Sehelai Selendang Seikat Mawar, Antologi Puisi Hari Kelahiran

Tita Tjindarbumi *
Lampung Post, 28 Juli 2013

SETIAP judul dan cover buku tak muncul begitu saja. Ada kisah yang berarti ketika penulis menentukan judul dan perwajahan bukunya. Demikian pula, buku mungil yang ditulis oleh Angeline K. Tahir, yang diterbitkan untuk mensyukuri Tangis Pertama Hari lahir.

Buku setebal 117 halaman yang dikemas cantik berukuran mungil bersampul biru, lengkap dengan buket mawar dan untaian mutiara menggambarkan kelembutan hati sang penulis penyuka bunga hidup, dengan mawar sebagai pilihan. Sementara untaian mutiara menggambarkan citra rasa yang tinggi sekaligus kelembutan hati pemilik buku puisi yang diwarnai dengan foto-foto sahabatnya.

Hari kelahiran bagi Angeline, seperti yang diungkapkan dalam “prakata” tak selalu dilihat atau diukur dengan pesta pora. Doa, ucapan selamat, ciuman penuh kasih dari orang-orang terkasih adalah kado yang sangat berarti, sangatn istimewa baginya. Bahkan bagi Angeline, demikian perempuan cantik ini biasa disapa, menyendiri dalam sepi, merenung adalah sebuah kemewahan baginya.

Tetapi mengapa mawar dan bukan lukisan rembulan di suasana malam yang remang yang dipilihnya sebagai cover, sehingga antara cover dan judul buku yang menggunakan kata “rembulan” menjadi gambaran yang jelas tentang isi buku, judul dan gambar? Bisa jadi Angeline punya pertimbangan khusus soal ini…

Di dalam buku ini ada sekitar 20 judul puisi yang ditulis oleh Angelin K. Tahir dengan berbagai tema, sekitar 50 judul puisi yang ditulis oleh sekitar 35 sahabat Angeline, puisi istimewa yang ditulis sebagai kado istimewa untuk memperingati hari kelahiran Angelin, perempuan, istri seorang dokter yang tak hanya menyukai sastra tetapi juga terlibat dalam dunia sastra lewat puisi-puisi pendek yang dalam maknanya.

Cahaya, bayang-bayang, malam, alam dan perjalanan hidup adalah sebagian tema yang sketsanya direfleksikan Angelin dalam untaian kata, puisi yang lembut namun terasa gejolak hati dan jiwa seorang Angelin.

Kisah Malam

Langit gulita
Lagu malam menyibakkan rindu pada kunang-kunang
Semesta diam seakan paham
Aksara tergores pada halaman yang semakin menguning, melewati masa
Perjalanan semusim demi semusim
Bukankah rindu selalu menggoda di sepanjang malam yang gelap gulita

Jakarta, 14 Desember 2012

Puisi Angelin ini, menggambarkan tentang perjalanan dari waktu ke waktu. Malam yang penuh rindu, rindu pada apa atau siapa? Hanya Angelin yang tahu…

Setiap perjalan selalu ada kisah, seperti kisah tentang Bandrek Jagung, puisi Angeline yang menggambarkan suasana, cuaca daerah Jawa Barat yang dingin.

Bandrek Jagung

Malam tiba berdasma rinai
Meningkahi bisik lembut seruling, lirih
Bait demi bait kisah dilantunkan

Ada sedepa jarak di antara kita
Sementara gigil tak juga hendak berlalu, kian menggigit
Segelas bandrek menyusup ke kerongongan yang kering,
sepi kata-kata, selorong sunyi
sejuta aksara di sinar mata, cukuplah

Segelas bandrek meruntuhkan gigil dalam batok kelapa
sementara jagung berendam selamanya, tanpa suara, pasrah
gigi berkawan lidah, perlahan melumatnya

Ada sedepa jarak antara kita
Segelas bandrek dalam batok kelapa, hangat, sederhana,
menemani, menyelimuti aksara
Mungkin jarak sedepa menjadi terlampau jauh

Cihideung, Jabar, 27 Pebruari 2013

Dalam puisi Angelin ini, pembaca akan dapat menangkap makna puisi yang menggambarkan suasana Cihideung yang dingin. Tentang jarak sedepa yang terasa jauh, semacam rasa keterasingan yang tak bisa dienyahkan dengan segelas bandrek dan jagung rebus yang pasrah.

Puisi, sebagaimana biasanya, adalah ungkapan hati penulisnya. Apakah Angelin ingin yang lebih dari segelas bandrek jagung? Hmmm…ini puisi yang menggelitik dan setidaknya Angelin mampu membuat imajinasi saya meliar ketika membaca puisi ini dan tersenyum sendiri sambil membayangkan wajah penulis puisi hangat ini.

Puisi sahabat, puisi penuh kasih untaian mutiara yang tak ternilai

Puisi penuh kasih dengan tema berbeda yang ditulis para sahabat, semuanya menggambarkan betapa pertemanan, persahabatan adalah kasih yang sejati. Puisi yang ditulis oleh teman penyair, seperti Shinta Miranda, Kurnia effendi, Nita Tjindarbumi, Evi Manalu, Nestor Rico Tambunan, Saut Poltak Tambunan, Jodi Yudono, Evert Maxmillan Pangajouw, Magi Luna, Dharmadi, Giyanto Subagio dan nama-nama lainnya, adalah puisi pilihan yang menggambarkan tali kasih untuk seorang Angelin yang sedang memperingati hari kelahirannya.

Semua puisi sahabat dalam buku ini, tentu bukan puisi asal-asalan para penulisnya. Semua puisi untuk Angelin adalah baris kata yang lahir dari lubuk hati sebagai tanda kasih pada Angelin, perempuan penuh senyum yang sedang berbahagia di hari kelahirannya.

Hutan Perempuan 8 ( Giyanto Subagio)

selembar potret
bergambar aku dengan seorang perempuan dari masa depan
kita senasib dan sepenanggunan mengulum sunyi bersama-sama
nasib bukan lagi kesunyian masing-masing

makan malam yang nikmat ala timur dan barat
dengan daftar menu utama : persahabatan,
persaudaraan, dan kasih sayang

di atas apartemen yang tinggi menjulang
diam-diam sunyi menyelusup ke balik kamar
lalu bersembunyi ke dalam laptop

Puisi Giyanto yang menggambarkan persahabatan dengan seorang yang tinggal di sebuah aparteman, dan sahabat itu adalah Angelin. Puisi yang menggambarkan tentang persahabatan dan kedekatan tanpa membedakan suku, ras, dan status sosial.

Masih banyak lagi puisi manis di buku ini yang tak mungkin dipaparkan satu persatu. Mungkin ada baiknya buku ini tak hanya dicetak terbatas agar teman, penikmat sastra dan para sastrawan bisa ikut membaca dan menikmati berbagai menu dalam bentuk puisi yang ada di dalam buku bersampul biru ini.

*) Tita Tjindarbumi, sastrawan
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/07/buku-sehelai-selendang-seikat-mawar.html