Puisi Perlawanan terhadap Korupsi

Beni Setia
Suara Karya, 14 Des 2013

MOMEN pagelaran roadshow PMK (Puisi Menolak Korupsi) di Bojonegoro, 23 November lalu, merupakan kancah sosialisasi spirit perlawanan terhadap korupsi Komunitas PMK yang kesebelas. Sementara di hari yang sama dilangsungkan pula pagelaran roadshow serupa yang kesepuluh di aula pendapa Unesa Surabaya.

Sehari sebelumnya, kegiatan serupa juga dilangsungkan di beberapa tempat lain, sehingga terjadi semacam pilihan sulit buat bisa hadir di dua tempat, terutama bagi si peserta dari luar kota.

Yang paling sedikit menempuh perjalanan lima jam ke Surabaya, dan harus menunggu pagi untuk berangkat ke Bojonegoro dengan waktu tempuh tiga jam.

Tapi bukan hanya waktu yang harus diperhatikan, yang dikorbankan (mereka) buat sekedar menyempatkan diri hadir dalam acara akhir pekan itu-lantas bersigegas kembali supaya bisa mengikuti jadwal kerja harian. Mereka juga menanggung biaya transportasi dan akomodasi agar bisa aktif ikut menyalakan pagelaran roadshow itu. Di titik ini, pada dasarnya, ada semangat untuk mempublikasikan puisi bertema anti korupsi dalam momen pembacaan di tempat berbeda dan berjauhan.

Ada satu kebutuhan buat mempublikasikan teks puisi anti korupsi yang tak konvensional tertulis-tercetak di koran, majalah buku dan media baca baca lainnya. Momen aksi di tataran seni pertunjukan merupakan ciri vital aksi Komunitas PMK, sehingga menulis puisi dan menerbitkannya dalam antoloji merupakan sebuah awal buat mencari panggung pagelaran.

Tak heran bila penerbitan antoloji bersama itu ditanggung bersama, sekaligus di Indonesia ini cuma penyair PMK dan orang tertentu yang mendapat hadiah buku itu yang memiliki antoloji PMK.

Pagelaran, roadshow, merupakan hal yang penting, dan memsibedakan semangat penolakan pada laku korupsi Komunitas PMK dari yang lainnya. PADA dasarnya, semua puisi tak ditekankan cuma sekedar teks murni-puisi-puisi yang ditulis serta disatukan dalam tiga antologi Pusi Menolak Korupsi itu-, tapi bergeser ke bagaimana teks itu dipublikasikan dan memasyarakat di dalam acuan seni pertunjukan dalam pagelaran roadshow.

Dan kalau menenggok agenda roadshow PMK di November, Desember, kita akan melihat tiga acara terakhir itu diselengarakan di tempat terpisah dan berjauhan: Pati (15/11), Surabaya (22/11), Bojonegorio (23/11). Sedang Desember sedikitnya merujuk ke Jepara (14/12), Sragen (21/12) dan Ngawi (23/12). Januari 2014 minimalnya akan ada kegiatan roadshow di Purwokerto. Selain ongkos transportasi dan akomodasi selama perjalanan pergi-pulang yang ditanggung peserta, semua biaya dari penyelenggaraan roadshow itu “ditanggung” panitia lokal-yang mencari tempat pagelaran, izin keramaian, biaya kegiatan, serta lain-lain.

Di titik ini, hakekat buat menyediakan sarana buat mengekspresikan semangat menolak puisi dari Komunitas PMK itu sebetulnya ada di tangan panitia lokal, yang menyiapkan stage, membuat publikasi, mengundang penonton setempat, dan menyulut momen untuk proses apresiasi dari pagelaran seni pertunjukan puisi-puisi PMK.

Di status terakhir pertemanan facebook Komunitas PMK, terlihat dan digarisbawahi kalau hakekat puisi PMK ada di dalam pertunjukan pagelaran baca puisi-perfoming yang membuat puisi tak sekedar dibaca dan dimaknai, tapi jadi merangsang semua panca indra penonton dan apresiator roadshow.

Di pagelaran Bojonegoro, puisi tak hanya dibaca tapi dinyanyikan-bahkan dalam bahasa Jawa dan dengan teknik rap, sehingga terbentuk komunitas perespon dengan perfoming menari. Kegiatan itu memuncak dalam pembacaan cerpen Bagus Putu Parto, “Seusai BharatayudhaOOO, dramatic reading dari Bagus Putu Parto dan Endang Kalimasada, dengan dilatari tembang Jawa Andrias Elison.

Pertunjukan memikat dan akan lebih memikat lagi bila dibantu tampilan seni lain-hingga perang Bharatayudha itu jadi momern hadirnya kebenaran, dengan si penjahat tak perlu merasa sedih karena telah menunaikan darma kesatria: ikut menegakkan terlahirnya ketenteraman dunia.

Di luar itu, kini, terdorong pula kebutuhan untuk menghadirkan jawara perfoming Komunitas PMK-seperti Bontot Sukandar, Rama Dinta, Teguh Wage Wijono, Bambang Eka Prasetya, Thomas Haryanto Soekiran, Lukni Maulana, dan tentu saja Irsyad Indradi dan Sosiawan Leak.

Momentum khusus yang butuh orang yang amat peduli dan menyediakan pagelaran (roadshow) untuk para penyair perfoming Komunitas PMK menghadirkan tontotan puisi.

NYAWA penyair Komunitas PMK itu bukan teks puisi, bukan buku (antoloji) Puisi Menolak Puisi-sebentar lagi akan terbit genre (puisi) PMK berbahasa daerah-, tapi pada momen perfoming baca puisi pada pagelaran roadshow yang memikat.

Meski pencapaian tekstual Komunitas PMK itu terletak pada roadshow di Gedung KPK, tapi pencapaian-pencapaian ekspresif dan estetik selanjutnya justru dijanjikan hentakan improvisasi yang tidak terduga dari tiap perfoming pembacaan puisi dalam pagelaran roadshow.

Karena itu momen baca puisi keliling akan berlanjut-setidaknya sudah terbangun kontak roadshow baca puisi PMK di Serang dan Madura. Dan di tengah passion (perfoming) itu Komunitas PMK membangun penggalangan kebersamaan untuk menolak korupsi-bahkan membatasi ruang gerak kemaruk koruptor yang kini ada di mana-mana.
***