Sufi yang Shaleh sebagai Manusia Sempurna (Bagian III)

Karya: Masataka Takeshita
Penerjemah: M. Harir Muzakki *

Hakim Tirmidhi

Telah masyhur bahwa Hakim al-Tirmidhi adalah orang pertama yang menjelaskan teori kewalian. Meskipun, konsep kewalian telah muncul lebih awal dari dia dalam sejumlah hadis, dia menjadikan konsep kewalian sebagai pijakan seluruh tulisannya, dan semua sufi masa berikutnya mendasarkan teori kewaliannya pada al-Tirmidhi, tanpa terkecuali teori kewalian Ibn ‘Arabi. Teori kewalian al-Tirmidhi telah menarik perhatian banyak sarjana, khususnya sejak diterbitkan bukunya yang paling penting, Khatm al-Awliya’ oleh Osman Yahya.74 Teori kewaliannya bersifat kompleks dan luas, di sini kami harus membatasi pembahasan pada bagian doktrinnya yang kelihatannya mempengaruhi doktrin kewalian Ibn ‘Arabi.

Hirarki para Wali

Al-Tirmidhi mengelompokkan para wali ke dalam dua golongan sesuai dengan jalan yang mereka lalui, yang didasarkan ayat al-Qur’an, “Allah menarik kepada agama itu mereka yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya mereka yang kembali (kepada-Nya) 42/13).75 Kelompok pertama, yang dinamakan “orang-orang yang mendapatkan petunjuk Tuhan dan kembali (kepada Tuhan)” (ahl al-hidaya wa al-inaba), termasuk mereka yang berusaha keras untuk meneruskan perjalannya menuju Tuhan, dengan melalui beberapa cobaan dan berperang melawan nafsunya. Kelompok kedua, yang dinamakan “orang-orang yang dipilih dan dikehendaki Tuhan,” (ahl al-jibaya wa al-mash’a) atau “orang-orang pilihan (mujtabun), atau “orang-orang yang diangkat (oleh Tuhan kepada Tuhan)” (majdhubun), adalah orang-orang yang dipilih Tuhan sejak semula dan dilindungi oleh Tuhan dari semua kesalahan dan godaan melalui jalan mereka menuju Tuhan lewat pertolongan Tuhan (‘inaya ilahiya).

Di samping pengelompokan di atas, al-Tirmidhi juga mengelompokkan para wali menurut tingkatannya, meskipun pengelompokan ini tidak selalu jelas karena dia menggunakan istilah yang kabur dan tidak jelas. Tingkat yang lebih rendah dinamakn sadiqun dan terkadang juga dinamakan awliya’ haqq Allah (the saints of duty toward god dalam terjemahan Geyoushi dan gottesfreund, der unter der aufsicht des sollens stsht,” dalam terjemahan Radtke).76 Mereka mendekati Tuhan dengan ketulusan dan seluruh perjuangan jiwanya, dengan selalu mencari ridha Tuhan.
Gambaran maqamnya sama dengan kelompok pertama golongan sebelumnya. Kedudukan (mahal) mereka berada di langit yang lebih rendah (sama’ dunya) yang secara simbolis dinamakan “Rumah Mulia” (bayt al-‘izza). Perjuangan panjang dan melelahkan melawan nafsunya merupakan sebuah pemikiran al-Tirmidhi yang menarik, dan dijelaskan secara rinci dalam beberapa tulisannya. Ketika mereka menyadari dirinya dalam mengatasi rintangan dengan usaha-usahanya yang tidak manusiawi melawan jiwa, akhirnya mereka kembali kepada Tuhan untuk minta pertolongan, kemudian Tuhan mengabulkan rintihannya, dan mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi. Tentang hal ini al-Tirmidhi mengutip ayat al-Qur’an, “Atau, siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi”? (27/62). Sehingga mereka menjadi awliya’ Allah dari maqam awliya’ haqq Allah.

Tingkat kedua ini dinamakan al-ahrar al-kiram (bebas dan mulia),77 yang secara simbolis dinamakan “Rumah yang selalu Dikunjungi” (al-bayt al-ma’mur). Tempat mereka berada pada “maqam kedekatan” (mahal al-qurba). Maqam ini sama dengan dua kelompok golongan pertama. Namun, bagi mereka kelompok pertama, maqam kedekatan bukanlah sebuah kedudukan yang bersifat tetap, suatu ketika mereka sampai pada maqam ini, dalam diri mereka mungkin akan muncul rasa sombong dan bangga sehingga musuh lamanya, jiwa dapat menemukan lagi jalannya untuk (menakhlukkan) hatinya. Kemudian, mereka jatuh ke maqam sebelumnya. Di satu sisi, mereka yang dipilih oleh Tuhan dan ditarik kepada-Nya secara perlahan melalui pertolongan Tuhan, adalah kebal dari bahaya tanpa usaha keras.

