Dari Governor General’s Award hingga ke Nobel Prize

(Alice Munro Meraih Nobel Sastra 2013)
Dantje S Moeis *
Riau Pos, 27 Okt 2013

‘IMPRIVISIBLI’, sebuah kalimat pendek dalam bahasa Perancis, yang terlontar dari mulut seorang teman, ketika via telepon saya menanyakan pendapatnya tentang Alice Ann Munro (kini berusia 82 tahun) si peraih Nobel sastra tahun ini 2013 (diumumkan Jumat (11/10/2013).

Pada kenyataan memang demikian. ‘’Sangat di luar dugaan’’, karena memang panitia Nobel sama sekali tidak pernah membiaskan bayang tentang orang-orang yang masuk kriteria unggulan meraka untuk meraih hadiah yang paling bergengsi ini.

Dalam ‘’minda’’ kami para pengasuh majalah budaya Sagang dan para ‘’pebual budaya’’ yang mangkal di ‘’Kantin ‘Teselit’ kompleks Dewan Kesenian Riau Pekanbaru’’, hanya tersemat nama nama seperti, Bei Dao (Zhao Zhenkai) seorang penyair China yang kemudian pendapat para pengunggulnya jadi melemah karena ia telah didahului oleh rekan se-asalnya Mo Yan (pemenang Nobel sastra 2012).

Kemudian selain Bei Dao, terdapat Svetlana Alexievich dari Belarus, yang menggunakan sisi pandang orang pertama ‘saya’ dalam bercerita. Menyusul penulis Jepang, Haruki Murakami, yang namanya melejit berkat karya-karya seperti ‘’Norwegian Woods’’ dan ‘’1Q84’’.

Tulisan-tulisan Murakami yang bercerita mengenai absurditas dan perasaan sepi dalam kehidupan modern dan memiliki jutaan pembaca.

Sementara, Alexievich yang dengan karya-karya kesaksiannya sedang sangat populer di kawasan utara Eropa, dianggap berpeluang besar karena selain memiliki komitmen politik, tulisannya dekat dengan citarasa barat. Munro menjadi penulis perempuan ke-13 yang memenangkan hadiah Nobel Sastra yang mulai diselenggarakan pada tahun 1901.

Sekretaris tetap Akademi Swedia, Peter Englund mengakui bahwa masih terlalu sedikit penulis perempuan yang mendapat hadiah ini.

Penulis perempuan terakhir yang memenangkan Nobel Sastra adalah Herta Muller, penulis Jerman asal Romania, pada tahun 2009.

Dugaan-dugaan bahwa kali ini, para anggota tim penentu memiliki bias terhadap sastra Eropa dan memiliki kecenderungan untuk memilih penulis yang kurang terkenal dan dugaan itu menjadi terbukti.

Oleh sebab itu, nama Murakami juga banyak diragukan, apalagi berkisar pendapat bahwa konteks politik akan mendapat porsi lebih besar kali ini.

Karenanya, nama-nama penulis Korea Utara Ko Un, penyair dan penulis Suriah, Ali Ahmad Said Esber juga dikenal sebagai Adonis serta penulis Kenya, Ngugi wa Thiong’o juga dibicarakan.

Selain itu nama-nama penulis Albania, Ismail Kadare, Jon Fosse dari Norwegia dan penulis Belanda, Cees Nooteboom berada dalam daftar nama bandar taruhan pemenang Nobel Sastra.

Persisnya apa pertimbangan untuk menetapkan pemenangnya baru akan diketahui 50 tahun lagi saat kurun waktu kerahasiaan dokumen-dokumen Nobel berakhir.

Mungkin inilah yang memicu daya tarik terhadap hadiah Nobel Sastra. Yang pasti hanya bahwa usia rata-rata pemenang Nobel adalah 64 tahun.

Alice, saat ini berusia 82 tahun, merupakan penulis berkebangsaan Kanada dan menjadi wanita Kanada pertama yang meraih Nobel bidang Sastra serta menjadi wanita ke-13 dari seluruh dunia. Peraih Nobel Sastra wanita sebelumnya adalah novelis Rumania Hertha Muller (2009).

