Puasa

Djunaedi Tjunti Agus
Suara Karya, 27 Juli 2013

Ini entah bulan puasa keberapa. Setiap memasuki Ramadhan, pikiran teringat ke masa lalu. Ketika usai shalat berjamaah, juga shalat Tarawih, hati dan pikiran kerap ingat kejadian silam. Ingat ketika puasa saat kanak-kanak. Ketika mendekati berbuka puasa, kami bersaudara selalu diberi uang oleh Ayah, kadang Ibu atau Nenek, untuk membeli bekal buka puasa. Kami membeli pilihan masing-masing, ada gado-gado, pisang rebus, juga ada yang membeli kolak.

Jadilah makanan untuk berbuka beragam. Sebab, Ibu setiap harinya juga menyediakan makanan ringan dan minuman untuk berbuka.

Sejalan dengan menanjak usia, kebiasan pun berubah. Saat memasuki usia SMA, misalnya, ketika harus berpisah dengan Ibu dan Ayah, kebiasaan rutin pada bulan Ramadhan bertambah. Selain tetap membeli makanan untuk berbuka puasa setiap menjelang magrib, kebiasaan baru muncul, ikut-ikutan kegiatan asmara subuh usai sahur, mengayuh sepeda menuju pinggir pantai, kemudian bercengkerama bersama teman-teman. Di tempat ini kami kadang bertukar pandang dengan gadis-gadis seusia dari sekolah lain.

Aku mulai mengenal seorang gadis. Kemudian kami kerap saling mencurahkan isi hati. Kadang pada hari-hari biasa janjian ketemu di sebuah restoran kecil, di seberang bioskop yang kerap memutar film Barat, tempat kami sekali-sekali menonton.

“Inilah hidup,” kataku, ketika akhirnya kami harus berpisah. Saya harus melanjutkan pendidikan ke Jakarta, sementara dia oleh orangtuanya akan dikirim ke Medan, Sumatera Utara, mengikuti saudaranya.
“Kamu benar tidak ada hubungan dengan Ivo, kan,” katanya tiba-tiba.
Sesaat aku terdiam, menatap matanya tajam. Kemudian menghela napas, dalam.
“Apa saya tipe lelaki mata keranjang?” aku balik bertanya.

Dia hanya diam sambil mempermainkan jari telunjuk. Kami kemudian berpisah. Kepadanya aku berpesan agar besok tidak mengantar kepergianku ke pelabuhan laut.

“Saya benci perpisahan. Tidak kuat. Lebih baik kita berpisah sekarang saja. Nanti kita akan saling berkirim kabar. Entah lewat telegram, surat, atau jika memungkinkan kita bicara lewat telepon,” kataku.

“Sampai ketemu lain waktu,” kataku ketika dia menaiki angkutan umum. Terasa ada yang hilang, sejalan dengan lambaian tangannya.

* * *

Kepergianku ke Jakarta berpenga-ruh terhadap perjalanan hidup. Jakarta membuat kesibukanku meningkat. Aku tidak hanya kuliah, tetapi mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari ikut organisasi kemahasiswaan, juga sederet urusan keagamaan, olahraga, sosial.

Tapi ada yang membuat aku seperti tidak dikehendaki. Ketika mengikuti kegiatan keagamaan bersama rekan-rekan kelompok, di sebuah perkantoran, di Kampung Melayu, Jakarta Timur, tiba-tiba saja sang penceramah menunjuk padaku.

“Eh, kamu! Coba sebutkan berapa banyak nikmat Allah. Sebutkan dengan singkat, tapi artinya luas,” tutur si penceramah.
Aku terdiam, memandang ke arah ustad yang sedang berdiri di podium.
“Banyak sekali,” kataku singkat.

“Bodoh! Itu saja tidak bisa jawab. Mudah, jawabannya ya selangit,” kata penceramah yang oleh pengantar acara disebut sering mengisi program bidang kerohanian di salah satu angkatan bersenjata.

Hatiku panas. Apalagi jawaban yang dia inginkan hanya permainan kata. Apa salahku? Aku tak mengenal dia. Ada keinginan mendatangi penceramah itu, memprotes. Tapi diurungkan, mengingat aku sedang berpuasa dan tinggal menunggu berbuka beberapa detik lagi.
“Semoga Allah menunjukkan ustad itu jalan yang benar. Atau semoga Allah menghukumnya setimpal,” bisikku.

Pengalaman tidak enak itu sulit kulupakan, meski terjadi bertahun-tahun lalu. Aku berupaya memaafkan ustad itu, tapi setiap memasuki puasa di bulan Ramadhan, kejadian itu justru kembali teringat.

“Semoga dia tenang di alam sana,” kalimat itu kerap terlontar begitu saja. Padahal aku tidak tahu apakah ustad itu masih hidup atau sudah almarhum.

