Dari Perjalanan Bedah Kidung Jaran Dawuk sampai Kitab Para Malaikat

Tosa Poetra *

(Sesungguhnya ini catatan yang lama, boleh dikata setengah kadaluarsa, sudah lewat setengah tahun, tapi baru kali ini aku dapat mengedit sedikit dan mencoba mempublikasikan, semoga akan ada manfaatnya)

Wal asri, demi masa aku memulai, sungguh pun harus merugi janganlah setelah mati. Dengan menyeru yang membirukan samudera, dengan segala keterbatasan aku bercerita. Semoga ada manfaatnya. Iqro, demikian dalam alquran dikatakan, entah surat apa ayat berapa aku tidak mengerti, tersebab sejak kecil jauh dari belajar mengaji. Bacalah, Tuhan memerintahkan pada umatnya untuk membaca, maka aku tak bosan membaca, meski kadang membaca membikin pusing kepala ketika yang kubaca tidak kumengerti. Aku pun ingat dari beberapa buku yang kubaca, juga pepatah yang ada “Membaca membuka jendela dunia”, dalam buku yang aku juga lupa judul dan pengarangnya disebutkan beberapa manfaat membaca; mengisi waktu luang, mencari hiburan, mendapatkan ilmu pengetahuan dan lain lagi, yang lagi-lagi aku lupa lagi. Dan syarat pembaca yang baik diantaranya; bersikap positif; tidak meremehkan bacaan yang sekiranya tampak kurang mutu, dan tidak lekas menyerah ketika bacaan terlalu susah dimengerti.

Demikian aku, di sela waktuku yang berdesakan, siang kerja sampai sore jam empat, malam kerja lagi sejak jam sembilan sampai jam dua, di waktu senggang antara jam empat sore sampai sembilan malam yang harusnya kunikmati dengan anak istri, dan antara jam dua pagi sampai jam delapan pagi yang mesthinya dapat kugunakan tidur, aku tidak mau menyiakannya, aku memilih membaca, sesekali menulis dengan segala keterbatasanku; keterbatasan pikiran, juga sarana, yang itu tidak harus kujadikan alasan untuk tidak menulis, sebab cuma orang malas saja yang tak ada waktu buat menulis/ membaca, atau menyerah dengan keterbatasan. Sekira dua tahun lalu, aku kedatangan kawanku dari lamongan dan jombang, kang nurel dan kang sabrank, kedatangannya adalah dalam rangka bedah buku nurel yang berjudul menggugat tanggungjawab kepenyairan Sutardji Calzoum Backhri, yang dilaksanakan oleh komunitas arisan sastra Trenggalek, komunitas yang kuikuti pada masa itu.

Waktu itu, kang nurel memberikan aku beberapa buku, beberapa karyanya; Trilogi Kesadaran, Menggugat Sutardji, Balada Takdir Terlalu Dini, Kitab Para Malaikat dan berapa lainnya. Buku-buku itu sudah semua kubaca, meski belum katam semua, buku trilogi, mengugat dan balada aku sedikit bisa mengeti, tetapi giliran Kitab Para Malaikat, membuat aku pusing ketika membacanya dengan cermat, sehingga kubaca cuma sambil lalu, maka apa isinya aku gak tahu. Sabtu, 9 Februari yang lalu aku ke kedai baca suket, di Jombang dalam rangka bedah bukuku Kidung Jaran Dawuk, di sana selain jumpa kawan penulis senior lain yang beri kritik masukan buatku, aku jumpa Nurel untuk ke dua kali.

Minggu 10 Februari, sekira jam 10 pagi, cak Ju, kawanku dari Kediri meneleponku, sempat kami membincangkan sedikit terkait Nurel dan Kitab Para Malaikat. Sore hari aku pulang kerja, istriku ngajak ke rumah mertua, kami pulang jam delapan malam. Kugunakan jeda waktu sampai jam 21.00 untuk membuka kembali Kitab Para Malaikat, kubaca pengantar dari Maman S Mahayana yang menyatakan: “Temukan Nurel di antara Socrates, Plato, Aris Toteles, Deridra, Amir Hamzah, Syeh Siti Djenar dan berapa nama orang besar lain”, yang itu juga tertampang di sampul depan, tepat di bawah gambar gadis bersayap.