Tingkat ketiga dinamakan siddiqun.78 Mereka adalah para awliya’ par excellence. Tingkatan orang-orang yang mendapatkan petunjuk Tuhan yang lebih tinggi dapat dicapai.79 Siddiqun mendapatkan majalis al-najwa (duduk bersama Tuhan dalam kedekatan). Mereka memiliki firasat (pengetahuan batin), ilham (inspirasi), dan di sampaing itu juga siddiqiya (penglihatan yang benar).80 Tempat mereka adalah mulk al-mulk (pusat kerajaan), yang lebih tinggi dari sepuluh kerajaan yang mereka harus lewati untuk memperoleh sepuluh kualitas (khisal) kewalian.81 Sepuluh kerajaan ini adalah jabarut, sultan, jalal, ‘azama, hayba, rahma, baha’, bahja, dan fardaniya atau wahdaniya, yang juga dinamakan mulk al-mulk, dan mereka semuanya membangun kerajaan yang tinggi dari Sifat-Sifat Tuhan. Para wali ini dipindahkan dari satu kerajaan ke yang lain, mereka menduduki setiap kerajaan sesuai dengan sifat Tuhan. Setiap kerajaan terdiri dari maqam-maqam (maqamat), dan setiap sifat terbagi ke dalam beberapa bagian, sehingga terdapat sebanyak sifat-sifat Tuhan sebagaimana Nama-Nama Tuhan, yaitu seratus sifat Tuhan. Dengan kata lain, para wali harus memadukan sifat-sifat Tuhan yang mencerminkan Nama-Nama Tuhan, dan mendapatkan sifat ke-Tuhan-an.

Tingkat yang lebih tinggi adalah muhaddathun.82 Ini merupakan maqam yang dijanjikan hanya untuk kelompok para wali yang kedua. Mereka juga dinamakan munfaridun,83 dan maqamnya dinamakan maqam infirad.84 Mereka adalah pemimpin para wali (sadat al-awliya’)85 dan bahkan bertempat di antara para wali dan nabi.86 Di samping memiliki firasat, ilham dan siddiqiya, mereka juga memiliki hadis, yang membedakan mereka dari wali-wali lain.87 Sebagaimana hubungan antara para wali dan para nabi, mereka mirip dengan para nabi, dan hadisnya sama dengan wahyu. Sungguh, al-Tirmidhi seringkali menyamakan para nabi dengan para wali, khususnya dengan muhaddathun. Pada bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana al-Tirmidhi menjelaskan persamaan dan perbedaan di antara para rasul, para nabi dan para wali.

Para Rasul, Nabi dan Wali

Al-Tirmidhi menempatkan para nabi dan rasul berada di depan muhaddathun dalam susunan tinggi para wali yang telah kita analisis pada bagian sebelumnya. Secara jelas diuraikan sebagai berikut dalam karyanya, Ma’rifat al-Asrar.

Akal adalah mulia, keimanan adalah lebih mulia, siddiqiya adalah lebih mulia dari keimanan, karena seorang tidak dapat dikatakan siddiq kecuali dengan akal dan keimanan. Siddiqiya merupakan awal kenabian, sementara siddiqiya kenabian berbeda dari siddiqya umat, sebagaimana firman Tuhan; “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang siddiq dan seorang nabi (19/41).” Idris juga seorang siddiq, dia menjadi siddiq ketika masih muda, dan menjadi seorang nabi ketika dia dewasa. Hadis lebih mulia dari pada siddiqiya. Hadis adalah pertengahan kenabian, dan akhir hadis adalah kenabian… Kenabian adalah kesempurnaan derajat (tamam al-daraja). Kerasulan adalah lebih mulia dari kenabian. Kekhalifahan (khilafa) dalam kerasulan adalah lebih mulia dari kekhalifahan tanpa kerasulan. Kedekatan (khulla) dalam kerasulan adalah lebih mulia dari pembicaraan dalam kerasulan. Hadith dalam kerasulan adalah lebih mulia dari kedekatan dalam kerasulan. Karunia (mazid) Tuhan tidak pernah berhenti, karena Dia tidak memiliki batas. Kenabian merupakan keadaan yang sempurna (hala tamma). Apa yang ditambahkan kepadanya merupakan karunia (fadl), bukan pengurangan (nuqsan).88

Cara muhaddathun dipilih oleh Tuhan sejak dari awal adalah sama, sebagaimana para nabi. Mereka mengajak umat kepada Tuhan dengan bukti yang jelas bersama dengan nabi.

