Sajak-Sajak Umbu Landu Paranggi

katakamidotcom.wordpress.com
Melodia

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana

sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana sajakarena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar kekasih, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membuka diri, bergumul dan merayu hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

takkan jemu-jemu nafas bergelut resin dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan

rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan.

Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam berhantam di buritan
Juluran lidah nampak di bawah kerjap mata menggoda
dalam lagu siul, di mana-mana menghadang cakrawala

Laut bersuara di sini, makin berbentur dalam kenangan
rusuh yang ganjil sampai gelisah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak bersambung menderu
dalam terpencil, hingga di mana nafas dendam rindu

Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia penumpang itu
Langit terus memainkan cuaca, sampai tanjung, rusuk senja
bintang di mata si anak hilang, taruhannya terus mengembara.

Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala.

Di Sebuah Gereja Gunung

lonceng kecil yang bertalu, memanggil-manggil belainya
di tengah kesunyian, minggu pagi yang cerah
mereka pun berduyunlah ke sana: warga petani dan gembala
dalam dandanan sederhana, bangkit dari kampung, lembah
bukit dan padang-padang sepi

hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan itu, telah terpanggil
dan lonceng gereja lalang di lereng gunung itu menuntun setia
dalam galau kesibukan mereka sehari-hari tak pernah lupa
panggilan minggu: di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu
—berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan
—bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketenteraman
—di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini
—pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini: mazmur mereka

keyakinan yang telah terpatri, bersemi, tak terikat ruang dan waktu
juga dalam gereja lalang ini, terpencil jauh dan sunyi
jauh dari genteng, kegaduhan listrik serta deru oto
tak mengenal surat kabar, jam radio ataupun televisi
tapi keyakinan, pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang samamentari dan bulan yang bersinar di mana pun—
dan tuhan mendengar seru doa mereka.

______________________________
UMBU LANDU PARANGGI: Dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Menamatkan SD dan SMP-nya di Sumba, kemudian melanjutkan ke SMA Bopkri 1 di Yogyakarta. Setelah tamat, ia berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, namun tidak ia tamatkan dan di Universitas Janabadra jurusan Sosiologi. Sejak tahun 1950-an, Umbu sudah menulis puisi dan esai. Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur. Di sekolah SMA itu pula Umbu menemukan seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian, Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Sejak itulah Umbu rajin menulis puisi dan kemudian di muat di beberapa koran.

Tahun 1968, di Yogyakarta, bersama penyair Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa, dan Teguh Ranusastra Asmara mendirikan dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK). Komunitas sastra ini kemudian melahirkan nama-nama besar, seperti Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Yudistira Adi Nugraha, dll. Pernah menjadi redaktur kebudayaan Pelopor Yogya (1966-1975).

Umbu yang dijuluki sebagai Presiden Malioboro dan penyair yang mempunyai bakat mendidik ini menetap di Bali sejak tahun 1979 dan kemudian menjadi redaktur harian Bali Post, Denpasar, Bali. Ia selalu mempunyai cara-cara unik untuk menggairahkan dunia perpuisian dan membangkitkan gairah apresiasi sastra, seperti ; membuat jadwal pertemuan rutin, kunjungan ke semua kabupaten untuk mengadakan apresiasi puisi, atau dengan sentuhan-sentuhan pribadi yang membuat anak-anak muda merasa berada dalam sebuah ikatan keluarga besar.

Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an Umbu mengklasifikasikan puisi-puisi yang dimuat di ruang sastranya ke dalam 4 kelas, yakni: kelas ‘Pawa’ bagi pemula yang baru belajar menulis puisi, kelas ‘Kompetisi” bagi penyair yang cukup gigih mengirim puisi ke gawangnya dan siap diadu dengan penyair lain yang sekelas, kelas ‘Kompro’ atau ‘Kompetisi Promosi’ bagi penyair yang telah lolos dalam sejumlah babak kompetisi dan siap diadu di luar kandang, kelas ‘Posbud’ atau ‘Pos Budaya’ diperuntukkan bagi penyair yang telah dianggap handal menggoreng dan menendang bola kata-kata ke gawangnya hingga gol.

Umbu menggunakan berbagai cara untuk menggugah kepercayaan diri penyair Bali, salah satunya adalah dengan mencantumkan besar-besar slogan ‘Posbud = Horison’ di ruang sastranya. Artinya puisi-puisi yang berhasil masuk kelas Posbud kualitasnya dianggap sama dengan puisi-puisi yang dimuat Majalah Sastra Horison. Tapi efeknya pada era itu karya penyair Bali jarang yang muncul di media nasional karena mereka sudah merasa puas setelah menembus Posbud di ruang Umbu. Belakangan muncul kelas ‘Solo Run’ bagi penyair yang karyanya ditampilkan tunggal dalam satu halaman penuh koran. Dan tentu saja ini kelas sangat sulit di tembus.

Sistem yang dibuat Umbu itulah yang bikin para penyair muda Bali ‘mabuk kepayang’ dan tergila-gila menulis puisi. Apalagi pada setiap kesempatan pemuatan puisi-puisi kelas Pawai dan Kompetisi, ia rajin mengontak dan menggoda para penyair muda lewat kata-kata yang membakar semangat untuk berkarya lebih bagus. Seringkali dibarengi dengan pemuatan foto para penyair yang dikontaknya lewat kolom kecil bertajuk ‘Stop Press’. Anak muda yang awalnya tidak suka puisi pun jadi ikut-ikutan menulis puisi, mungkin karena ada keinginan fotonya dimuat Umbu. Bahkan kelas Pawai dan Kompetisi pun terbagi menjadi sejumlah angkatan yang beranggotakan 5-10 penyair muda

Di era 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi ‘Posis’ atau ‘Pos Siswa’ sebagai ruang untuk menampung tulisan-tulisan dari para siswa, ‘Posmas’ atau ‘Pos Mahasiswa’ bagi tulisan-tulisan dari mahasiswa, dan ‘Pos Solo Run’ bagi penulis yang tampil tunggal. Ia juga menyediakan ruang bagi para guru yang suka menulis esai-esai pendek. Terkadang sejumlah puisi dan prosa berbahasa Bali pun dimuat di rubriknya sebagai bentuk perhatiannya pada sastra daerah.

Dalam sebuah rumah kecil yang diberi nama ‘Intens-Beh’ yang merupakan akronim dari ‘Institut Tendangan Sudut Bedahulu’ di Jalan Bedahulu, di sudut utara Kota Denpasar, yang di gunakannya sebagai markas, Umbu sering berdiskusi dengan Seniman-seniman muda dari mulai ngobrol kebudayaan sampai baca-baca puisi.

Sajak-sajaknya di muat dalam Mimbar Indonesia, Gadjah Mada, Basis, Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Pelopor Jogja, Angkatan Bersenjata, dan Horison. Selain itu karyanya juga terdapat dalam buku kumpulan puisi bersama, seperti “Tonggak” yang dieditori Linus Suryadi AG, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng”. Dalam rangka memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi pub mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul kuda putih.
Dijumput dari: https://katakamidotcom.wordpress.com/2010/02/03/umbu/