Setelah prolog lorong gelap yang mengasyikan yang ditulis Maman S Mahayana kuselesaikan, itu cukup memberi bekal dasar bagiku mencoba memahami Kitab Para Malaikat, aku mulai menapaki lembaran Muqaddimah; waktu di sayap malaikat, tak banyak dapat kupahami, tetapi sedikit kumengerti. Lagi-lagi sedikit pusing, tapi tetap kuteruskan sampai pada IX; “Kenapa sebentar-sebentar kalian menarik nafasmu kembali? Pena ini menemani gamelan hening kalimah ke dasar misteri.” Seolah nurel hadir di dekatku, tahu aku mendesah berulang ketika membaca bukunya sebab aku tak mengerti, tatapi nurel menasihatiku untuk terus membacanya sebab penanya mengiringi gamelan hening kalimah ke dasar relung misteri. Ya, dan aku harus terus membaca sampai aku menemukan misteri, misteri kitab malaikat.

Aku kembali sendiri, menelusuri tiap bait yang ada, sampai pada XXXVI; menujulah ke diri kesucian, saat di jalan licin mendapati tongkat di tengah-tengah seberang titian . . ., seolah Nurel datang lagi, menyuruhku untuk belajar mensucikan hati saat aku hampir terpeleset dalam memahaminya dan aku mendapatkan tongkat untuk melanjutkan membaca. Dan tiba-tiba di XXXVII, Nurel mengatakan bahwa isyarat sudah cukup, ya kupikir memang sudah cukup Nurel mengantarkan aku menelusuri relung misteri Kitab para Malaikat sampai di situ, sebab aku mungkin bisa saja muntah jika terus diberi pangantar untuk mengetahui jika aku masih belum juga memahami. Terakhir dia mengatakan di XXXXIX; “Ragumu menghantui, tekatmu berjembatan, ia di sisimu di setiap enkau rebah.” Ya dia benar, jika aku masih terus ragu sebab kepusinganku selamanya aku tidak akan mampu menyibak misteri, tetapi jika tekatku kuat maka Nurel akan terus menemaniku membacanya di setiap aku ada waktu luang. Maka aku pun melanjutkan, Membuka Raga Padmi. Astaga betapa bodohnya dua tahun ini, mengapa baru kali ini aku dapat mengerti tentang Raga Padmi? Ah, nurel benar-benar menemaniku membaca.

Membuka Raga Padmi, harusnya dari awal aku sadar bahwa raga adalah tubuh, dan padmi adalah perempuan, dan tentunya membuka raga padmi adalah membuka segala hal tentang perempuan, ya dan memang itu yang kutangkap dari raga padmi yang ditulis Nurel, mengungkap banyak hal tentang perempuan, mulai keindahan fisik, psikis, kasih-sayang serta segala kenikmatan dan kenyamanan yang diisuguhkan sosok perempuan, yang menaruh surga di bawah telapak kaki bagi anak-anaknya, memberi kenikmatan bagi lelaki di selangkangannya, menyajikan segala keindahan yang memukau bagi pemujanya. Semua diungkap Nurel pada tiap larik kalimatnya yang tak perlu kusebut satu persatu, biar pembaca penasaran dan membacanya sendiri. Jika kemarin di masa skripsi aku mengkaji soal perempuan dalam puisi Rendra, maka jika sekarang ada mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang akan skripsi, aku menyarankan untuk mengkaji citra perempuan dalam puisi Membuka Raga Padmi karya Nurel.

Bedah buku Kidung Jaran Dawuk di Sanggar Suket, Sabtu 9 Februari yang lalu adalah bedah ke empat dari lima kali bedah yang terencanakan di bulan Januari-Februari, pertama di MAN Badas yang di selenggarakan Sanggar Seni Kreatifitas Arek Kediri dengan apresiator Nur Cholis dan cak Agus Haris, ke dua di Sanggar Pena Ananda Tulungagung dengan apresiator kang Siwi dan kang St Sri Emyani, ke tiga di Smart ILC Pare dengan apresiator kang Tulus Setyadi Madiun dan mbakyu Ary Nurdiana Ponorogo, sedang di Kedai Baca Suket dengan apresiator Zeus Anggara dan kang Sabrank Suparno. Sesungguhnya direncanakan pembedah tiga orang dengan kang Cucuk SP, saying beliau berhalangan hadir. Bedah di KBS itu adalah bedah terdahsyat dibanding tiga kali sebelumnya, yaitu dihadiri para dedengkot sastra di Jatim, selain Nurel dari Lamongan, dari Malang ada Deny Mishar, Ali Sarbini Gresik, Agus Rego Ilalang Nganjuk, Ahmas Fathoni Mojokerto, dan berapa nama lain dari Jombang seperti cak Fahrudin Nasruloh yang sekarang sudah almarhum, dan Rahmat Sularso RH. Juga berapa kawan dari Kediri; cak Supri, Cak Juwaeni, dari Madiun cak Tulus dan Tulungagung kang Siwi sekalian. Serta lainnya yang aku gak hafal.