Berkenaan dengan seruan kepada Tuhan, (ia merupakan) pertolongan (nashr) karena kebaikan, pengutusan (ba’th) dari anugerah (minan), mengingat-ingat (dhikr) berkah-Nya, dan penegasan transendensi Tuhan yang absolut dalam kesatuan-Nya. Seruan ini hanya milik umat Muhammad. Tetapi, jalan (tariqa) para wali bukan jalannya para nabi, karena para nabi merupakan orang-orang yang dipilih Tuhan atas kehendak-Nya, sementara para wali adalah orang-orang yang diberi petunjuk Tuhan melalui pertaubatannya dengan penuh penyesalan. Ini menjadi jelas dalam firman-Nya, “Allah menarik kepada agama itu orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (42/3),” Tuhan mengangkat untuk diri-Nya siapa saja yang Dia pilih, kemudian membimbing menuju-Nya dengan jalan mereka yang Dia tarik pada diri-Nya. Sebagaimana mereka yang menuju Tuhan dengan penuh penyesalan, jalan “kembali (inaba) kepada Tuhan” terbuka untuknya. Jalan para nabi adalah jalan singkat, sementara jalan para wali adalah jalan kesungguhan (jadda), yang Dia menyediakan untuk hamba-hamba-Nya, yang didasarkan pada ketulusan dan keimanan serta penyucian hati dan pembersihan sifatnya, sehingga mereka bisa sampai pada-Nya. Para nabi sampai (kepada Tuhan) dengan penarikan (jidhba), bukan dengan jalan (pembersihan) jiwa. Ini adalah perbedaan antara para nabi dan para wali. Tetapi, Tuhan menginginkan di antara wali-wali elite (safwa) yang Dia pilih, sehingga mereka menjadi abdi-abdi-Nya dan para penyeru menuju Tuhan. Besok (yaitu, pada Hari Kebangkitan), mereka akan diberi kelebihan, dan tempat berdirinya berada di depan rombongan para wali. Mereka adalah pilihan dari orang-orang yang terpilih. Tuhan memilih mereka sebagaimana jalan para nabi, dan mereka menuju-Nya melalui penarikan, mereka tidak melakukan dengan keinginannya. Tuhan membersihkan hati mereka dengan jalan mereka. Dia mengambil mereka dengan jalannya sendiri, dan menempatkan mereka di antara para nabi dan wali. Oleh karena itu, mereka begitu dekat hubungan hatinya dengan para nabi, sementara para wali berada di belakangnya. Mereka lebih tinggi dalam hal penuh perhatian dan kesadaran, dan mereka memiliki wawasan lebih tentang jalan para nabi, karena mereka sendiri menempuh jalan tersebut sebagaimana orang-orang terpilih. Mereka adalah munfaridun, yang hatinya tenggelam dalam kesatuan Tuhan (wahdaiyah), dan mereka meninggalkan urusan-urusan duniawi. Mereka adalah muhaddathun.89

Menurut al-Tirmidhi, para rasul, nabi dan muhaddathun termasuk kelompok utusan Tuhan (mursalun). Kelihatannya dari idenya di atas, dia mendapatkan isyarat dari penafsiran Ibn ‘Abbas tentang ayat al-Qur’an 22/52, “Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul atau nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu.” Ibn ‘Abbas meriwayatkan beberapa kalimat yang “bukan seorang muhaddath” setelah “atau bukan seorang rasul.”90 Para wali dan nabi tidak diutus untuk umat manusia dengan membawa hukum tersendiri; mereka tetap diutus oleh Tuhan.

Setiap orang yang diserahi Tuhan (istana’a) dan seorang yang turun adalah “seorang yang diutus” (mursal) dan “seorang yang ditugasi” (mab’uth). Janganlah kamu menganggap bahwa apa yang Tuhan katakan sebagai musuh-musuh orang Israel yang Dia turunkan sebagai suatu hukuman bagi hamba-hamba-Nya? Dia mengatakan, “Kemudian Kami mengirimkan kepadamu hamba-hamba Kami yang memiliki kekuasaan.” Meskipun ini merupakan utusan (ba’th) untuk kejahatan dan hukuman, mereka (yaitu muhaddathun) diutus demi kebaikan dan (memberi) bantuan (ghiyath).91

