Desakralisasi Kata-kata dalam “Mantra Pejinak Ular”

Darwin *
Riau Pos, 29 Des 2013

SIHIR kata-kata adalah kekuatan para sastrawan. Di tangan seorang sastrawan, daya pikat kata adalah unsur terpenting dalam karya sastra, baik itu prosa maupun puisi. Kata-kata biasa bisa menjadi ‘berbunga’ di ujung pena seorang sastrawan. Kata-kata yang basi di mulut politisi, bisa menjadi berisi dalam setiap ucap para sastrawan. Itulah yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri yang populer dengan ‘’puisi mantranya’’. Atau, di seberang lain ada Ayu Utami dengan teknik komposisinya. Tentunya tidak ketinggalan Chairil Anwar dengan permainan diksinya yang sulit mencari pembandingnya di zaman Twitter saat ini. Masih banyak lagi para ‘pemain kata’ yang tidak bisa semuanya disebutkan namanya di sini.

Dalam ranah sastra, masih menjadi perdebatan apakah yang diperlukan itu permainan kata (diksi, metafora, rima dll.), atau kekuatan cerita. Dalam salah satu kesempatan, novelis Muhidin M. Dahlan pernah mengatakan kekuatan cerita lebih penting daripada kekuatan kata-kata. Meskipun ia tidaklah menafikan yang namanya kata-kata. Seorang prosais tidak harus terjebak dengan kata-kata memikat nan manis yang, dalam bahasa Rendra (hanya) bersajak tentang anggur dan rembulan. Tapi sisi ide, penguatan karakter, plot, detail, dan setting juga menjadi penting.

Terserah kita mau berpijak pada ranah yang mana. Tetapi penulis masih yakin kekuatan kata-kata itu sangatlah penting. Mungkin ini dipengaruhi oleh setting di mana penulis lahir, yakni Riau. Kita tahu Riau adalah tempat ‘bersemainya’ kata-kata. Dalam kenduri, upacara pernikahan, acara resmi pemerintah, hingga perbualan keseharian di rumah, orang Melayu Riau selalu disihir oleh kata-kata. Pantun, petatah-petitih selalu menghiasi. Ia sudah menjadi adat-resam, bahkan lebih ekstrem ia adalah periuk-nasi kedua masyarakat Riau. Tidak salah jika dari provinsi ini bermunculan para sastrawan dan budayawan yang ‘gila kata’ semacam Raja Ali Haji, Soeman Hs, Sutardji Calzoum Bachri, Tenas Effendy, Idrus Tintin, Taufik Ikram Jamil, dan sederet nama kondang lainnya.

Novel yang punya kekuatan pada cerita dan ‘abai’ dengan sihir kata bisa kita jumpai dalam Mantra Pejinak Ular (Penerbit Buku Kompas/2013) karya novelis yang juga cendekiawan Muslim, Kuntowijoyo. Novel ini sungguh tidaklah berbusa-busa dalam hal metafora. Bahasanya adalah keseharian kita apa adanya. Namun, novel yang mendapatkan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) ini mempunyai kekuatan pada ide, plot, setting, karakter, dan detail, serta tentu saja nilai-nilai kehidupan yang terdedahkan di dalamnya. Kekuatan kearifan hidup inilah yang membuat Mantra Pejinak Ular menjadi luar biasa. Ia dipuji, dipercakapkan, dan pada akhirnya penghargaan pun didapatkan.

Mantra Pejinak Ular yang sudah dicetak dua kali ini (cetakan pertama tahun 2000, juga oleh Penerbit Buku Kompas), menceritakan sosok Abu Kasan Sapari, seorang pegawai kecamatan yang juga seorang dalang muda jempolan. Ia ditugaskan di Kemuning, sebuah kecamatan di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Suatu ketika, di saat Abu sedang mengikuti pesta tibanya musim giling tebu, ia bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek tua itu membisikkan sesuatu di telinga Abu. Yang dibisikkan itu tak lain adalah mantra pejinak ular.

Jadilah Abu seorang yang ahli dalam menjinakkan ular. Tersebab keahliannya inilah ia dipanggil dukun ular oleh warga. Setiap ular yang ditemuinya selalu dijinakkannya, kemudian dilepaskan kembali. Di sini Kuntowijoyo mengajak pembaca untuk merefleksikan hidup, di mana mencintai ular berarti adalah mencintai alam, yang dalam bahasa Kunto -begitu ia sering disapa- dalam novel ini: peduli lingkungan. Ini tidak bisa dimungkiri karena setting novel ini adalah menjelang tumbangnya pemerintah Orde Baru (orba).

Mengenai hal ini ada bab khusus (bab IV) yang berjudul: ‘’Cinta Ular Cinta Lingkungan’’.

Berkat dekatnya Abu dengan ular, saat ia dipindahtugaskan di kecamatan Tegalpandan, ia memelihara seekor ular yang disebutnya dengan klangenan (kesayangan) di rumahnya. Rumahnya ini bersebelahan dengan seorang janda muda cantik bernama Sulastri. Ular itu menjadi jinak di tangan seorang Abu. Hal ini dibuktikan dengan penguasaan bahasa isyarat oleh ular itu. Ia mengikuti keinginan Abu hanya dari siulan saja. Bersiul satu kali, ular itu langsung naik di atas meja di rumahnya, bersiul dua kali berarti ular itu harus turun, dan tiga kali artinya ular itu harus membelit tiang tengah (hal. 135).

