Sunaryono Basuki Ks
Suara Karya, 22 Juni 2013

Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are, bintang kecil di langit yang biru, amat banyak. Matanya berkedip-kedip mencoba menyaingi kerdip bintang di malam gelap, engkaulah kandil kemerlap, pelita di malam gelap. Langit demikian luas, biru gelap dan bintang-gemintang berkedip-kedip, di antaranya sebuah bintang kecil yang berkedip paling terang.

Matanya terbuka kagum, alangkah luasnya alam raya ini, alangkah dalamnya lautan kegelapan ini, namun Tuhan memberiku cahaya gemintang. Pasti ada maksudnya. Di pengajian- pengajian di surau selalu disebutkan, Allah menciptakan alam semesta ini dengan maksud tertentu. Langit telah dikembangkan, dan manusia bertugas menguak rahasianya. Tak ada sesuatu pun yang tak ada gunanya.
Alif lam mim. Alam. Ilmu. Rahasia Allah. Dan tugas kita menelusurinya sampai ke ujung semesta.

Arief merenungkan hal itu semua semenjak dia bisa berfikir, dan dia pun memimpikan akan bertemu dengan bintang kecil yang berkedip-kedip mengejapkan matanya, dan memberinya senyum maha luas. Setiap kali dia bermimpi bertemu bintang kecil itu, setiap kali pula hatinya merasa sebagai disiram berjuta rasa bahagia. Lalu dia tersenyum saat mendengar sebuah lagu dilantunkan:

“Jatuh cinta, berjuta rasanya.” Bagaikan berjuta-juta bintang gemintang terjun bebas dari langit, menghujani hatinya dengan kebahagiaan tiada tara.

Ketika dia mulai masuk sekolah menengah, dia belajar dari gurunya dan dari buku-buku yang disuruh gurunya baca, bahwa alam semesta ini tidaklah satu, namun tak terbatas. Kita hidup di dalam ruang lingkup terbatas, gugusan Bima Sakti, dan tak seorang manusia pun yang mampu melanglang semesta keluar dari gugusan Bima Sakti, yang punya satu sistem matahari sendiri, yang diikuti oleh berbagai planet yang jauh letaknya. Dan bintang gemintang sangat lebih jauh letaknya dari sekedar bulan yang setia berkunjung dengan cahaya lembutnya setiap tiga puluh hari sekali.

Akankah aku mampu mencapai bintang gemintang? Kenapa Bung Karno menyarankan aku sebagai anak muda menggantungkan cita-citaku setinggi bintang di langit? Di sekolah lah dia faham mengenai pemakaian bahasa majasi, sekedar mengkiaskan sesuatu, dan dengan demikian dia dapat merasa optimis untuk mencapai cita citanya. Dan yang tetap menjadi mimpinya, dia ingin sebuah bintang yang mengerdip-kerdipkan matanya turun ke dunia dan menjumpainya.

Di Sekolah Menengah Pertama itu dia mulai membuka matanya pada teman-temannya, baik lelaki dan perempuan, namun dia lebih sering bergaul dengan teman-teman sesama lelaki. Dia bersepeda bersama mereka, main bola volley bersama mereka, berenang di sungai bersama mereka, dan berlatih pencak silat.

Kata pelatihnya, usia SMP inilah yang paling tepat untuk mulai belajar bela diri pencak silat yang asli Indonesia ini. Dia sering ikut pertandingan pencak silat remaja antar sekolah, dan sekali dua berhasil menggondol gelar juara. Dia merasakan pencak silat yang dipelajarinya benar-benar sesuai dengan kehidupannya, kata pelatihnya, semua gerakan harus wajar, tidak boleh dipaksakan. Kalau dia menggerakkan tangan atau kakinya dan merasa sakit, pasti ada yang salah, yakni terlalu memaksa tubuh. Maka, pelatihnya membetulkan geraknya, meminta dia mengulanginya, dan dia tidak lagi merasa sakit.
“Coba lihat, kalau kamu menggerakkan tangan kesini, dan tingginya menentang fisikmu, pasti kamu akan merasa sakit.”

Kata pelatihnya, Mahaguru aliran silat ini sudah lama meninggal dunia, dan yang sekarang tinggal adalah para murid yang sudah menjadi pendekar. Dia sering merasa kagum, kalau pelatihnya saja mampu bergerak demikian cepat dan indah, pastilah Maha gurunya mampu bergerak jauh lebih cepat. Dia mendengar cerita bahwa beliau menguasai ilmu cecak merayap yang membuatnya mampu menempel di tembok seperti seekor cecak.

