Regenerasi Sastra dalam Realitas yang Berubah

Primadita Herdiani *
Riau Pos, 8 Des 2013

BISAKAH kita merumuskan pola regenerasi yang terus berjalan dalam sastra: bagaimana sastra diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bagaimana pola pendidikan selama ini; ataukah, dalam sastra kita, seorang memang lahir dan tumbuh dengan sendirinya tanpa, secara aktif, mewarisi jagad sastra sebelumnya.

Pola regenerasi, pada tingkat tertentu, terlihat begitu problematis. Perlu pembacaan menyeluruh bukan hanya dalam jagad dunia kreatif, tapi, dalam pandangan lain, bisa sebagai realitas sosiologis kesusastraan. Betapa pelaku sastra, yang kadang bersifat sporadis dan tak terduga, terus muncul dan bertumbuh. Sementara, di satu sisi, Umbu Landu Paranggi atau Rainer Maria Rilke, para pendidik itu, semakin kehilangan gema; yang samar dan lamat lebih kita kenal sebagai mitos.

Regenerasi memang terus berjalan. Proses transformasi yang paling dasar dalam sastra modern adalah bacaan. Di sana simbol dan bahasa yang diproduksi teks mengalami resepsi dalam kepala pembaca, yang dengan itu terus menyemai simbol dan bahasa. Namun, tentu, proses transformasi tersebut tidak mewakili secara keseluruhan. Sebab, jagad teks memiliki perbedaan yang mendasar. Teks tetap melakukan reduksi atas laku kesusastraan.

Lantas, adakah pola regenerasi secara aktif, asah-asih-asuh, selama ini: pola yang tidak sebatas transformasi kognitif, tapi juga spiritual dan emosional; adakah regenerasi sastra selama ini sampai pada tahap laku dan pemikiran. Tentu, sastra tidak dibangun hanya dengan produk, baik kuantitas ataukah kualitas. Tapi, lebih jauh, dialektika aktif antara tubuh, jiwa dan pikiran.

Sejauh ini, ruang dialektika dalam sastra berkutat pada media massa dan kegiatan-kegiatan sastra, semacam acara dan temu sastrawan, serta model-model silaturahmi lainnya yang belakangan semakin marak dihelatkan. Namun, jika dibaca secara mendalam, kedua ruang tersebut, fungsinya selalu sebagai tempat peneguhan eksistensi.

Mari kita lihat pola kerja kedua ruang tersebut. Seseorang untuk bisa memasukinya, paling tidak, harus memiliki karya yang baik dan diterima oleh redaktur atau kurator. Satu-satunya nilai yang dijunjung ada pada karya. Maka, implikasinya, secara simplisit, para pelaku sastra berbondong-bondong memperbaiki karya, dengan tujuan dimuat di media tertentu dan diundang di suatu perhelatan sastra.

Setelah dimuat atau diundang, setelah meneguhkan eksistensinya, lalu apa? Setidaknya begitulah dialektika yang berjalan dalam jagad sastra kita. Dialektika sastra terhenti pada eksistensi. Jika pada tataran dialektis seperti ini, apa proses transformasi yang terjadi.

Di mana regenerasi, pola asah-asih-asuh, yang terjadi ketika kita cenderung melihat karya yang ada. Sekali lagi, regenerasi bukan sebatas realitas kreatif individu, tapi juga hubungannya dengan realitas sosiologis kesusastraan: realitas, ketika kreatifitas dimaknai secara luas, bagaimana pola pendidikan terhadap pelaku sastra untuk mengidentifikasi, menginterpretasi dan merepresentasi zaman.

Media massa dan perhelatan sastra memang penting, seperti juga kreatifitas untuk menghasilkan karya yang baik. Tapi tentu regenerasi tidak bisa kita baca pada taraf ini. Sebab, kerja individual sastra letaknya di wilayah tersebut. Wilayah representasi karya juga adalah wilayah representasi dari pola regenerasi.

Membaca Realitas yang Berubah

Narasi besar kapitalisme mengimajinasikan dunia sastra sebagai sebuah komoditas: sastrawan merupakan sub-masyarakat dari keseluruhan masyarakat global. Mereka memiliki kehidupan sendiri dengan kompleksitas sendiri. Tak ubahnya dengan masyarakat tukang pahat yang dituntut menghasilkan karya yang bisa bersaing dari karya yang ada.

Akibat narasi besar ini, terjadi reduksi besar-besaran pada kreatifitas misalnya, yang kian hari dipandang sebatas kpenciptaan karya. Lebih jauh, pola interaksi dalam sastra sebagai interaksi sesama individu dalam komoditas tertentu. Akhirnya, regenerasi yang kita bicarakan selama ini selalu pada penciptaan karya; yang terus kita genjot adalah karya dan mengabaikan tujuan sastra hubungannya dengan realitas sosial.

Pada tataran ini, pola regenerasi yang terjadi begitu problematis, karena karya berada di wilayah teknik penciptaan yang sifatnya kontemplatif dan individualistik. Regenerasi, jika dilakukan pada tahap ini, selalu berujung pada dominasi sang penyampai terhadap penyimak sampai taraf penciptaan karya. Akibatnya, pola regenerasi selalu terlihat sebagai pola patronase.

Pola patronase berimplikasi pada pengidolaan seorang tokoh dan, lebih jauh, kemungkinan keseragaman karya sangat terbuka, begitu pun dengan plagiasi, seperti yang selalu menjadi perbincangan belakangan ini. Tentu, gejala seperti ini, membahayakan perkembangan sastra ke depan: ketika imajinasi tentang yang baik ditempatkan pada karya sebelumnya dan menyemukan kemungkinan-kemungkinan yang belum ada.

Media sebagai Alternatif

Media, menjadi begitu penting, hubungannya dengan regenerasi sastra, sebagai ruang dialektika terbuka dan mempertemukan. Namun, media tersebut hanya sebagai ruang, kitalah yang perlu memikirkan bagaimana pola regenerasi yang sehat dimungkinkan terjadi; ataukah terus dijalankan untuk kepentingan peneguhan eksistensi.

Terutama, melihat realitas yang kini berubah, bagaimana media dan pola regenerasi dijalankan, sementara, di lain sisi, keterbukaan informasi menghidupkan kita dalam masyarakat global. Tentu, kita perlu memikirkan kembali apakah media yang kita jalankan selama ini cukup representatif melakukan pola regenerasi sastra yang kian hari kian menjadi komoditas sendiri dan tertutup. Sementara, secara kuantitatif, pelaku-pelaku sastra terus bersemai. n

*) Primadita Herdiani, lahir di Bandung, besar di Yogyakarta. Sejak 2011 kuliah di Semarang. Belajar menulis sejak sekolah menengah pertama. Menjadi anggota sanggar menulis Rumah Terampil Indonesia, Yogyakarta. Cerita remajanya pernah dimuat di mingguan Minggu Pagi, Harian Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Merapi dll. Juara 2 LMCR Rohto-Lip Ice 2010. Juara 2 lomba menulis cerpen remaja SOLOPOS 2011. Karya Favorit LMCR Rohto-Lip Ice 2011.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/12/regenerasi-sastra-dalam-realitas-yang.html