PENGANTAR DAN MUTIARA KASIH

Senarai pemikiran Sutejo

Judul (buku hardcover): Senarai Pemikiran Sutejo
(Menyisir Untaian Kata, Menemukan Dawai Makna)
Penulis: Sutejo
Prolog: Prof Dr Soediro Satoto
Epilog: Nurel Javissyarqi
Penyusun: Masuki M. Astro dan Nurel Javissyarqi
Penerbit: Spectrum Center Press dan Pustaka Felica
Halaman: xvi + 922; 15 cm x 23 cm
ISBN: 978-6021-96-100-1
Tahun: Cetakan I, Januari 2013

Sutejo

Syukur yang tidak terukur, penulis sanjungkan kepada Ilahi yang telah meneteskan kemampuan-Nya sehingga buku ini terselesaikan. Sanjung salam kepada nabi Muhammad SAW yang telah menitikkan cahaya keselamatan sehingga tercelikkan dari gelap harap.

Perkenankan, penulis menyampaikan mutiara kasih kepada guru-guru keilmuan yang telah mewarnai disertasi dan buku ini. Buku yang merupakan kumpulan tulisan terberai untuk menjadi “rumah renung”. Secara tidak langsung, ulur pikir, ulur luang, ulur buku, dan ulur hati, telah menyelamatkan penulis dari jurang waktu yang terjal sehingga terselesaikanlah buku yang penuh rumpang harap. Sebuah harapan untuk menitipkan kado buat almamater dan guru-guru keilmuan. Tidak sadar, para guru itu telah menginspirasi dalam laku hati. Jauh sebelum bersemuka dalam ruang-ruang keilmuan, tetapi lewat pengembaraan buku-buku, cerita-cerita guru, sehingga menginspirasi makna secara tidak langsung. Disertasi dan buku ini adalah perjuangan keterhimpitan waktu untuk sedikit memberikan kenang pengabdian kepada almamater dan para guru keilmuan.

Bapak Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A., yang dengan naluri Bima mengajarkan betapa kerasnya sebuah pencarian. Inspirasi bahwa saripati harus dicari, bahwa ilmu tidak saja dibaca, juga lelaku. Terselesaikannya buku ini sesungguhnya lelaku yang mendebarkan bagi penulis, setelah menyelesaikan disertasi yang sebelumnya, juga mendebarkan. Sebuah kemungkinan yang bisa terwujud atas terpinjamkannya setitik iradah Tuhan lewat jemari penulis yang sungguh tidak bermakna. Energi Bima yang dipancarkan guru kehidupan ini telah memantikkan energi baru yang mengharukan. Dengan demikian, Bapak Profesor Yuwana seumpama “Bima yang menjelma” mengajarkan makna dalam pencarian saripati kehidupan.

Bapak Prof. Dr. H. Haris Supratno dengan motivasi “Bim salabim”-nya menggerakkan keterhimpitan menjadi keterlecutan. Jiwa “asuh, asih, asah”-nya adalah gerak motivasi yang melipat “asa yang telah terputus pada mulanya”. Jiwa itu mengingatkan penulis pada aforisme Ibnu Athaillah, “Datangnya kesukaran adalah hari raya para murid (mereka yang melatih diri untuk takarub).” Merayakan kesempitan seperti memantik energi yang tidak mungkin. Tapi begitulah, kalimat motivasi Andrie Wongso mencambuk penulis, “Kebahagian terbesar adalah ketika mampu melakukan sesuatu yang dipandang orang lain tidak mungkin dilakukannya.” Dengan demikian, Bapak Profesor Haris seumpama Ibnu Athaillah dan Andrie Wongso dalam inspirasi asuh kebapakannya.

Bapak Suharsono, M.Phil., Ph.D., yang dengan teduh pandang, energinya mengembang, memancarkan cahaya gerak untuk melipat rasa takut menjadi berani meski terhimpit oleh cekik-waktu. Kabar kematian teman sekelas, kematian teman seredaksian di majalah Dinamika, dan kecelakaan teman dekat; dalam waktu yang relatif sama adalah monster jiwa yang harus ditaklukkan. Di tengah triberita itu, guru kehidupan Prof. Yuwana, menuliskan sms yang menyadarkan, “Tadi pagi teman sekelas Pak Tejo meninggal. Sebuah pelajaran penting untuk tidak bekerja terlalu keras.”

Bapak Dr. Suhartono, M.Pd., dengan “inspirasi kriteria” dan pentingnya skedul waktu menyadarkan penulis untuk mengikat diri pada “utas kedisiplinan”. Jiwa disiplin beliau meliatkan penulis untuk teguh pada sebuah target. Pada sebuah ujung. Inspirasi keberhargaan makrifat waktu sebagaimana kias al-Ghazali pada muridnya, “Apa yang paling jauh dalam kehidupanmu?”. Itulah, makna termatra dari pesan beliau dalam sebuah ruang di Lidah Wetan. Waktu yang berlalu, tak tergantikan.

Bapak Dr. Suyatno, M.Pd., dengan kritik tajamnya, menyentakkan betapa pentingnya sistematika berpikir, alur galur nalar, biar tidak berpendar dalam tumpang tindih masalah. Sebuah cermin bening untuk merefleksi teori dan analisis kaji ketika menyelesaikan disertasi. Dengan “jiwa kakak”-nya, memberikan penyadaran bahwa sebuah pola adalah alat untuk mengurai sehingga tidak terjerat pada serat-serat yang tidak bergurat galur. Berikut masukan-masukan penting ‘Kak Yatno’ sebagai reviuwer disertasi ini menjadi input berharga dalam pembenahan disertasi ini, kecuali masukan judul yang tetap tidak diubah mengingat pertimbangan ‘gaya selingkung’ dan pengkodean data karena keterbatasan waktu yang menghimpit peneliti. Berkait dengan buku ini, adalah sebuah jawaban atas keraguan Kak Yatno atas komitmen saya kepada almamater karena keliru dalam mengopi logo. Dengan demikian, buku ini adalah sebuah perjuangan bakti itu.