* * *

Disakiti dan menyakiti. Sepertinya itulah hidup. Sadar atau tidak, bisa terjadi terhadap siapa saja. Apakah ustad, mahasiswa, pengusaha, penguasa. Aku termasuk di antaranya. Meski tak ingin menyakiti, tetapi tiba-tiba saja disakiti.

“Saya tahu Anda masih kuliah, entah kapan memiliki pendapatan sendiri. Sementara anak saya sudah makin dewasa. Untuk ukuran kampung kita, dia sudah pantas punya suami. Jadi, tolong jangan lagi ganggu anak kami.”
Surat itu singkat, padat, tapi merupakan vonis mematikan. Itulah surat dari ayah kekasihku.

Padahal beberapa hari sebelumnya aku menerima surat dari kekasihku itu. Dia mengabarkan akan pulang ke kota kami karena menerima panggilan bekerja di sebuah rumah sakit. Namun tak terbetik kabar akan menikah.

Karena itu, surat yang baru saja kuterima amat mengagetkan. Orangtua kekasihku sudah menutup jalan bagi kami. Salma akan dinikahkan dengan laki-laki lain, itu isyarat yang kuterima. Sejak itu aku tak pernah berkirim surat kepada kekasihku. Dan juga tak pernah membaca surat yang dikirimkannya.

Betul-betul sial. Hanya beberapa hari setelah menerima surat itu, tanpa ba atau bu, seorang ustad mempermalukanku. Hati benar-benar remuk dan kemudian panas. Sebuah surat datang meluluhlantakkan cinta dan cita-citaku. Hatiku panas karena ulah seorang ustad yang entah mengapa tiba-tiba saja berang.

Dua kejadian menyakitkan tanpa terasa mengubah diriku. Berubah menjadi laki-laki yang dengan mudah menerima cinta dan mengobral cinta. Siapa saja gadis, wanita-hitam, sawo matang, kuning, atau putih-dirayu. Hari ini jatuh cinta, besok putus. Gonta-ganti pacar.

Agama? Perbuatan menyakitkan seorang ustad menjadikan aku menjaga jarak dengan urusan akhirat. Dalam pikiranku, ustad saja tidak memberi contoh, seenaknya menyakiti hati umat, bagaimana dengan orang awam? Apalagi di beberapa ceramah agama, termasuk di beberapa stasiun televisi, tidak sedikit orang yang mengatasnamakan diri sebagai ustad, hanya menjual banyolan.

Dua peristiwa itu betul-betul telah membelokkan jalan hidupku. Jauh dari masjid. Shalat sudah lama terlupakan, puasa hampir tak pernah lagi.

“Biar. Toh yang diminta berpuasa hanya orang-orang beriman,” kataku setiap ada teman, saudara, atau orang yang mengaku peduli memperingatkanku.

Lagi pula, perusahaan tempatku bekerja-sebuah perusahaan biro perjalanan-tidak menuntut urusan agama, pergaulan, dan masalah lainnya. Pemilik perusahaan tak peduli aku shalat, puasa atau tidak. Yang penting semua beres.

Ketika dua pacarku saling menjambak rambut, bahkan hampir saja saling tikam dengan pisau dapur yang mereka genggam, tidak ada yang peduli. Juga tak ada yang protes ketika kedua gadis itu kutinggalkan begitu saja. Di lain waktu, juga tak ada yang merasa malu ketika seorang pacar lainnya memaki-makiku di bandar udara karena mendapatiku bersama gadis lain.

* * *

Puasa Ramadhan kali ini kembali menjadi cerita sedih. Bukan saja tidak lagi menjadi perhatian gadis-gadis, pekerjaan saja aku sudah tak punya. Sejak dipecat dari perusahaan tempatku bekerja, tak satu pun surat lamaran pekerjaan yang kukirim mendapat tanggapan.

Kesulitan benar-benar telah membelit. Jangankan untuk mengontrak rumah, biaya makan dan minum pun aku mengalami kesulitan. Perasaan tak lagi bisa digambarkan, malu, sedih, karena hampir setiap saat tidak lagi sekadar disindir pemilik rumah kos, tapi kerap diusir terang-terangan.

“Kini saatnya kamu memulai dari awal lagi. Pulanglah dulu ke kampung, tenangkan dulu dirimu. Ini ongkos, cukup untuk naik bus dan sekadar makan selama di perjalanan,” kata Jefry, salah seorang teman yang masih peduli.

Dia tidak menunggu jawaban. Setelah menaruh amplop di atas tikar yang kami duduki, dia pun berdiri. Tanpa basa-basi dia pun ngeloyor pergi.

Lama aku merenung. Kuhitung uang yang ada di amplop. Lebih dari cukup untuk kembali ke kampung halaman. Bahkan cukup untuk membayar tunggakan biaya kamar kos. Tapi, mungkin sebaiknya aku pulang kampung.

