Sajak-Sajak Aziz Abdul Gofar

Bingkisan Sajak

siapa ngerti jodoh
aku takut kau tersesat di penjara kata
cerita lama biarkan menjadi legenda

mengapa mesti jodoh jika
Suminten tersesat di lorong kota
dan Broto termenung di serambi desa
sedang masih kudengar bisik senja kala
mengendap di dinding-dinding kota

aku selalu mencium harum papan tulis
yang menyusup di balik mimpi-mimpi
terdampar di halaman sebelah
bersandar pada cerita lama
tempat kita menggelombangkan pelangi
seperti sajak yang kau kirim ini hari

2008

Di Bawah Jembatan Janti

aku tunggu di bawah Jembatan Janti
lima perempatan dari Imogiri
saathujan mengibarkan udara laut

nanti, di bawah Jembatan Janti
bunga-bunga menjelma
menjadi tenda-tenda
kemudian jerit luka
kita tikam dengan sengaja
memakai belati masa lalu
yang selalu kita simpan
sejak di kampung halaman

jangan kau rubah laju petaku
entah seberapa jauh Jembatan Janti
sebab bulan di depan istana
mengibarkan macam bendera
di Jembatan Janti bakal kutunggu

tiang-tiang menuliskan angka dan
mendung, gerimis, malam, bisu
juga duga kawanku dari pantai
sejak siang tadi membungkus rindu
lewat sorot lampu Tran Jogjakarta
dering bisu menampar lekat
kaukah dekat

aku dijerat nyanyian sunyi
dalam simfoni resah selisik bait
mengurai diam kematian bahasa
menyibak rupa bisu kelana
kau datang dengan lelakimu
yang tak kutahu lagi di mana
arah malam bakal berpulang

2008

Burung Asmaradhana
Buat Dik Daniar

gerimis menggiring burung-burung kembali ke sarangnya
angin senja berderai menyusup ke dalam durma segatra
setelah malam tiba aku kalungkan sekumpulan purnama
pada burung-burung di dinding borobudur dan prambanan
agar yang kurang jadi tergenapkan dan kembali menemukan

kau bertanya seberapa jarak jogjakarta ke surabaya
burung-burung di dinding candi ingin menumpang kereta
padaku berjanjibakal menangkapkan rindumu bersembunyi
menggantikan air mata roro jonggrang yang keras kepala

rupanya burung-burung itu ngerti dukaku
duka lama yang tersesat di pucuk stupa
sepekan kemudian kau bagi itu rindu dengan
daun teh yang menggantung di bibir gelas

aku menyepuh telaga menjadi cokelat jelaga
sedang melati terpetik karam di dasar diam
menyusupkan wangi pada rumah-rumah yang
melekat pada pesona gemulai tari bedaya
kakinya yang telanjang menyentak wajah telaga
dan tangan rupa lilin itu bergelombang selendang
bermata merpati berbinar direnda hati
sebagai pandangmu menusuk adaku sunyi

aku minum seteguk biar kering pangkal lidahku
seteguk kembali hilang dahaga sejak di leherku
ini malam yang kering lagi dahaga menyergapku

senyummu masih cokelat dan angin dari matamu
tetap menyimpan barisan duri yang dapat merasuk
pukauku yang luka disana-sini tetapi ranum selalu
keningmu tetap pertengahan bulan berlindung
aku lihat di pelipismu gelar tari serimpi

aku ingin menggenggam kedua belatimu
kusarungkan tepat di dadaku sebelah kiri
tetapi jangan kau tembangkan itu mijil
cemburuku yang kecut ini membikin suri
dan buku-buku berloncatan di kolam meja
kau tembangkan saja asmaradhana

2007

Beluntas di Pagundikan

kata-kata terasa legit
terbuang dalam kandang zaman
ular dan musang menyergap malam

ini seperti menggali pernik remaja
dalam sengkarut kembangbelum bertali
sekarang ruas-ruasnya patah
tersayat kaki belalang di balik kaca
pada lehernya mengalung kembang kamboja
entah pusara mana mengendap dalam matanya

sebab murka gelombang menjelma
rata dengan gunung dan rawa-rawa
nisan tersesat di murung wajahnya
sekarang bangkai kembang satu karangan
menunggu gelombang pusaran kata
kala hujan menyergap perdu beluntas
memotong tiang baja jadi jeruji
mengurung anak beringin sendiri

pada hening wajah kerikil jatuh bayangan
kata-kata menggantung di pelepah kelapa
kemudian lepas jatuh di bawah pokok nangka
bintang-bintang dan bulan jadi gemas
berjatuhan di malam tanpa balut cahaya

satu menit pada hari yang tak kucatat
dalam wajah nyanyian petang
tangis dari dedaun basah menghujam
jalan setapak di kampung pagundikan

satu menit yang diterbangkan para penggali
menusuk dinding kota lama
dengan kuku tak terawat lagi berkarat
menghisap keringat serdadu
penjaga tanah hitam di pedalaman
seperti sebuah patung bersenjatakan sangkur

setelah tembok yang tak mengenal kematian itu runtuh
aku mulai menulis beberapa kalimat di punggung mereka
ketika pesawat asing mendongkel kampungku
dengan linggis baja dan tank-tank hitam

sejak itu aku menulis menit-menit
dengan pecahan batu dan kawat duri
dari perlawanan tersimpan berabad-abad

2008