Rudy Polycarpus
Media Indonesia, 6 Okt 2013

Oda Nobunaga memiliki impian dahsyat untuk menyatukan Jepang di bawah satu pemerintahan dan mengakhiri zaman peperangan. Dia pemimpin yang cerdas dan jenius, ahli strategi dan taktik, dan punya visi dan misi yang jauh ke depan.

ODA Nobunaga ialah salah satu tokoh berpengaruh di Jepang pada abad ke-16 yang terkenal akan visinya, yakni menyatukan bangsa ‘Negeri Matahari Terbit’ di bawah kepemimpinannya. Bagi penggemar keshogunan Jepang, buku berjudul Oda Nobunaga, sang Penakluk dari Owari karya Sohachi Yamaoka ini pasti sudah tak asing lagi.

Buku novel sejarah ini menggambarkan masa kanak-kanak dan remaja Oda Nobunaga. Di dalamnya dikisahkan masa-masa indah kanak-kanak, cerita cinta yang unik dan lucu, dan juga tentang perjuangannya dalam memberantas pemberontakan dari sukunya sendiri.

Nobunaga merupakan anak kedua Oda Nobuhide, seorang gubernur militer yang mempunyai wilayah di Provinsi Owari. Di masa kecilnya dan awal masa remaja, Nobunaga dikenal karena perilakunya yang aneh dan mendapat julukan Owari no Outsuke yang artinya ‘si Bodoh dari Owari’.

Dalam buku ini, Sohachi Yamaoka banyak mengupas visi dan misi Nobunaga dalam menaklukkan Jepang semasa kekuasaannya. Dalam sejarah Jepang, ia tercatat sebagai salah satu tokoh pemersatu Jepang bersama Leyasu Tokugawa dan Toyotomi Hideyoshi.

Nobunaga, yang dianggap paling kontroversial dalam sejarah Jepang, sering melakukan hal yang tidak lazim atau biasa, dengan kata lain sering menggunakan logika terbalik. Namun di balik semua kontroversinya, Nobunaga seorang pemimpin yang cerdas dan jenius, ahli strategi dan taktik, bisa membaca pikiran lawan, dan punya visi dan misi yang jauh ke depan, yaitu menciptakan perdamaian dan persatuan Jepang.

Nobunaga hidup pada zaman kekacauan kala banyak perang saudara dan antarsuku terjadi. Dalam sejarang Jepang, era tersebut merupakan zaman paling berdarah.

Ketika beranjak remaja, ‘si Bodoh dari Owari’ menjelma menjadi sosok ambisius dan bengis yang menjalankan kekuasaannya di Kastel Nagoya sejak masih sangat muda.

Setan merah

Menurut sejarah, karakter bengis Nobunaga tergambar ketika memerintahkan pembakaran semua penentang yang terkepung di Kuil Enryakuji. Tindakannya itu membuatnya dijuluki ‘Setan Merah’.

Namun, di balik karakternya tersebut, ia adalah sosok pemimpin genius, ahli strategi, serta memiliki visi yang jauh melangkah ke depan. Karakter tersebut digambarkan dan digali secara sederhana tetapi cukup detail oleh sang penulis. Buku ini juga menceritakan intrik di tubuh klan Oda yang melibatkan sang adik kandung, Oda Nobuyuki.

Buku ini merupakan novelisasi kehidupan sosok pria yang lahir pada 23 Juni 1534 itu. Selain menggambarkan karakter Nobunaga, Yamaoka juga menyematkan kisah pertemanan sang tokoh utama dengan Tokugawa Ieyasu. Pun kisah cintanya dengan Putri Noh, anak Saito Dosan, tokoh berpengaruh lainnya. Kisah cintanya dengan Putri Noh merupakan tonggak awal kecemerlangan visi Nobunaga.

Buku edisi pertama ini dicetak Kansha Publishing dengan tebal 465 halaman. Penggambaran tokoh, tempat, dan peristiwa dalam buku ini cukup detail, membawa pembaca secara tidak langsung mendapat pengetahuan tentang sejarah, topografi, geografi, dan sosiologi masyarakat Jepang. Meski bukan buku pertama yang mengangkat kisah Nobunaga, bagi penyuka kisah para pesohor samurai Jepang, Sang Penakluk dari Owari cukup memikat untuk dibaca sebagai bahan acuan sejarah seorang tokoh.

Yang belum pernah mengetahui latar belakang sejarah Jepang mungkin akan kesulitan mencerna sistem pemerintahan yang sedikit rumit. Namun, lewat tulisannya, Yamaoka secara cerdas mampu membawa pembaca mengatasi kesulitan pembaca melalui alur keluarga (klan) dan sistem kekuasaan di Jepang.

Buku ini dikemas penulis secara sederhana, tetapi tak monoton. Penggambaran suasana dan dialog antartokoh menjadi bumbu yang mengasyikkan sembari mempelajari sejarah salah satu negara termaju di dunia ini. Kekurangan novel biografi ini yaitu pembaca harus bersabar menunggu buku edisi kedua untuk mengetahui kisah lebih jauh Nobunaga.

miweekend@mediaindonesia.com
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/10/jendela-buku-samurai-sang-pemersatu.html

Categories: Esai