Di sana aku banyak dapat masukan buat bahan referensi bagi karyaku ke depan. Dan dahsyatnya bedah hari itu, masih terasa sampai hari ini, sebelum kumulai nulis cerita ini, wakyu itu kulihat perdebatan di catatan kang Sabrank tentang makalahnya untuk bedah bukuku itu, sampai kulihat dancuk-dancukan antara kang Sabrank dan Almarhum fahrudin, dan kawan lain (sungguh kenangan yang tak terlupakan dengan almarhum cak Fahrudin, yang tak mungkin dapat terulang lagi). Wah wah, jan eram, tapi saya gak kaget, sudah biasa cak Sabrank cangkeme rusak, sama seperti cangkemku, cangkem orang liar, orang bengkel, ketemu kawan pertama kali meluncur dari mulut: cok pie kabarmu? Nang ndi wae su ratau katon? Persis seperti ketika aku membaca Raga Padmi, di tiap bait kalimatnya kalau kang Sabrank bilang mbokne hancok, aku bilang Jancok njaran. Kalau gak percaya, coba deh baca sendiri, jika ingin misuh gak karuan tiap habis baca per baitnya.

Setelah selesai membaca Raga Padmi, aku mulai menapaki lembaran hukum pecinta, yang lagi-lagi membikin pusing kepala, aku memaksa juga menyelesaikannya meski tak berapa banyak yang aku dapat, tetapi di sana aku mendapati cara menemukan diriku yang kucari di II;VI “Jadilah kekupu waktu menerima berkepompong terlebih dulu, lama memintal benang sutramu akan anggun begitu tampil.” Ya, itulah yang aku cari. Ketika dalam bedah bukuku kang Sabrank mengatakan aku tergesa menasional, sedang menasional itu berawal dari yang paling dekat, bagaimana bisa menjadi nasional jika yang paling dekat tidak kita kenal. Dalam karyaku aku menyuarakan suara orang Indonesia, menyatakan ketidak terimaanku pada pemerintahan, pada orang di Jakarta, sedang suara rakyat Jaran Dawuk sendiri sama sakali tidak kusuarakan, dan itu tentu akan membikin aku malu, ketika warga sekelilingku tahu aku menulis lantas mereka bertanya apakah aku juga menyuarakan suara mereka? Suara petani yang kebingungan air, kebingungan dengan harga pupuk yang mahal, kebingungan mau menanam jagung, kedelai atau kacang setelah mati-matian berjuang menanam padi. Lantas kembali aku bertanya, siapa aku sebenarnya? Orang Indonesia? Anak Jaran Dawuk yang hidup di kubangan oli? Atau siapa? Yang menurut bunda Zahro realitas itu tak dapat dikubur begitu saja, sebab nyata benar ketiganya.

Kemudian aku ingat kata Cak Ali Sarbini bahwa bukuku Jaran Dawuk gak ada nyawanya. Secara realitas memang buku bukan makhluk hidup, buku adalah benda mati yang tak bernyawa, yang bernyawa adalah penulisnya, tetapi hendaknya buku dapat berbicara pada pembacanya, mewakili diri pengarangnya. Dan aku melihat dalam Kitab Para Malaikat, nyata itu adalah Nurel, Nurel yang berbicara pada pembacanya. Diri Nurel ada di sana, dari sekian pengembaraannya, menelusuri buku-buku dan ilmu, pengelanaannya dari pondok pesantren ke pesantren. Ya Nurel yang besar dengan cerita kuda sembrani dari neneknya tiap jelang tidur di masa kanak-kanaknya.