Al-Tirmidhi berulangkali menekankan bahwa kenabian mencangkup jumlah bagian tertentu, yang juga dimiliki oleh para wali. Ide kenabian merupakan bagian yang berasal dari dua hadis berikut: “penglihatan mata (ru’ya) orang beriman merupakan salah satu dari 46 bagian kenabian”92 dan moderasi (iqtisad), sifat baik (samt hasan), dan petunjuk yang benar (huda salih) adalah termasuk 23 dari bagian kenabian.93 Hadis pertama seringkali diperkuat oleh dua hadis lainnya. Berkaitan dengan ayat al-Qur’an, “Sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan berduka cita… Mereka mendapatkan berita gembira tentang kehidupan dunia dan akhirat,” Nabi, sesui dengan hadis itu, menjelaskan “berita gembira” sebagai penglihatan nyata (ru’ya saliha) yang hamba itu atau Tuhan perlihatkan atau yang tampak baginya.94 Dalam hadis lain, nabi menjelaskan penglihatan orang yang beriman sebagai pembicaraan (kalam) yang Tuhan berikan kepada hamba-Nya dalam mimpi.95

Dalam Asrar al-Ma’rifah, kenyataannya al-Tirmidhi menyebutkan seluruh bagian 46 dari kenabian. Menurut jumlah ini, hadis merupakan bagian dari kenabian tertinggi, kemudiam siddiqya, ilham, dan firasa.96

Sebagaimana dapat dilihat dari pembahasan di atas, hadis merupakan bagian dari kenabian terbesar. Dalam Nawadir al-Usul, al-Tirmidhi menulis sebagai berikut:

Ketika akal-akal (‘Uqud) muhaddathun bersih dan hatinya suci, tidak ternodai dosa, nafsu dan berbagai urusan (‘ala’iq) duniawi, mereka disebut dengan (kullimu) karena hati mereka. Karena pembicaraan (kalam) pada jiwa-jiwa (arwah) ketika tidur merupakan salah satu bagian dari 46 kenabian, pembicaraan pada hati ketika sadar adalah lebih dari satu pertiga kenabian, (beragam) sesuai dengan kedekatan mereka dengan Tuhannya dalam kedudukan mereka (majalis.)97
Jadi, muhaddathun yang memiliki hadis, berarti memiliki satu pertiga bagian kenabian atau bahkan lebih, sesuai dengan variasi tingkatannya.

Karena muhaddathun memiliki kedudukan (manzil) yang berbeda. Beberapa dari mereka diberi satu pertiga dari kenabian, lainnya separuh, dan bahkan lainnya lebih.98

Kemudian permasalahanya, apakah hadis, bagaimanakah membedakan dengan wahyu nabi dan ilham wali? Sebagaimana terlihat dari kutipan dalam Nawadir al-Usul di atas, kalam Tuhan turun pada hati ketika sadar. Tentu, istilah muhaddathun diambil dari hadis masyhur berkaitan dengan ‘Umar. Dalam sebuah hadis nabi bersabda: “Terdapat muhaddathun (pada umat-umat terdahulu); jika terdapat orang semacam itu dalam umatku, ia adalah Umar bin Khattab.” Beberapa hadis lain menunjukkan makna muhaddathun secara lebih jelas. Hadisnya sebagai berikut: “Dalam umat terdahulu terdapat orang yang diajak bicara langsung oleh Tuhan, selain rasul, jika terdapat orang seperti ini dalam umatku, dia adalah Umar bin Khattab.”99

Meskipun biasanya para ahli hadis menafsirkan istilah muhaddathun pada hadis di atas mereka yang menerima ilham,100 tetapi al-Tirmidhi membedakan antara ilham dan hadis. Pada bagian yang agak sulit difahami dari Asrar al-Ma’rifa, dia mengatakan:

Permulaan hadis adalah ilham, sebuah hadis baru (tariy) datang dari Tuhan pada wali-Nya tanpa kehadiran malaikat. Kekuatan hadis merupakan kehadiran (hudur) hati… Hadis merupakan bagian dari kenabian, sebagaimana pendengaran (sama’) merupakan salah satu aspek warisan kenabian.101

Juga dalam Tahsil Naza’ir al-Qur’an, al-Tirmidhi membedakan kerasulan, kenabian, hadis dan ilham dengan cara sebagai berikut:

Wahyu yang mencakup (damina) kalam-Nya merupakan kerasulan, wahyu yang mencakup kenabian adalah kenabian; wahyu yang mencakup pengetahuan-Nya (‘ilm) adalah hadis, wahyu yang mencakup rahasia-Nya (hikma) adalah ilham.102

Walaupun sangat jelas bahwa hadis hanya untuk mereka yang menjadi pilihan Tuhan dapat menerima adalah lebih tinggi dari ilham, namun tidak begitu jelas bagaimana keduanya dibedakan, dan dimana letak perbedaannya. Contohnya, pada bagian berikut, yaitu cara pewahyuan wali dijelaskan, ilham dan firasa datang bersama dengan sakina yang membedakan hadis.

