Usman Arrumy

Seorang lelaki yang murni akan selalu bersikap tidak rela jika ia hidup tanpa pernah merasakan cinta, dan baiknya ia terus bertahan sekaligus memperjuangkan sikapnya sampai ke maqom supra-rasional– ke suatu tempat yang tak tersentuh oleh intelektualitas. Yang membedakan antara seseorang yang dengan tekun memelihara cinta dan tidak adalah tampak terhadap lakunya yang selalu menghindar dari kebencian. Setiap masa selalu ada sesuatu yang musti lekas ditulis, meski ia tak terjangkau definisi, rumus bahkan menolak kesimpulan, semata sebagai tindakan— upaya mengekalkan peristiwa.

Kanjeng Nabi suatu waktu menyatakan ”Man ahabba sya’ain aktsaro bi dzikrihi”– Seseorang yang mencintai sesuatu ia akan lebih banyak mengingat/menyebutnya. Sebenarnya ketika menyatakan itu, beliau sedang hendak memberi epistimologi bahwa cinta, betapapun intens-nya, ia tak akan pernah mencapai definisi, ia hanya bisa teraba melalui tanda-tanda. Mendefinisikannya justru hanya akan mereduksi potensi perasaan ke dalam sesuatu yang disebut ketidak-adilan— melunturkan konsep abstrak yang menjadi wataknya, maka sebenarnya, definisi itu tercipta hanya untuk menjelaskan kepada seseorang yang belum paham, sebab jika definisi itu ada, cinta akan menjadi anomali, bagaimana bisa seseorang yang sedang mempraktikkan sesuatu tidak paham apa yang ia praktikkan? Musykil.

Dalam riwayat lain, hadis di atas disampaikan dengan redaksi yang berbeda tanpa mengurangi esensi dari maknanya: ‘’Man ahabba sya’ian katsuro dzikruhu’’—Seseorang yang mencintai sesuatu, akan banyak mengingat/menyebutnya. Ada perbedaan tipis di antara ke dua hadis tersebut, baik dari sisi kalimat atau maknanya, jika yang pertama menggunakan ‘’Aktsaro’’—Isim Tafdhil, sesuatu yang kapasitasnya bisa menurunkan derajat lainnya, wataknya selalu mengalahkan benda yang lain, pun demikian, ada kecenderungan pada satu sisi dengan lebih memusatkan perhatian untuk menggugurkan selainnya. Maka ini lebih bisa diterima sebagai tanda. Pada hadis yang ke dua itu, ia disampaikan dengan menggunakan ‘’Katsuro’’—makna yang masih berbanding lurus dengan lainnya, punya kedudukan makna yang setara.

Pendefinisian tentang cinta tidak bisa merumuskan suatu kesepakatan, ia terus bergerak melalui upaya-upaya. Hanya upaya, konklusi tidak tercapai. Dan ketika seseorang merasa berhasil mendefinisikan, sebenarnya ia hanya berpusar pada spekulasi, andai pun definisi yang ia cipta relevan dengan keadaannya, itu hanya akan bersifat sementara– ada periode yang membatasinya. Satu bukti kalau definisi itu tidak selalu eksak: Ketika seseorang mendefinisikan cinta, itu artinya akan meng-anulir definisi yang dibuat orang lain— Menganggap tidak sah karena tidak sepaham dengan apa yang ia rasakan. Sebab cinta dalam keadaan bahagia dan sedih itu akan selalu tidak dalam satu asese pengertian, itu artinya, kebenaran hanya milik satu orang, di sini definisi tak berdaya— system demokrasi berperan dalam hal ini.

Mungkin itu sebabnya Kanjeng Nabi lebih dominan menggunakan Tanda sebagai penghubung untuk mengenali cinta. Tanda lebih luwes fungsinya, sementara definisi sifatnya otoriter—menetapkan sesuatu ke dalam bentuk tanpa memperdulikan nasib lainnya. Dari sini aku melakukan pendekatan-pendekatan melalui otoritas penafsiran, bahwa ke dua hadis tersebut disampaikan Kanjeng Nabi terhadap sahabat yang berbeda, ada pertimbangan lebih dulu sebelum menyatakan, melihat tingkat kondisi obyektivitas sahabat. Sebab beliau tahu, setiap sahabat punya instrumen pemahaman dengan tingkat yang berbeda, ini yang mungkin menjadikan beliau bermain metafora

