Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi Tahun 2013

Vien Dimyati
Jurnal Nasional, 24 Nov 2013

Seni tradisi semakin langka di Indonesia. Semua itu terancam punah lantaran tiadanya generasi penerus. Apresiasi pemerintah sangat diperlukan untuk melestarikan seni tradisi.

Minimnya para seniman dan maestro seni tradisi di Indonesia membuat pemerintah kesulitan mencari pahlawan-pahlawan kebudayaan yang konsisten melestarikan karya seni langka. Tidak heran jika pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hanya berhasil mendapatkan lima maestro seni tradisi yang akan diberikan penghargaan pada Malam Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi Tahun 2013 di Nusa Indah Theater, Balai Kartini, Jakarta, (30/11) mendatang.

Adapun lima maestro yang masih berkomitmen melestarikan seni tradisi yang sudah langka tersebut adalah Maria Magdalena Rubinem (Seni Pertunjukan Karawitan) dari Yogyakarta, Marius Sitohang (Seni Tradisional Batak) dari Sumatera Utara, Murka (Seni Kriya Keris) dari Madura Jawa Timur, Rodjali (Seni Musik Gambang Kromong) dari DKI Jakarta, dan Rosa Agapa (Seni Kriya Noken) dari Nabire Papua.

Budayawan Romo Muji Sutrisno mengatakan, bangsa Indonesia harus menghargai mereka yang melestarikan kebudayaan di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Saat ini, menurutnya, sangat sulit menemukan maestro-maestro yang memiliki komitmen dalam mempertahankan seni tradisi yang hampir punah di Indonesia. Maka itu, perhatian berupa penghargaan merupakan salah satu cara untuk menghargai perjuangan para maestro ini. Bahkan, ia salah satu bentuk penghargaan lainnya dari pemerintah yaitu memberikan beasiswa kepada anak penerus kebudayaan.

“Banyak yang karena umur dan kemampuan, kalau nggak ditopang pemerintah (mereka) akan meninggal tanpa ada yang melanjutkan (aktivitas kebudayaan),” kata Romo Muji di Jakarta beberapa waktu lalu.

Karena itu, pemerintah melalui Kemendikbud memberikan beasiswa kepada anak kandung atau anak didik mereka supaya aktivitas kebudayaan yang telah dilakukan pendahulunya bisa terus berlanjut.

Menurut Romo Muji, yang juga sebagai salah satu anggota Tim Ahli Maestro mengatakan, maestro seni di tanah air jumlahnya semakin sedikit. Padahal, bersama sang maestro tersimpan seni tradisi yang siap hilang bersama raganya. “Makanya kalau tidak ada upaya konkret untuk menyambung kehidupan sang maestro dan seni tradisinya, maka kita harus bersiap-siap menjadi bangsa yang kehilangan jati diri dan akar budayanya,” kata Romo Muji.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, Kacung Marijan mengatakan, melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang arti penting sebuah apresiasi kepada para seniman/budayawan yang telah berkarya. Menurut Kacung, Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi ini adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap kinerja para seniman dan budayawan, baik dalam kapasitasnya sebagai tokoh masyarakat, praktisi, akademisi, pengamat, kritikus, pelopor, atau bahkan pelestari.

“Kami memberikan penghargaan ini karena kami melihat bagaimana mereka menghargai karya-karya seni budaya yang dihasilkan sebagai cara untuk penanaman nilai-nilai budaya kepada generasi berikut, khususnya generasi muda sebagai penguatan karakter bangsa. Sebagaimana pendapat para seniman dan budayawan tentang proses berkarya yang dipersembahkan kepada penikmat dilakukannya bersungguh-sungguh dengan penuh rasa cinta dan ikhlas,” kata Kacung.

Penghargaan akan diberikan kepada 45 orang yang telah berjasa dan memberikan kontribusi besar terhadap pelestarian kebudayaan yang mencakup perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat. Lima orang di antara penerima penghargaan adalah maestro seni tradisi.

“Penghargaan maestro seni tradisi ditujukan kepada mereka yang konsisten mempertahankan dan melestarikan karya-karya seni langka dan nyaris punah, sehingga fasilitas pemerintah menjadi penting dalam proses pewarisan,” katanya.

Kacung menambahkan kategori pemberian anugerah dibagi menjadi dua jenis, yaitu yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dari Kemendikbud berdasarkan penilaian tim penilai yang dibentuk Ditjen Kebudayaan. Penghargaan dari Presiden SBY terdiri atas dua kategori, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Budaya Paramadharma Tahun 2013 dan Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan Tahun 2013.

Adapun penghargaan yang berdasarkan hasil keputusan tim penilai terdiri dari tiga kategori, yaitu kategori anugerah seni, kategori pelestari dan pengembang warisan budaya, kategori anak/pelajar/remaja, yang berdedikasi terhadap kebudayaan, dan kategori maestro seni tradisi.

Setiap penerima penghargaan akan memperoleh sertifikat, pin emas, dan uang yang nominalnya berbeda-beda. Penerima penghargaan Bintang Budaya Paradharma akan mendapatkan Rp60 juta dan penerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan akan mendapatkan Rp55 juta.

Sementara, penerima penghargaan kategori anugerah seni akan mendapatkan Rp50 juta. Kemudian, penerima penghargaan kategori pelestari dan pengembang warisan budaya akan mendapatkan Rp50 juta.

Penerima penghargaan kategori anak/pelajar/remaja yang berdedikasi terhadap pengembangan kebudayaan akan mendapatkan Rp25 juta dan menerima penghargaan kategori maestro seni tradisi akan mendapatkan Rp25 juta.
***