Bapak Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd., selaku pemangku Unesa yang menfasilitasi studi di Pascasarjana Unesa. Bapak Prof. Drs. I. Ketut Budyasa, Ph.D., selaku Direktur Pascasarjana yang mengizinkan penulis studi hingga purna ajar. Meski, tanpa bersemuka, aora kewibawaannya melecutkan penulis untuk menepis malas menggapai usai, ngangsu ngelmu di lembaga tercinta.

Bapak dan Ibu dosen program S-3 Pascasarjana yang telah mengajar penulis: Prof. Dr. Budi Darma, M.A., Prof. Dr. Sukemi, M.A., Prof. Dr. Abbas Badib, M.A., Prof. Dr. Sunarto, M.Sc., Prof. Dr. Leo Idra Ardiana, M.Pd. (almarhum), dan Dr. Irene. Beliau-beliau seumpama payung hidup yang menuntun di atas terik siang untuk merengkuh teduh hati dalam berilmu. Seumpama rimbun pepohonan yang mengajarkan tentang pentingnya kekokohan akar dan liatnya dahan-reranting keilmuan sehingga berbuah. Buku ini adalah sisi lain perjuangan penulis untuk menebus hutang ilmu kepada guru-guru kehidupan yang demikian setelah disertasi usai.

Prof. Dr. Fabiola D. Kurnia, M.Pd., dengan bahasa media massanya yang penuh motivasi di ruang uji proposal, mengingatkan injak pena penulis di Kompas tanggal 2 Januari 1996. Ulur tanya beliau, “Apakah Anda pengikut Syaikh Siti Jenar?” menyentakkan diri terbaiat di rumah ruhani tarekah Sathariyah 12 tahun lalu di sebuah desa, Semen, Magetan. Di sinilah, inisiatif muncul untuk membukukan senarai pemikiran yang tersebar.

Guru-guru kehidupan keilmuan lain yang inspiratif yang telah mewarnai dalam perjalanan hidup penulis sehingga terus belajar berkarya. Prof. Dr. H. Bambang Yulianto, M.Pd. dengan “kata tasbih hatinya” melenturkan keras hati penulis. Prof. Dr. Abdul Hadi WM., dengan pesan istiqamah berbasis kultural-relijius. Maman S. Mahayana yang mengirimkan pengalaman unik dalam bergulat dan bergerak dalam kepenulisan. Taufik Ismail dengan nasionalisme membaca dan berkarya. Prof. Dr. H. Sudiro Satoto dengan filsafat humor yang sentakkan nyali “kelebihan sperma” berikut masukan-masukan kritis terkait dengan pentingnya pendalaman “estetika sufisme” Jawa ketika beliau menjadi reviuwer disertasi sebelumnya. Sebuah motivasi atas guru yang satu ini karena inspirasi cerita-cerita kehidupannya di ruang-ruang keilmuan, di tengah rileks waktu di tempat-tempat yang “tak terhitung”. Beliau mengajarkan bagaimana “menghunus senjata” atas dasar kebutuhan sebagaimana Arjuna dalam cerita pewayangan. Ragam senjata Arjuna selalu dipilih dengan arif dan hati untuk dihunuskan, tidak sembarang tanpa timbang.

Prof. Dr. Herman J. Waluyo yang mendampingkan naluri-hati seorang pendidik. Prof. Dr. Suminto A. Sayuti dengan ajar kesederhanaan dalam berbahasa. Dr. Hendricus dan Kang Tengsu Tjahjono yang alirkan “syahwat penggembalaan”. Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., dengan ajaran menanam benih kepenulisan berbasis humanitas. Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A., dengan sms motivasinya, “Menulis itu Indah. Berpikir itu merajut dzikir. Berkarya itu melukis pesona.” Agus Sunyoto dengan tasbih spiritualnya. Prof. Dr. Sumarlam, S.U. dengan kesederhanaan laku untuk menimang “anak didik” menjadi “mitra gelitik”. Pun, guru-guru kehidupan lain yang tak terungkapkan satu persatu. Sebuah panorama ilmu kehidupan yang memayung penulis untuk mendayung di samudera keilmuan. Suara dan kata guru-guru kehidupan adalah langit hidup penulis yang di bilik-bilik tingginya adalah gema ajar yang terus penulis kejar.

Buku ini merupakan perjuangan untuk menebus “jejak negatif” angkatan program S-3 2006: meski terberai –entah karena apa–, mereka adalah kumpulan mimpi penuh panorama. Motivasi teman dan kerabat: Cak Sariban, Kang Shoim, Ustadz Dlofar, Ustadz Jarwoko, dan Kasnadi. Kolega penulis lain: Ririen, Purnomo Sidik, dan Sugiyanto. Kutsijah, Afifah, Barbara, dan Caesar; isteri dan anak-anakku; lewat pendar binar mata merekalah inspirasi hidupku tergerak. Anak-anak asuhku: syaiful, wachid, dan rois.

Semua pihak yang tertulis maupun yang tidak, semoga jasa dan mutiara pancar ilmunya, dikaruniakan balas berkah terindah dalam kehidupannya yang berlimpah dari Allah. Sejak penulisan disertasi hingga kado buku Senarai Pemikiran ini. Sebuah perjuangan yang indah..

Ponorogo, Oktober 2012
Penulis