Nita Cahya

Langkah ragu menyayat kalbu, sambil ku genggam erat jemari Chaila, bidadari sekaligus malaikatku. Aku ayunkan kaki menuju rumah dari anyaman bambu itu, yang masih berdiri kokoh meski sesudutnya penuh kotoran, sarang laba-laba pun berdebu.

Di halamannya, daun-daun mangga bertebaran. Tak berselang lama, sorot mataku terpaku ke samping rumah, terlihat sebuah tempat masa depan yang pintunya tertuliskan nama Abdullah dan Rokyiah, yang tak lain kedua orang tuaku. Tangisku menderai jauh dan Chaila bingung sambil mengelus-ngelus kepalaku, yang saat itu bersandar di pundaknya.
***

Pernah aku berfikiran konyol selayaknya orang gila. Ataukah aku benar-benar edan? Entahlah, ini semua karena kehilangan mutiara-mutiara cintaku.

Aku memang seorang yang tak tahu menempatkan diri. Baru setahun inilah fikiranku bisa mengalir ke arah murni, semenjak bertemu sesosok malaikat.

Dia pantau sesudut lelangkahku, membenahi kerangka-kerangka bejat yang ada di tubuhku, selayaknya motor rusak aku diotak-atik olehnya.

Tangisku mendera kala ingat itu, saat diriku berada dalam mimpi buruk. Berawal sedari masa kecil kelas dua SMP, temanku Dania, yang merupakan lawan peruntukan prestasi di kelas, yang nilai kita selalu bekejaran, melihat jari-jemariku.

“Jarimu menakutkan” katanya, sambil berteriak sampai teman-temanku mendengar suaranya.

“Kata ayahku, seorang yang mempunyai jari telunjuk dan jari manis sejajar, berarti dia nantinya akan jadi homoseksual.”

Aku sebetulnya tak tahu seluk-beluk homoseksual, tapi pernah baca di sebuah koran, bahwa itu semacam rasa suka pada sesama lelaki. Saat itu aku tertunduk, semua menertawankan selayaknya aku badut yang beratraksi lucu. Ku genggam erat jemari, tetapi mereka tak henti-hentinya mengejekku.

Aku tak perduli apa kata mereka, yang jadi acungan langkah belajar untuk mencapai cita. Namun di esok hari itu, cahaya yang bersinar di wajahku redup. Di majalah dinding sekolah tertempel wajahku yang menyatakan menyukai sesama laki-laki. Dan apa yang terjadi? Semua orang menjauh, terutama teman-teman lelaki. Mereka kabur saat melihatku seolah melebihi setan, ada yang sampai kencing di celana kala menatap wajahku.

Pikiranku terombang-ambing. Aku berasa di sebuah hutan yang di dalamnya dipenuhi serigala-serigala tidak bersahabat. Guru laki-laki pun menatapku seakan musuh, dan tak mau mendekati. Tidak seperti dulu, para guru sering memperhatikan, sebab aku salah satu pencetus piala-piala berjejer di kantor sekolah.

Semakin lama aku muak dengan mereka, pikiranku sudah tidak bisa terfokus pada pelajaran. Sampai di suatu malam, aku digiring seorang laki-laki berjubah, menuju bilik kecil atau sumber air di samping rumah. Dia menunjukkan sebuah istana yang indah, di situ hanya ada laki-laki yang tampan-tampan, aku terlamun, terdiam dalam nestapa keheranan.

Saat aku bangun, taukah apa yang terjadi? Ada yang aneh dengan jariku. Jari ini tidak lagi sejajar, jari telunjukku terpotong. Tapi aku tak merasakan sakit sama sekali, hanya ada yang berbeda dengan kalbu-perasaanku. Getaran hatiku, sangat terpancing dikala melihat laki-laki, dan sebaliknya aku membenci kaum wanita.

Setiap malam aku digiring laki-laki berjubah ke istananya. Perasaan ini kian hanyut, dan aku semakin suka pada duniaku kini. Di sini aku tak melihat wanita, yang ku tahu hanya laki-laki yang bisa membuatku bahagia.

Aku jatuh cinta dengan Fauzi, dia mengajariku arti mengasihi, tapi setelah aku melihat jarinya tidak ada yang sejajar. Apa maknanya, aku bingung, masa bodoh dengan semua itu, yang penting aku bahagia, dan tiada yang mengusikku.
***

Sore hari aku berada dalam sebuah cermin, di situ melihat ibu menangis tanpa henti, memukul-mukulkan kepalanya ke tembok. Aku penasaran, kenapa ibu melakukan semua itu.

“Bapak, apa yang terjadi dengan ibu?” Suaraku lirih dengan kepala kutundukkan “ Ini karenamu, ibumu malu melihat tingkah lakumu.”

Suara bapak sangat keras, dan tanpa kusadari didorong keluar hingga aku terjatuh terguling-guling ke tanah.

Batinku meratap, aku bergerak meninggalkan rumah tanpa berfikiran seperti apa keadaan orang tuaku, terutama ibu yang sangat inginkan aku segera menikah, yang jelas dengan perempuan, tetapi suara hatiku hanya mengharapkan Fauzi, sosok bidadariku.

Sudahlah, bisik hatiku sambil langkahkan kaki menuju rumah Fauzi, tapi taukah aku seakan berada dalam ujung hidupku. Dia pun bersama laki-laki lain. Haah, tanpa ambil pusing aku seberangi jalan tak tentu arah, dengan tujuan agar tertabrak mobil. Kelihatanya, ia akan melihat aku lebih baik.

Langkah maju harapanku kan terpenuhi, mobil itu menabrakku, namun malangnya, hanya terkena kakiku, dan langsung ada malaikat menolongku.

Saat aku menoleh, ku kira itu Fauzi, tapi bukan dia sosok malaikat. Tetapi sedikit benci aku dengannya, karena dia seorang perempuan.

Ternyata kakiku lumpuh sehingga perempuan itu membawaku ke rumahnya. Dia sangat perhatian denganku, apa ini maksudnya, dan datang dari mana dirinya? Aku tak habis fikir.

Tak kunjung sembuh kakiku, sudah enam bulan aku di sini, dia mengajariku berjalan lagi, dia tersenyum saat aku terjatuh, dan selalu memotivasi hingga perasaanku mulai berbeda.

Di suatu malam, dia membacakan aku ayat-ayat al-Quran yang begitu merdu alunannya, menjadikanku teringat, dan hatiku berkata, bahwa dia sosok montir hidupku.

Kelembutan hati, sorot mata dan apa yang ada di hatinya mengingatku kepada ibuku. Saat kakiku sembuh, aku akan mengajak malaikat ini untuk bersujud di kaki orang tuaku.
***

Harapan itu musnah, saat aku melihat pintu dari batu. Aku ingin menunjukkan kepada Ibu dan Bapak, bahwa aku sudah berubah, dan aku akan menikah dengan bidadari ini.

“Ibu…” tetes air mataku deras tak henti-hentinya, Chaila hanya tertegun. Dia memang tak pernah tahu seluk-belukku.

“Tuhan…” akankah aku harus terus menyembunyikan jati diri pada malaikat ini, tapi apabila dia mengetahui, aku takkan bisa membanyangkan kehilangan dirinya.

Entahlah, aku akan menyimpannya sampai kapan waktunya, aku serahkan pada angin yang hembuskan nafas kehidupannya untukku dan Chaila.”

Ponorogo 2013

Categories: Cerpen