Dari press conference yang dilakukan, Alice mengaku sedang tertidur di rumah anaknya di Victoria, British Columbia ketika tiba-tiba dibangunkan pada pukul 4 pagi bahwa sebuah telepon telah masuk dan berasal dari Komite Nobel Norwegia.

Nama Alice Munroe diumumkan pada pukul 1 dini hari waktu setempat oleh Sekretaris Permanen Akademi Nobel Peter Englund di Gamla Stan, Stockholm.

Berbeda dengan kisah para penerima Nobel Sastra sebelumnya, termasuk Mo Yan (2012), yang akrab dengan bentuk sastra kisah panjang berupa novel, Alice Munro diganjar hadiah ini justru karena karya-karyanya yang berupa kumpulan cerita pendek.

Terkecuali untuk beberapa edisi pemenang Nobel Sastra seperti Tomas Transtromer (2011) yang lebih akrab dengan puisi-puisi dan Ernest Hemingway (1954) yang tulisannya banyak terpengaruh karya jurnalistik.

Pertama kali berkarir di usia 37, Alice muda banyak terinspirasi oleh pekerjaan suaminya (yang kemudian bercerai) James Munroe yang menjalankan bisnis toko buku.

Sejak saat itu ia banyak berlatih kemampuannya bercerita lewat tulisan yang sebagian hasilnya ikut disumbangkan untuk pengembangan toko tersebut.

Berbekal latar pendidikan Sastra dari University of Western Ontario sampai akhirnya keluar karena menikah tahun 1951, Alice konsisten mencoba banyak bentuk sastra, termasuk novel. Hanya saja, itu tidak kunjung membuatnya menemukan jiwa kepenulisan yang dicari.

‘’Dari tahun ke tahun, saya berpikir bahwa cerita pendek hanyalah bentuk latihan,’’ kata Alice kepada New York Times 2012 silam. ‘’Sampai akhirnya saya menyadari bahwa hanya itulah yang saya bisa. Hal yang kemudian membuat saya menumpahkan banyak hal ke dalam bentuk cerita, dan semuanya terbayar.’’

‘’Saya sangat berharap ini akan menjadikan orang-orang melihat cerita pendek sebagai seni yang penting, bukan sekadar sesuatu yang kau main-mainkan sampai bisa menulis sebuah novel,’’ Kata Alice Munro kemudian.

Peter Englund menyebutnya sebagai ‘’penulis minimalis.’’ Oleh kalangan sastrawan dunia, Alice kemudian dijuluki ‘’master of contemporary short stories’’.

Karya Alice banyak bercerita tentang kehidupan-kehidupan sulit di sudut kota Ontario, polemik sosial, dan juga banyak melibatkan tokoh-tokoh anak perempuan kecil yang dengan lihai dikelolanya dengan sentuhan pemikiran modern. Itu kurang lebih sama dengan karakter kehidupan nyata Alice yang tidak banyak menyentuh publisitas.

Kritikus sastra Amerika David Homel pernah menyebut Alice Munro sebagai ‘’bukan tipe sosialita. Dia jarang tampil di publik dan bahkan tidak mengadakan tur untuk buku-bukunya.’’

Karya Alice Munro yang pertama diakui berjudul ‘’Dance of the Happy Shades’’, berupa buku kumpulan cerita pendek yang diterbitkan tahun 1968 dan langsung mendapat apresiasi dari publik Kanada saat itu.

Bahkan, pemerintah Kanada mengapresiasi karya tersebut dengan penghargaan Governor General’s Award. Sejak saat itu Alice memilih berfokus membuat buku-buku kumpulan cerpen sampai sekarang, meski ia tak memungkiri terus mempelajari bentuk novel. Penghargaan tinggi yang diraihnya sebelum Nobel termasuk Man Booker International Price pada 2009.