Berita gembira (busra) (penglihatan yang benar) datang dalam hati orang yang beriman ketika sadar. Sungguh, hati merupakan perbendaharaan Tuhan. Ruhnya meninggalkan tubuhnya pergi menuju Tuhan ketika dia tidur, dan menundukkan diri kepada-Nya di bawah Kerajaan. Di sisi lain hatinya pergi pada-Nya di antara Kerajaan berada di berbagai Tabir, melihat babarapa tempat (majalis), berbicara (dengan-Nya) secara langsung (yunaji) dan diberi berita gembira. Ini merupakan tawhid, ilham, firasa dan sakina –nya.103

Di satu sisi, perbedaan antara hadis dan wahyu nabi dibahas secara panjang lebar. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa terkadang istilah wahyu digunakan secara umum untuk semua bentuk pewahyuan, sebagaimana pada bagian di atas yang dikutip dari Tahsil Naza’ir al-Qur’an. Juga istilah muhaddath seringkali digunakan secara umum untuk setiap penerima wahyu, sebagaimana bagian kutipan berikut dari Nawadir al-Usul:

Muhaddath terdiri dari tiga macam: muhaddath dengan wahyu, yang masuk (yakhfiq) ke dalam hati melalui jiwa, muhaddath ketika tidur yang berkaitan dengan jiwa-jiwa, ketika jiwa-jiwa itu meninggalkan tubuh, kemudian diajak bicara; muhaddath ketika sadar masuk ke hati bersama dengan sakina dan mereka memahaminya (ya’qiluhu) dan menyadarinya.104

Pada kutipan di atas, bentuk pertama muhaddath berhubungan dengan nabi, karena berulangkali al-Tirmidhi mengatakan bahwa nabi menerima wahyu melalui jiwa, sementara muhaddath mendapatkan wahyu dengan sakina.105

Perbedaan antara kenabian dan kewalian (muhaddath) dijelaskan dalam Khatm al-Awaliya sebagai berikut:

Kenabian merupakan pembicaraan (kalam) yang datang (yanfasil) dari Tuhan sebagai wahyu, bersama dengan ruh dari Tuhan, sehingga wahyu disabdakan dan ditancapkan pada jiwa, dan melalui jiwa wahyu diterima. Ini adalah apa yang harus diyakini (tasdiq). Mereka yang menolaknya berarti kafir, karena mereka menolak kalam Tuhan. Di satu sisi, kewalian adalah untuk mereka yang Tuhan serahi (waliya) hadis-Nya. Tuhan membawa wali pada diri-Nya dengan cara yang berbeda, dan dia memiliki hadis. Hadis ini terpisah (yanfasil) dari Tuhan pada ucapan Kebenaran (‘ala lisan al-Haqq), bersama dengan sakina. Sakina yang berada dalam hati muhaddath menerima hadis dan menenteramkan dirinya (yaskunu ilayhi).106
Lebih jauh, dia menjelaskan perbedaan antara hadis dan kalam dengan cara sebagai berikut:

Hadis adalah apa-apa yang berasal dari pengetahuan-Nya, ketika Dia menghendakinya. Ini merupakan hadis dari jiwa, seperti sebuah rahasia. Hadis hanya terjadi lantaran Cinta Tuhan pada hamba-Nya ini. Ia berlangsung, diiringi kebenaran, dalam hatinya, dan hati menerimanya melalui sakina, dan siapapun menolaknya menjadi kafir, sekiranya dia terhalangi dan karena kejahatannya menjatuhkan dirinya, dan kebimbangan hatinya, sebab orang ini menolak kebenaran yang dibawa oleh Cinta Tuhan dari pengetahuan Tuhan tentang diri-Nya. Karena Dia mengamanatkan kepadanya dengan kebenaran dan menjadikannya sebuah dinding penopang hatinya. Sementara yang pertama (orang yang menolak nabi) menolak kalam Tuhan, wahyu dan jiwa di wajah-Nya.107
Meskipun kenabian dan kewalian, yang merupakan, wahyu dan hadis secara terminologi dibedakan secara tegas, tetapi masih tetap tidak jelas, apakah perbedaannya merupakan suatu hal yang sebenarnya, tidak hanya sekedar perbedaan terminologi.

Sebagaimana kenabian berasal dari Tuhan, begitu juga hadis berasal dari Tuhan dari sisi yang telah aku jelaskan padamu. Masalah kenabian dijamin (mahrusa) oleh wahyu dan jiwa, begitu juga hadis dijamin dengan Kebenaran dan sakina. Wahyu adalah tanda kenabian dan jiwa merupakan patnernya (qarin). Kebenaran yang dibawa hadis dan sakina merupakan awal (muqaddam) kenabian, dan hadis dalam hati nabi dan muhaddath bersifat tetap (thabit).108

Baik Nabi maupun muhaddath dijaga dengan wahyu oleh Tuhan dari berbagai macam kesalahan, dan wahyu dan hadis adalah tidak mungkin salah.109 Meskipun sangat jelas bahwa kenabian lebih tinggi dari hadis, tetapi kita masih tidak mengetahui secara pasti, dimana kelebihan kenabian dibanding hadis.

