Rumah Budaya Indonesia 2013 Berakhir di Singapura

Rusman
Jurnal Nasional, 1 Des 2013

SETELAH memperkenalkan kebudayaan Indonesia di delapan negara pada kegiatan Rumah Budaya Indonesia (RBI) 2013 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah berakhir di Singapura pada 30 November hingga 1 Desember 2013. Acara berlangsung di aula Sekolah Indonesia Singapura (SIS), di Siglap Road, Singapura. Para pengunjung sangat antusias menyaksikan berbagai pagelaran budaya dari berbagai daerah di Indonesia tersebut.

Kegiatan yang dihadiri siswa dan orang tua SIS, serta Duta Besar Indonesia di Singapura, H.E Andri Hadi Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Diah Harianti mengatakan, kegiatan ini sudah berjalan sejak tahun 2012 dan kerap mendapat antusias dari masyarakat Indonesia di dunia yang didatangi. “Karena kita menampilkan budaya Indonesia ke negara-negara di dunia,” ujarnya.

Pada tahun ini, kata Diah, program RBI mendatangi sembilan negara, yakni Amerika, Australia, Prancis, Belanda, Jerman, Turki, Jepang, Timor Leste, dan terakhir Singapura sebagai negara tetangga Indonesia. “Selanjutnya kita akan kembali menentukan negara-negara selanjutnya untuk perkenalkan Indonesia melalui budaya, ” ujarnya.

“Rumah Budaya Indonesia merupakan instrumen yang digunakan untu meningkatkan rasa saling pengertian, menghilangkan kecurigaan dari negara lain. Tak hanya itu, sekaligus meningkatkan citra Indonesia di luar negeri,” ujar Diah.

Acara RBI yang digelar di Singapura, para undangan disambut Tari Lenggang Kipas. Kemudian dilanjutkan Tari Ngremo dari Jawa Timur dan Tari Rampai asal Aceh. Tak hanya itu saja, juga memamerkan lukisan karya Djoeari Soebardja dan Bambang Pramudiyanto. Serta pelukis cilik Indonesia, Enggang Batu Ayau. Tak kalah menariknya juga, dipamerkan batik klasik peranakan, songket Palembang, dan Tenun Ikat Sumba.

Duta Besar Indonesia untuk Singapura, H.E, Andri Hadi mengatakan, kegiatan yang diprogramkan oleh Kemendikbud, sangat perlu diapresiasikan. Karena, kata dia, budaya adalah jalan diplomasi terbaik untuk bisa menjalin kerja sama antar negara. Sedangkan diplomasi melalui politik dan lainnya, kerap kurang berhasil baik.

“Saya sangat mendukung dan sepenuhnya memberikan apresiasi dengan kegiatan ini. Sehingga ada terjalin kerja sama dan bisa memperkenalkan kebudayaan Indonesia di mancanegara. Sebagai sarana komunikasi yang efektif,” kata Dubes Andri.

Pelukis Cilik Indonesia, Enggang Batu Ayau menyatakan senang lukisannya dipamerkan di Singapura. Dia berharap kegiatan ini terus berlangsung dan lukisannya bisa dikenal lebih luas lagi ke mancanegara. “Senang dong. Apalagi lukisannya banyak dilihat siswa-siswa di Singapura,” ujarnya sambil tersenyum.
***