Opera Primadona, Opera Melayu?

Fakhrunnas MA Jabbar *
Riau Pos, 8 Sepr 2013

OPERA Primadona karya teaterawan terkemuka Indonesia, Nano Riantiarno pada hakikatnya berkisah tentang konflik yang tak habis-habis di sebuah kelompok teater Miss Kecubung. Cukup lama masa kejayaan Miss Kecubung yang dipimpin oleh Miss Kecubung (Mimi Suryani), seorang perempuan ambisius dan berkuasa melebihi suaminya sendiri, Rojali (Sujarhadi) yang menjadi sutradara tunggal kelompok itu. Dominasi Miss Kecubung benar-benar terusik dengan munculnya Seroja yang mendapat simpati Tuan Rojali dan para penggemarnya. Kecemburuan Miss Kecubung sampai pada puncaknya ketika mencurigai adanya dugaan perselingkuhan suaminya dengan Seroja.

Padahal Seroja sendiri menaruh hati dan simpati pada Megat Sejagat (Ekky Gurin Andika), salah seorang anggota kelompok teater yang selalu mendapatkan peran menonjol. Bahkan kelak, Megat ketika sudah keluar dari Miss Kecubung membentuk kelompok sendiri dan kaya raya. Kegalauan hati Miss Kecubung mencapai puncaknya ketika Seroja disuruh ‘kawin paksa’ dengan Atan Sengat, anggota grup yang baik hati tapi tak berdaya pada dominasi Seroja. Perkawinan itu sesungguhnya hanya ‘sandiwara’ karena selama 50 tahun usia perkawinan mereka, tak pernah sekali pun Atan meniduri isterinya, Seroja.

Puncak cerita, Seroja memutuskan meninggalkan grup Miss Kecubung yang berujung pada tragedi jatuh stress hingga wafatnya sang sutradara, Tuan Rojali. Akibatnya Kecubung ikutan stress dan hidup merana. Sementara Seroja yang sudah jatuh di pelukan Megat dibuat kecewa karena Megat memiliki sejumlah selingkuhan dan hidup tak beraturan dengan mabuk-mabukan hingga meninggal dunia. Tinggallah Seroja yang lusuh dan patah hati dalam usia senja. Saat itu, suaminya Atan Sengat bertekad meninggalkannya karena seusia perkawinan mereka hanya menangguk kekecewaan. Cerita ini berakhir dengan bersatunya Seroja dan Atan menjalani sisa usia mereka.

Selama lebih dua jam, pertunjukan Opera Primadona yang disutradarai Fedli Azis, seorang anak muda penggiat teater Riau di bawah bendera Sanggar Teater Selembayung- Teater Senja SMAN 5 Pekanbaru- digelar di Gedung Teater Idrus Tintin, Bandar Serai, Pekanbaru, Sabtu malam (31 Agustus 2013) lalu. Fedli bersama para pendukung pertunjukan itu boleh berbangga hati. Gedung kesenian yang megah berkapasitas 600 orang itu terlihat penuh. Bahkan, hampir semua penonton dibuat tak beranjak dengan decak kagum.

Seroja, nama tokoh utama dalam opera ini diperankankan oleh Chairanny Putri bersama Miss Kecubung yang egois dan sok berkuasa ditambah keberadaan Tuan Rojali yang berperan sebagai sutradara di grup teater itu, menjadi penentu keberhasilan pertunjukan ini.

Kebingungan Seroja ikut disulap menjadi kebingungan para penonton pertunjukan Opera Primadona ini. Pasalnya, Nano Riantiarno yang menulis naskah itu sengaja membuat semua orang bingung. Dalam cerita masih ada cerita. Dalam panggung masih ada panggung.

Akibatnya, cukup sulit membedakan antara realitas panggung dan realitas cerita yang diperankan para pelakon. Dari sudut konflik inilah kisah Opera Primadona ini menjadi punya daya tarik dan rasa penasaran.

Ada hal menarik terkait pertunjukan Opera Melayu ini. Naskah dan alur cerita yang sangat bernuansa Jawa -sebagaimana rumah kebudayaan Nano Riantiarno- ternyata dijamah dan diaduk oleh Fedli Azis dengan tafsir Melayu sepenuhnya. Tak ayal lagi, nama-nama tokoh dalam cerita diadaptasi ke suasana kultural Melayu. Begitu pula dialog-dialog yang lancar dan kocak dan penuturan khas Melayu benar-benar membuat para penonton terpingkal seolah sedang berada dalam sebuah ranah kehidupan alam Melayu.

Apalagi dukungan penata musik yang mengaloborasi kekuatan Matrock (Zalfandri) dan Iskandar, Indra Permana, Hardi Wahyudi, Rakis Fadly dan vokalis Siska Mamiri dan Ririn Jauharaini. Rangkaian musik dan nyanyian yang benar-benar beranjak dari irama Melayu modern membuat Opera Primadona sangat menghibur.

Pertunjukan Opera Primadona yang didukung para pemain muda berbakat dari Sanggar Selembayung dan Sanggar Senja di bawah pembinaan SMAN 5 Pekanbaru ini boleh dibilang berhasil. Para pelakon yang bersuara lantang di tengah system akustik gedung teater yang kurang memadai. Namun, teriakan demi teriakan saat berdialog menimbulkan kesan seolah-olah jalinan kisahnya begitu sarat konflik. Pasalnya, para pemain yang memiliki keterbatasan olah vocal mau tak mau harus berteriak keras.

Tafsir Melayu yang dilakukan Fedli tampak benar-benar menyeluruh. Dialek Melayu begitu kental terasa dalam sepanjang pertunjukan. Penonton benar-benar merasa bahwa tragedi yang terjadi di grup teater Miss Kecubung ini seolah-olah terjadi di Tanah Melayu sendiri. Terasa dialek daerah yang khas bila disaksikan oleh para pengguna bahasa yang berasal dari daerah yang sama menjadi komunikatif, menarik dan mempesona. Begitu pula, latarbelakang dan setting panggung yang umumnya memperlihatkan suasana interior seperti kamar tamu, kamar tidur, katil dan tilam, meja rias benar-benar mencerminkan kehidupan keseharian orang Melayu.

Sekali lagi, inilah pertunjukan teater yang kaya dengan sandiwara di panggung dan sandiwara di alam nyata. Nano Riantiarno telah mengemasnya dengan asyik. Dan Fedli Azis pun berhasil memberi tafsir Melayu di atasnya sehingga penonton menyaksikan dengan nyaman dan penuh gelak tawa. Fedli berhasil menggabungkan semua kekuatan unsur-unsur teater dengan baik. Pertunjukan ini patut ditonton semua kalangan dari yang muda hingga dewasa. n

*) Fakhrunnas MA Jabbar, sastrawan, penikmat teater, tinggal di Pekanbaru.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/09/opera-primadona-opera-melayu.html