Al-Tirmidhi juga membedakan rasul dengan nabi dan wali (muhaddath). Kerasulan dijelaskan secara gamblang, karena di sini al-Tirmidhi mengikuti konsep kerasulan secara umum yang diterima dalam Islam. Rasul adalah seorang yang diberi Tuhan pesan (risala), yaitu Hukum (shari’ah).

Rasul adalah seorang yang mendampingi (yatanabba’) dan diutus kepada umat. Dia memberi berita (yukhbir) dan dia membawa pesan (risala). Nabi adalah seorang yang mendampingi umat, tetapi dia tidak diutus untuk seluruh umat. Ketika nabi ditanya, dia menjawabnya, dan dia juga mengajak umat kepada Tuhan, membimbingnya dan menunjukkan jalan sesuai dengan Hukum rasul. Rasul memiliki Hukum yang berasal dari Tuhan dan dia menyeru umta mentaati Hukum itu. Nabi diutus untuk umat tertentu. Dia mengikuti Hukum yang dibawa oleh rasul dan mengajak umat mematuhinya, dan menunjukkannya. Begitu juga muhaddath melakukan hal yang sama, dia mengajak umat kepada Tuhan atas dasar Hukum rasul, dan menunjukkan umat pada jalan rasul…. Tuhan mengambil perjanjian (mithaq) masing-masing dari mereka (yaitu, rasul, nabi dan muhaddath) secara terpisah, perjanjian rasul dengan rasulnya; perjanjian muhaddath dengan kewaliannya. Mereka semua menyeru kepada Tuhan. Tetapi, rasul ditugasi melaksanakan (ada’) kerasulan dengan hukum, Nabi menyampaikan informasi tentang Tuhan. Siapa saja yang menolak mereka adalah kafir. Muhaddath memiliki hadis dengan konfirmasi (ta’yid) dan plus bukti yang jelas (ziyada bayyina) dalam hal hukum kenabian…. Siapaun menolaknya tidak mendapatkan berkah (baraka) dan cahaya-Nya.110

Nabi dan muhaddath mengikuti Hukum rasul, sehingga hadis yang diterima muhaddath dari Tuhan tidak akan pernah bertentangan dengan Hukum rasul, tetapi selalu sesuai dengan Hukum itu dan menegaskannya. Jika, bertentangan dengan Hukum, pasti bukanlah hadis, akan tetapi bisikan (waswas) yang datang dari syetan. Karena hadis yang berasal dari wahyu, terbebas dari syetan, sehingga seorang yang menentang Hukum tidak dapat dikatakan sebagai seorang muhaddath.

Apa-apa yang datang padanya (yaitu, muhaddath) pada mulut Kebenaran dari Tuhan merupakan berita gembira, konfirmasi (ta’yid) dan pembenaran (maw’iza). Ia tidak menghapus sedikitpun Hukum, tentu sesuai dengan Hukum. Apa-apa yang bertentangan dengan Hukum merupakan bisikan syetan (waswas).111

Sebagaimana kita membahas lihat di atas, al-Tirmidhi selalu menempatkan secara jelas para rasul dan para nabi di atas para wali. Meskipun terdapat tingkatan di antara para nabi, bahkan wali yang paling tinggi tidak dapat mencapai kedudukan nabi yang paling rendah. Namun demikian, dia seringkali dituduh menempatkan para wali lebih tinggi di atas para nabi oleh ulama kontemporer dan masa berikutnya. Seperti Geyoushi, Baraka, dan Radke menyatakan,112 tuduhan itu tidak ditemukan dalam tulisan al-Tirmidhi yang panjang lebar. Namun, sebagaimana telah kita ketahui, juga tidak ada perbedaan kualitas antara hadis dan kenabian dengan terminologi yang menarik. Dengan kata lain, keduanya tidak berbeda jenisnya. Paling tidak, isi dua bentuk wahyu ini tidak dapat dianalisis secara jelas dan rinci. Secara hati-hati, kenabian seringkali dianalisis menurut kwalitasnya. Kita bahkan mengatakan bahwa muhaddathun adalah bagian kecil dari para nabi, dan para nabi berada di atas para wali. Juga menarik untuk dicatat bahwa al-Tirmidhi tidak pernah menyatakan secara tegas bahwa setiap nabi, setiap rasul adalah seorang wali pada saat yang sama.