Dalam Kitab Malaikat aku lihat banyak diksi menggunakan kata kuda sembrani, kuda sembrani yang bersayap, kuda itu dapat terbang, dan kuda itu adalah kuda malaikat, yang barangkali serupa buroq yang dikendarai Rosullulah waktu Isra-mikrat. Dari masjidil Harom ke masjidil Aqso hingga Sidrotul Muntaha berjumpa Tuhan dan mendapat perintah sholat. Tampilan/ penyusunannya pun disusun serupa kitab, membaca tiap judulnya seolah membaca nama surat dalam Alquran, dan tiap baris kalimatnya yang selau dikasih nomor selayaknya ayat-ayat. Melihat susunan itu juga alur bahasanya, Sekali lagi aku melihat Nurel yang akrap dengan Alquran dan kitab lainnya waktu di pondok pesantren.

Melihat keberhasilan nurel dalam kitab malaikat, aku semakin menyadari ketidak tahuanku pada diriku sendiri, siapa aku? Dimana aku? Seperti kebingunganku pada berapa hari yang lalu. Hari Sabtu, sebelum berangkat ke Jombang aku masuk kerja meski badanku sakit tak karuan, mau bolos tak berani sebab liburku dah berkali-kali, rekor bolos kerja di bengkelku aku nomor wahid, dalam satu bulan minimal aku bolos sepuluh kali, kadang pernah satu bulan aku masuk kerja cuma kurang sepuluh hari. Sabtu itu aku gak mau bolos lagi, soalnya Minggunya aku akan ada di Jombang. Sabtu malam bedah bukuku dan Minggu sore baru akan pulang. Di tempat kerja aku tidak bekerja, aku cuma tiduran di bangku bus, untuk mengusir jenuh aku buka FB, aku baca “Malam Bulan Pucat Pasi” yang ditulis kang Siwi, yang merupakan penggalan dari novel Trilogi The Legend of Bonorowo garapannya. Tiba-tiba aku tidak di dalam bus, aku ada di atas atap, aku lihat sekeliling, nampak bangunan puri-puri keraton seperti yang kulihat pada film di televisi, aku bingung, di mana aku? Bukankah tadi aku di dalam bus? Kenapa sekarang ada di atas wuwungan keraton? Apa aku terseret ke masa ribuan tahun lalu? Aku melihat diriku, aku kembali bingung, kulihat pakaian yang kukenakan bukan lagi baju kerjaku setelan kaos dan celana yang hitam oleh bercak setenpet dan oli, tapi yang kupakai adalah pakaian seorang prajurit, siapakah aku? Apakah aku telik sandi atau prajurit masa lalu?

Kudengar suara gemerit dari bawah, juga kudengar suara desah, jika aku ada di atas bus, harusnya suara desah dan gemerit itu muncul dari keriet pir waktu didongkrak, ketika sedang perbaikan mau menyetel rim, tetapi ketika aku di atas atap kutaraja, suara itu berasal darimana? Kuperhatikan dan coba mencari sumber suara itu, aku mengintip dari celah genting, asataga di bawahku tepat adalah kamar seorang puteri, nampak dia sedang tidur, anggun sekali, seketika aku tak sadar, kurasakan tiga panah menembus jantungku, entah itu panah cinta sang puteri atau panah dari pengawal kerajaan yang melihat aku ada di atas wuwungan kotaraja. Aku tak sadar diri entah berapa lama, sampai kubuka mataku, aku sudah ada di dalam bus kembali.

Aku tak tahu apakah kejadian itu mimpi ataukah halusinasi karena pengaruh baca tuisan kang Siwi, atau itu adalah pepiling dari gustiku agar aku sadar diri, agar aku kembali pada diriku sendiri. Ya, diriku sendiri, seorang anak Jaran Dawuk yang hidup di kubangan oli, bukan di alam puisi. Ya kehadiranku di dunia sastra kusadari seperti kehadiranku di suasana kota raja, aku terpesona paras sang putri, terjatuh cinta pada puisi, hingga aku terpanah, dan kembali di atas bus. Ya kupikir aku harus kembali jadi anak Jaran Dawuk yang hidup dikubangan oli, dan ketika aku jatuh cinta pada puisi, harusnya suara orang-orang Jaran Dawuk yang kuteriakkan, petani yang kebingungan air waktu tanam, gemerit pir, pertemuan baut dan mur, putaran roda-roda. Itu yang harus kuceritakan, kubahasakan. Kecuali aku mau bunuh diri. Bunuh diri dalam artian apa? Seperti yang diceritakan Maman S Mahayana dalam pengantar bukunya Nurel tentang Socrates yang memilih meminum racun ketimbang menghiyanati keyakinannya berekspresi? Lantas di mana letak keyakinanku dalam berekspresi jika aku harus bunuh diri? Atas nama kebebasankah? Bebas berekspresi? Dalam artian bebas di mana? Bebas berteriak sesukaku mengungkapkan apa saja? Bebas lepas tidak menyuarakan suara orang Jaran Dawuk? Bebas lepas dari oli? Kurasa tidak. Aku tak akan bisa lepas dari kenyataan hidupku jika aku mau menjadi aku, mau mengetahui diriku.