Ke dua hadis tersebut pun, tidak mengandung paradoksal, di antara ke duanya melemparkan efek masing-masing, sebagai identitas. ‘’Katsuro’’ membuat batas, sementara ‘’Aktsaro’’ lebih bebas. Pada kenyatannya, tak ada kontradiksi secara redaksional, ia hanya menggiring kita untuk memahami konteks-nya, sebab subyek dari ke dua hadis tersebut pada masa selanjutnya adalah kita. Maka dari ke duanya, kita mendapat akses untuk menciptakan teori— bukan melalui definisi, tapi via tanda-tanda: Menyebut dan Mengingat adalah alamiah dari tanda cinta.

Berangkat dari ke dua hadis tersebut, cinta mendapatkan identitas— Jenis afeksi yang maklum kita ketahui sebagai emosi lunak, atau memang, menyebut dan mengingat itu bentuk representasi dari pengenalan cinta secara intralinguistis (ciri yang menjadi perhatian utama). Dari sini tanda terbentuk menjadi sebuah pengalaman, menjadi karakter. Ya, karena jika cinta hadir sebagai konsep—definisi baku, ia akan mengalami dekadensi sikap, meski selalu ada ketidak-pastian dalam memahami cinta secara komplemen.

Sebenarnya peran tanda dalam hadis di atas cukup jelas—yaitu untuk menghindar dari konflik definisisme. Dalam hal ini, Kanjeng Nabi membuat jalur mekanisme cinta agar lebih mudah dikenali, bukan saja Menyebut dan Mengingat, dalam riwayat lain, tanda-tanda cinta dibuat 1) ia lebih suka berbicara dengan yang dicintai ketimbang dengan yang lain. Tentu beliau di sini tidak hendak mendefinisikan cinta, tanda-tanda lebih punya kapasitas untuk itu. Bahwa kecenderungan seseorang dengan cara mengabaikan yang lain adalah bentuk makro dari sisi tanda cinta itu sendiri, dan itu yang menyebabkan spiral kebencian tak punya kedudukan di dalam diri seseorang. Tak ada yang lebih patut disebut manusia ketimbang ia yang masih rutin memelihara cinta.

Andai saja definisi ada dalam riwayat di atas, akan ada kontradiksi: Sekarang yang diabaikan membuat definisi cinta atas dasar kesedihan, dan yang dicenderungi juga membuat definisi dengan latar-belakang kebahagiaan. Bahwa ia yang mendefinisikan cinta sebetulnya sedang memuja konsep. Dalam satu narasi, yang berkuasa adalah upaya-upaya, sementara definisi adalah menetapkan kondisi secara mutlak, seaktif apapun aksi seseorang untuk mewariskan definisi, pada satu saat akan terpengaruh keadaan, terminologi di sini gugur demi menumbuhkan persepsi dalam tanda petik.

2)’’ ia lebih suka berkumpul dengan yang dicintai tinimbang dengan yang lain.’’ Ini fase ke dua dari statemen Kanjeng Nabi terkait untuk mengenali cinta secara lebih dalam, lebih jauh dan lebih permanen. Sekali lagi, di sini beliau menggunakan konteks majas, tidak berusaha untuk menciptakan Ta’rif. Ta’rif hanya akan menimbulkan keluhan terhadap orang lain, oleh sebab itu, tanda menjadi petunjuk paling moderat tanpa menyakiti perasaan lainnya. Ta’rif—sebagaimana yang lazim disebut definisi, hanya tempat berlindung dari perbedaan, membuat jalan buntu dari sekian tikungan, menutup pintu bagi kemungkinan: Rasa syukur hanya untuk personal dengan mengabaikan penderitaan orang lain.