Muhaddath memiliki hadis, firasa, ilham, dan siddiqiya. Nabi memiliki itu semua dan juga memiliki kenabian (tanabbu’). Rasul memiliki semua itu dan juga kerasulan. Para wali yang berada di bawah mereka memiliki firasa, ilham, dan siddiqiya.113

Di tempat lain, nampaknya al-Tirmidhi berpendapat bahwa para wali lebih dekat dengan Tuhan dari pada para nabi, dengan mengutip hadis, “Tuhan memiliki hamba-hamba (‘ibad), yaitu bukan nabi dan syuhada’, tetapi para nabi dan syuhada cemburu karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Tuhan….” Namun, ketika al-Tirmidhi ditanya, bukanlah hadis ini menunjukkan superioritas para wali atas para nabi, dia menolaknya secara tegas, dengan mengatakan, “secara mutlak tidak ada seorangpun yang memiliki superioritas atas para nabi karena kebajikan nabi dan kedudukan (mahal) mereka. Ketika dia ditanya lebih jauh, mengapa para nabi cemburu kepada mereka, jika mereka tidak lebih tinggi darinya, dia menjawab sebagai berikut; “Dia (Muhammad) telah menjelaskannya dalam hadis, karena kedekatan dan tempat (makan) mereka hubungannya dengan Tuhan.”114 Meskipun di sini secara jelas dikatakan superioritas para nabi atas para wali, tetap dinyatakan bahwa para wali lebih dekat kepada Tuhan dibanding para nabi. Namun, kenyataan ini tidak pernah ditegaskan. Dalam kaitannya dengan ini, penting untuk diperhatikan bahwa al-Tirmidhi tidak pernah menyebutkan bahwa rasul diberi hukum lewat perantara malaikat, sementara dia menekankan berulangkali bahwa wali memiliki hubungan dekat dengan Tuhan melalui pembicaraan langsung, dia juga tidak merujuk cerita Musa dan Khidir untuk membuktikan ketinggian ma’rifah wali atas pengetahuan nabi.

Pada satu bagian, dalam kitab Khatm al-Awliya’, dia menggambarkan maqam dan tempat (hazz) rasul sebagai berikut:

Maqam rasul di pusat Kerajaan berada di depan-Nya; dan tempatnya adalah wahdaniyah-Nya.115

Kita telah melihat bahwa “Pusat Kerajaan di hadapan-Nya” dan wahdaniya juga diberikan kepada wali. Akan tetapi, di sini al-Tirmidhi tidak membandingkan rasul dengan wali. Oleh karena itu, al-Tirmidhi tidak bermaksud menyamakan rasul dengan wali. Kami dapat menjelaskan ketidakkonsistesiannya dengan cara sebagai berikut. Karena dia menjelaskan wali dengan ungkapan sanjungan yang sangat tinggi, sehingga penjelasannya seringkali sama. Namun, ketika dia membandingkannya secara sadar, dia sangat berhati-hati membedakannya, dengan menggunakan istilah yang berbeda untuk masing-masing dari mereka, dan menempatkan rasul pada tempat yang lebih tinggi, kemudian nabi dan selanjutnya wali.

Selanjutnya, kami ingin membahas secara singkat konsep penutup kewalian (khatm al-awliya) al-Tirmidhi.116 Konsep yang disodorkan ini memberikan pengaruh yang mendalam dan lama bagi faham sufi selanjutnya. Kita telah menyatakan bahwa persamaan sifat antara kenabian dan kewalian dalam pandangan al-Tirmidhi. Persamaan ini yang mendorongnya mengajukan konsep “penutup para wali” sebagaimana dijelaskan secara sangat hati-hati dan terinci. Penutup para wali akan muncul secara fisik pada Hari Kiamat, sebagaimana Muhammad muncul terakhir di antara para nabi. Dengan pengertian ini, penutup para wali sama dengan Mahdi. Namun, penutup para wali sebagai ide dalam fikiran Tuhan merupakan wali yang pertama dari rencana-Nya, sebagaimana Muhammad sebagai nabi yang pertama dari para nabi. Doktrin pra-eksistensi Muhammad yang menarik ini diungkapkan dengan istilah yang sulit difahami, liturgical encomium serupa dengan istilah-istilah doktrin faham sufi berikutnya yang bersifat metafisika dan cerita faham kosmologi Syi’ah. Pra-eksistensi penutup para wali difahami karena secara pasti sama dengan pra-eksistensi Muhammad.

