menjadi kuning, putih menjadi hitam, terang menjadi gelap, gampang menjadi rumit, cair menjadi beku. Yang menjadi jaksa mereka gampang amat menyulap terhukum menjadi bebas. Yang menjadi hakim sangat piawai menciptakan pengadilan “ethok;’ethokan”, akhirnya melahirkan keadilan palsu. Mereka yang menjadi guru lihai menyalin angka enam menjadi sembilan. Pantas jika dalam rangka SMPTN jalur undangan terberitakan ada beberapa SMA yang disinyalir memalsu nilai murid-muridnya. Mereka, yang menjadi dosen, mencetak para sarjana yang menggamit ijazah palsu. Karya yang ditelorkannya penuh kepalsuan, karena berlumuran darah plagiarisme. Mereka yang menjadi dokter sering melakukan malpraktek. Mereka yang menjadi desainer menelorkan desain-desain imitasi. Mereka yang menjadi kapitalis memproduksi barang-barang tiruan. Ada dukun palsu, ia melakukan olah praktiknya dengan segala tingkahnya. Ada yang pura-pura dapat memindahkan penyakit pasien ke perut kambing, ada yang membuang penyakit pasien ke laut. Ilmu kepalsuan juga diptaktikkan para pengemis. Lihatlah pengemis di kota-kota metropolitan yang muda berdandan tua, yang jalannya tegak berlagak pincang, yang utuh kakinya berperan buntung, yang bisa bicara berpura-pura bisu. Yang menjadi penyanyi (Ayu Ting Ting) membawakan lagu “alamat palsu”.

Dampak dari para pelaku palsu melahirkan karakter palsu. Tengoklah apa yang kita pakai setiap hari, tentu banyak barang-barang palsu. Mulai dari sepatu, tas, ikat pinggang, dompet, baju, kaos, mukena, gelang, kalung, giwang, topi sampai BH dan CD. Tengoklah makanan kita, ayam palsu, telur palsu, bakmi palsu, bakso palsu, tahu palsu, donat palsu, ciki-ciki palsu, air pun juga bermerk palsu.

Palsu sudah menubuh dalam sanubari kita. Ia berkembang, tumbuh, dan mengakar. Karena ketakutan diserang virus palsu sebagian pengusaha meyakinkan masyarakat dengan slogan macam “jual madu asli”, “warnet khusus internet”, “penginapan hanya untuk menginap”, “kafe bagi yang suka minum kopi”, “pijat yang benar-benar pijat”. Pada sisi lain, merebaknya makhluk kepalsuan memunculkan pemeo “ada barang palsu lebih mahal daripada barang asli”. Apa itu, tunggu dulu dech, bukankah gigi palsu lebih mahal daripada gigi asli. Coba renungkan mahalan manakah antara istri palsu dengan istri asli? Siapakah yang tidak suka barang palsu? Bagi yang ompong, pasti memburu gigi palsu dan bagi yang “doyan” wanita pasti lengket dengan istri palsu? Memang, dunia ini panggung kepalsuan.

*) Penulis adalah Staf Pengajar STKIP PGRI Ponorogo

Categories: Esai