Sampai saat ini Alice telah menerbitkan 14 karya koleksi cerpennya yang terjual hampir di seluruh dunia, di antaranya Karyanya baru-baru ini, ‘’’’Dear Life’’, diterbitkan tahun lalu dan akan menjadi ‘’karya terakhirku sebelum pensiun,’’ kata Alice.

Alice Munro berhak atas hadiah setara $ 1,24 juta. Penyerahan akan dilakukan di Stockholm pada 10 Desember mendatang, bertepatan dengan peringatan kematian Alfred Nobel, fisikawan yang mewasiatkan penghargaan ini.

Munro juga menyebut hadiah ini sebagai momen penting bagi harapannya agar masyarakat dapat menganggap cerita pendek sebagai salah satu seni yang penting.

Karya Alice Munro menjadi istimewa karena, kumpulan cerpen pertama Alice Munro terbit pada tahun 1968, berjudul Dance of the Happy Shades, dan langsung memenangkan Governor General’s Award (penghargaan sastra tertinggi di Kanada).

Pada tahun 1978 Alice memenangkan penghargaan bergengsi tersebut untuk kedua kalinya berkat kumpulan cerpennya yang berjudul Who Do You Think You Are (di Amerika diterbitkan dengan judul The Beggar Maid: Stories of Flo and Rose). Pada tahun 2006 salah satu cerpennya yang berjudul ‘’A Bear That Come Over A Mountain’’ diadaptasi menjadi film oleh Sarah Polley dengan judul ‘’Away From Her’’, dan mendapatkan nominasi Oscar untuk kategori Best Adapted Screenplay, namun kalah kepada No Country for Old Men.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2009 putri seorang peternak rubah dan guru sekolah ini memenangkan salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di dunia (selain Nobel Prize tentunya) yaitu The Man Booker International Prize.

‘’Alice Munro dikenal sebagai penulis cerita pendek namun tulisannya memiliki kedalaman, kearifan dan ketepatan seperti yang hanya dimiliki para novelis yang sudah menulis seumur hidup. Membaca karya-karya Alice Munro selalu terasa seolah kamu sedang mempelajari sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehmu.’’ Pernyataan itu dilontarkan oleh panel juri Man Booker saat itu.

Kemenangan Alice Munro disambut gembira oleh para insan sastra yang sepertinya sudah lelah dengan buku-buku para pemenang nobel sebelumnya yang cenderung lebih berat, rumit, dan berbau politik.

Karya-karya Alice disukai karena selalu membahas hal-hal yang sederhana namun di saat yang sama berhasil menampilkan sifat manusia dengan cara terbaik. Selain itu, karyanya juga dinilai karena memiliki deskripsi yang sangat detil dan indah sehingga berhasil membuat kejadian sehari-hari menjadi sesuatu yang istimewa.

Mengetahui bahwa dirinya berhasil memenangkan penghargaan Nobel yang diadakan oleh The Swedish Royal Academy of Sciences ini, Alice mengatakan, ‘’Hal ini sepertinya tidak mungkin terjadi. Seperti suatu hal yang terlalu luar biasa, aku tidak bisa menjelaskannya. Kemenangan ini melebihi sesuatu yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata.’’ Kemenangan Alice Munro, seorang cerpenis, dianggap sebagai tanda bahwa golden age cerpen baru saja dimulai. Alice Munro adalah orang Kanada pertama dan perempuan ke-13 yang pernah memenangkan Nobel Prize.

Di bulan Juni lalu, Alice Munro mengumumkan bahwa Dear Life, kumpulan cerpennya yang diterbitkan pada tahun 2012 adalah karya terakhirnya dan saat itu pula perempuan 82 tahun ini menyatakan pensiun sebagai penulis kreatif. (Dari berbagai sumber)

Dantje S Moeis, lahir di Rengat Indragiri-Hulu Riau. Adalah seniman, penulis kreatif, redaktur majalah budaya Sagang, anggota pengurus harian Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau), penerima beberapa anugerah kebudayaan, pengajar Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbaru, illustrator cerpen Riau Pos (Ahad).

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/10/alice-munro-meraih-nobel-sastra-2013.html