Beliau juga mempunyai ilmu ginkang atau ilmu meringankan tubuh. Dia dengar dari pamannya bahwa maha gurunya itu pernah datang ke kota sebelah dan mempertunjukkan kemampuannya melayang dari lantai dasar ke lantai kedua gedung tempat dia berdemonstrasi, lalu seperti seekor burung, melayang kembali ke bawah . Persis seperti Yoko dalam film silat, yang mampu terbang dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain.

Ketika dia masuk ke perguruan tinggi, dia sudah menduduki tingkat pelatih, dan tetap rajin berlatih. Seusai salat subuh dia selalu pergi ke luar tempat kosnya, berlari ke taman kota dan berlatih silat sendirian di sana tanpa mengenakan seragam silatnya. Dia hanya mengenakan busana olah raga biasa, sehingga yang bertemu dengannya mengira dia hanya melakukan pemanasan biasa. Namun, dia sering pula bertemu dengan para muridnya di perguruan silat itu, ikut berlatih di taman kota. Kepada mereka, dia teruskan pesan pada yang dilatihnya, yang katanya merupakan pesan Maha guru, yakni, mereka harus setia pada kata. Pantang ingkar janji.

Contoh janji yang paling berat adalah janji kepada diri sendiri, yang tidak pernah diucapkan kecuali dalam batin sendiri. Kalau kita ingkari janji ini, maka tak seorang pun yang tahu kecuali kita dan Tuhan.

Sungguh mulia ajaran ini, fikirnya. Dan di kampus dia bertemu dengan banyak teman mahasiswa dan mahasiswi, anehnya, sekarang dia merasa tertarik pada teman-teman perempuannya. Dia perhatikan mereka seorang demi seorang. Dia perhatikan perilaku mereka, kesetiaan mereka pada janji. Kalau janji datang rapat saja sering tidak ditepati, maka dia segera menilai bahwa gadis itu juga takkan setia pada janji yang diucapkan pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin gadis seperti ini bisa dia percaya? Kebanyakan teman-temannya termasuk jenis ini. Alangkah sulit menemukan seorang gadis yang setia wacana, seperti nama perguruan di kota Salatiga, Satya Wacana. Satu kata dan perbuatan. Mungkin pendirinya seperguruan dengan Maha gurunya, bukan dalam ilmu bela diri pencak silat, namun dalam bidang ilmu kebatinan, mungkin mereka berkerabat, atau kebetulan saja mereka punya pandangan hidup yang sama.

Sampai dia bertemu Santi secara kebetulan, ya kebetulan, sebab sebetulnya mereka berada dalam satu kampus, bahkan di Fakultas yang sama, namun sama sekali tidak pernah berjumpa. Mereka kebetulan bertemu ketika keduanya sama-sama menjadi panitia OSPEK, dalam rapat pertama. Santi duduk di baris depan, sedangkan Arief puas dengan duduk di barisan belakang.

Dia percaya, dengan duduk di baris belakang, dia mampu memerhatikan siapa-siapa yang duduk di depannya. Dia bisa melihat gadis dengan rambut hitam lebat, yang semula dia kira seorang gadis cantik jelita, namun ketika gadis itu menoleh, Arief kecewa sebab gadis itu bukanlah seperti yang disangkanya. Matanya agak juling dan hidungnya sangatlah pesek. Lain halnya dengan Santi. Saat gadis itu berdiri di depan sidang memaparkan rencana kerjanya, dengan jelas Arief dapat mendengar suaranya yang jernih, seolah suara seorang pelantun lagu cinta. Saat bicara, senyumnya menawan, dan matanya berkedip bagai bintang kecil di langit.