Di sini dengan piawai Kunto mengangkat nilai-nilai kearifan Jawa. Dalam filsafat Jawa, para lelaki yang telah dewasa dianjurkan mempunyai wisma, wanita, curiga, kukila, dan turangga (rumah, istri, keris, burung, kuda). Nah, di sini Kunto membalik kebiasaan orang Jawa dengan mensubstitusi burung dengan ular. Inilah kelebihan penulis produktif ini. Ia tidak membuat cerita menjadi klise, tetapi selalu menawarkan warna baru.

Mantra Ular dan Mitos

Keahlian Abu lainnya adalah mendalang. Ia adalah dalang handal yang mentas di mana-mana. Acara pernikahan, sunatan, tujuh belasan, kampanye pemilihan kepala desa/lurah, dan acara-acara kecamatan lainnya tidak bisa lepas dari atraksi wayang seorang Abu. Ia dikenal dan dicintai semua orang berkat keahliannya ini. Berkat seni pedalangan pulalah ia terusir dari kecamatan Kemuning. Bermula ketika ia mendukung dengan sangat terpaksa beberapa calon lurah. Ia diminta oleh calon-calon itu untuk wayangan semalam suntuk. Di sinilah muncul keragu-raguan dalam dirinya. Di mana sebenarnya wilayah seni, di mana pula politik? ‘’Kesenian itu otonom. Kesenian adalah keindahan, sedangkan politik adalah kekuasaan. Biarlah orang lain mengotori politik, asal bukan kesenian.’’ (hal. 110). Pada akhirnya, keangkuhan kekuasaan membuat ia dipindahkan karena calon status quo dikalahkan oleh calon-calon yang didukung oleh Abu.

Masih banyak nilai yang menjadi pesan dalam novel bertebal 274 halaman ini. Selain kaya akan filsafat Jawa, novel ini juga berisi wejangan keagamaan dan kritik sosial. Dalam ranah politik -karena setting-nya bernuansa Orba- pemikir keislaman yang juga sejarawan ini dengan sangat memikat menggambarkan detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto dengan bahasa simbol. Dalam novel ini dideskripsikan dengan rubuhnya pohon beringin dekat terminal di kecamatan Tegalpandan.

Hal lain adalah berkait concern Kunto dalam wacana keislaman. Untuk diketahui, ia dikenal karena konsep Ilmu Sosial Profetik-nya. Ia mengupas habis surat Ali Imran ayat 110. Etika profetik menurut Kunto terdapat dalam ayat ini. Inti ayat ini amar makruf, nahi munkar, dan tukminunabillah. Amar makruf diderivasikan menjadi humanisasi, memanusiakan manusia. Sedang nahi munkar adalah pembebasan, yakni pembebasan umat manusia dari ketertindasan, kebodohan, dan lainnya. Tukminunabillah berarti transendensi, di mana adanya nilai-nilai ketuhanan yang melandasi dua hal di atas tadi.

Selain itu, ia membagi periode umat Islam Indonesia dengan babakan-babakan; yaitu fase mitos, ideologi, dan ilmu. Bukunya yang mengungkai hal ini berjudul Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas (Mizan/2002). Terkait dengan periode umat Islam ini tentunya juga disinggung dalam Mantra Pejinak Ular di halaman 257: ‘’Buang saja mantra itu, yang kau perlukan ialah ilmu, teknologi, dan doa, bukan mantra’’. Inilah kata-kata eyang dari Abu Kasan Sapari dalam sebuah mimpinya.

Ular yang dipelihara Abu memang menjadi masalah. Banyak warga kampung yang tidak menyukainya. Akibatnya, pada suatu malam rumah Abu akan digerebek oleh masyarakat kampung. Mereka sudah siap dengan pentungan, parang, golok, batu dan lainnnya. Mereka menginginkan ular itu dan tuannya sekaligus. Ular milik Abu dianggap telah menghabisi ayam dan ternak masyarakat lainnya. Hanya karena Sulastri-lah, janda yang dekat denganAbu itu, penggerebekan batal dilakukan karena Sulastri meyakinkan mereka. Di sinilah dilema terjadi, di satu sisi Abu sangat menyayangi ular itu, pada sisi lain ular itu tidak disenangi masyarakat kampungnya. Lagi-lagi bahasa simbol digunakan oleh Kunto. Mantra ular adalah bagian dari sejarah umat Islam yang disebutnya dalam era mitos, zaman di mana umat Islam didominasi cara berpikir mistis-irrasional yang berlangsung sebelum awal abad ke-20. Membuang mantra ular adalah proses transformasi dari periode mitos menuju periode ideologi dan ilmu.

Di sinilah kelebihan seorang Kunto yang juga seorang cerpenis ini. Ia meramu kata dengan bahasa sehari-hari dalam novelnya ini. Dengan kata lain, ia mendesakralisasi daya pikat kata dalam sastra. Namun, bahasa sehari-hari itu tidaklah mengurangi kualitas novelnya. Nilai-nilai kearifan dan kritik sosial menghiasi novel dengan ide di luar mainstream ini dari lembar pertama hingga akhir. Bandingkan dengan novel-novel seperti Ayat-ayat Cinta, misalnya, sudah bahasanya sederhana, ditambah lagi dengan ceritanya yang klise! Ini peringatan bagi kita jika menulis karya sastra. Tinggalkan yang klise, bikin ide cerita dengan warna baru! Mari mencoba!

*) Darwin, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Univ. Muhammadiyah Yogyakarta. Karya terakhir antologi cerpen Pesan Mama Tentang Kematian yang Indah (The Phinisi Press/Yogyakarta/2012), asal Pelalawan.