Lantas bagaimana dengan Kidung Jaran Dawuk yang tak menyuarakan suara petani di Jaran Dawuk, tak menyuarakan deru kenalpot, dengung mesin, dan gemerit pir? Apakah aku akan mempertahankan kebebasan berekspresi yang lepas dari semua tentang diriku sendiri seperti dalam buku Jaran Dawuk itu, yang nyata jika itu kulakukan adalah perbuatan bunuh diri. Dan aku pun telah melakukannya, telah bunuh diri dengan buku itu. Kemudian kuingat kata kang Deni Mishar dalam bedah bukuku itu juga, dia mengatakan, tentunya orang akan berfikir seribukali untuk bunuh diri, andaipun terpaksa bunuh diri, maka cukuplah sekali, jangan bunuh diri berkali-kali.

Jauh sebelum aku meluncurkan buku Jaran Dawuk, aku pun sadar tentang buku itu, yang sebagaimana kukatakan di pengantar yang kutulis, jika itu belum pantas dianggap puisi, maka anggaplah sebagai bagian dari proses bagi anak Jaran Dawuk untuk mencapai taraf yang disebut puisi. Aku teringat waktu bedah di Smart ILC, seorang dari yogya mengatakan bahwa komunitasnya di Yogya telah melanglang buana di berbagai media masa di Indonesia, tetapi belum berani menerbitkan buku, tetapi kenapa aku berani? Dengan mudah aku menjawab, apa yang aku takutkan? Bukuku tak laku dijual dan merugi? Apakah aku takut kritik? Aku tidak takut rugi, dan bukankah dengan kritik kita kan dapat belajar menjadi lebih baik lagi. Sudah sejak jaman dahulu proyek buku puisi adalah proyek merugi, tapi bagiku menulis adalah ibadah, dan tidak ada kata rugi dalam beribadah. Selain itu, buku jika tak terjual juga tidak akan basi seperti nasi, yang begitu basi dibuang, tapi sejelek apapun buku/ karya akan tetap ada yang menghargai, setidaknya diri kita sendiri, sebab sebagaimana dikatakan Nurel padaku ketika itu, “Bagaimana mungkin orang lain menghargai karya kita, kalau kita sendiri tak menghargainya.”

Yang pernyataan itu sempat kukatakan terbalik: “bagaimana kita menhargai karya orang lain jika tidak menghargai karya sendiri. Dan meskipun kukatakan terbalik seperti itu Nurel berkata: “Kau balik seperti itu juga tak apa, dengan menyebut pendapatku juga dengan kepahamanmu di atas, kayaknya asyik.”

Dalam bedah bukuku di Jombang kemarin aku mendapatkan banyak kritikan, yang semua aku terima dengan sangat terimakasih, betapa besarnya perhatian kawan-kawan padaku, pada dunia sastra, mereka meluangkan waktu, biaya dan tenaga dari kotanya datang ke Jombang, meluangkan fikiran untuk menilai karyaku dan memberikan masukan. Sungguh luar biasa, dan seperti kukatakan pada bunda Zahro aku serasa ingin menangis haru, ketika melihat foto bersama kami di acara itu. Terimakasih berulang kuucapkan pada kawanku semua, atas kehadirannya, masukan-masukannya yang telah menyadarkan aku siapa diriku yang sebenarnya dan mengantar aku kembali pada diriku yang sesungguhnya “Anak Jaran Dawuk yang hidup di kubangan oli”. Aku ingat cak Juwaeni, yang ketika melihat aku mendapatkan banyak kritikan, bahkan ketika dikatakan bukuku tidak bernyawa, beliau mengajak untuk melihat dari segi kedalaman makna dan proses kreatif yang ada, tidak cuma melihat dari tampilan luar saja. Yang itu dijawab Nurel dengan mengatakan, bagaimana tertarik melihat isinya, melihat baris pertama dan ke dua saja sudah tidak menarik. Ya benar kata cak Ju, ibarat melihat orang jangan cuma melihat luarnya, jangan cuma melihat tampilan rambut gondrong dan tatoan lantas menyimpulkan, tanpa melihat kebaikan dalam hatinya, tetapi memang yang berlaku di masyarakat umum kebanyakan demikian, melihat penampilan luar saja dahulu. Sebagaimana Benar juga kata Nurel, jika tampilan luar tak menarik, sudah memberikan kesan buruk, bagaimana mau melihat ke dalam.