Karena Tuhan, ketika belum ada makhluk, dan kemudian muncul Dunia (yang diciptakan)-Nya, dan Pengetahuan muncul, dan juga Kehendak. Dunia yang diciptakan Pertama adalah Dunia Muhammad; dari Pengetahuan yang pertama memunculkan pengetahuannya; dari Kehendak memunculkan kehendaknya. Dalam takdir yang ditetapkan, dia adalah yang pertama; dalam Lauh Mahfudz, dia adalah yang pertama, dan dalam perjanjian, dia adalah yang pertama.117
Penutup para wali diuraikan sebagai berikut:

Wali ini (yaitu, penutup para wali) tidak pernah berhenti disebutkan dari awal. Dia adalah yang pertama dalam Dunia yang diciptakan, yang pertama dalam Pengetahuan, kemudian yang pertama dalam Kehendak. Dia adalah yang pertama dalam taqdir yang ditetapkan, yang pertama dalam Lauh Mahfudz, yang pertama dalam perjanjian.118

Dia juga yang pertama pada Hari Kiyamat. Berikut adalah penjelasan tentang Muhammad pada Hari itu:

Dia adalah yang pertama pada Hari ketika dunia hancur. Dia adalah yang pertama berbicara (khitab), yang pertama tiba (wifada), yang pertama mengetengahi, pertama mendekat (jiwar), pertama masuk surga (dukhul al-dar), pertama berkunjung (ziyara), sehingga dia memimpin para nabi. Dia adalah penutup kenabian, dia merupakan bukti Tuhan bagi makhluk-Nya pada Hari Pengadilan (yaum al-mawqif). Tidak ada nabi lain dapat mencapai maqam ini.119
Ungkapan yang sama persis digunakan untuk penutup para wali.

Dia aadalah yang pertama berkumpul (mahsar) pada Hari Kiyamat, pertama berbicara, pertama tiba, pertama mengetengahi, pertama mendekat, pertama masuk surga, dan pertama berkunjung. Dia berada di setiap tempat pertama para wali, sebagaimana Muhammad adalah yang pertama dari para nabi.120

Pada Hari Kiyamat, semua wali membutuhkan penutup para wali, karena dia sebagai perantara bagi mereka, sebagaimana semua nabi memerlukan Muhammad karena syafaatnya. Dia merupakan bukti Tuhan bagi semua wali yang lain, dan dia memimpin mereka.

Penutup para wali dijelaskan oleh al-Tirmidhi dengan kemungkinan sifat-sifat yang paling tinggi, sebagaimana dinyatakan sebelumnya. Penjelasan ini terkadang sama dengan para wali lain (siddiqun, atau muhaddathun) dan para nabi.

Dia (penutup para wali) adalah tertinggi dari maqam para wali. Dia berada di Kerajaan fardaniya, dan berada sendirian (infarada) dan wahdaniyah-Nya. Hubungan dekatnya dengan Tuhan (munajatuhu) dilakukan secara langsung (kifahan) di istana (majalis) Kerajaan.121

Maqam hamba ini (yaitu, penutup para wali) berada di depan Tuhan di Pusat Kerajaan. Hubungan dekatnya dengan Tuhan (najwahu) di Tempat Tertinggi (al-majlis al-a’zam). Dia berada dalam dekapan Tuhan (huwa fi qabdatihi).122

Meskipun demikian, ketika penutup para wali dibandingkan dengan wali-wali lain dan para nabi, dia ditempatkan secara hati-hati antara keduanya ini, para nabi berada di depannya, dan para wali berada di belakangnya. Setelah al-Tirmidhi menyatakan bahwa petunjuk (hidaya) yang diterima para wali berasal dari perbendaharaan (khaza’in) usaha kerasnya (sa’y), dia menjelaskan istilah ini sebagai berikut:

Terdapat tiga bentuk perbendaharaan: rahmat (minan) bagi para wali; berkah bagi para pemimpin (al-imam al-qa’id); kedekatan (qurb) bagi para nabi-nabi. Maqam orang ini dari perbendaharaan rahmat, dan diperoleh (mutanawal min) perbendaharaan kedekatan. Dia selalu mendapatkan berkah. Jadi, kedudukannya (martaba) berada pada tempat tersebut; meskipun demikian, dia memiliki akses pada perbendaharaan para nabi dan tutup (ghitha’) tersingkap baginya dari maqam dan derajat para nabi dan pemberian (‘ataya) dan kehadiran (tuhaf) mereka .123

Jadi, dia dapat dikatakan menjadi hampir sama dengan para nabi, meskipun penutup para wali tidak sama dengan mereka. Namun, terkadang al-Tirmidhi menempatkan penutup para wali secara tiba-tiba setelah Muhammad. Dia berada “dekat telinga” Muhammad (huwa min Muhammad … ‘inda al-udhuni), sementara para wali berada di belakang kepalanya (‘inda al-qafa).124 Tuhan membawanya melului jalan Muhammad lewat kenabiannya, dan menganugerakannya penutup karena kedekatannya di sisi Muhammad pada Hari Kiyamat.125

*) M. Harir Muzakki, Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo.
(Bersambung)