Kasnadi *

Waktu adalah waktu. Waktu adalah misteri. Maknanya sangat tergantung siapa dan dari mana memandangnya. Sewaktu jadi pecinta harta waktu adalah uang (time is money). Sewaktu menjadi para pendekar kehidupan waktu adalah pedang. Sewaktu menjadi kuli tinta waktu adalah berita. Sewaktu menjadi politisi waktu adalah partai. Sewaktu menjadi guru waktu adalah anak didik. Sewaktu menjadi pencuri waktu adalah kesempatan. Sewaktu menjadi jaksa waktu adalah perkara. Sewaktu menjadi pelacur waktu adalah harapan. Sewaktu menjadi terdakwa waktu adalah kecemasan. Sewaktu menjadi istri waktu adalah suami. Sewaktu menjadi gundik waktu adalah perdaya. Dalam perjalanannya, waktu mengandung makna yang susah dimengerti.

Siapa yang tidak peduli waktu akan digilasnya. Ia terus bergulir bak roda pedati yang ditarik sapi, –menggelinding–, menjauh dan terus menjauh tanpa henti sampai batas tanpa akhir. Adakalanya berada di bawah adakalanya berada di atas. Adakalanya di depan adakalanya di belakang. Adakalanya tertindih adakalanya terangkat. Adakalanya tergencet adakalanya tertopang. Adakalanya terpental adakalanya terikat. Adakalanya dipucuk adakalanya dipangkal. Adakalanya di hilir adakalanya dihulu. Waktu terus berjalan tiada peduli sejuta rintangan dan sejuta hambatan. Oleh karena itu, waktu pagi bergulir menjadi siang, menjadi sore, menjadi malam dan kembali menjadi siang lagi bak kehidupan metamorposis. Dalam cokromanggilingan Islam waktu selalu bergerak dari isyak, subuh, dhuhur, ashar, dan magrib. Dalam penghitungan masehi waktu berwujud dalam wadah tanggal, bulan, dan tahun.

Waktu tanpa disadari benar-benar berjalan menggelinding tiada henti. Tengoklah sejenak, beberapa tahun yang silam kita masih asyik bermain kuda-kudaan, bermain petak umpet, bermain jamuran, bermain congklak, bermain tembak-tembakan sesama teman dengan penuh canda. Tanpa disadiri, sepuluh tahun yang lalu kita sudah menikah, dan sekarang sudah mempunyai anak-cucu. Waktu terus menggelinding. Tak tahunya, jalan kita sudah tidak secepat dulu, rambut kita tak sehitam dulu, suara kita tak selantang dulu, gigi kita tak seutuh dulu, kulit kita tak semulus dulu, payudara kita tak sekencang dulu. Tahu-tahu kita sudah berubah.

Waktu menjadi sangat pendek ketika kita terbang dalam kesenangan. Waktu bisa sangat panjang ketika kita dalam cengkeraman duka. Waktu bisa menjadi longgar di kala kita sedang bernafas kelegaan. Waktu bisa menjadi sesak di kala kita sedang dalam kepenatan. Waktu bisa menjadi harapan di kala kita sedang mendambanya. Waktu bisa mencabik-cabik saat kita melenakannya. Waktu bisa teman di kala kita merawatnya. Waktu bisa menjadi musuh di kala kita menjauhinya. Waktu adalah dualisme yang dilematis. Waktu itu bisa hitam sekaligus putih, sosok yang mengerikan sekaligus menyenangkan. Waktu selalu tampak dalam oposisi biner.

Waktu bersifat tetap. Waktu tidak akan habis maka tidak perlu ditambah. Waktu tidak akan berlebih maka jangan dikurangi. Waktu tidak akan hilang maka tidak perlu dicari. Waktu selalu hadir dan setia menemani kita. Waktu tidak berubah wujud, ia selalu menjaga wujudnya. Waktu tidak pernah mengingkari janji, ia selalu berada manakala kita membutuhkannya. Waktu tidak pernah lelah, kapan saja siap menemani kita, tidak peduli siang, malam, pagi, sore, subuh maupun tengah malam. Waktu tidak pernah menciderai janjinya, ia selalu komit dengan ucapannya.

Waktu adalah waktu. Waktu sangat berguna bagi yang membutuhkan. Jika ingin berkomunikasi dengan Sang Yang Widi perlu memilah dan memilih waktu. Ada waktu yang sangat mujarab untuk memohon sesuatu kepada Sang Khaliq. Jika ingin menjodohkan anaknya orang tua perlu perhitungan waktu. Jika ingin mendirikan rumah sesorang penting mencari waktu yang tepat. Samapai jika ingin korupsi penting menghitung waktu. Waktu, sekali lagi, sangat tergantung tangan-tangan yang merengkuhnya.

Waktu sangat penting bagi umat manusia. Simaklah, perjalanan hidup tokoh Nayla dalam cerpen “Waktu Nayla” karya Djenar Maesa Ayu. Ia selalu menggengnggam waktu. Kemana pun waktu tidak lepas dari otaknya. Dalam cerpen itu, tokoh Nayla sudah terhipnotis oleh waktu. Bagi Nayla waktu sangat luar biasa pentingnya. Mengapa? Karena Nayla sudah divonis dokter hidupnya tinggal semusim semangka. Sekali lagi, tengoklah pelajaran dari Yusuf, pentingnya mengelola waktu kemakmuran sebelum terjadinya masa kemiskinan. Jaga waktu muda sebelum datangnya tua, jaga waktu kaya sebelum datangnya miskin, jaga waktu sehat sebelum tiba sakit, jaga waktu longgar sebelum datangnya sempit, jaga waktu jaya sebelum datangnya pailit, jaga waktu manis sebelum datangnya pahit, jaga waktu siang sebelum datangnya malam, jaga waktu malam sebelum datangnya siang.

Kesempatan tidak akan datang dua kali. Oleh karena itu, perlu sejenak merenungkan kata penyair Chairil Anwar dalam sajak “Diponegoro”: “sekali berarti//sesudah itu mati”.

*) Penulis adalah Staf Pengajar STKIP PGRI Ponorogo.

Categories: Esai