“Tidak masalah. Gak usah dibayar. Sebetulnya saya juga tidak tega menagih uang kos. Tapi, saya tidak sabar melihat bagaimana anak tak lagi bersemangat. Maksud Ibu, mendorong anak agar bersemangat lagi, mencari pekerjaan, berusaha,” kata ibu pemilik rumah kos.

Saya meraih tangannya, bersalaman, kemudian mencium punggung tangannya. Ibu kos terlihat terharu. Air mata mengambang di sudut matanya.

Senja baru saja berlalu. Feri penyeberangan dari Merak, Banten, pun telah merapat di Pelabuhan Bakauheuni, Lampung. Bus yang membawaku mulai bergerak, badan kadang terasa dihempaskan ketika mobil terperosok lubang. Kantuk mulai menggoda, tetapi perut yang terus keroncongan tak bisa diajak kompromi.
“Sekitar dua jam lagi,” kata penumpang di sebelahku, ketika kutanya kapan bus ini berhenti di rumah makan.

Perkiraannya ternyata tidak meleset. Aku makan seperti kesurupan. Tiga kali tambah nasi, lauk kulahap beberapa potong. Ya, aku memang sudah lama tak merasakan makan selahap itu.

Entah sudah berapa lama terlelap di bus. Ada yang terasa mengganjal. Aku coba membuka mata, tapi tak bisa. Tiba-tiba wajah-wajah lucu dengan senyuman meledek berada di hadapanku. Senyumnya yang lebar dengan gigi besar-besar seperti menertawakanku. Mereka memang pantas menghina diriku yang hampir tidak pernah beruntung. Pacar tak punya. Hidup luntang-lantung.

Tiba-tiba ada suara berdentang, seperti piring logam jatuh. Ada apa dengan bus yang aku tumpangi? Kok tidak terdengar suara mesin? Aku coba membuka mata. Mimpikah aku? Terasa sakit di dada. Loh, ada apa dengan kakiku, kebas, sakit.

Terdengar teriakan. “Dok, dokter Salma. Dia sudah sadar,” seseorang setengah berteriak.
Aku mendengar langkah kaki tergopoh. Kemudian seseorang memegang lenganku, memegang urat nadi.
“Syukurlah. Akhirnya dia siuman. Tapi, jangan diganggu dulu. Amati saja,” katanya.
“Kabari lagi saya jika dia benar-benar siuman. Mungkin antibiotik memengaruhinya,” katanya lagi.

Aku membuka mata. Ada bayangan wanita semampai berdiri di sampingku, berbaju kurung, berjilbab. Tiba-tiba dia berbalik, aku tak sempat melihat wajahnya, tapi kuyakin dia cantik, sopan, seperti kerap kukhayalkan.
“Mba, Bu, di mana saya? Apa yang terjadi?”
Tidak ada jawaban. Wanita yang kutanya malah pergi. Kemudian sunyi.

Seseorang datang. Aku coba menyapanya, tetapi suaraku tak keluar. Aku tersenyum, tapi dia juga tak menanggapinya. Dia jalan ke arahku, terus, hendak menabrakku. Aku coba menghindar, tapi tidak sempat. Dia akhirnya menabrakku, tapi eh, kok tidak berbenturan? Dia seolah menembus tubuhku.
“Ada apa? Sudah matikah aku?”
Sebuah tangan kembali terasa memegang lenganku. Sebuah jarum suntik menusuk, cairan terasa mengalir.
“Pindahkan ke ruang rawat,” kata suara seorang wanita yang tadi berada di sampingku.
Ternyata aku belum mati. Tadi rupanya bermimpi. “Tapi di manakah saya?”

“Syukur alhamdulillah. Abang, eh, kamu selamat. Saya tadinya sampai tidak mengenal wajahmu, berlumuran darah,” kata seseorang dengan lembut.

“Kamu berada di rumah sakit, di Muarobungo, Jambi. Bus yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan, terperosok masuk jurang. Empat orang tewas, beberapa luka berat, termasuk kamu yang dirawat di sini,” katanya lagi.
Aku seperti mengenal suara itu. Ya, dia Salma.

“Kamu heran, kan, kenapa saya ada di sini? Sejak kamu tak lagi membalas surat saya, saya memutuskan tak akan menikah dengan laki-laki mana pun, juga dengan pilihan Ayah. Saya melanjutkan kuliah di kedokteran, dan sekarang di sini, seorang dokter yang merawat kamu.”
“Tuhan telah mempertemukan kita kembali. Apa kamu masih akan lari. Lari dari saya?” katanya.

Dari dulu Salma memang tak pernah memanggilku abang, kakak, atau apalah. Dia selalu memanggil diriku dengan kata kamu. Dia tak berubah, tetap cantik, manis.

“Aku akan tinggal di sini, di Muarobungo, jika ada yang bersedia menampungku. Apalagi ada yang bersedia menyapaku sebagai abang, atau yayang,” kataku. Dia tersipu, senyum yang selalu kurindukan.***

* Jakarta, Ramadhan 1434 H
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=331514