Gus Mus: Jadikan Kebudayaan sebagai Panglima

Yuyuk Sugarman
Sinar Harapan, 5 Okt 2013

“Bangsa ini tidak kreatif,” kata Kiai Haji Musthofa Bisri atau yang biasa dipanggil Gus Mus, saat membuka pameran lukisan Nasirun, Selasa (1/10) malam.

Ketika zaman Bung Karno, politik dijadikan panglima. Setelah itu, di era Soeharto, ekonomi dijadikan panglima. Kini, politik kembali dijadikan sebagai panglima.

“Mbok ya sekali-kali kebudayaan yang dijadikan panglima,” tegas Gus Mus yang disambut tepuk tangan meriah tamu undangan yang duduk lesehan di halaman Bentara Budaya Yogya (BBY) dan di Jalan Suroto yang malam itu sengaja ditutup. Ada seribu undangan yang disebar.

Selasa malam itu, BBY memang terasa istimewa. Selain banyak tamu istimewa yang hadir, seperti Gus Yusuf, Ulil Absar, GBPH Prabukusumo, Radhar Panca Dahana, Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, juga terlihat gedung BBY disulap.

Oleh Ong Hariwahyu, seniman Yogya yang ditunjuk sebagai art director perhelatan itu, gedung BBY dibalut gedhek dengan konsep layaknya omah lawasan (rumah kampung) yang bentuknya mirip langgar.

Sementara pepohonan yang tumbuh di halaman dihias dengan berbagai aneka buah, ada pisang, semangka, jeruk, terong, padi, cabai merah, kacang panjang, nanas, dan masih banyak jenis sayuran atau buah-buahan lainnya.

Suasana istimewa ini memang sengaja dibuat untuk menyemarakkan ulang tahun ke-50 perupa kondang Nasirun yang dibarengi dengan pameran lukisan. Ada sembilan bedug dan wayang dengan sosok para sunan yang mengingatkan pada Walisongo. Kemudian ada lukisan sepanjang 50 meter.

Lukisan ini—meski sudah direspons Nasirun—merupakan karya 50 perupa Yogya yang mencoba menafsir Nasirun. Dalam pameran ini Nasirun mengangkat tema “Rubuh-rubuh Gedang”. “Bagi saya, rubuh-rubuh gedang artinya kerendahan hati,” ujar Gus Mus.

Pengasuh pondok pesantren Raudhlatuh Tholibin, Rembang, itu lantas bercerita. Ia tak habis pikir bila Gusti Allah itu hanya dianggap Pangerannya orang-orang apik, bukan Pangerannya orang yang jelek. “Gusti Allah itu Pangeran semua orang,” tegasnya.

Gus Mus mengutarakan saat ini kehidupan bangsa ini penuh dengan gejolak konflik antarkepentingan. Kelompok yang berbeda identitas agama bertikai, saling berebut klaim Tuhan merekalah yang paling benar. Orang juga tak bisa membedakan antara Islam dan Arab.

Islam dimaknai hanya milik orang yang bersorban saja. Ditegaskan, Islam di Indonesia tumbuh dengan bersentuhan dengan nilai-nilai budaya. “Islamnya Indonesia itu ya (tecermin dalam) Pancasila,” tutur Gus Mus lagi.

Relevan

Gus Yusuf Chudlori, pengasuh pondok pesantren Tegalrejo Magelang, menilai tema yang diangkat dalam pameran ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Bedug, tutur Gus Yusuf, adalah penanda bagi orang untuk segera menuaikan ibadah salat. Bedug ini jelas tak dikenal di Arab, namun hanya dikenal di Indonesia.

Ia menambahkan, begitu tepat bila Walisongo sebagai penebar agama Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan sehingga menjadikan Islam yang damai dan toleran. “Saya berharap dari seorang Nasirun dengan semangat keislaman yang berbudaya bisa menyebar ke seluruh bangsa Indonesia,” kata Gus Yusuf.

“Saya kira kita semua, baik seniman, budayawan atau negarawan punya tanggung jawab moral menjaga nilai-nilai yang muncul dalam kearifan lokal,” sambung Nasirun.

Ia juga mengajak siapa pun untuk mencontoh tokoh Petruk selaku punokawan yang ngemong para kesatria Pandawa. “Petruk itu berasal dari bahasa Arab yang artinya bergegaslah (untuk) meninggalkan hal-hal yang buruk, dan kerjakanlah yang baik,” ujar Nasirun.

Perhelatan ulang tahun dan pameran lukisan Nasirun malam itu juga dimeriahkan dengan kesenian Dames, Wayang Jemblung, penampilan Slamet Gundono, Marwoto, Den Baguse Ngarso, serta Kirun yang sempat membuat gelak tawa hadirin.
***