Fase yang ke dua ini semacam menjadi draf, bahwa cinta bisa menjadi identitas musti dimulai dengan percakapan, ada keseriusan yang terselip di antara tanda yang pertama dan ke dua: Unsur yang menjadi mata rantai. Percakapan belum tentu berkumpul, ia bisa berlaku dengan cara tidak kumpul, semisal via telpon, internet dan sejenisnya. Sementara berkumpul, bukan hanya bercakap, tapi bisa saling bisik, kumpul di sini berarti minimal sanggup bersitatap. Ada satu hadis yang sejalur dengan fase yang ke dua ini, memberikan asumsi sebagai dasar dalam tanda: Al-Mar’u ma’a man ahabba— seseorang akan bersama dengan orang yang di cintai. Ini semacam menjadi tesis, bahwa kumpul punya spektrum yang lebih luas dibanding percakapan.

Pada hadis yang pertama, tanda bahwa orang itu cinta adalah dilihat dari kecenderungan lebih banyak mengingat atau menyebut. Sementara, diksi mengingat akan berindikasi bahwa orang itu tidak sedang berkumpul, maka apakah bisa dinalar kegiatan mengingat itu aktif ketika ia sedang berkumpul? Dengan logika dan penalaran yang bersih akan dapat disimpulkan, bahwa mengangkat Tanda dengan cara menurunkan Definisi adalah kemungkinan yang tak terbandingkan. Sebab sejauh ini, yang berpendar hanya tanda-tanda— Tidak memutlakkan sesuatu ke dalam leksikal definisi.

Kita kini tahu bahwa mustahil rasanya jika cinta—yang selalu negasi dengan keberadaan definisi itu akan merubah wataknya menjadi tidak universal. Sebenarnya tanda-tanda di atas tersebut sudah terlampau terang, tapi kenyataannya, masih ada satu redaksi lanjutan sebagai penegasan rasionalitas tanda: 3) Ia lebih suka menuruti keinginan yang dicintai ketimbang kemauan orang lain atau diri sendiri. Kanjeng Nabi secara teratur meng-informasikan Tanda sebagai isyarat bahwa definisi itu berkabung. Dari sini nampak definisi tak menjanjikan apaapa selain hanya akan mengaburkan impresi melalui teks— definisi mengemban beban, meski aku tak pernah tahu apakah definisi akan siap menanggung konsep yang sah secara literer.

Pada titik terakhir dari ke tiga tanda ini, semacam menghadirkan konklusi; selaras dengan hadis dalam periwayatan yang lain ‘’Man ahabba syai’an fahuwa abduhu’’— seseorang yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi budaknya. Justru definisi hadir dalam konteks hadis tersebut, diksi ‘’fahuwa’’ itu menjadi jalur penghubung untuk mencapai kesimpulan. Meski pada akhirnya definisi itu tak berjanji untuk menghadirkan konklusi yang disepakati semua pihak.

Kondisi menjadi budak berarti mengalami limitasi dalam bersikap, ia tunduk terhadap keinginan-keinginan yang dicintai, berbeda budak dalam konteks perbudakan di masa yang silam dengan budak dalam pengertian yang menjadi kesumpulan cinta. Menjadi budak dari seorang yang bukan cintanya bisa jadi ia patuh tidak didasari rasa bahagia, maka di setiap senyumnya tidak selalu menunjukkan ketulusan, namun kesendirian yang hadir, ketegangan yang hadir dari kesendiriaan: Keterkucilan.

Rasa patuh terhadap keinginan yang dicintai adalah senyum yang sesungguhnya, rasa berkorban bergeser ke dalam kekosongan, setidaknya tanda ke tiga ini lebih berorientasi pada keintiman, keakraban, kemesraan yang tak berhinga. Makin jauh ia cinta, keinginan-keinginan yang dicintai praktis menjadi keinginannya juga, pada saat yang sama, rasa berkorban tak menjadi sesuatu yang luar biasa.

Cinta selalu bergerak melalui tanda-tanda yang tak pernah selesai: Cinta, barangkali hadir sebagai awal dari kesulitannya untuk berbicara, pada saat itu, tanda menjadi juru bicara. Tatkala definisi mengambil alih posisi tanda— memaksa masuk ke dalam keadaan cinta, maka sejujurnya tanda berkontemplasi ke dalam definisi itu sendiri, pemahaman bermetamorfosis menjadi sesuatu yang umum disebut entitas. Jika cinta musti didefinisikan, maka definisi itu sebanyak orang yang mendefinisikan cinta; tak terhingga dan tak terhitung jumlahnya []

4 july 2013, Kairo
Sesaat setelah Presiden Moursy lengser.

Categories: Esai