Diakah bintang kecil yang kurindukan? bisiknya pada diri sendiri. Dia ingin memastikan hal itu saat salat maghrib nanti, setelah dia usai berzikir. Pasti Tuhan akan memberinya jawaban. Dia tak ingin berandai-andai, dan bermanipulasi soal nasibnya, sebab walaupun semua di tangan Tuhan, manusia juga punya kehendak untuk menentukan nasibnya. Manusia memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Saat jeda, dia mencoba mendekati gadis itu dan menyapanya, namun seorang mahasiswa lain yang sudah mendekatinya dan memberinya ucapan selamat dengan mengulurkan tangannya. Nampaknya gadis itu senang menerima pujian yang entah apa bunyinya. Arif menahan langkahnya sampai kedua mereka selesai bicara, dan setelah itu dia melangkah maju:
“Rencanamu bagus,” kata Arief.
“Terima kasih,” sambut gadis itu.
“Santi, kan?”
“Ya. Sudah disebut oleh pemimpin rapat tadi.”
“Tapi sayang, kalau boleh aku bertanya?”
“Ya?”
“Sudah difikir baik-baik soal biaya, soal keamanan, soal cuaca. Kesehatan. Sekarang musim hujan.”

Mata Santi berkedip-kedip, bagai bintang kecil di langit. Dasar matanya berkilat-kilat, entah tenaga jiwanya yang memancarkan cahaya itu.
“Biaya nampaknya tak ada masalah, soal keamanan kan kamu yang bertanggung jawab.”

Arief merasa terpukul. Apakah karena aku dikenal sebagai pelatih silat maka soal keamanan dapat diserahkan begitu saja ke tanganku? Cuaca? Kesehatan? Memang di universitas ini ada beberapa orang dokter yang bekerja sebagai dosen, tetapi apakah mereka bisa dimintai pertolongan? Pengurus PMR apa sudah diundang rapat?

Bagaimanapun juga, rencana kemah calon mahasiswa sebagai bagian penutup dari pekan orientasi kampus tersebut tetap dilaksanakan. Dan pada hari H, saat pembukaan, Arief sudah mulai malang melintang menjaga keamanan, dan sejauh itu memang aman-aman saja, tidak ada gangguan dari luar. Namun, tetap saja Arief dan teman-teman keamanan memperingatkan agar para calon mahasiswa mengawasi sendiri barang-barangnya. Bukankah mahasiswa kali ini relatif berada. Hampir semua punya HP yang sangat diperlukan bukan hanya sebagai alat komunikasi berpacaran atau ber fb ria, tetapi juga untuk menghubungi dosen.

Di bumi perkemahan, udara dingin mengigit kulit, masing-masing kemah dijaga dua orang, setiap jam diganti dengan sepasang yang lain, sementara Arief tidak boleh tidur, dan tidak diganti oleh pertugas lain. Soal tidak tidur memang sudah menjadi kebiasaannya, namun tidak tidur lebih dari 38 jam berturut-turut membuatnya minum kopi berkali-kali. Sayang sekali, selama kegiatan perkemahan, dia tidak punya kesempatan sedikit pun untuk berjumpa dengan Santi, padahal gadis itu kepala seksi perkemahan.

Entah dimana gadis itu, dan Arief tidak berusaha bertanya dimana dia. Kalau pun dia bertanya, sebetulnya tak seorang pun akan menaruh curiga padanya, sebab hal itu terkait dengan tugas masing-masing. Namun Arief memuaskan dirinya dengan berbaring di atas bentangan tikar di luar kemah.

Dipandanginya bintang gemintang yang berkdip kedip dan memabayngkan bahwa dia menatap wajah Santi di atas latar langit kelabu yang terbentang luas tak terbatas. Benar-benar sesuai dengan lirik lagu yang dikenalnya waktu pelajaran bahasa Inggris di kelas lima SD, bertahun-tahun yang lalu yang diajarkan oleh bu Ersani: ‘twinkle twinkle little star, how I wonder what you are.’ Sekarang dia sadar bahwa lirik itu tidak tepat untuk Santi, dan dia harus mengubahnya menjadi ‘how I wonder who you are’.

Ya, siapakah engkau Santi, siapakah engkau, apakah engkau telah dikirimkan Allah untukku? Dengan fikiran itu, Arief terjatuh dalam tidur tanpa mampu menahan kantuknya. Entah dia mimpi bertemu Santi, tak ada yang tahu, dan saat terbangun saat kehangatan matahari menampar wajahnya, dia lupa tentang isi mimpinya. Yang jelas, dia dengar suara mahasiswa tertawa, entah menertawakan dia atau bersuka ria di saat perkemahan yang membuat mereka bahagia. ***

* Singaraja, awal Maret, 2012
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=329185

Categories: Cerpen