Dan kesimpulanku adalah, bagaimana pun kebaikan jika tidak disampaikan dengan cara yang baik, akan sulit diterima orang lain. Sebagaimana yang kubaca berapa waktu lalu di sebuah buku di rumah kang Prio Pambudi, seorang sastrawan sekaligus pengusaha aquarium di Trenggalek, dalam puisi sebagaimana pun dalam yang makna disampaikan, tetapi jika tidak mengindahkan bahasanya maka akan sulit diterima demikian pula sebaliknya, sebagaimana pun indah bahasanya jika tidak menghiraukan makna, maka akan tidak berguna. Lain hal bukuku dengan buku Nurel, yang senyata tak dapat dibandingkan, layaknya prosesku dan proses Nurel yang memang belum dapat di setarakan, memang harus diakui bahwa Kitab Para Malaikat, tak cuma menyuguhkan keindahan bahasa tetapi juga kedalaman makna yang disampaikan khas cara Nurel. Meskipun belum semua yang ada dalam Kitab Malaikat dapat kumengerti sebab kedangkalan pengetahuanku.

Ketika itu aku mulai aku telah menyadari diriku sendiri, sebagaimana dikatakan mbak Ary dalam bedah di Smart ILC bahwa aku masih mencari jatidiri, dan ketika itu bak Ary mengatakan jika jati dirinya adalah seorang guru maka kukatakan jatidiriku adalah seorang mekanik. Yang jadi PR-ku kini, bagaimana aku dapat mengusung pesan yang bermakna dengan cara/ bahasa yang menarik sehingga dapat mudah diterima, dan menunjukkan kesejatianku sebagai anak Jaran Dawuk yang hidup di kubangan oli. Itulah yang ketika itu aku belum tahu dan hingga kini terus kucoba gali. Dan kebelum tahuanku ketika itu seolah menjadikan aku mati, tetapi Nurel menyadarkanku melalui Hukum-hukum Cinta II;VI: “Untuk sedia menjadi kepompong dahulu, merenung dan menyatu dengan alam Jaran Dawuk, merenungkan oli dan besi-besi di garasi.

Setelah bedah di jombang itu aku masih punya satu kesempatan lagi menjadi ulat bulu, yaitu bedah bukuku di Mojokerto tanggal 23 Februari, Acara yang diselenggarakan Komunitas Arek Japan (KAJ) yang diketuai Ahmad Fatoni, dengan pembedah Bpk Khamim Kohari. Ketika itu aku bertekat akan memakan setiap helai daun pelajaran di sana nanti yang akan kulanjutkan dengan menjadi ulat di Kitab Malaikat, mengerogoti tiap kalimat. Ya, aku akan terus membaca Kitab Malaikat sampai tamat, agar aku dapat segera berkepompong dan kelak mampu menjadi salah satu malaikat.

Sebagai penutup cerita, kukatakan pada saudaraku sekalian, inilah cerita dari bedah buku Kidung Jaran Dawuk sampai pada Kitab Para Malaikat. Cerita bunuh diriku, ceritaku menjadi ulat bulu, yang ketika itu kupikir dengan dengan hasil bedah di Jombang itu akan menyurutkan penjualan buku Jaran Dawuk atau mungkin semakin membunuh diriku, menjatuhkanku, tetapi ternyata tidak. Dari 500 eksemplar yang kucetak kini hanya tersisa beberapa puluh buku saja. Alhamdulilah kritik itu malah membuat semakin laris. Bahkan pada 13 Juni 2013 lalu aku diundang ke di aula kantor PKK Kab Nganjuk untuk bedah buku Jaran dawuk, ketika itu dengan pembedah Cak Juwaeni dan Kang Arim Kamandaka dari Ponorogo. Inilah pengalaman yang kuceritakan yang mungkin dapat berguna bagi orang lain sebagai bahan pelajaran. Terakhir kukatakan sebagai penutup cerita, jika puisi itu serupa ilham, bacalah Kitab Para Malaikat. Salam hormat , dan selamat berkarya.

19 Agustus 2013